Tentang Flow

Sambil beraktivitas sehari-hari saya memikirkan banyak hal tentang flow dan ini adalah buah-buah pikiran tersebut. Bagi Anda yang baru saja menemui frasa “flow“, silakan membaca unggahan sebelumnya di blog ini. Penjelasannya cukup lengkap sementara ini. Terima kasih.

  • Yang terpenting dari semuanya adalah menyadari bahwa flow adalah nyata dan terjadi di mana-mana, kapan saja, dan bisa dialami oleh siapa saja terlepas dari kewarganegaraannya, agamanya, tingkat pendidikan dan posisinya dalam hirarki sosial. Tua, muda, miskin, kaya, semua bisa mengalami flow. Bagi saya yang tidak religius, ini adalah refleksi “keadilan Tuhan” karena semua orang diberi kesempatan yang sama, tidak ada yang diistimewakan namun juga tidak ada yang diabaikan.
  • Dengan menyadari bahwa flow benar-benar ada dan nyata, kita bisa memanfaatkannya untuk melanjutkan hidup kita masing-masing, betapapun tidak mendukungnya keadaan hidup kita saat ini bagi kehadiran flow. Yang pasti, bila flow selalu diikuti, apapun resikonya, flow akan membawa kita pada potensi maksimum diri kita yang sesungguhnya. Wajar saja bila semua penemuan penting di dunia ini, dari mulai semua penemuan di dunia ilmu pengetahuan, teknologi, komersial, seni, desain dan banyak lagi, semua lahir melalui proses yang sama: flow.
  • Mau mencari bakat anak? Gampang, carilah flow-nya ada di mana. Telitilah saat anak asyik sendiri sampai lupa waktu. Kalau keasyikannya adalah main di luar bersama teman-temannya, sampai kalau mau mandi sore harus diseret-seret, berarti anak kita senang berada di tengah orang banyak. Mungkin dia seorang ekstrover yang berbakat komunikasi atau tubuhnya sangat fisikal, energinya besar jadi harus dikeluarkan di luar rumah, siapa tahu anak kita berbakat jadi atlet? Tapi ada juga anak yang tetap tenang di rumah, seorang introvert yang senang main sendirian seperti seorang peneliti di laboratorium atau seorang seniman di studionya. Anak yang semacam ini bisa melakukan pencapaian-pencapaian luar biasa, hanya subyek flow-nya saja yang berbeda dan ini alami karena semua anak lahir berbeda-beda minat, bakat, gairah dan panggilan hidupnya. Kalau anak kita punya flow dengan banyak subyek yang berbeda-beda sekaligus, ya diikuti saja terus, biasanya hanya subyek yang paling utamalah yang pada akhirnya akan bertahan.
  • Siswa yang “pemalas”, tidak termotivasi, banyak ngomong tapi nggak kerja-kerja, tidak pernah mengerjakan tugas dengan baik, selalu punya alasan ini-itu, selalu membuat pembenaran walaupun tidak masuk akal, termasuk mereka yang selalu berbuat onar di kelas, bisa jadi disebabkan oleh banyak hal tetapi saya yakin salah satunya adalah: belum/tidak menemukan flow di dalam kelas. Lha, terus gurunya sendiri nge-flow, nggak?
  • Sistem pendidikan dasar dan menengah Indonesia, bahkan pendidikan tinggi di kampus saya dulu, tidak berorientasi pada flow. Siswa dan mahasiswa hanya diajari, diberikan tugas lalu diuji dan dinilai. Para guru dan dosen tidak terlalu peduli apakah mereka akan asyik atau merasa tertekan saat mengerjakannya. Mereka juga tidak mencari tahu, mana tugas favorit seorang siswa tertentu. Yang penting tugas harus dikerjakan dan kalau bisa nilainya bagus. Yang nilainya bagus, yang tugasnya dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan amat “niat” adalah mereka yang flow-nya kebetulan cocok dengan tugasnya. Karena itulah saya tidak percaya pada semua pendidikan yang bersifat umum karena minat, bakat, gairah dan panggilan hidup individual tidak dipentingkan.
  • Tugas seorang guru/dosen adalah memandu siswa/mahasiswa untuk menemukan flow-nya. Di kegiatan ekstra-kurikuler, itu bisa terjadi, masalahnya seharusnya yang mendapat porsi yang lebih besar adalah subyek flow-nya, bukan mata pelajaran umum. Dosen juga saya kira harus peka melihat tanda-tanda pada sikap mahasiswa. Dari mahasiswa yang jumlahnya ratusan, yang benar-benar berminat pada mata kuliah tertentu pasti hanya sedikit, sisanya yang penting hadir dan dapat nilai. Di antara mereka ada para mahasiswa yang salah jurusan, mereka sebenarnya sama sekali tidak berminat mendalami ilmu jurusan/program studi tersebut. Mereka mengikutinya karena didorong orangtua, yang penting kuliah. Di antara mereka juga ada mahasiswa yang mengira mereka suka pada jurusan/program studinya tapi di tengah jalan mereka baru tersadar bahwa mereka salah jurusan. Semua jenis mahasiswa membutuhkan penanganan yang berbeda tetapi intinya adalah komunikasi, harus berteman dan harus ngobrol. Ada pepatah yang mengatakan, “guru yang baik bukan mengisi ember tetapi menyalakan api”. Saya yakin, yang dimaksud dengan “api” di sini adalah menemukan minat dan bakat lalu mengarahkan mahasiswa sampai menemukan flow-nya.
