Bab IV – Untuk Peserta LANJUTAN

Selamat datang di halaman untuk peserta lanjutan. Bila Anda masuk ke dalam kelompok ini, bisa dipastikan Anda sudah tidak asing dengan menggambar sehingga saya menilai garis Anda sudah bagus, walaupun arsiran dan observasi gelap-terang Anda belum cukup mantap. Latihan di jalur ini akan membantu Anda mengembangkan modal awal yang sudah Anda miliki tersebut supaya tumbuh jadi lebih bagus lagi.

==========

IV.1 – Target Untuk Peserta Lanjutan

Konsep gelap-terang, juga teknik dan disiplin observasi, adalah materi dasar yang harus diketahui semua peserta dari semua tingkat keahlian, termasuk Anda, para peserta lanjutan. Begitu Anda memahami ketiga hal tersebut, saya ingin Anda fokus pada observasi gelap-terang dan teknik menggambar Anda supaya bisa diaplikasikan sampai enam pembagian. Mutu arsiran harus lebih baik daripada para pemula, begitu juga aplikasi gelap-terangnya.

IV.2 – Konsep Gelap-Terang

Gelap-terang adalah pondasi realisme, tanpa gelap-terang realisme tidak bisa terwujud. Dalam pakem seni lukis klasik di Italia pada masa Renaissance, gelap-terang disebut chiaroscuro. Gelap-terang di sini persis seperti apa yang kita lihat dalam foto hitam-putih. Semua bentuk trimatra tunduk pada hukum cahaya. Bila ada sebuah obyek dijatuhi cahaya, pantulannya akan ditangkap mata kita dalam intensitas yang berbeda-beda.

Daerah yang tidak dikenai cahaya disebut shadow, intensitasnya paling rendah, kadang-kadang sampai gelap sekali. Daerah yang dikenai cahaya langsung disebut highlight, intensitasnya paling tinggi. Sementara itu, di antara shadow dan highlight adalah middle-tone yang intensitas cahayanya sedang. Ini dia konsep gelap-terang: shadow, middle-tone, highlight. Tidak rumit, bukan? Konsepnya memang mudah, praktiknya pun sebenarnya tidak susah. Hanya perlu diulang-ulang saja. Makin sering diulang, Anda pasti makin jago.  🙂

IV.3 – Disiplin & Teknik Observasi

Di Klinik Rupa Dokter Rudolfo, mata adalah leader, tangan itu follower. Tangan tidak boleh nyoret-nyoret ke sana-sini secara spontan. Yang mampu mencoret-coret secara spontan tapi hasilnya bagus hanya maestro, pemula tidak. Disiplin observasi di KMD adalah: amati dulu obyeknya baik-baik. Tentukan dulu bagian mana yang mau digambar. Segelap apa, sudutnya ke arah mana? Ambil dulu keputusan. Kalau sudah ada keputusan, baru tangan boleh mencoret. Sebelum ada keputusan, tangan tidak boleh menarik garis. Itulah disiplin observasi.

Dalam disiplin realisme melukis yang benar dimulai dari menggambar yang benar, menggambar yang benar dimulai dari melihat yang benar. Maka keberhasilan sebuah karya realisme dimulai dari observasi, dan rahasia observasi sebenarnya sangat sederhana: picingkan mata Anda. Para perupa yang berkarya dalam disiplin realisme, dari mulai pemula sampai maestro, semuanya memicingkan mata saat mengobservasi obyek.

Saat melihat obyek dengan mata terbuka, kita bisa melihat sampai ke rinci. Dengan memicingkan mata, rinci akan hilang dan kita akan melihat blok gelap-terang secara general. Dengan begitu akan mudah bagi kita untuk menentukan pembagian intensitas cahaya, atau saat kita membandingkan intensitas cahaya di satu bidang dengan bidang yang lain.

Sebuah obyek yang harus digambar, misalkan: seraut wajah, gelap-terangnya sangatlah rumit, tapi jangan gentar dengan kerumitannya. Pecahkan kasus gelap-terang yang rumit itu menjadi tiga bagian dulu: shadowmiddle-tonehighlight. Caranya? Picingkan mata lalu bagi gelap-terang yang rumit itu menjadi tiga bagian. Bila Anda sudah berhasil memetakan tiga bagian tersebut, fokuslah di shadow, lalu picingkan lagi mata Anda. Ternyata shadow pun masih bisa dibagi menjadi tiga bagian lagi, dan seterusnya.

Dalam observasi gelap-terang, Anda tidak peduli dengan form. Tak usah pusingkan Anda sedang menggambar mata, hidung atau mulut, abaikan semua. Fokuslah pada gelap-terangnya saja. Berlakulah seperti lensa kamera. Lensa kamera tidak peduli pada bentuk yang ia tangkap, ia hanya menangkap intensitas cahaya. Dengan begitu, apabila karya Anda terlihat realistik dan fotografis, itu adalah dampak dari observasi yang teliti terhadap intensitas cahaya. Itulah prinsip observasi dalam realisme.

IV.4 – Teknik Menggambar

Sudah punya pengalaman menggambar tidak serta-merta memiliki arsiran yang matang. Untuk Anda yang punya tekanan tangan kuat dan arsiran yang ekspresif, di kursus ini Anda akan saya minta untuk menahan energi dari tekanan tangan Anda. Jangan asal tekan, amati dulu dengan baik: daerah mana gelap sehingga harus ditekan, dan daerah mana yang terang sehingga tekanan harus dikurangi. Jangan buang-buang tenaga, jangan ada gerakan yang tidak perlu. Saya ingin tekanan tangan Anda 50% sepanjang waktu, boleh ada perbedaan tekanan, tapi jangan terlalu jauh. Bila Anda butuh lebih gelap, ganti ukuran pensil dengan yang B-nya tinggi. Sebaliknya, bila Anda butuh terang, ganti ukuran pensil dengan yang B-nya lebih rendah, bila perlu pakai H. Tekanannya sendiri tetap sama, medium, sekitar 50% dan konstan.

