Bab V – Untuk Peserta MAHIR

Selamat, bila Anda masuk ke kategori ini berarti Anda adalah peserta dengan jam terbang paling tinggi. Di kelompok ini observasi gelap-terang dan teknik menggambar Anda bisa dipastikan sudah baik, dengan begitu latihan di jalur mahir ini akan berfungsi untuk mendorong latihan Anda ke aras yang lebih tinggi. Saya meninggikan standar saya untuk para peserta mahir, saya tidak akan cepat puas, dan saya harap Anda cukup bersemangat karena yang tugasnya paling berat adalah mereka yang ada di dalam kelompok ini. Berikanlah inspirasi pada teman-teman yang lain, atau tepatnya: inspirasi sekaligus intimidasi. 🙂

V.1 – Target Untuk Peserta Mahir

Konsep gelap-terang, juga teknik dan disiplin observasi, adalah materi dasar yang harus diketahui semua peserta dari semua tingkat keahlian, termasuk Anda, para peserta mahir. Sebenarnya bila ketiga hal tersebut sudah dikuasai, yang bisa dilakukan siswa adalah mengerjakan tugas yang lebih rumit saja, dengan begitu kepekaan cahayanya bisa meningkat. Saya ingin melihat arsiran yang bagus dan terkontrol. Saya ingin keterampilan observasi dan menggambar Anda cukup baik untuk membuat sembilan pembagian cahaya.

V.2 – Konsep Gelap-Terang

Gelap-terang adalah pondasi realisme, tanpa gelap-terang realisme tidak bisa terwujud. Dalam pakem seni lukis klasik di Italia pada masa Renaissance, gelap-terang disebut chiaroscuro. Gelap-terang di sini persis seperti apa yang kita lihat dalam foto hitam-putih. Semua bentuk trimatra tunduk pada hukum cahaya. Bila ada sebuah obyek dijatuhi cahaya, pantulannya akan ditangkap mata kita dalam intensitas yang berbeda-beda.

Daerah yang tidak dikenai cahaya disebut shadow, intensitasnya paling rendah, kadang-kadang sampai gelap sekali. Daerah yang dikenai cahaya langsung disebut highlight, intensitasnya paling tinggi. Sementara itu, di antara shadow dan highlight adalah middle-tone yang intensitas cahayanya sedang. Ini dia konsep gelap-terang: shadow, middle-tone, highlight. Tidak rumit, bukan? Konsepnya memang mudah, praktiknya pun sebenarnya tidak susah. Hanya perlu diulang-ulang saja. Makin sering diulang, Anda pasti makin jago.  🙂

V.3 – Disiplin & Teknik Observasi

Di Klinik Rupa Dokter Rudolfo, mata adalah leader, tangan itu follower. Tangan tidak boleh nyoret-nyoret ke sana-sini secara spontan. Yang mampu mencoret-coret secara spontan tapi hasilnya bagus hanya maestro, pemula tidak. Disiplin observasi di KMD adalah: amati dulu obyeknya baik-baik. Tentukan dulu bagian mana yang mau digambar. Segelap apa, sudutnya ke arah mana? Ambil dulu keputusan. Kalau sudah ada keputusan, baru tangan boleh mencoret. Sebelum ada keputusan, tangan tidak boleh menarik garis. Itulah disiplin observasi.

Dalam disiplin realisme melukis yang benar dimulai dari menggambar yang benar, menggambar yang benar dimulai dari melihat yang benar. Maka keberhasilan sebuah karya realisme dimulai dari observasi, dan rahasia observasi sebenarnya sangat sederhana: picingkan mata Anda. Para perupa yang berkarya dalam disiplin realisme, dari mulai pemula sampai maestro, semuanya memicingkan mata saat mengobservasi obyek.

Saat melihat obyek dengan mata terbuka, kita bisa melihat sampai ke rinci. Dengan memicingkan mata, rinci akan hilang dan kita akan melihat blok gelap-terang secara general. Dengan begitu akan mudah bagi kita untuk menentukan pembagian intensitas cahaya, atau saat kita membandingkan intensitas cahaya di satu bidang dengan bidang yang lain.

Sebuah obyek yang harus digambar, misalkan: seraut wajah, gelap-terangnya sangatlah rumit, tapi jangan gentar dengan kerumitannya. Pecahkan kasus gelap-terang yang rumit itu menjadi tiga bagian dulu: shadow, middle-tone, highlight. Caranya? Picingkan mata lalu bagi gelap-terang yang rumit itu menjadi tiga bagian. Bila Anda sudah berhasil memetakan tiga bagian tersebut, fokuslah di shadow, lalu picingkan lagi mata Anda. Ternyata shadow pun masih bisa dibagi menjadi tiga bagian lagi, dan seterusnya.

Dalam observasi gelap-terang, Anda tidak peduli dengan form. Tak usah pusingkan Anda sedang menggambar mata, hidung atau mulut, abaikan semua. Fokuslah pada gelap-terangnya saja. Berlakulah seperti lensa kamera. Lensa kamera tidak peduli pada bentuk yang ia tangkap, ia hanya menangkap intensitas cahaya. Dengan begitu, apabila karya Anda terlihat realistik dan fotografis, itu adalah dampak dari observasi yang teliti terhadap intensitas cahaya. Itulah prinsip observasi dalam realisme.

