Tolong! Anak Saya Ingin Jadi Seniman! (bagian pertama dari dua bagian)

IMG_8779“Apa?! Seni rupa?” Mama dan Papa saya melotot waktu pertama kali mendengar keinginan saya untuk menjadi perupa. Dan masalahnya bukan hanya itu, saat itu kami sedang berdebat karena saya ingin keluar sekolah (SMA). Waktu itu saya sudah muak sekolah, menurut saya semua yang saya pelajari di sekolah tidak ada hubungannya dengan masa depan saya. Papa saya termenung karena gelisah memikirkan bagaimana saya akan mencari nafkah sebagai seniman kelak? Papa adalah seorang pegawai negeri sejati. Keamanan, kepastian, jaminan merupakan kualitas-kualitas penting bagi Papa, orangnya nggak macam-macam. Sementara Mama termenung karena salah seorang mantan pacar yang paling dikaguminya dulu adalah anak seni rupa, kuliah Keramik angkatan 60-an di ITB. Orangnya gondrong, nyentrik, pakai kacamata hitam, celana dan jaket jeans, naik motor Vespa tapi telanjang kaki. 😛

Di kelas 2 SMA saya kena kasus hampir di semua mata pelajaran karena saya bolos dua bulan lebih. Saya menduduki peringkat ke-47 dari 49 siswa di kelas saya. Orangtua saya sampai malu karena dipanggil ke sekolah dan Papa harus mengantar saya ketemu banyak guru untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Akhirnya kami membuat kesepakatan: mau masuk seni rupa, boleh. Mau jadi seniman, silakan, karena itu masa depan saya. Tapi syaratnya ya harus lulus sekolah SMA, tidak boleh sampai putus sekolah. Artinya, saya boleh ribut, boleh tidur, boleh ngobrol atau ngapain aja di dalam kelas asal jangan bolos karena bolos adalah biang kasus. Di SMA dulu, begitu suasana kelas tidak menyenangkan, saya nggak pakai ba-bi-bu, pasti langsung melenggang keluar kelas tanpa beban sama sekali. Saya tidak pergi jauh kemana-mana, cuma nongkrong di warung bertenda biru di depan sekolah, menggambar dan berjudi dengan para pedagang di warung. 😀

Nah, apakah anak Anda menyatakan diri ingin masuk seni rupa dan menjadi seorang seniman? Seorang perupa? Apakah Anda juga gelisah seperti orangtua saya karena tidak familiar dengan dunia seni rupa? Saya harap unggahan ini bisa sedikit memberi gambaran tentang dunia seni rupa profesional. Saya memahami sekali keresahan kedua orangtua saya dan bila Anda merasakan hal yang sama, saya bisa memahaminya. Walaupun begitu, saya harap sebagai orangtua kita mampu secara obyektif mencari informasi yang akurat tentang dunia yang akan jadi jalan hidup anak-anak kita alih-alih percaya begitu saja pada stigma tentang seniman dan dunia seni rupa. Saya berharap tulisan ini bisa membantu karena ditulis lewat pengalaman langsung seorang praktisi seni rupa. Anda juga bisa bertanya pada kerabat, sejawat atau siapa saja yang kebetulan berkiprah di dunia seni rupa, kumpulkanlah informasi sebanyak mungkin sebagai bahan pertimbangan Anda. Karena tulisan ini panjang, saya akan membaginya menjadi dua bagian. Bagian pertama menjelaskan soal apa saja yang ada di dalam diri seorang seniman dan bagian kedua memaparkan apa saja yang berada di luar diri seorang seniman, tentang medan sosial seninya.

Apakah seorang seniman bisa hidup dengan layak dari pekerjaannya?

Ini mewakili kegelisahan Papa saya dan dengan yakin saya memberi jawaban: BISA. Maksudnya, ada strateginya. Stigma yang beredar di masyarakat (zaman dulu) adalah, kalau jadi seniman pasti miskin. Saya pikir itu sebuah kekeliruan yang mendasar karena soal kaya atau miskin lebih dipengaruhi oleh cara seseorang mengelola keuangan daripada pilihan profesinya. Kalau kita ingin anak-anak kita mandiri secara finansial, sudah selayaknya kita memberikan pendidikan finansial yang baik sejak mereka kecil. Jadi stigma tersebut tidak benar sama sekali. Walaupun begitu, seorang perupa tidak seperti Papa saya yang seorang pegawai negeri, mendapat gaji dengan rutin setiap bulan. Strategi pengelolaan keuangan seorang seniman berbeda. Salah satu strategi pengelolaan keuangan bagi mereka yang berpenghasilan tidak pasti, baik jumlah maupun waktunya, bisa dibaca di unggahan ini. Selain strategi yang saya tulis ini, masih ada banyak lagi versi lain, tinggal dipilih mana yang paling cocok.

