Observasi dan Aplikasi Gelap Terang Dengan Cat Air Untuk Pemula

Teman-teman yang baik, artikel ini dibuat untuk membantu para peserta tingkat Pemula A dan Pemula B di KMD002, April 2020. Banyak di antara Anda yang masih belum mampu melakukan observasi gelap-terang yang cukup, juga aplikasinya dengan cat air di atas kertas. Karena itu saya membuat panduan langkah-demi-langkah yang saya harap bisa membantu kekaryaan Anda. Selamat membaca.

Ini adalah tugas terakhir di KMD002 untuk Pemula A & B. Saya sengaja tidak memberi foto betulan sebagai acuan karena kelihatannya para pemula akan sulit menafsirkan gelap-terangnya. Karena itu saya menggunakan karya cat air saya sendiri sebagai acuan untuk ditafsirkan menjadi karya. Dengan begitu pembagian gelap-terangnya akan jadi lebih mudah, setidaknya saya berpikir begitu. Kenyataannya bagi sebagian peserta, menafsirkan karya ini saja masih sulit. Nah, untuk memecahkan masalahnya, kita perlu melihat kasus ini dengan lebih teliti dari jarak dekat. Ini adalah saat foto acuan sedang dijiplak dengan menggunakan lightbox dengan cahaya dari bawah.

Sebenarnya kalau menjiplak dari foto betulan, jiplakan saya bisa lebih sederhana. Namun karena yang dijiplak adalah karya cat air, dengan segala kerumitan sapuan kuasnya, jiplakan ini agak sedikit lebih rinci daripada biasanya. Saya perlu menunjukkan secara persis sapuan demi sapuan untuk petunjuk ini. Seperti biasa, supaya bisa menghasilkan hasil jiplakan yang tipis, bersih dan akurat, saya menggunakan pensil mekanik ukuran 0.5mm dengan mata pensil ukuran B. Hasilnya seperti yang diharapkan dan yang terpenting: jelas dilihat.

Saat foto selesai dijiplak kita bisa segera paham bahwa warna yang paling terang adalah warna kertas. Dengan begitu dari sononya kertas sudah mendefinisi highlight, bukan? Karena itu tugas kita selanjutnya adalah mendefinisi shadow, daerah yang paling gelap. Mau dibuat segelap apa shadow-nya? Untuk itu kita perlu melihat foto acuannya dan di sini terlihat bahwa shadow yang paling gelap itu gelapnya: gelap banget.

Untuk itu saya membuat campuran warna Sepia (416, Royal Talens Rembrandt Watercolor Colour Chart) dengan Payne’s Grey (708) untuk membuat campuran yang gelap di palet cat air saya. Selain gelap, saya juga membuat campurannya agak banyak. Campuran yang agak banyak saat bekerja secara monokromatis seperti ini berguna supaya warna kita konsisten. Bila di tengah jalan catnya habis lalu harus mencampur warna lagi, tone bisa berubah.

Sebelum memulai berkarya saya juga memastikan saya punya setumpuk tisu wajah yang selalu saya gunakan untuk mengeringkan atau mengurangi jumlah air pada kuas saat melukis. Anda bisa lihat di gambar di bawah ini, tisu pengeringnya belum saya ganti. Sudah ada banyak warna di situ. Bila Anda pikir tisu pengering Anda sudah terlalu kotor, ganti saja.

Selain tisu pengering, saya juga menyediakan tisu penghapus yang siap saya gunakan kapan saja saya membuat kesalahan. Cat air adalah sebuah media yang tanpa ampun karena transparansinya. Bila kita membuat kesalahan, berapapun lapisan cat yang kita tumpuk di atasnya takkan berguna, kesalahan itu akan tetap terlihat membayang di bawah tumpukan warna. Karena itu bila kita membuat kesalahan, kita hanya punya waktu kurang dari semenit untuk menghapusnya sebelum cat air diserap oleh kertas dan mulai mengering.