  • Ada yang menyamakan flow dengan inspirasi tetapi saya kira inspirasi hanya satu bagian kecil saja dari flow. Flow menyangkut aspek yang jauh lebih luas lagi, fisik-mental, mulai dari sistem pernapasan dan denyut jantung yang konstan, fungsi hormon dan metabolisme tubuh yang bekerja optimal, panca indera yang bekerja dengan sempurna, koordinasi mata-tangan yang sempurna, proses berpikir yang intuitif (termasuk inspirasi kreatif itu sendiri), ketenangan batin pada saat melakukannya dan sebuah mindfulness pada saat diri kita menyatu dengan apa yang kita kerjakan. Flow menyangkut aspek lahir dan batin sekaligus ruang-waktu di mana seseorang mampu berfungsi maksimal sebagai manusia. Bagi seniman, tidak ada yang lebih berharga daripada momen flow yang kontinyu. Mahakarya yang dikenang sejarah kebanyakan lahir dalam kondisi flow.
  • Seniman kadang-kadang terlihat kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa, saya pernah mengalami hal ini selama beberapa tahun. Pada saat itu, seniman jauh dari flow namun kegelisahannya, sadar atau tidak, merindukan kehadiran flow. Dalam waktu dan momen yang tepat, flow akan hadir bila “dipanggil”. Yang seharusnya dicari oleh seniman bukanlah karya yang kuat, karir yang melejit dan harga karya yang selangit. Yang seharusnya dicari oleh seniman adalah kondisi flow saat berkarya. Soal lainnya adalah subyek pembicaraan yang berbeda sama sekali.
  • Pada saat flow terjadi, proses belajar berlangsung dengan mengagumkan. Sangat cepat dan sangat intuitif. Semua rasio dan logika yang mendominasi pikiran kita selama ini disalip oleh intuisi dan menghasilkan banyak ide brilyan. Dan sapuan kuas sang pelukis pun akhirnya mengalir, hasilnya bagus sekali dan seniman menjadi bangga sekali. Namun rasa bangga ini hadir bersama sebuah rasa syukur. Karena flow adalah pengalaman yang sangat nikmat, kita bisa kegirangan sendiri dan kita akan merasa amat beruntung karena diizinkan untuk mengalami hal ini. Flow amat mudah membuat kita merasa bersyukur, merasa beruntung dan terberkati. Saya kira inilah yang dulu dimaksud oleh pelukis Affandi Koesoema soal “orgasme” saat berkarya yang mengalahkan nikmatnya orgasme seks. Jelas, Pak Affandi berkarya dalam kondisi flow.
  • Jiwa manusia cocok bila dianalogikan dengan samudera yang amat luas, diisi oleh milyaran subyek di dalamnya. Di permukaan, lautan bisa sangat tenang namun bila terjadi perubahan tertentu di lingkungannya, ia bisa dilanda topan badai yang mengerikan. Walaupun demikian, bagian dalamnya tetap sunyi, tenang, dingin dan misterius. Praktik yoga, meditasi dan flow (terlepas dari apa yang dikerjakannya) berada pada domain “bawah laut”, bukan di permukaan yang penuh gejolak. Daerah yang selalu tenang ini juga adalah daerah yang menjadi tujuan semua praktik spiritualisme dan semua agama. Daerah kedalaman jiwa yang selalu tenang dan sunyi adalah “surga” sementara permukaan jiwa yang selalu dinamis dipengaruhi lingkungannya adalah “neraka”. Mereka yang religius namun selalu naik-turun emosinya karena dipengaruhi lingkungan sekitar semata-mata hanya kurang mengalami flow, bukan berarti mereka penganut agama yang buruk. Karena itulah mereka yang jiwa spiritualnya sudah lebih berkembang selalu terlihat tenang tanpa kehilangan kepribadiannya. Dalam Mahabharata, kemampuan menguasai emosi ditunjukkan dengan luar biasa oleh Yudhistira, putra sulung para Pandawa, jauh berbeda dengan para saudara, ibu dan istrinya.Bila batin kita dikuasai oleh kemarahan pada seseorang atau banyak orang, pada sistem yang tidak adil, menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, murung dan selalu merasa sedih selama lebih dari 6 minggu (artinya “kronis”, sebuah gejala umum depresi unipolar), itu bisa dianalogikan seperti kita sedang berada di sebuah perahu kecil di tengah permukaan samudera jiwa kita sendiri. Diombang-ambingkan gelombang yang disebabkan oleh bisikan orang, tatapan mata orang, status orang di media sosial, prasangka dan sebagainya. Depresi tidak ada pada saat flow terjadi. Bila kita selalu dilanda kemarahan, pada orang lain, pada nasib atau pada dunia ini, semua akan sirna saat kita sedang mengalami flow. Sebaliknya, saat kita dilanda depresi, flow tidak bisa muncul. Penelitian sudah membuktikan bahwa meditasi transendental adalah metoda yang sangat efektif untuk menurunkan tingkat stres dan kecemasan untuk lebih lanjut, menghadirkan flow.
  • Dengan begitu saya hampir yakin, orang akan merasa hidupnya menyedihkan bila tidak mengalami flow untuk waktu yang lama, sampai bertahun-tahun. Orang-orang yang marah-marah di televisi itu mungkin sudah lama tidak nge-flow. Memahami itu semua, makin lama saya makin melihat bahwa flow tidak hanya memiliki dimensi kreatif namun lebih lanjut memiliki dimensi spiritual. Baik dimensi kreatif maupun spiritual, keduanya berada dalam sebuah domain penciptaan. Manusia spiritual mencipta realita hidupnya, ia memilih dan menentukan kehidupan yang mana yang akan ia hidupi (walaupun kenyataan hidupnya saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda ke arah itu). Bagaimana caranya? Kan kehidupan tidak ada di dalam kontrol kita? Ya, dengan mengikuti flow kita, apapun resikonya karena toh semua yang cukup berharga untuk dicapai pasti membutuhkan perjuangan. Dengan mengikuti flow, apapun resikonya, seseorang sesungguhnya telah menentukan takdirnya sendiri. Manusia spiritual relatif tidak terganggu oleh lingkungan, oleh orang-orang yang menyebalkan atau oleh pemberitaan-pemberitaan negatif di media karena dia asyik sendiri dalam flow-nya.