Sebagai perupa, saya ternyata bisa menafkahi istri dan seorang anak dengan layak. Kami meninggalkan kota Bandung untuk tinggal di Ungaran, sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah sejak 2012. Latar belakang dan alasan kepindahan kami bisa dibaca di unggahan ini. Kami jarang sekali pergi ke mall, ke gerai fastfood hanya sekali-sekali saja. Kami membeli pakaian atau sepatu hanya bila diperlukan, jalan-jalan agak jarang karena kami semua betah di rumah. Hiburan andalan kami adalah film, buku, video game dan internet. Istri saya menjadi ibu rumah tangga dan tidak menghasilkan uang. Ini adalah komitmen kami berdua. Tugas saya sebagai suami adalah mencari nafkah, istri saya bertanggung jawab soal pada pendidikan anak kami (homeschooling). Kami masih berencana menambah satu anak lagi. Kami masih menempati rumah kontrakan sambil menabung untuk membangun rumah, semoga tahun depan rumah kami sudah berdiri.

Kami mengontrak rumah kecil tipe 36, kamarnya tiga, kamar mandi dua dengan carport. Kami tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga karena susah mencari yang loyal dan toh semua masih bisa dikerjakan sendiri. Semua tantangan finansial soal sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan (prasekolah) selama ini bisa kami jawab. Gaya hidup kami sederhana saja, tidak serba mewah tetapi juga tidak ada yang kurang. Di Ungaran lebih mudah untuk hidup sederhana daripada di Bandung karena di sini tekanan sosial dan tingkat stres khas masyarakat perkotaan rendah sekali. Tidak ada macet, tingkat kriminalitas rendah, tidak banyak godaan konsumsi dan tidak perlu tampil gaya supaya “dianggap manusia”. Biaya hidup murah, semua kebutuhan hidup ada walaupun bukan kelas satu. Jajanan pinggir jalan sangat murah tapi tidak ada yang enak (prinsip orang Ungaran soal jajanan: terserah rasanya seperti apa yang penting murah) karena itu kami jarang jajan di luar. Yang disebut lifestyle di sini berbeda dengan di Bandung apalagi Jakarta, kafe kurang laku karena orang senangnya ngumpul di alun-alun. Saya melukis di lahan hijau seluas satu hektar milik manajer pemasaran saya di pedesaan. Tempatnya enak, seperti resor dengan rumah-rumah Jawa tradisional penuh pohon durian dan kopi dan tempatnya cukup sepi. Saya pergi ke studio pada tengah hari, naik sepeda motor sekitar 5 menit dari rumah sambil membawa bekal makan lalu melukis sampai tengah malam. Bangun pagi, sambil ngopi terus ngeblog, siang pergi ke studio lagi. Istri saya belanja dari tukang sayur, ada tiga tukang sayur yang berjualan di komplek perumahan kami. Selain itu istri saya sebulan sekali belanja di Carrefour, memasak dan mengurus anak kami yang baru berusia 4 tahun. Begitulah rutinitas hidup kami di sini.

Nah, dengan gambaran gaya hidup seperti itu, kalau saya menjual satu karya lukisan ukuran sedang (sekitar 150×200 cm, cat minyak di atas kanvas), yang dikerjakan dalam waktu sekitar 7-10 hari kerja, kami bisa mendapat dana yang cukup untuk bertahan hidup selama 12 bulan. Tingkat produktivitas saya (bila diukur berdasarkan ukuran karya tadi) sekitar 3 karya per bulan dan tingkat penyerapan karya saya saat ini di atas 75%. Jadi sekali lagi, dalam kasus saya, jawabannya BISA banget, lebih dari cukup. Saya merasa beruntung dan sangat bersyukur diberkahi hidup semacam ini karena saya tahu, ada jutaan orang di dunia ini yang terpaksa harus menekuni profesi yang tidak mereka cintai dengan imbalan yang tidak seberapa karena harus bertahan hidup. Sebagai catatan, saya sudah berkiprah di dunia seni rupa sebagai seniman selama 16 tahun (sejak lulus pada tahun 1998) dan sudah tujuh tahun terakhir saya sudah tidak mengerjakan hal lain untuk mencari nafkah, jadi sejak tahun 2007 saya sudah menjadi seorang perupa purnawaktu. Kadang-kadang saya mengajar di kelas seni rupa (kursus) tapi saya tidak terlalu menghitung pendapatannya, saya melakukan itu karena saya suka.