Untuk memudahkan pekerjaan Anda mulai dari tugas kedua dst, ada baiknya Anda membuat chart dari berbagai jenis pensil yang Anda punya. Saat menggambar, dekatkan chart tersebut dengan foto acuan, dengan begitu Anda bisa dengan cepat menemukan ukuran pensil yang tepat untuk suatu bagian tertentu. Namun jangan lupa, tekanan tangan harus tetap sama, medium, 50%. Ukuran pensilnya yang berubah-ubah.

IV.5 – Tugas Kedua

Berbeda dengan tugas sebelumnya, acuan ini adalah gambar, bukan fotografi. Untuk tugas kedua ini saya minta Anda mengikuti gelap-terang dan arah arsiran persis seperti gambar ini. Sadur semirip mungkin, ya. Dari situ Anda akan banyak belajar dan sesudah tugas ini selesai, kita akan bahas hasilnya.

IV.6 – Tugas Ketiga

Ini adalah foto acuan untuk tugas ketiga kelas lanjutan. Ini adalah sebuah plat dari Bargue Study, sebuah metodologi menggambar yang dikembangkan oleh Charles Bargue di Perancis, di abad ke-19. Lihat betapa halusnya bagian highlight di sini, arsiran pensilnya tidak kelihatan, hampir seperti cetakan afdruk saja. Di sanalah tantangannya. Anda diperbolehkan menggunakan teknik gosok menggunakan kertas tisu/paper stump, tapi ingat bahwa itu pun tidak mudah. Kejar efek sfumato dalam foto acuan ini.

IV.7 – Panduan Membuat Shading Tipis dan Rata

6 Agustus 2020. 21:00 WIB

Bagi Anda yang ingin membuat shading yang tipis dan merata, seperti yang ada di foto acuan tugas ketiga, Anda bisa menggunakan teknik ini. Pertama jiplak dulu gambarnya:

Saya menggunakan kertas Canson Sketch/Drawing Pad 160gsm untuk karya ini. Saya sudah coba pakai kertas HVS 80gsm tapi hasilnya jelek soalnya serat kertasnya membuat shading tidak rata. Nah, sesudah itu saya menggosok pensil grafit ukuran 2B di atas amplas dengan grit 400. ‘Grit’ pada ampas adalah tingkat kekasarannya. Makin tinggi nilainya, makin halus pula amplasnya. Grit 400 itu cukup kasar sehingga grafit dari pensil bisa dihaluskan dengan mudah dan cepat.

Amplasnya sih bisa pakai amplas jenis apa saja. Beli di toko besi juga bisa, murah cuma Rp.10ribu. Namun ada juga amplas yang khusus untuk hobi seperti contoh di bawah ini. Amplas ini warnanya putih, biasa dipakai untuk membersihkan paper stump yang sudah kotor penuh jelaga grafit/charcoal sesudah lama dipakai. Amplas merk Artool dengan grit 400 ini juga harganya sekitar Rp.10ribu juga di Tokopedia.

Setelah saya mempunyai cukup banyak serbuk grafit, saya pun menutulkan kuas blush-on dan memindahkannya ke kertas. Kuas blush-on adalah jenis kuas untuk make-up, harganya sekitar Rp.10ribuan juga di Tokopedia. Kuas blush-on yang lebih mahal banyak, tapi saya beli yang murah saja. Kalau di art shop, kuas macam ini disebut ‘mop brush’, dibuat dari bulu kambing kelas satu yang halus banget, dan seukuran ini harganya mahal. Saya pakai yang murah saja. Kuas ini khusus dipakai untuk serbuk grafit saja, tidak dipakai yang lain.

Saya berusaha meratakan serbuk grafit tersebut ke seluruh bagian gambar. Hasilnya tidak terlalu sempurna, sih, tapi kira-kira seperti ini:

Sesudah itu, saya hapus bagian yang keluar dari blabar (outline). Untuk wilayah besar saya pakai penghapus pensil biasa, untuk yang rinci saya gunakan penghapus pensil merk Tombow Mono Zero seperti yang bisa dilihat di gambar ini:

Penghapus pensil ini khusus untuk membuat highlight sebenarnya, misalnya highlight pada rambut, di ujung hidung, di pipi, dsb. Karena bentuknya seperti pensil mekanik, dia bisa menghapus bidang sempit yang sulit dijangkau penghapus pensil biasa. Harganya sekitar Rp.40ribu di Tokopedia, kalau isinya habis bisa diisi ulang.

Ini dia hasil akhirnya. Sebenarnya daerah putih di sekitarnya masih kurang bersih, ya, tapi bukan masalah, tinggal dihapus lagi aja, nanti juga bisa bersih. Yang pasti, sekarang Anda bisa dapat shading yang tipis dan rata di seluruh bagian kertas. Serat kertas menentukan hasil shading, jadi gunakan kertas yang bagus. HVS 80gsm ternyata membuat serbuk grafit menempel tidak merata. Sesudah shading tipis dan merata ini selesai, Anda bisa melanjutkan mengarsir bagian lain dengan pensil yang lebih tebal. Selamat mencoba. 🙂

IV.8 – Tugas Keempat

18 Agustus 2020. 09:00 WIB