Tentang Perfeksionisme

(Tulisan dari Klinik Rupa dr. Rudolfo 2 bulan lalu, disunting sedikit di sana-sini)

Seorang kawan kita bertanya, “Saya suka minder melihat karya orang yang jauh lebih bagus. Lalu, bagaimana cara menyikapi perfeksionisme dengan benar? Karya saya selalu gagal, gagal dan gagal lagi, padahal deadline-nya besok.” Seperti yg pernah saya tulis, menjadi seorang perupa bukan hanya soal skill atau prestasi, di balik semua itu ada sebuah sikap yang merupakan refleksi cara berpikir & memandang dunia, terutama memandang diri dan kekaryaan kita sendiri. Lepas dari berbagai teknik & media yg selalu kita bicarakan, menurut saya ini adalah sebuah pertanyaan yang amat penting. Apakah Anda pernah merasakan hal yang sama? Saya pernah. Lama banget, malah.

Perfeksionisme telah membawa banyak orang melakukan pencapaian yang gilang-gemilang. Yang tidak banyak orang tahu, perfeksionisme yang sama telah mengubur mimpi orang dalam jumlah yang jauh lebih banyak lagi. Yang hancur karena perfeksionisme itu banyak, lho. Yang tidak berbuat apa-apa karena perfeksionisme juga banyak. Perfeksionisme itu ada yang sehat dan tidak sehat. Contohnya begini: seorang anak mati-matian belajar selama dua minggu menjelang ujian. Hasilnya dapat 100 tapi dia tetap mengeluh, “Kalau aku benar-benar pintar, harusnya aku tidak perlu belajar mati-matian selama dua minggu untuk dapat nilai 100.” Gila, ya?

Untuk “membedah” perfeksionisme, kita perlu “berjalan sedikit memutar”, so please bear with me. Seperti proses penciptaan alam semesta, kelahiran seorang manusia di dunia ini juga diliputi oleh keajaiban. Memangnya kelahiran bayi apa anehnya? Sebenarnya cukup aneh. Sekitar 300 juta sel sperma harus bersaing untuk membuahi sel telur dan hanya satu yang menang yaitu yang terbaik dari yang terbaik, yaitu kita. Di dunia ini tidak ada kompetisi seketat itu. Ilustrasinya mirip seperti, misalkan, seluruh penduduk Indonesia, sekitar 250 juta orang dari mulai bayi yang baru lahir sampai kakek-nenek yang paling tua, semuanya melamar kerja dan hanya satu yang diterima, yaitu kita. Kemungkinan menangnya sama dengan dua juta orang melempar dadu dan hasilnya sama semua. Itu bisa dikatakan mustahil tapi dalam kasus pembuahan sel telur, kira-kira seperti itulah yang terjadi. Satu sel sperma akhirnya membuahi sel telur dan lahirlah kita ke dunia.

Tentu aneh bila kita jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah kita temui, apalagi kalau orangnya tidak ada, tidak eksis di dunia ini. Namun bila kita sedang menantikan kelahiran anak kita, itu lazim terjadi. Kita sudah jatuh cinta pada anak kita jauh sebelum ia lahir ke dunia ini dan kita tak sabar menanti kelahirannya. Barangkali tidak semua dari Anda pernah merasakan pengalaman sebagai orangtua tetapi saya harap itulah yang terjadi pada saat kita dikandung dan dilahirkan. Kita telah dicintai oleh kedua orangtua kita jauh sebelum kita ada. Pernahkah Anda mengamati pembelahan sel pada janin? Meskipun wujud fisiknya cukup mengerikan, prosesnya sungguh luar biasa. Rumus yang disimpan dalam DNA diterapkan secara organik, seperti blueprint, “mencetak” seorang manusia. Ini adalah sebuah proses yang amat canggih dan karena belum semua bisa dijelaskan secara ilmiah, kita bisa mengatakan bahwa proses kehamilan sampai kelahiran adalah sebuah keajaiban. Walaupun demikian, kita sudah terlalu terbiasa dengan berita kelahiran anak, bahkan di keluarga sendiri sehingga keajaiban itu kehilangan maknanya padahal itu semua luar biasa, bila saja kita mau meluangkan sedikit waktu untuk memikirkannya.