Mengapa saya ingin jadi seniman?

Bagi saya, menjadi seorang seniman bukanlah sebuah “akibat” namun “sebab”, sebuah cause. Jadi bukan karena saya tidak pintar matematika lalu saya memilih untuk jadi seniman namun justru karena saya cinta pada dunia seni rupa maka saya tidak tertarik pada matematika. Lalu dari mana asalnya minat dan bakat tersebut? Saya kira itu diturunkan secara genetis. Keluarga Mama sayalah yang menurunkan bakat seni pada saya. Di keluarga besar Mama saya, semuanya berbakat di seni musik tapi di keluarga kami, saya dan adik laki-laki saya selain suka seni musik juga suka dan kuliah seni rupa. Papa saya bukan orang seni, Beliau adalah seorang peneliti hidrokimia yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum.

Menjadi seniman itu bukan keputusan yang diambil dalam semalam. Tanda-tandanya sebenarnya terlihat jauh sejak bertahun-tahun sebelumnya, itu terlihat pada kasus saya dan teman-teman saya sesama perupa. Semua anak kecil suka menggambar tapi pada usia tertentu mereka berhenti dan menekuni keasyikan yang lain sehingga saat dewasa mereka tidak bisa menggambar. Saya adalah jenis anak yang tidak berhenti menggambar dari kecil sampai sekarang walaupun gambarnya hanya corat-coret di buku pelajaran sekolah dan tidak pernah ikut lomba gambar apalagi jadi juara. Kebiasaan corat-coret ini masih berlanjut sampai sekarang, tidak pernah berhenti seperti napas. Bila anak Anda tidak berhenti menggambar saat teman-teman sebayanya berhenti menggambar, bisa jadi itu salah satu tanda bahwa itu memang gairah dan panggilan hidupnya.

Saat saya SMA, saya mulai merasakan ketidaktertarikan saya pada pelajaran-pelajaran di kelas (saya masuk kelas Sosial) dan lebih suka aktif di kegiatan OSIS. Di kegiatan OSIS pun saya memilih bagian kreatif yang berhubungan dengan menggambar. Saya stres dulu waktu sekolah di SMA, sampai epilepsi. 😀 Saya kira itu karena minat dan bakat kreatif saya tidak terakomodasi di kelas. Kelas dan pelajaran di sekolah sangat membosankan untuk saya karena saya tidak bisa menemukan hubungan antara apa yang saya pelajari di kelas dengan masa depan saya. Di kelas 2 SMA, mata pelajaran Seni Musik hilang dan di kelas 3, mata pelajaran Seni Rupa hilang. Kepentingan saya masuk SMA hanya supaya bisa punya ijazah supaya bisa melanjutkan studi S1 saya. Tentu saja sosialisasi saya saat sekolah SMA pun turut mengembangkan kepribadian saya tetapi dalam pengertian jejaring profesional, hanya ada satu orang sahabat saya yang selalu membantu saya mewujudkan karya-karya saya bila berhubungan dengan kayu dan logam. Lain dari itu tidak ada, jejaring profesional saya berasal dari teman-teman kuliah.

Pada saat saya sudah tahu apa yang saya inginkan, saya hanya menginginkan itu saja dan tidak ingin apa-apa lagi. Saya bahkan tidak berminat jadi seorang perancang grafis, industri atau interior walaupun masih satu bidang seni rupa. Saya hanya ingin jadi seniman, jadi seorang perupa. Dulu saya menginginkan hal itu karena menurut saya dunia seni rupa adalah murni dunia ekspresi (kenyataannya ternyata lebih luas lagi). Saya ingin berekspresi, saya ingin mencipta. Saya ingin mengeluarkan gagasan-gagasan kreatif saya jadi lukisan, jadi patung, jadi keramik, jadi video seni atau apa saja. Saya pernah mengalami fase “muak seni” dan tidak berkarya selama setahun. Ternyata saya jadi depresi, saya merasa hidup saya tanpa harapan dan jadi orang yang tidak berguna. Pada saat itulah saya memahami makna sebuah “panggilan jiwa”. Dalam pemahaman saya, minat dan bakat saya adalah sebuah berkat tetapi sekaligus sebuah kutukan yang bila tidak digubris, akan merongrong jiwa saya.

