Vaksinasi Covid-19 di UPI, Bandung

Tulisan ini saya buat untuk menunjukkan apresiasi dan rasa terima kasih saya pada Institut Drawing Bandung, sebuah organisasi yang didirikan dan dikelola oleh teman-teman saya, para seniman di Bandung. Sesungguhnya saat program vaksinasi dimulai saya hanya mengikuti saja beritanya di media massa. Saat itu para tenaga kesehatan dan lansia adalah mereka yang mendapatkan prioritas pertama. Papa dan Mama, yang memang rutin memeriksakan kesehatan mereka lewat Prolanis (Program Penanggulangan Penyakit Kronis), sudah lebih dulu divaksinasi. Papa mendaftarkan diri secara daring lalu mereka berdua divaksinasi di Puskesmas cabang Pasir Kaliki, kelurahan tempat kami tinggal.

Awalnya, di pertengahan bulan Maret 2021, saya mendapatkan kiriman berita via Whatsapp berisi tautan Google Form dari Kemenparekraf. Pendaftaran Vaksinasi Tenaga Kerja Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, judulnya seperti itu. Namun saat formulirnya diisi, ternyata itu hanya untuk mereka yang berdomisili di Jabodetabek. Gagal, deh, daftar vaksinasinya.

Sepuluh hari kemudian ada tautan Google Form lagi di group Whatsapp yang sama: Form Pendaftaran Vaksinasi Covid-19 Profesi Seniman Bandung Raya. Di situ diberitakan, Kang Isa Perkasa dan Mas Ipong Witono sedang menjaring data 500 seniman/pekerja seni. Jika jumlah tersebut tercapai maka daftarnya bisa diajukan ke Satgas Covid-19 untuk program vaksinasi kelompok seniman. Karena pendaftaran pertama gagal, dan waktu itu saya pikir prioritasnya kan untuk tenaga kesehatan dan lansia, saya jadi ragu apakah program ini akan berhasil. Kan baru akan diajukan, jadi belum tentu direalisasi, saya pikir begitu. Akhirnya data itu tidak saya isi.

Seminggu kemudian tautan itu datang lagi di WA lewat grup yang berbeda, dan saya tetap tidak mengisi. Saat sedang ketemuan dengan teman-teman, seorang teman menyarankan saya untuk mengisi formulir itu. Jadi atau tidak kami memang belum tahu, pokoknya diisi dulu supaya datanya terkumpul. Akhirnya saya isi deh, formulirnya, tanpa berharap programnya akan jadi. Eh, ternyata jadi, dong.

Wah, saya takjub. Ternyata vaksinasinya betulan jadi. Saya tanya sama Ima, teman saya yang mengorganisasi program ini, apa Fini, istri saya bisa ikut vaksinasi? Ima bilang kalau untuk peserta sih sudah penuh, tapi kalau mau Fini bisa ikut waiting list. Nanti kalau ada yang cancel, Fini bisa dapat slot. Akhirnya Fini saya daftarkan sebagai desainer lewat Metamorfosa, organisasi kreatif home schooling Caka, anak kami. Ternyata Fini beruntung, dia terdaftar untuk menerima vaksinasi di tanggal yang sama dengan saya. Maka dengan gembira kami berangkat ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jl. Setiabudhi, Bandung. Saya punya banyak teman seniman lulusan Seni Rupa UPI, dan mamanya Fini almarhum juga dulu dosen UPI. Rupanya Institut Drawing Bandung mendapat jatah vaksinasi bersamaan dengan program vaksinasi Covid-19 untuk dosen dan tenaga kependidikan UPI. Program itu dilaksanakan di gymnasium, tempat wisuda biasa dilaksanakan.

Kami tiba siang hari sesuai jadwal yang ditentukan. Antrean sudah terlihat panjang di luar aula. Saya senang bisa bertemu banyak teman, sebagian dari mereka mengenakan kaus panitia Institut Drawing Bandung dan turut mengorganisasi peserta vaksinasi yang baru tiba. Kami diberi sticker yang harus diberi nama dan ditempel di baju untuk tanda pengenal.

