Makna Jadi Seniman (bagian terakhir dari dua bagian)

chuck_closeChuck Close adalah seniman Amerika kelahiran 1940, salah seorang pelukis potret terbaik di dunia yang mengaburkan batasan antara fotografi dan lukisan. Observasinya yang sangat tajam dan ekspresi kreatifnya telah memberi definisi baru pada seni lukis potret yang telah memiliki tradisi lebih dari 600 tahun. Apa yang dilakukan Chuck Close telah memengaruhi puluhan, kalau tidak ratusan, seniman penting dari generasi berikutnya.

Alih-alih segala pencapaiannya, Chuck Close terlahir dengan sebuah nasib buruk. Ia adalah anak tunggal dengan disleksia berat, ia mengalami kesulitan belajar. Tubuhnya gemuk, besar dan lambat. Ia dianggap bodoh di sekolah dan orang banyak mengatakan ia takkan mampu masuk universitas. Pada usianya yang ke-11, ayahnya meninggal, ibunya terserang kanker payudara, rumah keluarganya harus dijual untuk mengganti biaya pengobatan, neneknya didiagnosa Parkinson dan Chuck sendiri harus berbaring nyaris sepanjang tahun karena infeksi ginjal yang parah. Chuck menemukan penghiburan dalam seni, ia hanya menggambar dan menggambar. Sejak usia 5 tahun ia tahu sudah ingin menjadi seniman.

Tidak seperti perkiraan banyak orang, Chuck masuk Universitas Washington, lulus magna cum laude, dan meneruskan kuliahnya di Universitas Yale. Kariernya mulai menanjak. Pengakuan dan kesuksesan akhirnya datang menghampirinya namun seperti yang lazim terjadi, kehidupan sering memberikan lelucon pahit pada manusia. Pada usianya yang ke-49, saat ia sedang berada di puncak kesuksesannya, ia diserang penyumbatan darah di tulang belakang dan lumpuh. Chuck tidak bisa menggerakkan badannya dari leher ke bawah dan harus menggunakan kursi roda bermotor listrik sampai hari ini.

Semua orang mengira kariernya akan berakhir. Namun Chuck bukan hanya mampu kembali melukis lagi namun juga melakukan pencapaian-pencapaian yang bahkan lebih penting daripada semua yang pernah dicapainya. Ia dinobatkan menjadi salah satu dari 50 orang perupa paling berpengaruh di dunia seni rupa kontemporer oleh majalah bergengsi ARTNews. Pada masa-masa pemulihan dari sakitnya, Chuck Close bersikeras untuk berkarya lagi. “Kalau saya harus menggigit lidah saya dan menyemburkan darah untuk melukis, itu akan saya lakukan.”

Sekalipun itu terdengar heroik, saya yakin Chuck Close paham sekali bahwa ia tidak punya pilihan lain. Kondisi “tidak punya pilihan” lain ini semakin lama menjadi semakin jelas bagi saya setelah pengalaman demi pengalaman saya lalui. Sekilas, kondisi tidak punya pilihan memang terdengar sempit tapi sebenarnya itu justru menyederhanakan masalah. Saya pernah ditanya dalam sebuah lecture di NUS, Singapura, “Bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia adalah seniman?” Jawabannya sederhana, “Saat ia tidak punya pilihan lain: berkarya atau ‘mati’.”

Pemahaman ini penting sekali artinya bagi saya karena sepanjang pengalaman saya, pikiran saya sering terganggu karena belum benar-benar meresapi wawasan ini. Baru-baru ini saya chattingdengan beberapa orang teman, seniman muda yang sedang mulai memasuki masa mid-career. Saya bisa mengatakan mid-careerkarena menurut pengalaman saya, masa-masa awal berkiprah selepas lulus kuliah adalah masa indah, seperti baru menikah dan sedang menikmati bulan madu. Semangat menggelora, semua serba mungkin, seniman muda tidak memedulikan segala kekurangan dan hambatan, melakukan banyak kesalahan tapi terus maju dan mau mencoba berbagai hal, seringkali dengan nekad.

Setelah masa indah tersebut, datang masa berikutnya. Masa-masamid-career adalah masa yang, walaupun masih penuh aksi, sarat dengan perenungan. Ini adalah saat di mana seorang seniman mulai mengevaluasi dampak dari apa yang sudah dilakukannya. Sesudah bertahun-tahun berkiprah, lalu apa dampaknya? Apa dampak sosialnya, dampak ekonominya dan dampaknya pada karier? Lalu soal kekaryaan itu sendiri. Apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan dalam karya-karya saya? Apa pesannya? Apakah cara saya berekspresi sudah sepenuhnya mengakomodasi gagasan dan konsep-konsep saya? Mengapa selama bertahun-tahun kekaryaan saya tidak menunjukkan perkembangan yang berarti? Mengapa hanya begitu-begitu saja? Di samping itu, pertanyaan-pertanyaan reflektif yang terarah ke dalam yang tidak pernah ada habisnya selalu muncul kembali: apakah ini yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan? Apa makna semua yang saya lakukan ini bagi saya? Bagi orang lain? Apa yang sebenarnya sedang saya lakukan pada diri saya sendiri? Pada hidup saya?