Dengan demikian, kembali pada pertanyaan semula: mengapa saya ingin jadi seniman? Jawaban lengkapnya sekarang ada dua. Pertama karena itulah minat, bakat, gairah dan panggilan hidup saya. Kedua: karena tidak ada pilihan lain, kalau saya tidak menjawab panggilan itu saya stres. Sebuah renungan lebih dalam tentang makna menjadi seniman ada di unggahan ini. Pada aras yang tertinggi dari dunia seni, orang sering bicara tentang mahakarya, ketenaran, keberlimpahan materi dan tercatat dalam sejarah. Itu betul tetapi di balik semua pamrih dan cita-cita, alasan saya ingin jadi seniman ya sesederhana itu saja. Karena itu saya bersyukur punya orangtua yang, walaupun sering sekali khawatir memikirkan nasib saya, tetap mendukung pilihan hidup saya. Mereka bilang, “Kamu mau jadi seniman? Oke, adalah hakmu untuk menentukan pilihan hidup. Kami hanya berpesan: jangan setengah-setengah, lakukan sebaik yang kamu bisa.”

Mengapa Seniman Sering Terlihat Nyentrik?

Stigma yang beredar di masyarakat adalah persis seperti gambaran mantan pacar Mama saya dulu. Seniman itu penampilannya nyentrik, pakai celana sobek, badannya penuh tato, suka mabuk dan anti otoritas. Saya juga dulu berpikir seperti itu saat menjadi mahasiswa seni rupa. Barangkali karena kami masih mahasiswa, masih mencari jati diri dan belum punya prestasi apa-apa, justru rasanya penting sekali bagi kami untuk menunjukkan pada dunia bahwa kami “berbeda”. Rasanya perlu untuk mengatakan pada dunia (atau barangkali tepatnya: untuk meyakinkan diri sendiri) bahwa kami adalah seniman dan kami bangga. Rambut saya gondrong sesiku, saya pakai kacamata dengan bingkai bundar, dandanan dibuat nyentrik, pakai anting dan sebagainya. 🙂

Tapi makin lama saya inginnya yang praktis-praktis saja. Mengurus rambut panjang itu rumit, lho. Rambut panjang itu kalau dikeramas keringnya lama. Kalau tidak disisir akan membentuk gumpalan kusut di mana-mana, kalau disisir sakit sekali. Rambut itu harus diurus, kalau tidak diurus akan gatal sekali sampai kulit kepala rasanya panas. Untuk urusan penampilan, makin ke sini saya makin malas dan inginnya praktis saja. Saya ingin rambut saya bisa tetap rapi tanpa harus disisir, jadi setiap sebulan sekali saya potong rambut saya pendek sekali. Beres, tidak repot. Pakai anting-anting juga lama-lama bosan. Kalau tidur anting itu bisa menekan pipi dan bikin sakit. Kalau sedang mengeringkan badan sesudah mandi atau sedang pakai baju, anting suka nyangkut. Lagian, bagaimana kalo berantem sama preman di terminal lalu anting ditarik keras-keras? Pasti sakit sekali. Jadi saya lepas saja anting-anting saya. Saya juga pernah ditindik dan memakai anting melingkar di bibir. Wah, itu repot, lho. Kalau sedang minum air bisa menetes keluar. Ditindiknya juga sakit sekali dan sesudah ditindik saya minum bir, hasilnya bibir saya bengkak seperti disengat kelajengking. Saya juga pernah bikin tato di dada saya. Wah, ternyata ditato itu sakit sekali. Rasanya seperti dijepret karet gelang tapi pangkat sepuluh dan lama pula. Saya tidak suka yang repot-repot dan yang sakit-sakit begitu. 😀