Walaupun antrean panjang, kami tidak perlu menunggu lama karena antrean selalu bergerak maju. Setelah diperiksa suhu tubuh kami mulai masuk aula, dan kami tidak perlu menunggu sambil berdiri lagi karena sudah disediakan tempat duduk. Namun kami tidak sempat duduk terlalu lama karena selalu harus pindah kursi karena antrean yang selalu bergerak maju. Beberapa teman, termasuk Kang Rendra Santana, membuat live sketch suasana vaksinasi. Setelah nama kami ditemukan dalam daftar peserta vaksinasi dan kami bubuhkan tanda-tangan, kami pun naik tangga sampai tiba di aula utama. Seperti ini suasananya:

Dari meja pertama kami sudah dikelompokkan berdasarkan nama, dan kami memegang formulir yang berbeda warna. Di aula yang luas sudah tersedia banyak meja dengan kode warna yang berbeda-beda. Saya dapat warna merah, jadi jalurnya sudah jelas. Fini sempat sedikit terhambat karena namanya tidak segera ditemukan di daftar panitia. Barangkali karena dia awalnya masuk waiting list, bukan peserta, tapi sesudah konfirmasi beberapa saat namanya ditemukan dan kami pun mengikuti prosedur bersamaan walaupun mejanya berbeda.

Gula darah kami diukur dengan alat khusus setelah ujung jari kami ditusuk jarum. Setelah itu tekanan darah kami juga diukur secara manual. Saya adalah pengidap hipertensi. Sejak Mei 2019 saya mengkonsumsi obat hipertensi secara rutin tiap hari. Untuk vaksinasi hari itu saya sudah minum obat di pagi hari, dan saya bawa obat cadangan dengan dosis yang lebih rendah, kalau-kalau tekanan darah saya terlalu tinggi. Rupanya itu tidak terjadi. Gula darah dan tekanan darah saya normal. Sesudah diberi pengarahan dan diwawancarai perihal alergi, kondisi kesehatan, dsb, kami pun mengantre untuk masuk bilik vaksinasi. Walaupun awalnya terpisah saya dan Fini masuk bilik bersama. Mungkin ada setidaknya 5 bilik yang berbeda untuk proses vaksinasi.

Oleh ibu tenaga kesehatan saya diberi tahu bahwa vaksin yang digunakan adalah Sinovac yang datang sebagai bahan baku, lalu dikembangkan di Biopharma, Bandung. Saya tidak punya masalah dengan jarum suntik, jadi proses vaksinasi berlangsung dengan cepat dan efektif. Waktu saya bergerak keluar ternyata Fini juga baru selesai disuntik. Saya ambil fotonya.

Setelah vaksinasi selesai kami duduk di barisan observasi sesuai dengan warna formulir kami. Kami diharuskan menunggu selama 30 menit untuk melihat apakah ada reaksi alergi atau keluhan lain akibat vaksinasi. Ada bilik khusus dengan ranjang rumah sakit yang diperuntukkan bagi mereka yang mengalami masalah sesudah vaksinasi. Namun kelihatannya semua orang baik-baik saja, setidaknya selama kami ada di sana. Sebelum pulang kami diberi sertifikat vaksinasi tahap pertama, dan bila kami ada keluhan apapun juga sudah tersedia nomor dokter yang bisa dihubungi. Sesudah bercengkerama sebentar dengan teman-teman, kami pun pergi makan siang. Kami lapar karena waktu sudah menunjukkan jam 3 sore dan kami belum makan siang. Ini bukan efek vaksinasi. 😊

28 hari kemudian, di awal bulan Mei 2021, kami kembali ke UPI untuk mengikuti vaksinasi tahap kedua. Berbeda dengan tahap pertama kali ini kami datang lebih pagi, supaya lebih sepi. Jam 10 pagi kami sudah ada di lokasi dan tidak ada antrean sama sekali. Bahkan sesudah masuk ke dalam untuk registrasi nama pun tempatnya sepi sekali. Sesudah kami naik ke aula barulah terlihat ada banyak orang, tapi itu pun tidak seramai vaksinasi tahap pertama.

