Anatomi Sebuah Lukisan (bagian terakhir dari dua bagian)

 

kanvas

Kanvas

 

“Kanvas” adalah istilah generik untuk semua bahan kain yang dipakai pelukis karena sebelum kanvas mulai populer di Italia pada masa pra-Rennaissance, para pelukis lebih banyak menggunakan lembaran kayu datar untuk melukis. Karena ukuran kayu terbatas, kanvas mulai digunakan untuk memenuhi pesanan lukisan dari gereja yang menginginkan lukisan dalam ukuran besar.

Kanvas bisa dibuat dari berbagai jenis kain, ada dua jenis yang populer di dunia ini. Pertama, yang murah-meriah, adalah kain katun. Kain katun terbuat dari kapas (ada beberapa spesies kapas dari genus Gossypium) dan bila dibuat kain untuk pakaian rasanya sejuk dan nyaman karena teksturnya yang lembut dan tenunannya tidak terlalu rapat sehingga kainnya lebih berpori, memungkinkan udara mengalir dan memberi kesempatan bagi kulit pemakainya untuk “bernapas”. Namun karakter serat dan tenunan seperti ini mengakibatkan kain katun cenderung regas, mudah sobek bila ditarik dengan kurang hati-hati. Kain katun mudah ditemukan dan murah harganya karena itu sering digunakan di kelas-kelas melukis untuk umum atau para pelajar.

Kedua adalah linen, dibuat dari batang pohon Flax (Linum usitatissimum) yang tumbuh di daerah sub-tropis yang dingin. Pohon Flax adalah pohon serbaguna yang menghasilkan bahan pangan maupun serat untuk pakaian. Serat batangnya yang ditumbuk akan menghasilkan serat kasar seperti karung goni dan bisa dipilin menjadi benang lalu ditenun menjadi kain linen. Serat pohon Flax tiga kali lebih kuat daripada serat kapas. Bijinya bisa dimakan langsung namun sering diolah menjadi minyak yang sangat berguna untuk banyak aplikasi termasuk untuk melukis, disebut linseed oilLinseed oil yang dipadatkan bisa dijadikan linoleum, bahan serbaguna yang juga digunakan sebagai plat seni cetak. Kanada adalah pengekspor terbesar bahan baku dari pohon Linum dan kain linen terbaik di dunia berasal dari Belgia, dari dulu hingga sekarang.

Kain linen lebih rapat tenunannya dan teksturnya lebih kasar, ia jauh lebih tebal daripada kain katun dan dengan begitu lebih kuat. Sebelum kain linen diproduksi massal, kain seperti ini dibuat dari bahan hemp, serat batang pohon Cannabis Sativa. Karena Cannabis menjadi tanaman kontroversial karena kandungan kimiawi pada bunganya yang memabukkan, penggunaan kain dari bahan hemp digantikan oleh linen di beberapa negara. Kain linen yang tebal dan kasar bisa dibuat menjadi kain layar kapal namun juga bisa dijadikan kanvas untuk melukis. Ia jauh lebih kuat daripada kain katun dan tentu saja harganya menjadi lebih mahal. Bila seorang pelukis menuliskan “cat minyak di atas linen” pada keterangan karyanya alih-alih “cat minyak di atas kanvas”, berarti ia sedang menjelaskan dengan lebih spesifik, dari apa kanvasnya terbuat. Linen lebih baik daripada katun dan lebih prestisius karena hanya digunakan oleh para seniman profesional.

