Diskusi, Pameran dan Kompetisi Seni Lukis UOB-POY 2016

uob_diskusi

Teman-teman yang baik, seperti yang bisa dilihat pada pengumuman ini, pada hari Selasa, 28 Juni 2016, saya dan kawan baik saya, Agung Hujatnikajennong, akan jadi pembicara dalam sebuah acara diskusi yang menjadi bagian dari sosialisasi kegiatan “The 35th UOB Painting of The Year 2016”.

Dalam diskusi ini kita akan membahas masalah: sensibilitas dan kompetisi dalam penciptaan karya dan pengaruhnya terhadap perkembangan seni rupa Indonesia. Bagi Anda yang menjalankan ibadah puasa, diskusi akan berakhir dan dilanjutkan dengan pembukaan pameran, sekaligus acara berbuka puasa bersama. Maka bila Anda tertarik dengan tema-tema tersebut, silakan luangkan waktu untuk hadir pada tempat dan waktu yang sudah ditentukan.

Setelah diselenggarakan di Yogyakarta, acara sosialisasi ini diselenggarakan di Bandung untuk mewartakan pada semua insan seni rupa sebuah berita menarik seperti yang bisa dibaca di bawah ini (klik pada gambar untuk melihat gambar dalam ukuran yang lebih besar, 700kb):

uob-poy-print-ad-20,5-x-27,5-FA

Pada tahun 1999, sesudah saya lulus kuliah, saya berkesempatan mengikuti kompetisi seni lukis yang sedang hot pada masa itu, “Philip Morris ASEAN Art Award”. Kompetisi ini, pada tingkat nasional, diorganisasi oleh Philip Morris Indonesia dan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI). Pada tingkat regional, kompetisi ini melibatkan seluruh negara Asean. Saya sendiri lupa persisnya, apakah ada kompetisi lain selain kompetisi tersebut pada masa itu? Kok rasanya tidak ada, ya? Atau kalaupun ada, prestisenya pasti tidak sebesar Philip Morris. Yang membuat kompetisi Philip Morris menjadi prestisius pada saat itu, pertama, adalah besaran hadiahnya. Di tingkat nasional, YSRI dan Philip Morris Indonesia memberikan hadiah sebesar Rp. 15 juta. Mohon dipahami bahwa pada tahun 1999, uang sejumlah itu besar, apalagi untuk ukuran fresh graduate bujangan seperti saya. Tapi yang lebih menarik lagi adalah, 5 karya terbaik nasional akan dipertandingkan lagi di tingkat ASEAN dan bisa merebut empat posisi Juror’s Choice, masing-masing dengan hadiah US$ 5,000 sementara hadiah utama, Grand Prix, berhadiah US$ 10,000.

Kedua, karena tidak ada kompetisi seni rupa lain dengan ruang lingkup seluas itu, mereka yang memenangkan kompetisi tersebut secara otomatis menjadi buah bibir di mana-mana karena publikasi tersebar di banyak media massa. Dalam lawatan ke Kuala Lumpur untuk kompetisi tingkat regional pada tahun 1999, sejumlah jurnalis media massa terkemuka di Indonesia turut hadir, meliput dan mewartakan perhelatan yang berlangsung. Beritanya bisa dibaca keesokan harinya di banyak media cetak nasional dan banyak yang mengikuti pemberitaan tersebut. Selain itu, medan sosial seni rupa Indonesia pada saat itu belum sebesar sekarang. Seniman-seniman top Indonesia dulu itu sebenarnya ya sudah top juga, beken, tapi belum sedahsyat sekarang. Bagi para seniman top Indonesia hari ini, uang ratusan juta itu “biasa”, jual karya yang ukurannya agak kecil ya bisa dapat, lah, uang sebanyak itu. Karya seniman-seniman top kita sekarang sudah miliaran rupiah, tapi saya belum termasuk yang seperti itu, lho, ya. 😀 Maka bisa dibayangkan, bagi dunia seni rupa Indonesia pada saat itu, di akhir tahun 1990-an dan di awal tahun 2000-an, sesudah negara ini dilanda krisis ekonomi dan sosial-politik, saat internet baru mulai menyebar dan masih mahal biaya aksesnya, saat media sosial bahkan belum lahir, kemungkinan mendapatkan hadiah uang yang besar dan publikasi tingkat nasional dari kompetisi Philip Morris maknanya sangatlah besar.

Walaupun demikian, hadiah utama dalam kompetisi yang diadakan oleh UOB kali ini lebih menggiurkan lagi. Walaupun negara yang terlibat di tingkat regional tidak sebanyak kompetisi Philip Morris, hadiah utama UOB-POY 2016 di tingkat nasional bahkan lebih besar daripada hadiah Grand Prix Philip Morris ASEAN Art Award pada tahun 1999. Uang sebesar US$ 10,000 pada tahun 1999 bila ditambahkan inflasi (sekitar 44,3% dalam waktu 17 tahun) dan pertukaran kurs US Dollar vs ID Rupiah pada hari ini “hanya” berkisar Rp. 189 juta sementara kompetisi UOB Painting of The Year 2016 menyediakan jumlah Rp. 250 juta. It’s big! Bisa kawin siri lima kali. 😛 Walaupun demikian, setahu saya hadiah untuk pemenang utama kategori Profesional di setiap negara adalah US$ 25,000, artinya seharusnya hadiah yang diterima oleh pemenang tingkat nasional berdasarkan kurs hari ini adalah sekitar Rp. 327 juta. Saya tidak tahu bagaimana kebijakan UOB Indonesia mengenai hal ini.