Pada akhirnya saya juga menyadari bahwa menjadi perupa itu sejatinya adalah soal berkarya, bukan soal penampilan. Saya bukan musisi yang harus tampil dengan unik di panggung, disaksikan jutaan pemirsa. Yang tampil kan karya saya. Dan saat saya tinggal di Belanda selama dua tahun, saya melihat banyak sekali seniman-seniman berprestasi kelas dunia, penampilannya kebanyakan biasa-biasa saja tuh. Yang nyentrik juga ada tapi tidak banyak. Jadi soal penampilan bagi saya tidak substansial lah. Itu soal pilihan dan saya berusaha untuk tidak menilai orang berdasarkan penampilannya, seaneh apapun itu. Kalau saya sih memilih penampilan yang “normal” karena itu praktis, tidak repot. Dulu zaman saya kuliah, penampilan ala hippy tahun 1960-an sih jadi tren tapi sekarang saya lihat tidak begitu. Mahasiswa seni rupa di kampus saya sekarang sih cakep-cakep, bersih-bersih dan trendy. Yang perempuan juga begitu, mereka cantik-cantik, dandanannya bagus, unik dan enak dipandang. Pokoknya tidak kumuh seperti zaman saya kuliah dulu. Lagipula, “nyentrik” itu bukan hanya soal penampilan fisik. Nyentrik itu juga soal cara berpikir, cara berbicara, cara bersikap dan cara mengambil kesimpulan. Pada intinya, nyentrik itu saya kira adalah sebuah cara pandang yang tidak lazim terhadap dunia dan kehidupan, berbeda dari orang-orang kebanyakan. Orang bisa saja penampilannya wajar tapi cara pandangnya terhadap dunia benar-benar berbeda, tidak lazim. Orang yang seperti itu ya bisa dikatakan nyentrik juga.

Sisi Kelam Dunia Kreatif: Kreativitas dan Gangguan Kejiwaan

Semua paparan di atas baru menyentuh soal penampilan, itu baru “kulit” seorang seniman. Bagaimanakah kepribadian seorang seniman? Apakah yang membedakan mereka dengan orang kebanyakan? Seperti ilmuwan, seniman adalah mahluk pencipta. Ada kaitan yang menarik antara ilmuwan dan seniman. Mereka adalah para pencipta yang berada di dua ekstrim yang berbeda. Sebuah penelitian skala besar selama 40 tahun yang dilakukan oleh Karolinska Institutet, Swedia, akhirnya menemukan sebuah kaitan antara kreativitas dengan gangguan kejiwaan secara tidak sengaja. Penelitian tersebut dilakukan terhadap sekitar 1,2 juta pasien gangguan kejiwaan seperti depresi bipolar, depresi unipolar, gejala kecemasan, alkoholisme dan kecanduan narkoba, anorexia nervosa, skizofrenia dan pada akhirnya: bunuh diri. Yang diperiksa bukan hanya pasiennya saja tetapi seluruh keluarganya, sampai ke tingkat “sepupu kedua” (yakni anak dari sepupu pasien), karena itulah partisipan yang terlibat banyak sekali. Dari semua subyek yang diteliti, mereka secara tidak sengaja menemukan sebuah pola tertentu yakni orang-orang dengan profesi kreatif jumlahnya banyak. Akhirnya penelitian tersebut dikembangkan menjadi sebuah penelitian baru yang lebih spesifik. Para peneliti mencari dan memilih orang-orang normal yang mereka anggap ultra-kreatif, orang-orang tersebut diminta untuk memecahkan kuis-kuis yang membutuhkan kreativitas tingkat tinggi sambil diperiksa aktivitas otaknya.

Kaum ultra-kreatif ternyata memiliki lebih sedikit reseptor Dopamine tipe-2 di daerah thalamus di bagian dalam otak sehingga dopamine mengalir dengan deras ke daerah kelabu, daerah korteks di bagian luar yang mengatur kesadaran. Dengan demikian, minimnya reseptor dopamine di daerah thalamus pada orang-orang ultra-kreatif mengakibatkan ada lebih banyak informasi mentah yang mengalir dari wilayah ambang sadar ke wilayah sadar karena dopamine relatif tidak tersaring.1 Karena itulah kaum kreatif mampu berpikir di luar kelaziman, mereka mampu berpikir out of the box. Mereka bisa secara intuitif membuat asosiasi dan mengait-ngaitkan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang biasa. Dalam konteks ini, definisi kreativitas adalah: kemampuan mengaitkan satu hal dengan hal-hal lain dan menghasilkan sebuah sintesa baru yang orisinal. Masalahnya, itu pula yang terjadi pada para pengidap skizofrenia karena mereka memiliki arsitektur otak yang serupa dengan orang-orang yang ultra-kreatif. Para pengidap skizofrenia membuat asosiasi-asosiasi yang tidak lazim dalam pikirannya sampai ke taraf psychosis yang ditandai dengan gejala delusi dan halusinasi yang memengaruhi persepsi inderawi. Hasilnya, pengidap skizofrenia bisa merasa benar-benar (merasa) mendengar atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada sehingga pada akhirnya merea tidak bisa lagi membedakan antara realitas eksternal dengan realitas yang ada dalam pikirannya sendiri (orang-orang gila yang sering kita lihat di pinggir jalan, melenggang setengah telanjang sambil bicara sendiri adalah para pengidap skizofrenia).

