Rencana Bikin Buku

etosBeberapa teman dekat saya tahu bahwa saya punya kebiasaan menggambar-gambar iseng di buku catatan saya. Saya punya buku catatan kecil untuk mencatat apa saja termasuk daftar belanja atau nomor telepon. Di buku catatan ini saya sering membuat gambar iseng, atau gambar yang berupa catatan gagasan yang baru saja lewat, saya catat sebelum hilang. Gambar-gambar ini sangat berbeda dengan karya-karya saya yang menggunakan fotografi sebagai acuan dan dikerjakan dengan metodis. Gambar-gambar di buku saya dikerjakan nyaris tanpa berpikir, karena seringkali juga dikerjakan saat tidak ada kerjaan seperti sedang menunggu makanan di restoran, nongkrong di kafe atau di sela-sela pekerjaan. Dengan begitu gambar-gambar ini amat spontan, walaupun pola tertentu bisa terlihat, mereka tidak dibuat dengan sketsa atau rencana tertentu. Gambar-gambar itu hadir begitu saja lalu membeku dalam buku catatan saya. Sekarang sudah ada puluhan buku catatan macam ini di rak buku saya karena saya mulai mengerjakannya sekitar tahun 2001. Sudah sejak sepuluh tahun lalu, sahabat saya Roy Voragen (kurator dan kritikus seni rupa dari Amsterdam, ini blognya) menyarankan saya untuk menerbitkan gambar-gambar iseng saya jadi buku tapi niat itu belum juga terlaksana karena alasan ini-itu tapi seminggu terakhir ini ada hal baru.

Saya punya akun Instagram, sesudah saya menutup akun Facebook dan Path, saya aktif di Instagram yang menurut saya menarik karena berbasis foto. Dari waktu ke waktu saya selalu mengunggah foto dari rumah dan studio saya lalu saling bertukar komentar dengan teman-teman. Iseng-iseng saya unggah gambar pindaian dari buku catatan saya karena ada sekitar 30 gambar hasil pindaian itu di telepon selular saya, hasil mengirim lewat email. Selain mengunggah fotonya, saya juga menulis cerita di bagian caption. Cerita-cerita itu dibuat sama “ngasalnya” dengan gambar-gambar tersebut. Saya tidak berpikir, hanya menulis saja, berusaha sedikit membuat kaitan antara cerita dengan gambarnya. Ternyata hasilnya menarik juga, cerita-cerita itu dibaca teman-teman saya lalu dikomentari. Saya pun mengarang cerita di saat senggang atau sedang rehat berkarya di studio. Malahan, unggahan-unggahan terakhir saya buat seri cerita bersambung sampai 15 bagian. Saya senang soalnya saya sejak dulu selalu berusaha menulis cerita fiksi tapi kurang berhasil. Yang bisa diselesaikan dengan baik paling banyak hanya 5%. Semua menumpuk di rak buku saya, jarang dibuka-buka lagi. Kali ini saya bisa menulis sampai tamat, bahkan selalu tamat karena tiap unggahan selalu berisi satu atau sepotong cerita. Teman-teman saya menyarankan saya untuk menyusunnya jadi buku dan saya pikir, ya, betul juga, kenapa tidak? Kalau formatnya hanya gambar, walaupun unik, bagi saya kurang menarik tetapi sesudah ada ceritanya kok menarik juga.

Jadi, sambil berkarya untuk pameran tunggal saya di Jakarta (rencananya awal Desember 2014), saya berencana akan terus menulis cerita-cerita ini dan mengumpulkannya. Kelak, bila materinya sudah cukup, cerita bergambar (atau barangkali tepatnya: “gambar bercerita”) ini akan disunting untuk dijadikan dummy. Saya masih belum tahu apakah materi ini benar-benar bisa diterbitkan lalu dipasarkan atau tidak. Diterbitkan oleh penerbit mana dan disebarkan oleh distributor mana pun saya belum tahu tapi ya, semua dimulai dari materinya dulu jadi biar yang lain diurus belakangan saja. Kalaupun akhirnya tidak berhasil dicetak dan dilepas ke pasaran, setidaknya saya bisa punya kompilasi gambar bercerita yang bisa saya baca sendiri atau saya bagikan pada teman-teman dekat. Bila Anda ingin melihat gambar dan cerita-ceritanya, Anda bisa membuka akun Instagram saya (bila Anda tak memiliki akun Instagram, klik tanda ‘+’ di bulatan paling bawah). Iseng-iseng saya juga membuat kompilasi dan menyunting tulisan bersambung yang saya buat, sebuah kisah horor, lalu saya jadikan satu dokumen dengan format PDF (supaya bisa saya baca lagi dengan enak). Bila Anda pikir tulisan-tulisan saya di blog ini adalah tulisan serius, saya berjanji, yang ini tidak begitu. Walaupun begitu, saya perlu mengingatkan bahwa ini bukan cerita anak-anak, cerita ini penuh kekerasan. Silakan unduh tulisan saya yang berjudul “Misteri Tuan dan Madam Guggenheim” dalam format PDF melalui tautan ini. Selamat membaca. 🙂

2 thoughts on “Rencana Bikin Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s