United Overseas Bank (UOB) sudah menyelenggarakan kompetisi seni rupa ini di Singapura sejak tahun 1982 dan setiap tahun kompetisi ini selalu diselenggarakan. Kompetisi ini diperluas dengan melibatkan Thailand mulai tahun 2010 sementara Indonesia dan Malaysia bergabung mulai tahun 2011. Dengan begitu kompetisi ini adalah sebuah kompetisi yang terpanjang sejarahnya di Asia Tenggara. Untuk dicatat, dalam lima tahun keterlibatan Indonesia dalam kompetisi ini (2011-2015), perupa Indonesia sudah tiga kali merebut hadiah utama “Southeast Asian Painting of The Year”. Posisi bergengsi ini pertama kali direbut oleh Y. Indra Wahyu pada tahun 2012 dan setelah itu para perupa Indonesia berhasil merebut hadiah utama “Southeast Asian Painting of The Year” tingkat regional di Singapura dua kali berturut-turut. Pada tahun 2014  posisi tersebut direbut oleh Antonius Subianto dan tahun 2015 dimenangkan oleh Anggar Prasetyo.

Ini jelas merupakan prestasi yang membanggakan. Di wilayah Asia Tenggara, Indonesia memang memiliki potensi seni rupa paling kuat terutama karena skala geografis dan demografisnya yang besar, didukung oleh pranata yang bisa dikatakan cukup lengkap alih-alih segala keterbatasannya. Dua lembaga pendidikan tinggi seni rupa tertua di Indonesia yakni FSRD ITB di Bandung dan ISI di Yogyakarta adalah lembaga-lembaga penting yang menjadi acuan semua lembaga pendidikan tinggi seni rupa lainnya di seluruh penjuru Nusantara. Lembaga-lembaga lain seperti: museum milik pemerintah, galeri-galeri swasta, ruang-ruang alternatif sampai balai lelang cukup banyak jumlahnya. Selain itu acara diskusi, pertunjukan, pameran, lokakarya, residency, bursa seni rupa komersial termasuk berbagai macam jenis proyek seni rupa non-profit pun tidak ada habisnya. Aktivitas lembaga-lembaga dan kegiatan-kegiatan ini memberi dampak besar dalam dinamika medan sosial seni rupa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan lembaga tersebut masih terlalu terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Dinamika dunia seni rupa kontemporer Indonesia sendiri sebenarnya tak pernah sepi. Masa-masa setelah boom seni rupa berakhir selalu diikuti dengan kelesuan pasar namun selain dari itu kegiatan selalu ada. Pada beberapa momen tertentu dunia seni rupa Indonesia bahkan bisa sangat seru, misalnya pada momen reformasi 1998. Jumlah seniman yang lahir dari tahun ke tahun cukup banyak dan ini menyebabkan dunia penciptaan karya seni di Indonesia selalu semarak walaupun secara umum kesemarakan tersebut tidak selalu berkaitan dengan tingginya mutu karya yang dihasilkan. Maka kehadiran Indonesia dalam final UOB-POY memang tidak bisa disepelekan. Walaupun demikian, menurut hemat saya, kemenangan perupa Indonesia berturut-turut (2014-2015) akan menyebabkan karya para perupa Indonesia akan kesulitan merebut tempat tertinggi dalam kompetisi final di tingkat regional pada tahun ini. Kalau karya finalisnya sama-sama hebat dan memiliki mutu yang “setara”, posisi utama lebih baik diberikan pada perupa lain, bukan perupa Indonesia. Kan sudah menang dua kali kemarin, gantian dong. 😀 Untuk bisa merebut gelar paling prestisius pada tahun ini, karya perupa Indonesia harus luar biasa. Maka bagi Anda yang bermaksud mengikuti kompetisi ini dengan visi merebut gelar tertinggi “Southeast Asian Painting of The Year 2016”, sebaiknya Anda menyiapkan sebuah karya yang unggul di semua aspek, bahkan melebihi karya-karya juara dari Indonesia sebelumnya. Itu sulit tapi bukan tidak mungkin.

Namun sejujurnya, lepas dari prestise, exposure, hadiah uang besar termasuk kesempatan melakukan residency di Fukuoka, Jepang, apabila kita berhasil meraih gelar juara dalam kompetisi UOB-POY 2016 ini, apakah sebenarnya manfaat kompetisi ini baik bagi iklim penciptaan kita pribadi di studio, bagi karir kita dan, lebih luas lagi, bagi perkembangan dalam medan sosial seni rupa Indonesia? Bagaimana hubungan antara perkembangan mutu penciptaan karya seni secara keseluruhan dengan kehadiran kompetisi seni rupa seperti ini di tanah air, siapapun penyelenggaranya? Sikap dan strategi seperti apa yang selayaknya diambil oleh seorang perupa dalam menghadapi kompetisi seperti ini?

Itu semua akan kita bahas tuntas dalam diskusi yang akan diselenggarakan di Roemah Seni Sarasvati pada hari Selasa minggu depan. Maka jangan lewatkan acara ini, hadirlah untuk bersama-sama membicarakannya sambil melihat karya-karya yang sudah berprestasi dalam kompetisi UOB sebelumnya. Selain itu, bagi Anda yang tertarik untuk mengikuti kompetisi ini, silakan ikuti tautan-tautan di bawah ini:

Formulir Pendaftaran dan Persyaratan UOB-POY 2016 (format PDF, 5Mb)
Frequently Asked Questions (Bahasa Indonesia, format PDF, 321Kb)
UOB-POY 2016 Singapore Catalogue (format PDF, 3Mb)

Terima kasih untuk perhatian Anda dan selamat berkompetisi, semoga berhasil! 🙂

keterangan: gambar pada thumbnail adalah karya Anggar Prasetyo, “Exploitation of Fish”, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s