Sekolah untuk Bekerja, Belajar untuk Hidup

Ada sebuah tulisan menarik di sebuah media online tentang “10 Lulusan Jurusan Universitas Ini Hampir Percuma”, ditulis oleh Asep Ahmad Fauzi, aikawa, tertanggal Senin dan Rabu, 16 & 18 Maret 2015. Tautannya ada di sini, silakan. Saya menemukan tulisan ini dari linimasa seorang teman di Facebook dan setelah saya baca tulisannya saya perlu mengakui, setidaknya untuk butir ke-10 (tentang seni rupa, karena itu bidang saya), tulisan ini secara prinsipil ada benarnya. Ya, kenapa tidak? Dulu saya sempat menyesalkan, mengapa dari puluhan dan ratusan mahasiswa jurusan Seni Murni, hanya ada sedikit sekali lulusannya yang berkiprah jadi seniman? Saya mengadukan hal ini pada teman-teman saat saya ikut program residency di Amsterdam, ternyata sama saja. Teman-teman saya berasal dari berbagai bangsa dan negara, dari Afrika juga ada, dan semua mengatakan hal yang sama. Ternyata dimana-mana, yang berkiprah jadi seniman itu sedikit sekali, kebanyakan bekerja di berbagai bidang lain (tapi bidang kreatif tentu yang dominan). Waktu itu saya pikir, kenapa ya? Tapi ya sebenarnya jawabannya tidak sangat misterius, lah. Kalau berkiprah jadi seniman berarti tidak bekerja secara formal, artinya tidak memiliki penghasilan yang jelas dan teratur, jalur profesinya samar-samar, karirnya tidak jelas, nanti kalau mau menikah terus ditanya sama calon mertua jawabannya tidak meyakinkan dan sebagainya. 😀 Mengambil jalan hidup sebagai seniman purnawaktu sungguh bertentangan dengan semua pertimbangan rasional, kecuali kita memang punya sumber daya cukup untuk bisa hidup layak tanpa bekerja sampai mati. Jadi, saya pribadi sih memahami keputusan mereka yang tidak memilih untuk berkiprah sebagai seniman karena itu keputusan rasional.

Tentu saja, menjadi seniman bukan hanya soal itu, kita akan bahas itu nanti, tapi semua “kerugian” menjadi seniman seperti yang saya jabarkan di atas sebenarnya jatuh pada sebuah sudut pandang yang sama dengan sudut pandang yang melatarbelakangi dibuatnya artikel tersebut, sama dengan sudut pandang yang diambil oleh Biro Pusat Statistik dan pernyataan Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar (2013), bahkan bila ingin diperluas lagi, sudut pandang ini adalah sudut pandang khas peradaban modern di mana sebagian besar dari kita yang hidup dunia masih dipengaruhi olehnya setiap hari. Peradaban modern ini dibangun oleh industrialisasi dan kapitalisme, pranatanya luas sekali dari mulai yang kecil sampai yang raksasa, melampaui batas-batas negara. Dalam buku “Gulag Archipelago” karya Alexandr Solzhenitsyn (1973) digambarkanlah kekejaman rezim pemerintahan Uni Sovyet di bawah kepemimpinan Joseph Stalin. Walaupun begitu, dalam sudut pandang yang berbeda saya juga melihat bagaimana Joseph Stalin tidak memiliki pilihan lain untuk membawa Uni Sovyet menuju era baru selain mengubahnya dari negara agraris raksasa menjadi sebuah raksasa industri. Untuk itu, tanpa ba-bi-bu, rezim Stalin memerintahkan tentara untuk menculik tenaga kerja produktif dari desa-desa di seluruh negara, termasuk di daerah-daerah terpencil di pegunungan Kaukasus, untuk masuk ke dalam kamp kerja paksa yang tersebar praktis di seluruh negaranya yang besar sekali itu. Sistem kamp kerja paksa ini sendiri diberi nama Glavnoye Upravleniye ispravitelno-trudovyh Lagerey (Главное Управление Исправительно-трудовых Лагерей) atau “Pusat Administrasi Kamp Kerja Pemasyarakatan”, thus disingkat menjadi “Gulag”. Antara tahun 1929 hingga tahun 1953, kalau nggak salah, nih, sekitar 25-30 juta orang dikirim ke Gulag. Yang mati karena kombinasi keletihan, siksaan, malnutrisi dan terpapar udara dingin diperkirakan antara 2-10 juta orang. Di dalam Gulag, Solzhenitsyn menjelaskan, orang-orang dipaksa untuk bekerja kasar seperti budak selama 16 jam sehari di musim panas. Di musim dingin mereka bekerja 12 jam sehari. Mereka hidup dalam barak-barak yang kondisinya sangat memprihatinkan. Semua yang protes akan disiksa dan tapi para pembangkang justru tidak, mereka akan dimasukkan ke dalam sebuah penjara beton yang berjendela terbuka, ditabiri jeruji dan dibiarkan telanjang, disiram air di tengah amukan badai salju sampai beku. Mereka ini bukan hanya tahanan politik, lho. Tahanan politik memang ada tapi sedikit sekali dibandingkan yang lain. Mereka adalah orang-orang biasa, orang-orang kampung yang hanya bertahan hidup, kebanyakan sebagai petani. Solzhenitsyn sendiri masuk Gulag selama 8 tahun, karena kritiknya terhadap pemerintah dalam sebuah surat yang ditujukan pada saudaranya ternyata ketahuan. Setelah itu ia akhirnya mendapat suaka politik dan pindah ke Vermont, Amerika Serikat lalu menulis buku ini. Kamp-kamp Gulag ini luar biasa banyaknya, sampai bila dilihat dalam peta bisa nampak seperti sebuah kepulauan, karena itu bukunya diberi judul “Achipelag Gulag”, lebih berima dalam bahasa aslinya.