Selain katun dan linen, masih ada berjenis-jenis lain tetapi penggunaannya tidak terlalu populer, termasuk kain serat sintetis yang biasanya mengandung polyester. Secara umum, kanvas untuk melukis dibuat dari bahan organik seperti katun atau linen dan bahan anorganik seperti polyester. Sampai saat ini, saya masih menggunakan kanvas linen bermutu lumayan buatan Cina dengan harga yang bersaing. Tapi terus-terang saya kurang puas dengan mutunya dan tidak begitu percaya dengan daya tahannya. Bahkan, dalam kasus kanvas organik, saya tidak percaya pada daya tahan semua kanvas, dari merk ternama sekalipun, yang berbahan organik. Bagaimanapun juga, kanvas organik akan jauh lebih rentan terhadap bakteri, jamur dan kelembapan. Entah mengapa, kanvas dari bahan sintetis tidak populer di sini. Menurut saya, polyester adalah bahan terbaik untuk dijadikan kanvas di iklim tropis karena polyester cenderung kaku, penyerapan airnya sangat rendah, tahan bakteri dan jamur. Masalahnya, kain polyester tipis dan bertekstur sangat halus, tidak seperti kanvas linen yang kasar. Bagi mereka yang membuat karya dengan realisme tingkat tinggi, tekstur seperti ini cocok tetapi bagi yang mengutamakan ekspresi, sapuan kuas dan lapis-melapis cat, kanvas dengan tekstur yang agak kasar lebih disukai. Saya juga belum tahu elastisitas kain polyester. Saya sempat berpikir, mungkin baik juga kalau bagian belakang kanvas linen saya dilapisi dengan kain polyester, untuk menghindari oksidasi yang merusak karena kelembapan menyerang dari belakang, bukan dari depan.

Penggunaan kain kanvas yang paling tepat untuk iklim tropis masih menjadi perhatian saya sampai bertahun-tahun ke depan dengan begitu saya akan mencobanya dalam eksperimen-eksperimen pribadi saya. Namun pada intinya, walaupun dalam dunia kesehatan bahan-bahan organik dihargai tinggi, dalam dunia seni lukis: tidak. Bahan organik lebih mudah hancur dalam iklim tropis. Tradisi seni lukis kita masih belum lagi berusia 150 tahun dan itu pun sudah banyak sekali yang rusak. Bagaimana kita bisa memiliki peninggalan karya seni yang berusia 400-500 tahun kalau kita tidak mampu menentukan material apa yang paling tepat untuk dijadikan kanvas kita? Saya yakin, bahan anorganik lebih tepat untuk dijadikan kanvas di iklim tropis ini.

Primer

Bahan organik seperti katun atau linen lama-kelamaan akan rusak bila disentuh oleh pengikat cat minyak (seperti linseed oil) yang mengandung asam (linoleic acid). Karena itu, lapisan kain kanvas harus dilapisi oleh bahan yang tahan air dan tahan asam, disebut primer. Seperti kanvas, primer bisa terbuat dari bahan organik maupun anorganik. Bahan organik zaman dahulu dibuat dari kulit binatang, disebut rabbit skin glue. Kulit binatang memang sudah sejak dulu dimanfaatkan untuk lem karena kandungan proteinnya yang lengket. Lihat saja hidangan kulit sapi yang tebal bergulung dengan bumbu kuning di rumah makan Padang. Teksturnya kenyal dan lengket, seperti itulah kulit binatang. Lem organik seperti ini dijual dalam bentuk serbuk halus atau kasar, harus dicampur air dan dipanaskan dengan suhu 60-63º Celcius sambil diaduk, persis seperti membuat lem kanji, sebelum akhirnya disapukan ke seluruh permukaan kanvas.

Namun para konservator di Smithsonian Institution, yang biasa menangani karya-karya para maestro yang sudah berusia ratusan tahun, sering sekali menemukan retakan baik retakan besar maupun halus pada karya-karya tersebut. Mereka akhirnya mengetahui bahwa penyebabnya adalah lem organik ini. Lem organik memiliki sifat susut-muai (disebut hygroscopy) yakni sifat menyerap, menyimpan dan melepaskan molekul air dari udara di sekelilingnya. Ia akan memuai di hawa panas dan menyusut di hawa dingin, dalam kondisi lembap ia akan memuai, dalam kondisi kering ia akan menyusut kembali. Susut-muai selama ratusan tahun pada akhirnya tidak bisa lagi diimbangi oleh plastisitas lapisan gesso dan cat minyak di atasnya sehingga retakan pun terjadi. Dengan demikian, rumusnya sebenarnya cukup sederhana: makin ke dalam, lapisan harus makin rigid, makin kaku, makin ke atas, lapisan harus makin fleksibel. Artinya, primer harus memiliki sifat susut-muai serendah mungkin, primer harus keras dan tahan terhadap perubahan suhu dan kelembapan. Jawabannya, lagi-lagi, adalah bahan anorganik.