Dan coba lihat, saat sang Bayi lahir. Semua menyambutnya (sayangnya kadang-kadang itu tidak terjadi sama sekali bila sang Bayi kurang beruntung dan dibuang oleh orangtuanya). Semua orangtua pasti repot kalau punya bayi, dunia jungkir-balik, tapi mereka amat sayang pada bayinya. Padahal sang Bayi kan belum berprestasi apa-apa, kerjanya cuma mimi susu, tidur, ngompol, pup terus menangis. Senyum sedikit, orangtuanya gembira. Sakit sedikit, orangtuanya gundah-gulana. Seorang bayi yang belum bisa apa-apa, belum berprestasi apa-apa, merepotkan dan sebagainya, justru amat disayang oleh orangtuanya. Pada diri sang Bayi sendiri kejaiban terus terjadi, ia tumbuh menjadi bocah lalu menjadi remaja lalu dewasa dan perubahan pun mulai terjadi.

“Kenapa ujian yang sekarang nilainya cuma 92, hah?! Kemarin kan dapat 96! Kamu sih kerjanya main melulu. Sini, hp Mama sita!”
“Lihat tuh, anaknya Tante Yuli. Sudah cantik, pintar, dapat peringkat pertama terus, jagoan balet, bla-bla-bla…”
“Kamu itu mau jadi apa, kecil-kecil kerjanya berantem terus? Mau jadi preman? Kalo begitu ngapain aku bayarin kamu sekolah susah-payah?!”

Nilai-nilai mulai berubah. Saat kita mulai besar sedikit, saat kita melakukan prestasi, kita dipuji. Saat kita melakukan kesalahan, kita dimarahi. Orangtua kita, dan barangkali kita sendiri yang sekarang sudah menjadi orangtua, lupa bahwa kita dulu adalah mahluk ajaib yang selalu dicintai, disayang dan dianggap berharga. Maka mulailah kita meniru cara pandang orangtua kita dan itu diterapkan pada orang lain namun terutama: pada diri kita sendiri. Saat kita berprestasi, kita happy. Saat kita sedang jadi loser, kita hancur. Saat banyak uang, kita bangga. Saat tidak punya uang, kita murung dan mudah tersinggung, dan seterusnya dan seterusnya. Termasuk…

Saat karya kita bagus, kita happy dan bangga sekali. Saat karya kita jelek, kita bete. Saat melihat gambar teman lebih bagus daripada gambar kita, kita minder. Saat melihat gambar teman kita lebih jelek daripada gambar kita, kita mendengus meremehkan. Pola berpikir seperti ini menyebabkan polaritas yang saling bertentangan di dalam batin kita. Kita lupa bahwa kita adalah pertemuan sperma dan sel telur kedua orangtua kita, mahluk ajaib yang terus tumbuh dan berkembang. Sejatinya, apapun yang kita lakukan, baik atau buruk, bermoral atau tidak, nilai diri (self worth) kita tetaplah sama. Siddhartha Gautama mengatakan, “Semua bentuk kehidupan itu suci.”

Jadi apapun juga yang kita lakukan, nilai diri kita tetap sama. Karya kita jelek, nilai diri kita sama. Karya kita bagus, nilai diri kita sama. Berprestasi atau jadi gembel, nilai diri kita tetap sama. Namun orang-orang tertentu, termasuk saya untuk waktu yang lama, tidak begitu. Sebelum dikritik orang lain, saya adalah kritikus paling kejam terhadap diri saya sendiri, terhadap karya-karya saya sendiri. Saat karya saya dipuji, hati saya melambung ke angkasa. Saat karya saya sekedar dikomentari, “Kok bagian pinggir situ kayaknya belum selesai, ya?” saya langsung marah, tersinggung dan bete seharian. Saya lupa bahwa nilai diri saya tidak pernah berubah. Saya tetap manusia, seperti Anda dan kita semua.