Tulisan ini akan saya lanjutkan sepulang melukis nanti. Terima kasih sudah baca-baca. Ayo kita ngobrol tentang flow. Pengalaman apa saja yang pernah Anda rasakan saat nge-flow? Tulislah komentar di bawah bila Anda suka (tapi login dulu). Terima kasih. 🙂

4 thoughts on “Tentang Flow

    • Wah, good question! Menarik nih. Bener juga, ada kasus “ecstasy”, ya? 🙂 Sebagai orang seni rupa, yang saya pahami sbg ekstase adalah ekstase religius (sekaligus erotik) spt yg digambarkan di karya2 seni Rennaissance misalnya patung “Ekstase Santo Teresa” oleh Bernini. Sesudah saya baca-baca tentang ekstase, ternyata penjabarannya mirip sekali dengan flow. Bisa jadi flow = ekstase. Kita bisa lihat paparan Steven Kotler dari Flow Genome Project yang menjelaskan proses neuroanatomy, neurochemistry dan neuroelectricity tentang flow. Silakan Google, di situs Think Big ada kompilasinya, di YouTube juga ada. Semua membicarakan hal yang sama, tentang flow dan, kemungkinan besar, ekstase.

    • Menanggapi pertanyaan ZAMZAMA,,

      Secara empiris saya memahami definisi flow, dari apa yang kang Hartanto jabarkan, adalah suatu keadaan di mana sesorang dalam kondisi nyaman dengan apa yang dia kerjakan. Suatu sikap atau keadaan mental yang sifatnya sangat khusus, sangat individual, yang merupakan manifestasi kebebasan manusia. Jika ekstase adalah suatu keadaan diluar kesadaran diri, maka flow masih dalam naungan sadar. Dengan flow kita masih bisa menikmati (terkendali), dengan ekstase penikmatan itu berada diluar kesadarannya (tak terkendali). Karena tidak mungkin seorang guru mengajar dalam keadaan diluar kesadaran diri. Mungkin, 🙂

  1. Saya pernah mengalami nge-flow saat menggambar sebuah sketsa tangan dengan posisi seperti sedang berdoa. Saat itu saya benar-benar merasakan kenikmatan dan keasyikan sendiri. Bahkan sketsa itu tetap saya kerjakan saat saya sakit dan saya selesaikan keesokan harinya dengan kondisi tubuh saya yang masih sakit pula.
    Sekarang saya sadar ternyata setiap kali saya membuat lukisan sketsa dengan pensil saya merasakan sebuah flow. Karna itulah saya merasa tetap dalam tahap wajar saja walaupun untuk membuat satu lukisan sketsa dengan pensil saya bisa memakan waktu 20 jam yang dikerjakan bertahap selama 1 minggu dan menurut teman-teman saya saya sudah gila/aneh. Mungkin itu yang saya rasakan tentang flow.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s