Bila Anda melakukan kesalahan, tisu penghapus sebaiknya sudah tersedia sehingga Anda tidak membuang waktu untuk mengambil tisu dari wadah dan melipatnya. Itu makan waktu, cat Anda bisa terlanjur kering. Tisu penghapus ini adalah jenis yang sama persis dengan tisu pengering, hanya saja ia disiapkan khusus untuk menghapus bila terjadi kesalahan. Saya terbiasa melipat tisu penghapus saya menjadi semacam saputangan berbentuk segitiga, supaya bila saya butuh menghapus di daerah sempit, itu akan mudah saya lakukan. Akhirnya peralatan saya lengkaplah sudah. Ditambah dengan cat air, kuas dan mangkuk air, saya sudah siap bekerja. 🙂

Seraut wajah itu rumit sekali gelap-terangnya, nyaris tidak ada bagian yang flat. Secara tiga dimensi, bentuk kepala memang rumit, karena itu untuk menghindari kerumitan tersebut, kita perlu melakukan isolasi. Pertama kali, fokuslah pada daerah T pada wajah. Ini adalah daerah terpenting yang mencakup 4 gugus yaitu: kedua mata, hidung, dan mulut. Formasinya kan membentuk huruf T, karena itu kita menyebutnya ‘daerah T’. Karena kita sedang fokus pada daerah T, lupakan dulu bagian yang lainnya, dengan begitu kerumitan wajah menjadi berkurang. Nah, ini dia daerah yang akan kita kerjakan pertama kali.

Oya, sebelum mulai melukis, ada dua hal yang perlu saya ingatkan. Pertama, gunakan kertas coret-coretan untuk menguji campuran cat Anda. Jangan mengulaskan campuran warna dari palet langsung ke kertas karya Anda. Ulaskan dulu di kertas coret-coretan untuk melihat apakah warnanya, gelap-terangnya, sudah cocok. Kedua, lihatlah foto di bawah ini.

Lihatlah genangan air itu. Itu lazim terjadi saat kita melukis dengan cat air. Apakah itu terjadi karena airnya terlalu banyak saat kita mencampur cat? Tidak juga. Saat mencampurkan cat dengan air di palet, kita sudah menakar jumlah yang tepat. Yang terjadi adalah: Airnya terlalu banyak di kuas. Karena itu sesudah mengambil cat dengan kuas, ulaskanlah kuas Anda ke tisu pengering. Tisu akan menyerap sebagian air sehingga saat Anda mengulaskan kuas, genangan tidak akan terjadi separah ini.

Saat melukis cat air, terutama dengan teknik wet on dry, seharusnya genangan macam ini tidak terjadi. Genangan air seperti ini makan waktu lama untuk kering sempurna dan parahnya, kita jadi tidak bisa memperkirakan akan seperti apa warnanya saat kering nanti. Saat mengulaskan kuas, cat seharusnya hanya berupa lapisan basah yang merata saja, tidak ada genangan air yang membentuk bukit kecil seperti ini.

Bila Anda merasa warna Anda menjadi kurang pekat sesudah kuas diulaskan ke tisu pengering, sentuhkan sedikit ujung kuas Anda ke campuran cat di palet. Sedikit saja, ujungnya doang. Dengan cara itu Anda akan memperkuat kepekatan cat tanpa membuatnya menjadi sangat basah. Pada akhirnya bagaimana cara kita mengatur banyaknya air adalah kunci dari teknik cat air yang berhasil. Tidak ada rahasia dalam teknik ini, semakin sering Anda berlatih Anda akan semakin jago. Anda akan bisa mendapatkan kepekatan yang tepat tanpa berpikir nanti, bila sudah terbiasa.

