Sebuah Renungan Tentang Cinta dan Kekerasan

“Dalam peperangan, kebenaran adalah korban yang jatuh pertama kali.” demikian Aeschylus, dramawan tragedi Yunani kuno, pernah menulis. Sejak kantor koran mingguan Charlie Hebdo diserang oleh tiga orang militan al-Qaeda di Paris, Perancis, pada 7 Januari 2015 lalu, linimasa akun-akun medsos saya dipenuhi oleh ekspresi simpati dan dukungan pada para korban disertai kutukan pada para pelakunya. Namun saya juga membaca banyak ekspresi di kutub yang berbeda, mereka yang membela dan mendukung para pelaku. Saya pikir, dunia sudah gila, atau dari dulu memang sudah begitu? Dunia seperti terbelah dua, begitu hitam-putih.

Sebenarnya, menurut saya pribadi, penyerangan yang terjadi belum sebulan lalu (persisnya pada hari Rabu sekitar jam 10 pagi, 16 Desember 2014) di Army Public School di kota Peshawar, Pakistan, jauh lebih mengerikan lagi. Penyerangan yang dilakukan oleh sembilan orang militan anggota TTP (Tehrik-i-Taliban Pakistan) tersebut akhirnya merenggut 145 jiwa. 132 orang di antaranya adalah anak-anak berusia antara 8-18 tahun. Jadi, penyerangan di Paris itu gila tapi penyerangan di Peshawar lebih gila lagi. Yang terjadi di Paris adalah sebuah eksekusi, sebuah hukuman mati. Yang terjadi di Peshawar adalah sebuah pembantaian. Anak-anak itu salah apa, coba? Konon, “kesalahan” mereka adalah karena para orangtua mereka berada di kubu yang berseteru dengan TTP. Kejadian tersebut begitu mengerikan sampai-sampai ada klan-klan Taliban lain yang mengutuk kejadian tersebut. Walaupun demikian, baik penyerangan di Peshawar maupun Paris tetaplah sebuah tragedi kemanusiaan yang menorehkan luka mendalam pada tubuh sejarah umat manusia yang memang sudah karut-marut.

Ada yang bilang, bila kita ingin menulis kisah fiksi, syarat utamanya adalah: kisah tersebut harus masuk akal. Kehidupan kita yang sebenarnya seringkali tidak begitu. Realitas sehari-hari justru seringkali malah tidak masuk akal. Saya ingat ungkapan penulis terkenal Mark Twain yang kira-kira menyiratkan bahwa semua misteri kehidupan akan lenyap dan kehidupan ini akan bisa benar-benar dimengerti bila kita semua sudah jadi gila. Dalam pembukaan film “Platoon” (1986), narasi Charlie Sheen berbunyi, “War is the impossibility of reason.” Maka saya pun berpikir, ya, mungkin itu jawabannya. Sebagian dari kita menganggap dirinya sedang berada di tengah medan perang karena itu mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah sah, persis seperti peribahasa tua yang mengatakan, “Semua sah dalam cinta dan peperangan.”

Semua peperangan, lepas dari ideologi apapun yang menjadi latar belakangnya, selalu memiliki selapis tabir cinta. Tidakkah ini aneh? Bisakah kita membayangkan, pada momen ini, salah seorang orangtua korban penyerangan di Peswahar sedang menyembelih seorang teroris Taliban karena kemarahan yang luar biasa pada mereka yang telah merenggut orang yang dicintainya? Bisakah kita membayangkan bahwa pada momen ini, di tengah pelarian yang dipenuhi kecemasan, salah satu pelaku penyerangan di Paris merasakan kehangatan di dalam batinnya karena merasa telah melakukan hal “yang benar” dengan membela Tuhan, rasul dan agama yang dicintainya? Kontradiksi seperti ini adalah realitas yang khas kehidupan umat manusia, absurd tapi nyata. Walaupun kejadian-kejadian tersebut sangat berjarak dengan kita, para pelakunya adalah manusia, sama seperti kita. Dengan mudah kita bisa menyangkal bahwa kita tidak sama dengan mereka, kita takkan pernah melakukan kekejaman seperti itu, namun sebuah fakta tidak bisa disangkal: manusia, spesies kita, mampu melakukan hal ekstrim seperti itu. Bayangkan bila ada yang menyakiti orang yang kita cintai, tidakkah masuk akal bila kita pun membalas dengan melukai para pelaku termasuk, bila perlu, keluarganya? Mampukah kita bersikap seperti orangtua Ade Sara yang mengampuni para pembunuh anak gadis satu-satunya? Saya kira tidak semua dari kita mampu bersikap seperti itu, saya sendiri tidak yakin kalau saya mampu. Bila ada yang menyakiti mereka yang kita cintai, kita cenderung murka seperti Achilles.

Saya tidak bermaksud untuk membuat sebuah ulasan sosio-historis dari kejadian-kejadian ini. Ini hanya sebuah renungan. Kita rela mati untuk mereka yang kita cintai, itu sudah pasti. Di balik itu, kita pun akan (merasa) mampu membalas mereka yang telah melukai orang-orang yang kita cintai. Lagu kebangsaan Perancis sendiri, “Le Marseillaise”, mendendangkan hal itu dalam bait-bait awal liriknya yang berbunyi, “Contre nous de la tyrannie, l’étendart sanglant est levé (bis), etendez-vous dans la champagne, mugir ces féroces soldats? Ils viennent jusque dans nos bras. Égorger nos fils, nos compagnes. Aux arms, citoyens! Formez vous bataillons!…” yang kira-kira berarti, “Di hadapan kita, sang Tirani mengibarkan benderanya yang penuh darah (diulang). Apakah kau dengar di pedesaan, raungan para prajurit mereka yang ganas? Mereka datang ke hadapan kita untuk menyembelih anak dan istri kita. Persenjatai dirimu, wahai Rakyat. Bentuklah batalion perangmu!”

Sejarah umat manusia telah dipenuhi oleh tragedi-tragedi semacam itu, tragedi yang dibayangi oleh cinta dan diakhiri dengan kekerasan. Ini diilustrasikan dengan gamblang dalam kisah mitologi tentang Perang Troya. Cinta dan kekerasan ternyata tak pernah berjauhan, seperti dua sisi mata uang. Gagasan ini nyaris sama seperti menyatakan bahwa bila kita menginginkan dunia ini bebas dari kekerasan, bebas dari peperangan, maka cinta haruslah sirna dari muka bumi. Bila tidak ada cinta maka tidak akan ada kebencian thus tidak akan ada kekerasan tapi itu tidak mungkin karena tanpa cinta, spesies kita akan musnah dari muka bumi. Maka kekerasan dan peperangan, apapun juga alasannya, akan selalu ada untuk selamanya, selalu membayangi spesies kita. Tapi yah, tentu realitanya tidak sesederhana dan sesempit itu. Kita bisa panjang-lebar membahas tragedi-tragedi seperti ini dari banyak teori dan perspektif. Saya hanya merenungkan satu hal yang kita puja-puja tak ada habisnya namun ternyata selalu ada di balik hampir semua kekerasan dan tragedi kemanusiaan: cinta. Tidakkah itu absurd? Plato pernah mengatakan, “Hanya orang-orang mati yang telah melihat akhir peperangan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s