ArtJOG 2013

catatan_dari_ambonSaya baru saja pulang dari Yogyakarta. Saya dan Tarlen Handayani, sahabat saya yang tinggal di Bandung, membuat sebuah proyek kolaborasi untuk ArtJOG 2013. ArtJOG tahun ini mengambil tema “Budaya Maritim”, meneruskan tema perhelatan setahun sebelumnya, “Memandang ke Timur”. Saya sempat ngobrol santai dengan Bambang “Toko” Witjaksono, kurator ArtJOG sekaligus teman lama saya, sehari sebelum pembukaan saat Bambang sedang letih-letihnya bekerja dan belum semua pekerjaan tuntas. Bambang menjelaskan bahwa pada akhirnya, tema ArtJOG mendorong seniman Indonesia untuk melihat “dirinya sendiri”. Dalam kaitannya dengan budaya maritim, saya kira hal itu jadi penting.

Bahkan sejak tingkat awal sekali saat kuliah dulu, Prof. Primadi Tabrani, salah satu dosen kami, menjelaskan bagaimana VOC membakar pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Selat Malaka dan Laut Jawa. Memahami Nusantara sebagai sebuah kepulauan, VOC menyadari bahwa menguasai Nusantara berarti menguasai lautnya. Dan ternyata sejak dahulu, berbagai tempat di Nusantara merupakan galangan-galangan kapal dan daerah-daerah tertentu berisi para tukang yang ahli membuat kapal. Ini bukan kemampuan sembarangan. Walaupun jauh dari masa globalisasi, namun kemampuan para pembuat kapal, para pelaut, perompak dan angkatan laut kerajaan-kerajaan Indonesia sudah diakui pada saat itu.

Titarubi, teman lama dan senior saya, yang sudah lama melakukan riset pribadi tentang rempah mengisahkan sebuah kisah penculikan sekitar 400 orang ahli kapal dari suatu desa (saya lupa tempatnya). Para ahli itu akhirnya dipaksa untuk bekerja membuat kapal-kapal di negara lain. Aslinya, kita adalah bangsa pelaut. Nenek-moyang kita bermain di pantai dan laut sejak kecil. Dari satu pulau ke pulau lain dengan perahu, itu seperti dengan mobil orang tamasya dari Jakarta ke Bandung. Laut bukan halangan, laut adalah jalan raya nan luas. Para pelaut kita sudah berlayar jauh sampai Tanjung Harapan. Dan jangan main-main kalau sembarangan memasuki perairan Nusantara. Lihat-lihat dulu ada di wilayah mana kita berada karena semua harus minta izin dulu, harus bayar “tiket”. Para penjajah yang semula datang untuk berdagang, pelan-pelan mulai melihat kesempatan untuk menguasai kekayaan rempah Nusantara. Maka pelabuhan dihancurkan, kapal-kapal dagang saingan ditenggelamkan, para pembuat kapal diculik dan perlahan-lahan, kekuatan nenek-moyang kita pun cerai-berai. Kerajaan yang semula bertempat di tepi pantai didorong masuk ke tengah pulau. Dan yang paling kuasa dari segalanya: ingatan tentang laut harus dihilangkan. Lagu dan dongeng, cerita rakyat tentang dunia bahari perlahan-lahan memudar dan setelah beberapa generasi, kita pun lupa pada akar kita. Kita lupa pada laut, kita mulai melihat laut sebagai halangan, bukan jalan.

Ada banyak sekali hal yang kita lupakan tentang dunia bahari kita. Saat membaca kuratorial ArtJOG tentang “Budaya Maritim”, saya langsung ingat semua yang dipaparkan Prof. Primadi dan riset pribadi Titarubi. Dan melihat kenyataan bahwa karya-karya yang ditampilkan di ArtJOG 2013 hanya sedikit yang bertema pasca-kolonial saya kira justru menggambarkan dengan tepat, bagaimana kami, seniman Indonesia, memang sudah lama lupa pada akarnya. Ini tentu saja memprihatinkan namun ini adalah sebuah masalah yang besar sekali di antara begitu banyak masalah bangsa kita. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s