Para konservator di Smithsonian menyarankan penggunaan lem PVA dengan pH netral. Tidak perlu sulit mencari, lem PVA adalah lem kayu yang sering digunakan anak SD dalam tugas hasta karya atau oleh para tukang di bengkel-bengkel kayu. PVA (poli vynil acetate) adalah sebuah larutan kimiawi yang sifat susut muainya nyaris nol dan ketika kering akan menghasilkan lapisan keras seperti plastik. Saya masih ingat, bahkan ketika saya masih mahasiswa dulu, ada orang-orang yang menggunakan Aquaproof sebagai primer. Sampai sekarang praktik itu masih terjadi. Aquaproof adalah sebuah merk dagang dari pelapis anti bocor yang bisa digunakan di tembok atau genting. Saya kira itu adalah sebuah kekeliruan.

Aquaproof jelas jauh lebih elastis daripada lem kayu. Aquaproof memiliki susut-muai tingkat tinggi, mirip seperti lem silikon yang digunakan untuk lem akuarium. Aquaproof, ketika mengering, akan bertekstur kenyal, berbeda dengan lem kayu yang keras. Bayangkan kalau kita melapisi atap rumah kita yang bocor dengan Aquaproof. Lapisannya harus mampu bertahan terhadap panasnya matahari dan dinginnya malam, dari musim hujan ke musim kemarau dan seterusnya. Dengan begitu, Aquaproof pasti memiliki elastisitas tingkat tinggi, walaupun itu lebih disebabkan oleh karakteristik materialnya alih-alih oleh kelembapan dan suhu. Masalahnya, lapisan primer harus kaku, tidak boleh elastis. Bila Aquaproof digunakan sebagai primer untuk lukisan, saya yakin hasilnya akan serupa dengan rabbit skin glue. Lama-kelamaan, cat akan retak karena susut-muai ratusan tahun.

Saya menyadari bahwa teori ini harus dibuktikan secara ilmiah dan terus-terang saya belum memiliki cara untuk membuktikannya, tapi inilah hipotesa saya. Kita harus menggunakan lem PVA dengan harus mengukur keasamannya. Cara mudah adalah dengan menggunakan kertas lakmus, cara yang lebih canggih dan akurat adalah dengan menggunakan pH meter. Kita harus meyakinkan bahwa larutan lem yang kita buat memiliki pH netral (nilainya: 7). Bila terlalu asam, kita harus menambah basa, bila terlalu basa kita harus menambah asam. Sesudah yakin larutan lem kita netral, barulah kita bisa memulaskannya ke kanvas kita. Cara mudah adalah membeli lem PVA yang dibuat khusus untuk pelapis kanvas. Merk produk seni terkenal Gamlin, misalnya, menjual dalam botol berukuran (sekitar) seperempat dan satu liter. Tapi tentu saja produk seperti ini harganya mahal.

Namun ada juga yang masih menjadi pertanyaan bagi saya, bahkan ini sebuah pertanyaan besar: mengapa bagian belakang kanvas dibiarkan telanjang tanpa lapisan apapun? Kelembapan menyerang dari belakang, bukan dari depan.  Di depan, kelembapan terhadang lapisan cat, gesso dan primer tetapi di belakang, kelempaban langsung menyentuh kanvas. Sampai sekarang saya tidak mengerti, mengapa bagian belakang kanvas tidak pernah dilapisi apa-apa. Paling-paling hanya ditutupi kertas tipis, itupun bila dibingkai di tempat bingkai tertentu. Apakah kanvas akan menjadi terlalu keras dan kaku bila kita melapisinya dengan lem PVA di belakang? Kalau demikian, bagaimana kalau bagian belakang kanvas dilapisi dengan lapisan elastis seperti Aquaproof?  Atau, bagaimana kalau lapisan belakang kanvas diberi lem PVA lalu dilapisi dengan kain polyester? Saya masih belum tahu bagaimana cara terbaik melindungi kanvas bagian belakang dari kelembapan, yang saya pikirkan adalah, kanvas bagian belakang seharusnya tidak dibiarkan telanjang seperti yang selama ini dilakukan. Bila kanvas bagian belakang sengaja dibiarkan telanjang karena memang “sudah dari sananya”, saya kira tradisi itu harus dibongkar-ulang. Kita harus tahu kenapa alasannya.