Sesudah mengikuti pengarahan, wawancara, tes gula darah dan tekanan darah, kami pun mengantre untuk vaksinasi. Tidak ada yang istimewa, semua berjalan dengan lancar. Antrean memang panjang, tapi gerakannya cepat jadi kami tidak perlu menunggu lama. Saya perhatikan, program vaksinasi ini bisa berjalan lancar karena dipandu oleh Resimen Mahasiswa UPI. Mereka adalah orang yang segera mengarahkan para peserta menuju meja berikutnya sehingga tidak ada alur yang tersendat atau bertabrakan. Program vaksinasi di UPI sangat lancar dan sangat terorganisasi, terutama berkat keterlibatan Menwa UPI. Tidak ada yang main serobot, tuh. Antrean sangat tertib dan lancar. Saya acungkan dua jempol.

Vaksinasi kedua ini ternyata memiliki efek samping bagi saya, efeknya adalah ngantuk dan lemas. Saya tahu ini adalah efek samping vaksinasi karena semalam sebelumnya saya sudah tidur cukup selama 8 jam (supaya tekanan darah tidak tinggi). Di perjalanan pulang saya sudah mulai mengantuk. Sampai di rumah, seperti kebiasaan kami kalau habis pergi dari luar, saya mandi dengan air dingin. Seharusnya mandi air dingin menyegarkan saya, tapi tidak cukup lama. Hanya 10 menit sesudah mandi, saya ngantuk lagi. Saya pun tidur siang sekitar 3 jam sampai sore. Ketika bangun, badan saya terasa lemas dan itu berlangsung sampai malam harinya. Fini juga merasakan hal yang sama. Fatigue memang merupakan efek samping vaksinasi, jadi tidak ada masalah. Bekas suntikan agak sakit dan pegal sedikit sampai keesokan harinya. Di hari ketiga setelah vaksinasi rasa sakit dan pegalnya sudah hilang.

Akhirnya saya dan Fini tuntas mengikuti program vaksinasi ini. Kami sudah dapat sertifikat yang menyatakan kami sudah mengikuti dua kali vaksinasi. Sertifikat ini akan berguna bila kami harus bepergian. Walaupun begitu, kita tahu bahwa mutasi virus Covid-19 di luar terus terjadi dan setidaknya ada 3 varian baru di Indonesia. Untuk itu kami akan tetap berhati-hati. Fini sih seringnya di rumah saja, saya pun hanya pergi ke Tobucil untuk melukis, kecuali ada janji sama teman di tempat lain. Kami tetap menerapkan prosedur kesehatan, dan Lebaran ini kami tidak mudik jadi kami Lebaran di rumah saja.

Ada kelegaan karena sudah mengikuti program vaksinasi. Saya dan Fini benar-benar senang dan mengucapkan terima kasih pada Kang Isa Perkasa, Mas Ipong Witono, Ima Rochmawati, Anton Susanto, dan semua pihak yang telah membuat kami bisa ikut program vaksinasi ini: Institut Drawing Bandung; Universitas Pendidikan Indonesia (UPI); Ikatan Alumni UPI; Griya Seni Popo Iskandar (GSPI); Silih Tulungan; Kementrian UMKM; Pemprov Jabar; Pemkot Bandung. Semoga jasa Anda semua dibalas Tuhan berkali-kali lipat, amin. Semoga kita sekeluarga selalu sehat, ya, supaya kita bisa tetap produktif berkarya. πŸ˜ŠπŸ™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s