Bila perenungan tersebut bertabrakan dengan kondisi-kondisi semacam: kesulitan berkarya karena kurang modal; harus bekerja serabutan mencari nafkah sehingga berkarya tidak pernah mencapai titik optimal dan harus memilih antara menafkahi keluarga atau berkarya, pilihan akan jadi semakin sulit. Kekaryaan dan karier pun memberikan pertanyaan yang tidak habis-habisnya: sudah berkarya seperti apa; sudah pameran di mana saja; sudah masuk media mana saja; kenapa saya tidak semaju teman-teman sebaya bahkan yang lebih muda daripada saya dan akhirnya “pertanyaan sejuta dolar”: akankah saya menjadi seniman besar yang dikenang dalam sejarah atau saya akan tersingkir dan dilupakan? Pertanyaan-pertanyaan ini berat untuk dijawab. Bila ditambah dengan kondisi dan situasi yang jauh dari harapan, pertanyaan-pertanyaan ini mampu membuat seorang seniman memutuskan untuk meninggalkan dunia seni karena alasan-alasan pragmatis, padahal jiwanya berontak. Ini adalah kondisi fight-or-flight dan saya harus mengakui bahwa masa-masa ini berat sekali bagi saya.

Namun pengalaman telah menunjukkan bahwa untuk menghidupkan jiwa saya, saya semata-mata hanya perlu berkarya. Kebutuhan ini sedemikian besar sehingga hanya sekedar bisa melakukannya pun sudah menjadi imbalan tersendiri. Bayangkan kalau saya lumpuh seperti Chuck Close, saya pasti depresi lagi. Dengan demikian, masalahnya menjadi sederhana. Terserah, apa yang akan terjadi pada diri saya biarlah terjadi, yang penting saya bisa terus berkarya. Sekarang, kalau sudah memutuskan untuk terus jadi seniman, lalu apa?

Saya sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun berkarya sambil mengkhayalkan karya itu dikoleksi dan saya mendapat uang banyak, ternyata itu sungguh sebuah kekeliruan besar. Bila seniman berkarya dengan harapan mendapatkan imbalan uang atau nama baik, itu mungkin saja terwujud namun orang biasanya mendapatkan apa yang paling diinginkannya. Seniman seperti itu banyak sekali, termasuk saya, namun hanya seniman yang tergugahlah yang mendamba kelahiran sebuah adikarya. Ia akan bekerja karena cinta, melalui hambatan apa saja dan saat ditetesi setitik keberuntungan sebuah adikarya akan lahir, cemerlang seperti bintang fajar. Apapun hambatan yang dihadapi seniman yang tergugah, bila ia bersikukuh tak sudi menerima ketidaksempurnaan, pada saatnya ia akan mampu menghasilkan sebuah adikarya. Bila seniman hidup hanya untuk berkarya, sudah selayaknya inti dari semua visi hidupnya adalah melahirkan adikarya. Sudah sepantasnya seorang seniman terobsesi dengan hasrat ini. Maka hidup seniman semata-mata hanya bekerja, berkarya. Karya hari ini lebih baik daripada kemarin dan karya esok hari akan lebih baik lagi daripada hari ini. Hal-hal lain di luar itu tidak terlalu penting, penghargaan atau pencapaian karena usahanya bisa dianggap bonus saja.

Kita sering mengkhawatirkan hal-hal yang ada di luar kontrol kita. Kesuksesan adalah sesuatu yang nisbi dan kadang-kadang abstrak dengan begitu tidak sepenuhnya berada di dalam kontrol kita. Yang ada di dalam kontrol kita adalah: bangun pagi; olahraga; berangkat ke studio dan mulai bekerja jam 9 pagi; membuat satu-dua sketsa; melanjutkan karya yang dikerjakan kemarin; makan siang tepat waktu; berhenti jam 5 sore; pulang ke rumah bercengkerama dengan keluarga; mencari rujukan untuk karya berikutnya; membuat dokumentasi yang runut dan rapi; mengirimkan data yang dibutuhkan galeri/kurator/peneliti tepat pada waktunya dan seterusnya. Itu ada dalam kontrol kita. Jadi, bisa pameran di acara-acara prestisius memang baik untuk karier tapi hal itu tidak seluruhnya ada dalam kontrol kita. Faktor penentunya terlalu banyak. Bila karya kita bisa dikoleksi oleh kolektor-kolektor besar, itu memang bagus, tapi itu tidak sepenuhnya ada dalam kontrol kita. Tugas seniman hanya melahirkan adikarya menurut pengertiannya sendiri dan mengembangkan diri dan kekaryaannya hanya dan selalu ke arah yang lebih baik. Titik. Itu ada dalam kontrol kita. Khawatirkan itu saja, bukan yang lain.