Gesso

Yang disebut gesso sebenarnya adalah campuran kapur, gips atau pigmen warna putih dengan pengikat tertentu, pada zaman dahulu pengikatnya adalah rabbit skin glue, lem organik. Terminologi “gesso” dalam bahasa Italia mengacu pada gipsum dalam pemahaman umum, sebuah mineral kasium sulfatGesso berfungsi sebagai pelapis kedua setelah primer dan menjadi pondasi tempat cat diulaskan. Cat, pada proses pengeringan, akan menyerap ke dalam lapisan gesso dan pada akhirnya bertahan pada lapisan itu. Ketahanan sebuah lukisan, baik cat berbasis minyak maupun air, akan bergantung pada seberapa baik penyerapan ini. Gesso yang baik harus mampu menyerap lapisan cat namun tidak terlalu dalam. Bila lapisan cat kurang menyerap, ia akan mudah rontok. Bila cat diserap terlalu dalam, maka lapisan cat akan terlihat pudar, hilang kecerlangannya.

Gesso yang kurang baik mutunya biasanya justru terlalu menyerap cat dan dengan begitu akan menghasilkan “bintik-bintik pudar” saat dilukis secara merata terutama pada bidang-bidang berwarna gelap. Dalam istilah seni lukis, ini disebut “sinking”, pigmen cat “tenggelam” di dalam lapisan gesso. Bila sinking sampai terjadi pada lukisan kita, kita harus melapisi-ulang bagian tersebut dengan cat minyak. Bila sinking terjadi di sebuah daerah yang kita lukis secara merata sih tidak masalah, namun bila terjadi di daerah yang kita lukis dengan rumit karena rinci, memperbaikinya menjadi sangat merepotkan. Karena itu, adalah sebuah kebiasaan baik untuk selalu melapisi ulang kanvas komersial yang dibeli dengan lapisan gesso bermutu baik setidaknya dua lapis sebelum kita lukis. Ini berlaku untuk kanvas buatan lokal sampai kanvas impor bermerk yang mahal harganya. Bila kita membuat kanvas kita sendiri, sinking bisa dipastikan tidak akan terjadi karena kita tentu menjaga mutu gesso yang kita gunakan.

Pelapisan gesso pada awalnya memang berfungsi untuk membuat pondasi bagi cat minyak pada lukisan kita, namun lebih jauh, gesso juga bisa berfungsi untuk membentuk tekstur. Bila Anda melukis dengan gaya realisme tingkat tinggi yang membutuhkan pembentukan nuansa yang sangat halus (disebut sfumato dalam istilah seni lukis Italia), maka kanvas yang halus mutlak diperlukan. Para maestro Eropa zaman dahulu bisa melapisi selembar kanvas dengan gesso sampai berbulan-bulan lamanya. Dilapisi selapis lalu ditunggu kering, lalu diamplas. Seminggu kemudian dilapis lagi, lalu ditunggu kering, lalu diamplas lagi. Semua dilakukan dengan cermat dan hati-hati sehingga tekstur akhirnya menjadi hilang dan lapisan kanvas menjadi sangat rata, nyaris serata cermin. Sesudah lapisan gesso cukup tebal dan sangat rata, barulah kanvas mulai dilukis dan para maestro bisa membuat nuansa warna sehalus apapun tanpa terganggu permukaan kanvas yang tidak rata lagi.

