Sang Direktur

fox

Seorang kakek yang angkuh masuk ke sebuah firma arsitektur terkemuka. Ia minta bicara dengan direkturnya.
“Saya baru membeli sebuah pulau. Saya mau membangun rumah di situ.”
“Oke, berapa besar rumahnya?”
“8000 meter persegi.”
“Wah, besar sekali.”
“Itu baru terasnya.”
“Hah?!”
“Kamar pembantu luasnya 1,2 hektar.”
“Bapak serius, nih?”
“Serius sekali. Kamarnya ada 20, tiap kamar luasnya 3 hektar.”
Direktur amat heran tapi si kakek memang kelihatan amat serius. Lanjutnya, “Ruang tengah 10 hektar, garasi 5 hektar dan pekarangan 25 hektar.”
“Pak, itu rumah apa kebun kelapa sawit?”
“Rumah. Untuk saya tinggali sendiri.”
“Sendiri? Lalu bagaimana cara jalannya? Dari kamar ke kamar saja jauhnya seperti ke luar kota.”
“O, di dalam rumah saya akan naik kuda.”
“Bapak pasti sudah gila.”
“Anda sanggup tidak membuatkan rumah seperti itu? Kalau tidak sanggup, saya cuma buang-buang waktu di sini.”
“Ya, sanggup sih sanggup, tapi biayanya akan besar sekali. Saya tidak bisa membayangkan rumah sebesar itu. Rumah itu biasanya dibangun tingkat ke atas, bukan melebar ke samping begitu.”
“Apa masalahnya? Kan tanahnya milik saya semua di satu pulau itu. Nah, kalau sanggup, coba tolong hitungkan berapa biayanya.”
Sambil geleng-geleng kepala sang Direktur menghitung.
“Jangan lupa, saya mau kualitas yang terbaik.” kata si Kakek. Sang Direktur manggut-manggut.
“Oke, jangan kaget ya. Biaya keseluruhannya termasuk komisi kantor ini adalah 3,5 triliun rupiah.”
“Haha, kecil! Tolong buatkan kontraknya sekarang juga. Begitu kontraknya ditandatangani saya akan menulis cek yang bisa langsung cair siang ini juga.”
Sang Direktur geleng-geleng kepala tidak mengerti. Tak lama kemudian surat kontrak sudah selesai ditandatangani. Si Kakek menulis cek dan memberikannya pada sang Direktur. Jumlahnya 3,5 triliun rupiah.
“Oke, saya pamit dulu. Terima kasih.” sang Kakek pun berlalu.
Sang Direktur memandang cek tersebut tak percaya. Tiba-tiba matanya berlinang air mata, ia mencium cek tersebut lalu sambil terisak-isak, ia menengadah ke atas, bicara pada Tuhan.
“Terima kasih, Tuhan. Akhirnya ada mega proyek raksasa untukku. Terima kasih, terima kasih.”
Ia masih terus mengucapkan terima kasih sambil terisak-isak dan menciumi selembar cek tersebut saat seorang perawat menyapanya lalu mendorong kursi roda yang ia duduki. Sang Direktur menunjukkan cek itu pada si perawat yang mengangguk-angguk sambil tersenyum. Si Perawat mendorong kursi roda sang Direktur melintasi selasar rumah sakit dan melewati sebuah taman. Beberapa orang melihat ke arah mereka. Seorang perawat baru bertanya pada temannya,
“Itu siapa?”
“O, dia mantan direktur sebuah firma arsitektur terkenal. Perusahaannya terlibat banyak proyek raksasa dengan pemerintah tapi gagal semua. Perusahaannya bangkrut, ia dijadikan kambing hitam dan akhirnya dipenjara dengan tuduhan korupsi. Anak-anaknya semua dibawa istrinya dan mereka akhirnya cerai. Sesudah setahun di dalam penjara, ia jadi sinting lalu dibawa ke sini. Setiap hari dia begitu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s