Maka perfeksionisme bisa jadi sehat atau tidak, itu tergantung pada pikiran kita sendiri. Bila kita berpikir hitam-putih (kalau karya saya bagus berarti saya hebat, kalau karya saya jelek berarti saya payah), perfeksionisme akan sangat menyiksa, menguras tenaga dan membuat putus asa. Saya pernah lho, deadline sudah dekat sekali tapi karya yang saya buat rasanya hancur banget, jelek banget! Terus saya ngapain? Ya, nggak ngapa-ngapain. Saya cuma kesel banget aja sampai nangis. šŸ˜€ Terus, apa karyanya selesai? Nggak. Karya saya ya gitu aja, tetap hancur. Tapi nilai diri saya saat itu sebenarnya tetap sama. Saya cuma tidak sadar saja, saya lupa. Kita manusia ini hebat, lho. Kita bisa jadi apa saja yang kita mau tapi kita sering lupa pada nilai diri itu tadi. Itu persis seperti Rama dalam kisah klasik Ramayana. Dia adalah seorang mahadewa yang menitis menjadi manusia. Dalam perjalanan hidupnya, Rama sering lupa pada kedewaannya. Ia sering merasa lemah, bimbang dan tak berdaya. Batinnya diombang-ambingkan emosi. Rama lupa bahwa ia adalah inkarnasi Wishnu.

Bila kita kecil hati melihat karya kita yang menurut kita belum cukup bagus, itu lebih sering disebabkan oleh masalah mental daripada masalah teknis. Kita harus selalu ingat, apapun yang terjadi pada diri kita, nilai diri kita tetap sama. Sebisa mungkin kita harus menyadari hal ini supaya kita bisa membuka jalan menuju pengembangan diri kita seoptimal mungkin dalam bidang apapun yang kita pilih. Dalam hal ini, bisa jadi itu adalah dengan menjalani kehidupan berkesenian. Walaupun tidak semua orang memilih menjadi perupa profesional, seni adalah milik semua orang dan semua orang itu nilai dirinya sama. Ya, termasuk pasukan ISIS dan Boko Haram, nilai diri mereka sama seperti kita. Betul, termasuk para perampok, pembunuh dan pemerkosa, para koruptor dan semua-semua-semua orang. Semua punya nilai diri yang sama. Semua adalah mahluk ajaib yang saya sebutkan tadi.

Bila kita meresapi wawasan ini, saya harap akan lebih mudah bagi kita untuk memiliki confidence dan acceptance saat berkarya. Melihat karya teman lebih bagus? Ya, kalau iri wajar, dong. Itu tanda dorongan untuk maju dalam diri kita masih ada. Melihat karya sendiri masih jelek? Ya, kita butuh waktu dan jam terbang. Karena itu saya selalu menyarankan untuk selalu membuat gambar iseng-iseng setiap hari. Gambar iseng kan bikinnya gampang, tidak ada beban dan tidak ada deadline, tapi terus dilakukan setiap hari tanpa berhenti. Suatu saat, percayalah, pasti karya kita akan tambah bagus. Kalau masih belum bagus juga, mungkin pendekatannya yang salah, mungkin alat dan bahannya yang keliru. Faktornya banyak.

Maka kesimpulannya, perfeksionisme adalah normal karena sesuai dengan hukum alam. Diri kita secara alami memang ingin berkembang. Namun perfeksionisme yang diidap oleh mereka yang belum menyadari nilai dirinya, itu akan melukai diri sendiri. Perupa yang sudah menyadari nilai dirinya akan relatif lebih cool. Karyanya jelek? Cool. Karyanya bagus? Cool. Dikritik orang? Cool. Dipuja-puji setinggi langit? Cool. Dapat penghargaan seni? Cool. Diceraikan istri? Cool.. (sambil mewek sedikit) :D. Kesal sedikit, kecewa sedikit boleh lah, semenit-dua menit. Kalau orangnya memang cool sih, nggak susah kok untuk maju terus, apapun yang terjadi. Lha, kalau deadline-nya besok gimana? Karyanya hancur banget, lho, ini. Sekarang jam 12 malam, deadline-nya besok jam 9 pagi. Tenang, tetap cool dan kirimkan saja apa adanya. Lain kali, buat satu karya pertama yang selesai dulu, baru buat variasinya yang lebih bagus. Atau bila Anda memang memiliki kuasa tertentu, mundurin deadline-nya! šŸ˜€ Jadi, jangan takut karya jelek, jangan takut deadline, jangan takut gagal, jangan takut kritik. Tenang aja dan tetap cool. Nilai diri kita tetap sama, kok. šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s