Namun bagi pelukis yang menginginkan sapuan kuas yang lebih dinamis, kanvas justru kadang-kadang harus bertekstur cukup kasar, kadang-kadang malah harus sangat kasar. Dalam kasus demikian, gesso harus dibuat cukup encer sehingga pelapisan yang berkali-kali tidak akan membuat tekstur kasarnya menghilang. Bila gesso yang dipulaskan masih terlalu kental, ketika mengering ia akan menutup tekstur kanvas yang kasar dan malah membuat kanvas menjadi agak halus. Ini tidak diinginkan, karena itu proses pelapisan pada kanvas yang kasar pun tetap saja membutuhkan pengulangan berkali-kali namun harus hati-hati supaya tekstur kanvas bisa tetap kasar. Baik halus maupun kasar, pelapisan gesso sebaiknya tidak dilakukan sekali-jadi, setidaknya dua kali. Lebih baik lagi bila dilakukan lebih dari tiga kali dengan larutan yang encer. Lapisan tipis yang dipulaskan berkali-kali akan membentuk pondasi yang jauh lebih baik daripada lapisan tebal yang dipulaskan hanya sekali.

Cat Minyak

Dalam melukis cat minyak, menurut langgam realisme dalam teknik seni lukis klasik Eropa, hukumnya mengikuti aturan fat over lean“Fat” di sini artinya berminyak sementara “lean” artinya tidak berminyak. Dengan begitu, bagian cat yang berminyak harus ada di lapisan atas sementara lapisan bawah sebisa mungkin mengandung minyak sesedikit mungkin. Sebetulnya cat minyak sendiri sudah mengandung minyak. Linseed oil, walnut oil, dsb digunakan sebagai pengikat pigmen warna bersama dengan pengawet, semua ada di dalam tube cat minyak yang kita gunakan. Saat awal melukis, biarkan cat minyak terpulas di atas kanvas tanpa dicampur medium. Dengan begitu, kita akan memiliki campuran cat yang cenderung “lean” atau tidak berminyak. Pada lapisan-lapisan berikutnya barulah medium boleh digunakan, itupun dalam takaran secukupnya saja.

Ini sebenarnya merupakan sebuah tantangan tersendiri karena bila kita melukis cat minyak tanpa medium, apalagi di kanvas kosong yang bertekstur kasar, kita harus mengerahkan tenaga untuk menggosokkan kuas sehingga lapisan kanvas bisa sepenuhnya tertutup oleh cat. Teknik ini disebut “dusel” (saya kurang tahu asal istilah ini dari mana). Ini teknik yang membuat tangan pegal-pegal. Jauh lebih mudah bila kita mencampurkan medium pada cat kita, kita bisa bekerja lebih cepat dan cat pada kuas kita jauh lebih “mengalir”. Namun bila di awal kita sudah membubuhkan medium, lapisan cat minyak kita akan menjadi kurang “lean”, kurang kaku. Bila itu terjadi, suatu hari nanti, mungkin 100-200 tahun yang akan datang sesudah kita meninggal, lapisan cat yang kurang berminyak di bagian atas bisa mulai meretak dan pecah karena lapisan cat di bawahnya selalu bergerak dan “bergetar” menanggapi perubahan suhu dan kelembapan. Pegal-pegal di tangan kita karena kita mendusel dengan militan akan terasa manfaatnya sesudah 100 tahun kemudian. 🙂

Ada banyak sekali jenis medium yang bisa digunakan, semua memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri dan itu tidak akan dibahas dalam tulisan ini. Yang pasti, dalam teknik melukis cat minyak, setiap lapisan harus benar-benar kering sebelum kita melapiskan warna berikutnya. Pada akhirnya kita harus belajar mengenali jenis-jenis pigmen yang cepat kering dan lama kering. Titanium white dan semua jenis cat yang mengandung bahan cadmium pasti lama keringnya. Kalau lapisan catnya tebal, keringnya bisa lama sekali dan kita harus hati-hati. Bisa jadi kita menggores lapisan atas cat yang sudah kering, lapisannya terbuka dan keluarkan lapisan basah di dalamnya dan rusaklah lukisan kita.