Di Klinik Rupa Dokter Rudolfo, siswa biasa diajarkan untuk langsung mengisi shadow yang paling gelap saat menggambar. Dengan begitu mereka bekerja dari gelap ke terang. Alasannya adalah untuk membuat kontras yang tinggi. Di dalam bidang gambar, warna yang paling terang adalah warna kertas yang putih bersih. Dengan begitu dari sononya kertas sudah mendefinisi highlight. Nah, tugas kita selanjutnya adalah mendefinisi shadow. Mau segelap apa shadow-nya? Coba lihat foto acuan. Di foto acuan shadow-nya terlihat gelap sekali.  Saya menggunakan campuran warna Sepia & Payne’s Gray yang sudah saya buat tadi. Kepekatannya sudah disesuaikan dengan shadow yang paling gelap di foto acuan.

Sesuai dengan strategi, saya hanya fokus pada daerah T saja. Di luar itu saya abaikan dulu. Sekarang di daerah T saya berusaha mendeteksi daerah yang paling gelap ada di mana saja? Ternyata tidak terlalu banyak. Dan bukan hanya itu. Daerah gelap ternyata tidak hanya terdiri dari satu warna gelap saja, tapi banyak. Jadi shadow pun masih bisa kita bagi-bagi lagi menjadi beberapa level gelapnya. Tapi itu nanti. Untuk saat ini saya hanya mengisi daerah yang menurut saya paling gelap saja.

Ini adalah daerah-daerah yang tingkat gelapnya berada satu level di bawah tingkat gelap yang pertama saya kerjakan tadi. Ada yang agak keliru, itu di bawah lubang hidung sebelah kiri. Saya pikir gelap sekali, ternyata tidak. Akhirnya saya langsung menutulkan tisu penghapus ke daerah situ dan cat di sana pun segera terangkat. Namun lihatlah, walaupun sudah terangkat, daerah itu sudah tidak ‘suci’ lagi. Dia telah ternoda. Begitulah kepekaan kertas gambar, juga kanvas sebenarnya, yang putih bersih. Sekali dia kena noda, sulit sekali mengembalikannya ke kondisi sempurna di awal.

Sekarang karena sudah ada dua level shadow, kita bisa belihat sedikit dimensi dalam karya ini. Bola mata mulai terlihat seperti bola mata sungguhan, dengan highlight terang yang membuatnya terlihat hidup. Walaupun masih sangat sederhana, dua level ini saja sudah mulai menunjukkan kekuatan ilusinya. Satu tip untuk peserta pemula, saat bekerja seperti ini, tidak perlu hiraukan bentuk apa yang sedang Anda kerjakan. Entah itu mata, hidung, atau mulut, jangan hiraukan. Fokuslah pada gelap-terangnya saja. Anda bekerja berdasarkan data dan fakta cahaya, yaitu pada shadow, middle-tones, dan highlight saja. Pekerti itu akan membuat Anda lebih cepat belajar gelap-terang.

Di sini saya bergerak ke dua arah, ke arah gelap sekaligus ke arah terang. Dalam bekerja seperti ini sebenarnya tidak ada aturan baku, Anda bisa bekerja dari terang ke gelap, atau gelap ke terang, bukan masalah. Bagi saya yang penting adalah: Shadow yang paling gelap sudah didefinisi sejak awal. Kini daerah mata jadi lebih lengkap, ditambah kumis. Kumis sebenarnya cukup gelap banget, tapi tidak flat. Saya memudarkan warna kumis dengan mencuci kuas sedikit, mengelapnya di tisu pengering supaya tidak terlalu basah, lalu lanjut melukis. Dengan begitu daerah kumis tidak flat. Teknik sapuan kuas bravura sejatinya selalu menghindari suatu wilayah terlihat flat. ‘Flat’ di sini artinya ‘datar’, atau ‘ngeblok’.