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang memiliki profesi kreatif adalah penyumbang pasien terbanyak dalam perawatan klinis gangguan kejiwaan. Mereka juga menemukan bahwa bila di sebuah keluarga besar ada orang-orang yang berprofesi sebagai ilmuwan atau seniman, termasuk penari, peneliti, fotografer dan pengarang (termasuk filsuf, jurnalis dan penyair), kasus depresi bipolar pun pasti ditemukan. Para pengarang rentan terhadap skizofrenia, depresi, gejala kecemasan dan penyalahgunaan substansi, mereka juga memiliki kecenderungan 50% lebih tinggi untuk bunuh diri bila dibandingkan masyarakat kebanyakan. Pada akhirnya penelitian ini menjelaskan mengapa begitu banyak kaum kreatif yang bunuh diri seperti Ernest Hemingway, Virginia Wolf, Vincent van Gogh, Kevin Carter, Frida Kahlo, Kurt Cobain, dsb. Sebagian yang lain dirawat di rumah sakit jiwa karena berbagai macam gangguan kejiwaan, misalnya seperti Yayoi Kusama. Contoh lain bisa dicari di internet. Ilmuwan terkenal yang terkena gangguan kejiwaan tentu banyak tapi karena itu bukan dunia saya, saya hanya ingat Prof. John Nash, ahli matematika dan guru besar di Universitas Princeton, Amerika Serikat, yang mengalami gangguan skizofrenia kronis sampai bertahun-tahun namun teorinya akhir menjadi amat penting dan dianugerahi hadiah Nobel untuk bidang ekonomi pada tahun 1994. Kisahnya bisa ditonton di film “The Beautiful Minds”.

Gangguan kejiwaan memang akan selalu membayangi siapa saja dengan minat, bakat dan profesi kreatif karena ini diturunkan secara genetis di keluarga besar. Bila ada salah satu anggota keluarga besar bunuh diri, menderita gangguan kejiwaan tertentu atau orangnya “antik” dan nyentrik, bisa dipastikan darah kreatif mengalir di keluarga besar itu. Penelitian ini akhirnya ditujukan untuk memerbaiki tata-cara perawatan para pasien gangguan kejiwaan karena kini dunia psikologi klinis memahami bahwa di balik gangguan jiwa, bisa jadi ada sebuah potensi kreatif yang berharga. Gangguan kejiwaan memang terdengar menyeramkan tetapi sebenarnya tidak perlu membuat kita khawatir berlebihan. Pertama karena bila pun gangguan kejiwaan benar-benar terjadi dan sampai pada taraf mengganggu kualitas hidup, kita selalu bisa mendapat bantuan profesional dari tenaga medis terlatih. Kedua, bila seseorang memang punya minat dan bakat kreatif, bahkan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia pun tidak akan menghambat proses kekaryaan. Banyak lho, seniman hebat yang mengidap skizofrenia dan terus menghasilkan karya-karya hebat. Yayoi Kusama sendiri pernah berkata, “Kalau tidak gara-gara seni, saya pasti sudah bunuh diri sejak dulu.”