Varnish yang biasa digunakan seniman untuk melindungi lapisan cat dari kelembapan dan debu hanya boleh dipulaskan sesudah cat benar-benar kering. Dalam kasus cat tipis saja, kita membutuhkan waktu setahun untuk menunggu catnya benar-benar kering, baru lukisan kita boleh diberi varnish. Cat minyak termasuk bahan yang lama sekali kering. Teknik impasto yang sangat tebal seperti dalam kasus lukisan Pak Affandi membutuhkan waktu hampir 100 tahun untuk bisa kering sempurna jadi bahkan saat tulisan ini dibuat, bagian cat yang sangat tebal dari lukisan Pak Affandi masih ada dalam proses pengeringan, lukisan Beliau baru benar-benar kering pada tahun 2050. Bayangkan.

Pigmen cat minyak, dari bahan apapun itu, biasanya berbentuk serbuk. Untuk bisa diaplikasikan sebagai cat minyak, ia harus dicampur media pengikat yang berbasis minyak (disebut binder). Linseed oil adalah salah satu media pengikat yang paling umum. Sesuai karakteristiknya, bila sudah mengering, linseed oil akan berubah menjadi sebuah lapisan keras. Mirip seperti lapisan resin tetapi amat-sangat tipis, hanya memiliki ketebalan dalam ukuran mikron. Pigmen yang sudah dicampur dengan linseed oil akan larut dan “membeku” di dalam lapisan “resin” tersebut. Apapun juga medium yang kita gunakan, prinsipnya sama. Yang berbeda adalah “kekenyalannya”, kecerlangannya, transparansinya dan berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk menjadi kering sempurna. Pemahaman seorang seniman pada karakter pigmen, pengikat dan medium yang digunakannya pada akhirnya akan berujung pada: berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh setiap jenis cat, pengikat dan medium tersebut sampai kering sempurna. Melapisi satu lapisan yang belum kering adalah berbahaya karena bila lapisan atas mengering lebih cepat daripada lapisan bawah, tidak perlu menunggu 100 tahun, dalam beberapa tahun pun retakan sudah bisa terjadi.

Baiklah. Ada banyak sekali aspek yang masih belum terjelaskan dan masih misteri bagi saya. Yang sudah saya pahami saya bagikan di sini. Masih ada banyak sekali pertanyaan bagi saya yang jawabannya tidak bisa sekedar didapat dengan membayang-bayangkan saja namun harus dengan praktik dan menunggu: waktu kelak akan menunjukkan. Tulisan “Anatomi Sebuah Lukisan” saya akhiri sampai di sini, ini tentu saja masih menyentuh bagian kulitnya saja dan saya harap kelak bisa saya lanjutkan dengan pembahasan yang lebih mendalam, saat saya sudah memiliki lebih banyak wawasan dan pengalaman tentang hal tersebut. Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai tamat. 🙂

5 thoughts on “Anatomi Sebuah Lukisan (bagian terakhir dari dua bagian)

  1. salam kenal mas maaf mas saya mau tanya kalaw mau beli linen cina seperti yang mas pakai bisa beli dimana ya? makasih atas jawabannya

  2. Salam kenal juga, Mas Faisal. Kanvas linen Cina/Taiwan seperti yang saya pakai ada di beberapa sumber (Jakarta, Bandung, Semarang, Bali) tapi saya hanya tahu yang di Semarang. Itu bisa dibeli di Toko Celita Lindo, Jl. M.T. Haryono 605, Semarang – 50136. Telepon (024) 8316605. Kanvas ini dijual dalam bentuk gulungan besar dengan lebar 2,15 meter, panjang 20 meter, harga terakhir yang saya tahu sekitar Rp. 3,3 juta per gulung.

  3. Pingback: Seni Rupa Kita Dalam Bahaya | Klinik Rupa Dokter Rudolfo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s