Shadow yang paling gelap, dan highlight yang paling terang, itu mengidentifikasinya mudah. Itu sih seperti melihat sesuatu secara hitam-putih, seperti film Hollywood memberi peran baik dan peran jahat. Yang sulit adalah mengidentifikasi middle-tones karena levelnya ada banyak. Dalam tahapan melukis ini saya membuat setidaknya lima level yang berbeda untuk middle-tones. Para peserta pemula, yang matanya belum terlatih membedakan gelap-terang yang tipis-tipis, biasanya mengerjakan karya secara simplistik. Pembagiannya terlalu sedikit. Untuk itu kita harus rajin berlatih karena semakin sering kita mengobservasi obyek, makin terlatih mata kita. Pada akhirnya, dalam sekali lihat saja kita akan mampu membedakan level gelap-terang yang bedanya tipis sekali. Ini akan makan waktu, tapi pasti bisa dilatih. Nah, sekarang daerah T sudah cukup terisi. Belum sempurna, tapi 80% sudah terisi. Karena itu selanjutnya saya mulai melukis di luar daerah T, melebar ke segala arah.

Ini adalah panel kelima dari sembilan panel. Artinya dia ada di tengah-tengah persis. Pada titik ini gelap-terang terlihat ngawur. Betul, nggak? Kenapa di pipi ada dua garis melintang begitu? Lalu di daerah dahi ada sapuan kuas melingkar-lingkar seperti cacing. Gelap-terang pada tahap ini seperti tidak pada tempatnya dan bila dilihat secara keseluruhan lukisan ini sepertinya ngawur. Bagi banyak perupa, memulai berkarya selalu diiringi dengan semangat dan harapan, tapi begitu sudah mencapai titik tengah perjalanan seperti ini, kebimbangan mulai muncul. Kemungkinan karya kita akan sukses atau gagal biasanya 50:50. Saya perlu katakan, itu biasa dalam penciptaan. Penciptaan di tengah perjalanan memang meragukan karena pada saat itu karya berada pada titik paling jauh dengan unity. Tidak perlu bimbang, Anda baik-baik saja, Anda sudah berjalan di jalur yang tepat, teruskan perjalanan. Seiring waktu, unity akan terbentuk saat karya mendekati penyelesaian.

Pada tahap ini, beberapa daerah menjadi lebih terdefinisi karena ada shadow yang gelap seperti di daerah jenggot dan rambut. Walaupun begitu, unity tetap masih belum ada dan karya ini terlihat seperti coret-coret ngasal saja. Bukan masalah, lanjutkan penciptaan Anda. Tetap lakukan observasi gelap-terang dengan teliti dan campur cat Anda sedekat mungkin dengan aslinya. Jangan langsung mengulaskan di kertas cat air, periksa dulu di kertas coret-coretan. Kalau sudah yakin, barulah ulaskan di karya. Ke arah mana sapuan Anda harus menuju? Perhatikan foto acuannya. Ikuti kontur tiga dimensi dari obyeknya. Bila kita perhatikan dengan jeli, kita bisa melihat bahwa foto acuan sebenarnya memberi kita ‘saran’, harus ke mana kita mengarahkan sapuan kuas (atau arsiran, bila kita sedang mengarsir dengan pensil grafit). Perhatikan dengan jeli dan teliti, lihatlah seperti kamera sedang zoom.

Pada titik ini dimensi mulai terlihat lebih jelas dan unity mulai terbentuk. Kekhawatiran kita tentang gelap-terang yang ngawur tadi mulai sirna. Ternyata tidak ngawur-ngawur amat. Itulah yang sering terjadi saat kita berkarya. Kita sering menganggap karya kita hancur, padahal tidak hancur-hancur amat. Kebanyakan perupa berpikir seperti itu, dan itu lazim karena kritikus seni paling kejam di dunia tinggal di dalam kepala kita sendiri. Tidak usah terlalu didengarkan lah itu suara-suara negatif di dalam pikiran kita. Teruslah berkarya. Kalau karya yang sekarang ini gagal, memangnya kenapa? Baik karya kita gagal atau berhasil hari ini , besok kita tetap akan berkarya lagi. Tidak ada bedanya gagal atau berhasil, yang penting kita fokus pada penciptaan saat ini, di depan mata kita ini.