Saya sendiri pernah mengalami setidaknya tiga fase depresi besar dalam hidup saya (yang pertama adalah fase epilepsi saat saya stress karena tidak mau sekolah di SMA) dalam kondisi harus terus berkarya. Awalnya saya tidak menyadari bahwa saya terkena depresi, lama-kelamaan saya mulai menyadarinya. Dalam kasus yang terakhir, proses yang melelahkan ini memakan waktu tiga tahun dan pada akhirnya kekaryaan saya dituangkan dalam sebuah pameran “Mencari Saya Dalam Sejarah Seni Rupa Saya” (duet bersama Aminudin T.H. Siregar) di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Desember 2012. Pada pameran tersebut, kekaryaan saya dirangkum dalam sebuah tajuk “Tentang Kecemasan dan Depresi”. Karena sudah dua kali mengalami fase depresi, saya akhirnya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya? Hidup saya terganggu sekali saat itu, produktivitas menurun karena sulit sekali berkonsentrasi pada pekerjaan, hubungan sosial hancur karena pada dasarnya emosi saya terganggu, perasaan rendah diri membuat saya tidak bisa berfungsi optimal, saya selalu resah dan gelisah membayangkan masa depan. Saya benar-benar jadi orang yang payah pada saat depresi. Akhirnya saya berusaha berkarya sambil mencari informasi terutama dari internet tentang gangguan kejiwaan. Saya juga bersyukur bahwa keluarga dan terutama istri saya benar-benar membesarkan hati saya, membantu saya melalui fase tersebut. Dalam proses pencarian tersebut saya baru benar-benar menyadari bahwa gangguan kejiwaan memang sudah terjadi lama pada keluarga saya, hanya saja saya tidak memerhatikan karena saya kira itu tidak ada hubungannya dengan saya. Saat masih muda, adik laki-laki saya mengalami depresi sampai kena panic attack. Ia sempat dirawat oleh psikiater dan minum obat selama dua tahun. Begitu juga dengan Mama saya. Mama ternyata adalah seorang pengidap depresi bipolar dan sampai hari ini masih diberi stabilisator untuk membuat suasana hatinya lebih tenang dan emosinya tidak turun-naik terlalu drastis.

Akhirnya saya jadi paham bahwa dunia kreatif memiliki sebuah sisi kelam yang tidak bisa disembuhkan tetapi harus dipahami dan disiasati. Ternyata saya cenderung mengalami depresi bila ekspresi-ekspresi kreatif saya tersumbat, bila saya tidak bisa berkarya untuk alasan apapun. Selanjutnya, proses kekaryaan saya membaik dengan sendirinya sesudah mendapatkan pemahaman ini dan saya tidak sampai dirawat karena tingkat depresi saya menurun drastis sesudah saya pindah ke Ungaran. Kekaryaan pun berjalan dan berhasil dipamerkan. Dengan demikian, gangguan kejiwaan ternyata tidak terlalu menghambat kekaryaan saya. Saya malah senang karena ternyata proses kreasi kekaryaan membuat saya mampu memahami diri saya sendiri, artinya jalan seni yang saya hidupi benar-benar berguna. Wawasan ini selalu saya bagi pada sesama teman seniman yang sedang mengalami tekanan dan mulai menunjukkan gejala depresi, saya harap bisa ada manfaatnya. Sebuah dokumen dalam format PDF yang berisi tulisan saya pribadi dan runutan proses berkarya dalam pameran tersebut bisa dilihat lewat tautan ini (2,1Mb). Dalam dokumen tersebut Anda bisa melihat bahwa ada sebuah hubungan yang aneh antara gangguan kejiwaan dengan proses kreatif saat mencipta. Gangguan kejiwaan itu merusak, merongrong jiwa dan membuat menderita lahir batin, namun di sisi lain ia menanamkan benih-benih inspirasi dan menjadi sebuah motivasi untuk berkarya. Menghancurkan tetapi menumbuhkan sesuatu yang baru, prosesnya sendiri walaupun berat bisa dikatakan: mendewasakan. Di dunia seni ternyata hal seperti ini lazim terjadi. Ada banyak sekali karya seni yang tercipta di bawah tekanan gangguan kejiwaan. Salah satu yang paling terkenal adalah kekaryaan Vincent van Gogh yang selama hidupnya tidak dihiraukan oleh dunia seni rupa, karyanya nyaris tidak pernah dikoleksi sama sekali dan tak pernah mendapat pengakuan apa-apa. Hidupnya dicekam depresi dan ia akhirnya mati setelah menembak dadanya sendiri. Saya kira ungkapan Friedrich Nietzsche dalam konteks ini ada benarnya, “Chaos is needed to give birth to a dancing star.”