V.4 – Teknik Menggambar

Saya ingin arsiran yang bagus dan terkontrol. Salah satu pakem seni lukis klasik Italia di Zaman Renaissance adalah sfumato. Sfumato berasal dari kata ‘fumo’, artinya ‘asap’. Dengan begitu sfumato adalah arsiran yang halus seperti asap. Sfumato bisa dilihat pada bagian pipi dan tangan lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci. Bagi Anda, para peserta mahir, saya ingin melihat arsiran yang mendekati sfumato.

Seberapa runcing pensil Anda? Bila perlu ditumpulkan, tumpulkanlah. Seberapa kuat Anda harus menekan? Bagaimana arah arsiran Anda, ke arah mana arsiran tersebut Anda arahkan? Permainan tekanan tangan saat mengarsir adalah kunci bagi keberhasilan karya Anda. Jangan terburu-buru, Anda harus mampu menikmati permainan gelap-terang ini. Bila mata atau tangan Anda lelah, beristirahatlah. Bila Anda mengantuk, berhenti. Bila Anda kesal, jangan menggambar. Kerjakan tugas dengan fokus tingkat tinggi, dengan distraksi seminimal mungkin. Bila Anda merasa perlu untuk membuat chart seperti contoh di bawah ini, buatlah. Itu akan banyak membantu penilaian gelap-terang Anda.

V.5 – Tugas Kedua

V.6 – Tugas Ketiga

V.7 – Cangiante

13 Agustus 2020. 13:00 WIB

Dalam tradisi seni lukis klasik Italia pada masa Renaissance, ada empat pakem yang dipaparkan sejarawan seni, dan salah satunya adalah cangiante. Cangiante (dilafalkan: kanjan-té) sudah hadir sejak abad ke-13, namun dipopulerkan dua abad kemudian oleh Michelangello Buonarotti, pematung legendaris yang menghabiskan waktu 10 tahun untuk mencipta lukisan dinding di Kapel Sistina, Vatikan. Lukisan dinding tersebut dibuat dengan teknik buon fresco, yakni melukiskan pigmen tempera ke permukaan semen selagi masih basah. Saat semen mengering, pigmen warna akan terkunci di bagian atas permukaannya, membuat lukisannya menjadi sangat tahan lama. Ini adalah teknik melukis dinding tersulit karena harus dibuat berkejaran dengan waktu dan tanpa kesalahan. Bila ada kesalahan, satu blok dinding harus dikupas lagi semennya dan semua harus dimulai dari awal. Dengan teknik ini, di Kapel Sistina inilah, Michelangelo mengamalkan cangiante.

Daniel, salah satu rinci fresco Michelangelo di Kapel Sistina, Vatikan

Dengan segala keterbatasan teknologi pigmen pada masa itu, beberapa warna tertentu tidak bisa dibuat lebih gelap. Merah dan kuning cemerlang, misalnya, malah jelek kalau dibuat lebih gelap, karena itu alih-alih dibuat lebih gelap, saat melukis shadow warnanya diubah. Perhatikan bagian jubah Daniel yang berwarna kuning itu. Di bagian shadow, hue-nya berubah jadi hijau. Cangiante secara harfiah berarti ‘pergantian’. Dalam kasus ini, selain hue (identitas warna) yang berubah, value-nya (gelap-terangnya) juga berubah. Daerah shadow ini menjadi tidak segelap seharusnya.

“Orang Amerika”, karya Bo Bartlet

Perhatikan bagian shadow pada jas laki-laki di lukisan ini. Tidak banyak pelukis yang mengaplikasikan cangiante dalam karya seni lukis kontemporer, tapi Bo Bartlet—pelukis potret terkenal dari Amerika—melakukannya. Seharusnya shadow pada jas itu berwarna abu-abu sangat gelap, hampir mendekati hitam, tapi ia malah menggantinya dengan warna coklat burnt sienna yang gelap kemerahan. Dengan begitu, bukan hanya hue-nya yang berubah, value-nya juga. Shadow-nya jadi tidak segelap seharusnya. Inilah yang akan kita praktikkan di tugas berikutnya: membuat shadow yang lebih terang daripada seharusnya. Kita lihat dulu contoh dari tugas yang saya maksud.

Karya grafit Stephen Baumann

Beberapa dari Anda barangkali sudah follow Stephen Baumann, dia adalah pelukis Amerika dan pengajar seni rupa yang hebat. Karya-karya grafit Baumann memiliki karakter shadow yang tidak terlalu gelap seperti yang saya maksud. Seperti yang bisa Anda lihat di sini, bagian pipi sebelah kanan (kita) terlihat tidak terlalu gelap, seakan-akan ada cahaya lemah yang datang dari sisi kanan gambar. Begitu pula dengan daerah rambut sampai pelipis kanan sang Subyek. Itu jelas shadow, harusnya gelap, tapi di sini tidak dibuat segelap seharusnya. Itu dia yang akan kita praktikkan. Di bawah ini adalah tugas keempat untuk kelas mahir:

Untuk Anda yang sudah mulai mengerjakan tugas keempat ini, tugas ini harus dikonsultasikan selagi dalam proses. Jadi jangan dibuat sendiri terus sampai jadi baru dikasih liat sama saya, konsultasikan saat dikerjakan, ya. Kita kontrol level gelap-terangnya sambil jalan. Oke, selamat berlatih. 🙂