Dan semua seniman tahu, saat dirinya mampu melakukan pencapaian artistik melampaui pencapaian yang sebelumnya, itu sendiri sudah merupakan imbalan yang luar biasa. Hati ini rasanya mengembang besar sekali, sampai sesak dada ini karena bangga dan bahagia. Namun, sekalipun kita belum mendapat kesempatan mengalami keindahan tersebut, bahkan hanya sekedar bisa berkarya saja sudah patut disyukuri. Bisa berkarya itu berkat, itu rahmat. Berjuta-juta orang di luar sana harus menahan tekanan batin karena terpaksa mengerjakan hal yang tidak mereka sukai, tidak mereka ingin, hanya sekedar untuk bertahan hidup, sepanjang hidup mereka. Tidakkah kita sangat beruntung? Sudah sepatutnya seorang seniman berkarya dengan kegembiraan sekaligus kerendahan hati, dengan kepercayaan sekaligus penyerahan diri yang total. Berkarya adalah masalah “hidup-mati” bagi seniman. Saya menghiba dalam masa-masa depresi saya, memohon supaya bisa sekedar mulai untuk melanjutkan kekaryaan saya yang terputus dan berantakan. Saya tak mampu menekankan hal ini lebih keras lagi baik pada diri saya sendiri maupun pada seniman lain, terutama seniman muda.

Teman-teman sebaya bahkan yang jauh lebih muda dari saya sudah mendapatkan pengalaman pameran di tempat dan acara yang prestisius, melebihi saya. Bila saya bilang saya tidak iri artinya saya bohong. Tentu saya iri dan saya berharap itu adalah cerminan semangat bersaing yang sehat di dalam diri saya. Namun kalau mau obyektif, saya juga sudah mendapat beberapa kesempatan bagus yang belum didapatkan senior-senior saya. Hal-hal seperti itu selalu terjadi dan tidak bisa dijadikan ukuran karena selalu berubah. Karena itu saya tidak lagi mempersoalkan hal tersebut, berbeda dengan dulu, saya bisa gelisah karena memikirkannya sampai berhari-hari.

Maka akhirnya, apa makna menjadi seorang seniman? Bagi saya, bagi Anda? Saya kira tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan ini. Diri kita berubah dan jawaban kita pun akan selalu berubah. Pertanyaan ini tidak akan pernah berhenti datang dan kita harus selalu melakukan perenungan kembali, lagi dan lagi, untuk memberinya makna baru. Namun bila harus memberikan sebuah jawaban umum terhadap pertanyaan tersebut, saya kira makna jadi seorang seniman adalah berkarya sebaik mungkin, menghasilkan adikarya demi adikarya, sambil terus meningkatkan kemampuan diri sampai mati.

Ada sebuah film dokumenter, “Jiro Dreams of Sushi” (sutradara: David Gelb, 2011) yang mengisahkan kehidupan sehari-hari Jiro Ono, seorang chef sushi berusia 83 tahun di restoran Sukiyabashi, sebuah restoran sushi di stasiun kereta bawah tanah Ginza, Tokyo. Walaupun hanya mampu menampung 10 orang, restoran ini harus dipesan paling lambat 1 bulan sebelumnya karena daftar tunggunya panjang. Restoran ini memegang reputasi 3 bintang Michelin, sebuah pengakuan kelas dunia. Bila ada kesempatan, tontonlah film ini. Sikap hidup dan etos kerja Jiro Ono adalah semua yang dibutuhkan seorang seniman yang tergugah.

Maaf kalau tulisan saya terlalu panjang dan melankolis, barangkali karena cuaca yang dingin dan sering hujan, saya jadi terhanyut dan melamun. Mungkin juga karena ini dekat dengan pergantian tahun, orang sering melamun di masa-masa jeda akhir tahun, merenungi banyak hal. Walaupun begitu, apapun makna hidup saya sebagai seniman, apapun makna hidup Anda dalam profesi apapun Anda pilih, saya harap kita sama-sama mampu menghadapi dan melampaui kegelisahan, kecemasan dan rasa takut kita menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Terima kasih sudah membaca tulisan panjang ini sampai tamat dan selamat menyambut tahun 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s