(bersambung)

1 Dopamine adalah salah satu jenis neurotransmitter, yakni sebuah substansi kimiawi berisi informasi yang dilepaskan satu ujung serabut syaraf dan bergerak menuju ujung serabut syaraf yang lain. Neurotransmitter sendiri bisa diibaratkan seperti bis kota yang bergerak mengarungi lalu lintas kota (jaringan sel syaraf otak) mengangkut penumpang (informasi) dari satu terminal ke terminal lain. Terminal itu sendiri disebut “reseptor” dan neurotransmitter tidak bisa berhenti di sembarang tempat, harus di reseptor yang spesifik. Informasi yang dikandung oleh dopamine mengatur beberapa fungsi. Yang sudah diketahui misalnya menahan aktifnya kelenjar susu pada mamalia, mengatur gerakan tubuh, ingatan, perhatian, pola tidur, perubahan dalam suasana hati (mood) dan proses belajar yang membentuk pola kebiasaan lewat sensasi kenikmatan/kepuasan.

Contoh percobaan di laboratorium adalah sebagai berikut: seekor tikus dimasukkan ke dalam labirin. Ia berputar-putar dan akhirnya menemukan sebuah tombol merah. Saat tombol itu disentuh, sebutir kacang goreng yang enak keluar. Keesokan harinya, saat ditaruh di labirin yang berbeda, tikus itu akan mencari-cari tombol merah. Ini adalah pengaruh dopamine. Untuk alasan yang sama, bila misalkan Anda terbiasa melakukan hal apapun juga secara rutin, Anda akan merasa tidak enak, tidak nyaman atau merasa ada sesuatu yang kurang lengkap bila Anda melewatkannya. Phillipa Lally, Cornelia van Jaarsveld, Henry Potts dan Jane Wardle dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam European Journal of Social Psychology (vol. 40, Oktober 2010) menyebutkan bahwa dibutuhkan waktu antara 18-224 hari bagi seseorang untuk membentuk sebuah pola kebiasaan baru. Pembentukan sebuah kebiasaan baru tidak bisa terjadi begitu saja tetapi harus dibangun, kegiatannya harus diulangi terus-menerus sampai menjadi second nature. Alasannya adalah karena sebuah kebiasaan baru bisa menjadi permanen bila terjadi sebuah perubahan fisik dalam susunan jaringan sel otak (disebut neuronet). Tulisan saya yang berkaitan dengan kebiasaan baru dan pembentukan neuronet bisa dibaca lewat tautan ini. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa minat, kesadaran, perhatian, pola belajar dan pembentukan kebiasaan, thus, kepribadian dan segala pencapaian kita, dipengaruhi oleh fungsi dopamine di dalam otak kita. Dalam hal ini termasuk para seniman

6 thoughts on “Tolong! Anak Saya Ingin Jadi Seniman! (bagian pertama dari dua bagian)

  1. Pingback: Mana yang Lebih Penting: Bakat atau Jam Terbang? | Cakrawala Hartanto

  2. menarik sekali membaca artikel mas hartanto, saya mengalami apa yg mas rasakan saat masih sma, bedanya sekarang saya terjebak di jurusan design produk karena keengganan ortu saya menyengolahkan saya di jurusan seni lukis 😦

    • Makasih udah mampir dan baca tulisan ini, Rifan. Salam kenal dari saya. Wah, sayang juga minatmu nggak terpenuhi. Terus, kamu masih ngelukis, nggak? Semoga masih. 🙂 Menurut pengalaman saya, mau berkarya di dalam maupun di luar studio: wawasan, skill dan kepekaan desain produk sebenarnya kepake banget. Coba deh iseng-iseng merancang: “studio seni lukis paling asyik di dunia” menurut kesukaanmu sendiri. Di mana letak studio ngelukisnya? Kalau melukisnya dari pagi sampe sore, cahaya matahari akan jatuh dari mana ke mana? Terus, di studio, barang yang diperlukan apa aja? Raknya harus gimana, susunannya seperti apa, barang yang paling sering diambil apa? Gudang gimana, dsb, dsb. Ada ribuan subyek di dalam studio seorang seniman yang bisa jadi inspirasi penciptaan sebuah karya desain industrial. Tertarik, nggak? :p

  3. tentu saya terus berlatih, one of my passion :), Pada dasarnya saya Masuk Design Produk hanya tertarik pada Sketsa dp (gambar presentasi) selebihnya saya kesal kalo harus melakukan riset untuk kebutuhan studio apalagi pas bagian buat produk karena pada dasarnya saya memang hanya senang menggambar dan membuat comic, sayang di indonesia ga ada jurusan yg khusus mempelajari illustration dan comic. Sekarang saya lagi menumpang di rumah nenek karena rumah saya sedang di renov, akan saya coba masukan mas tanto kalo rumah udah beres 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s