Skandal di Rumah Sakit Jiwa

Untitled-2
Perawat baru di rumah sakit jiwa tempat sang Direktur dirawat mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Ia selalu sigap melaksanakan tugas dan semua pekerjaannya beres. Ia pun mendapat banyak pujian dari atasan dan koleganya. Ia dipuji oleh seorang dokter jiwa senior di rumah sakit itu.

“Aku lihat kamu selalu bekerja dengan sigap dan cekatan. Bagus sekali.”
“Terima kasih, Pak.”
“Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu.” kata sang Dokter. “Tapi nanti kalau piketmu sudah selesai.”

Perawat itu mengangguk dan berlalu. Ketika waktu piketnya selesai jam 6 pagi, sang Dokter menghampirinya. “Ayo kita jalan-jalan sebentar sebelum kau pulang.”

Mereka pun berjalan ke sebuah bangsal besar dengan banyak tempat tidur. Langit-langitnya tinggi sekali, jendelanya juga tinggi sehingga orang tidak bisa melihat ke luar dan sebaliknya. Ruangan itu rapi tapi kosong dan berbau pembersih lantai.

“Dulu bangsal ini digunakan untuk para pasien yang dianggap sudah hampir sembuh. Mereka tidak lagi dianggap berbahaya dan bisa beristirahat bersama-sama. Perawat dan dokter yang kecapaian saat bertugas juga kadang-kadang tidur di sini. Bila ada acara kecil, ruangan ini juga kadang-kadang digunakan.”

Suara langkah sepatu mereka bergema di ruangan besar dan dingin itu.

“Dulu ada seorang pasien, perempuan, masih muda seperti kamu. Namanya Nancy, keturunan Belanda, keluarganya kaya raya. Ia setengah dibuang keluarganya karena selalu membuat onar dan bikin malu. Sesudah lima tahun dirawat di sini, ia dianggap sudah normal dan dipindahkan ke ruangan ini sebelum dipulangkan.”

Sang Dokter berhenti di samping sebuah tempat tidur.
“Ini tempat tidurnya.”
“Lalu akhirnya dia pulang?”
“Hampir, tapi tidak jadi karena sebuah skandal.”
“Oya? Skandal apa?”
“Sekitar sebulan sebelum Nancy dipulangkan, perawat menyadari bahwa ia tidak datang bulan lalu ia diperiksa dan ternyata dia hamil. Rumah sakit ini gempar. Nancy ditanyai oleh para dokter dan perawat, siapa bapaknya, tetapi dia tidak mau menjawab. Keluarganya marah-marah, pak Direktur dimaki-maki.”

Si Perawat mendengarkan dengan terkesima. Sang Dokter duduk di sebuah tempat tidur.

“Keluarganya menolak kepulangan Nancy dan meminta pertanggungjawaban rumah sakit. Keadaan sulit sekali waktu itu. Kami tidak pernah melihat Nancy berdua-duaan dengan laki-laki manapun di sini. Lagipula itu hampir tidak mungkin karena tidak ada privacy di sini. Ini rumah sakit, bukan hotel. Dan bagaimanapun kerasnya usaha kami untuk mencari tahu siapa yang menghamili Nancy, dia tidak mau bicara sama sekali.

Karena pihak keluarga masih tetap bersedia membayar biaya perawatan Nancy di sini, akhirnya dia dipindahkan ke sebuah kamar khusus dan kandungannya dirawat dengan baik. Selama masa kehamilan Nancy tidak menunjukkan gejala kegilaan apapun. Kami yakin dia sudah normal. Akhirnya, bayi itu lahir, persalinannya lancar tapi semua orang kaget karena bayinya bule!

Bayi itu laki-laki, matanya biru, mancung, sehat dan lucu. Pak Direktur yang menamai bayi itu. Kami semua kebingungan, semua orang yang semula berusaha menebak-nebak siapa ayah bayi itu akhirnya menyerah karena tidak ada satu orang bule pun di rumah sakit ini. Tidak ada pasien bule, tidak ada pegawai bule, dokter bule maupun pengunjung bule. Nancy adalah satu-satunya orang keturunan Belanda di rumah sakit ini, sisanya bukan.

Tapi saat itu juga sekaligus mengharukan bagi kami. Kami tahu betapa liarnya Nancy kalau sedang kumat tapi ia amat keibuan. Semua orang jadi bertambah sayang pada Nancy dan jatuh cinta pada bayi itu. Semua orang ingin menggendong bayinya dan Nancy pun terlihat gembira.”

“Lalu apa yang terjadi?”
“Sesudah seminggu, Nancy tiba-tiba menghilang. Lenyap tanpa bekas. Tidak ada yang melihat ia keluar dari rumah sakit ini dan sesudah dicari dengan teliti sekalipun, ia tetap tidak ditemukan.”
“Dan bayinya?”
“Bayinya ditinggal di ranjangnya. Ada sepucuk surat. Ini suratnya, masih kusimpan.”
Si Perawat membuka kertas lusuh yang dilipat dua. Ada tulisan cakar ayam yang ditulis dengan pensil,

“Rawatlah anakku. Aku pergi mencari Jan Pieter Aarendt, ayah anak ini.”

Si Perawat melihat sang Dokter dengan pandangan tidak mengerti.
“Siapa itu Jan Pieter Aarendt?”
“Itulah yang membuat gempar rumah sakit ini. dr. Jan Pieter Aarendt adalah salah seorang dokter jiwa yang bertugas di rumah sakit ini pada tahun 1879, jauh sebelum kita semua lahir.”
“Astaga! Lalu anak itu bagaimana?”

Sang Dokter menghela napas.

“Semua orang jadi ketakutan melihat bayi itu. Akhirnya ia dikirimkan ke sebuah panti asuhan di kota lain. Mestinya sekarang anak itu sudah berusia 30 tahun. Semenjak saat itu Nancy tak pernah terlihat lagi, ia benar-benar lenyap seperti ditelan bumi.”
“Aneh sekali.”
“Yah, begitulah. Sudahlah, ayo kita pulang. Kau pasti sudah ngantuk.” ajak sang Dokter.

Mereka pun keluar dari bangsal itu, suara langkah sepatu mereka kembali bergema. Sesudah dua orang itu berlalu, bangsal itu kembali kosong dan dingin seperti semula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s