Akhirnya bangunan tiga dimensi dari seraut wajah ini mulai terbentuk. Bila bangunan tiga dimensinya sudah terbentuk, walaupun masih kasar, unity-nya juga terbentuk. Gelap-terang yang menurut kita tadi ngawur, ternyata ada fungsi dan tempatnya sendiri-sendiri. Mungkin tidak semua sapuan kuas kita berhasil, ada juga yang tidak efektif, ada juga sapuan kuas yang awkward, tapi bila karya kita dilihat secara keseluruhan, hasilnya masih okelah. Sedikit tip: Bila kita menghabiskan waktu berjam-jam duduk untuk melukis, mata kita bisa kehilangan obyektivitasnya.

Karena sudah dilihat berulang kali sampai ratusan kali, ada kesalahan-kesalahan tertentu yang kita anggap bukan kesalahan. Sebaliknya, ada hal-hal yang sebenarnya bukan masalah besar, tapi kita anggap itu kesalahan dan kita jadi gelisah karenanya. Mata yang tidak diistirahatkan dan disegarkan bisa kehilangan obyektivitas seperti itu. Mas Didit, guru melukis saya, memberikan saran sederhana yang jenius: lihat karya Anda dengan cermin. Atau, foto karya Anda, lalu flip, cerminkan fotonya sehingga terbalik secara horizontal. Dengan begitu gambar menjadi ‘baru’ bagi otak kita dan kita akan mampu melihat hal yang keliru. Namun selain teknik tersebut, Anda juga perlu bangkit dari kursi, mundur sejauh 1 meter, lalu melihat karya Anda dari jauh.

Pepatah Zen mengatakan, “Bila kau terpikat pada daunnya, kau akan lupa pada pohonnya. Bila kau terpikat pada pohonnya, kau akan lupa pada hutannya”. Artinya kita harus terus melakukan zoom in dan zoom out saat mencipta. Melihat secara rinci dari dekat sama pentingnya dengan melihat secara global dari jauh. Beberapa seniman sering terlalu asyik mengerjakan rinci sampai overdo, itu karena dia lupa melihat dari jauh.

Setelah menambahkan lapisan tipis di sana-sini, juga menambahkan titik-titik, karya ini saya anggap selesai. Ini bukan karya asli, tapi karya copy. Ini adalah wajah Weslly Johannes, penyair dari Ambon, teman baik saya. Karya aslinya sudah dibingkai dan dipajang di rumah Weslly, saya membuat karya ini supaya bisa dipindai langkah demi langkah dan dijadikan materi artikel ini. Menurut saya sih karya aslinya lebih bagus. Berkarya terputus-putus karena harus memindai itu tidak enak, tapi tidak apa-apa. Anda kan jadi bisa melihat seperti apa prosesnya.

Ada banyak peserta KMD002 yang ingin bisa menguasai sapuan kuas bravura yang ekspresif, tapi bagi saya itu bukan prioritas utama. Dalam KMD002 prioritasnya berturut-turut adalah: 1) Gelap-terang harus benar. 2) Warna hangat-warna dingin harus benar. 3) Skintone harus benar. 4) Bravura. Kalau gelap-terangnya belum benar, ya belajar gelap-terang dulu sajalah sampai bagus.

Ini adalah teknik melukis basah di atas kering, dengan cara berpetak-petak dan bertumpuk-tumpuk. Ada orang-orang tertentu yang tidak cocok dengan cara melukis seperti ini karena rasanya ‘tidak benar’. Yang benar adalah dengan cara membuat gradasi yang halus. Seperti yang sudah saya jelaskan di Grup Diskusi, itu karakter. Bukan soal benar-salah. Bila Anda adalah jenis perupa yang seperti itu, tidak masalah. Kerjakan saja foto acuan ini dengan teknik semi-wet-on-wet. Tunggu sampai lapisan cat di kertas jadi setengah kering lalu buat gradasi.

Nah, sekian sudah panduan ini. Semoga bisa membantu kekaryaan Anda. Terima kasih. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s