Maka sistem Gulag pun mengubah wajah Uni Sovyet selamanya. Bila Anda sebaya dengan saya dan sempat membaca buku “Mati Ketawa Cara Rusia” zaman tahun 1980-an dulu, di sana digambarkan bahwa pemerintah Rusia sangat otoriter, semua pembangkang akan “dikirim ke Siberia”. Ini mengacu pada kamp kerja paksa Gulag dan Siberia adalah tempat yang paling buruk, sebuah neraka dingin karena cuacanya yang kejam dan alamnya yang tanpa ampun (tonton film “The Way Back” (2010) untuk melihat kisah nyata beberapa orang yang melarikan diri dari kamp Gulag setelah Perang Dunia II berakhir). Jutaan orang mati sementara puluhan juta yang lain terpisah dari keluarganya untuk selamanya, mereka cuma orang-orang miskin dari kampung. Kasihan banget. 😦 Walaupun kata “Gulag” adalah sebuah singkatan dari bahasa Rusia, kini kita bisa menemukan kata tersebut dalam kamus-kamus bahasa Inggris sebagai sebuah kata benda, saking fenomenalnya hal tersebut. Walaupun demikian, kamp kerja paksa tersebut akhirnya menyediakan tenaga kerja (yang nyaris gratis) untuk membangun semua pranata industri yang dibutuhkan Uni Sovyet dan mengubahnya menjadi sebuah negara adidaya. Tentu saja, untuk alasan apapun saya bukan seorang pendukung sistem Gulag, saya mengulangkisahkan cerita ini untuk menggambarkan sebuah kasus ekstrim: bagaimana sebuah negara-bangsa yang besar tanpa tedeng aling-aling mengorbankan rakyatnya sendiri untuk mengubah Rusia dari negara agraris menjadi sebuah negara industri, demi mempersiapkan pranata yang memadai bagi lahirnya sebuah peradaban modern dalam waktu secepat mungkin karena tanpa itu Rusia tidak akan bertahan menghadapi perubahan zaman. Kalau puluhan juta orang harus mengalami nasib yang tak tertahankan dengan menjadi budak di kamp-kamp Gulag untuk mengubah Rusia menjadi sebuah negara industri, sistem pendidikan di dunia ini bertanggung jawab untuk melahirkan puluhan dan ratusan juta orang untuk menjadi penggerak roda industri, thus roda ekonomi itu sendiri. Jadi sekolah dalam manifestasinya sebagai sebuah lembaga pendidikan formal adalah sebuah pilar penting modernitas namun alih-alih menjadi sebuah pilar pengetahuan, ia terlebih dulu menjadi pilar ekonomi. Sudut pandang inilah yang saya maksud di paragraf awal tulisan saya.

Dengan begitu, sudah sejak lama sekali bahkan sampai sekarang, tujuan orang masuk sekolah ya supaya bisa dapat pekerjaan (formal). Syukur-syukur pekerjaan yang cocok dengan bidangnya tapi kalau tidak, apa sajalah, yang penting dapat pekerjaan dan dapat gaji karena begitu dapat gaji, orang bisa bertahan hidup, posisi sosial pun jadi jelas. Ini terjadi di mana-mana di seluruh dunia dan dalam dunia pendidikan, sebuah cabang ilmu tercipta dan dilembagakan karena ada kebutuhan yang nyata di lapangan. Dari skala kecamatan sampai skala global, lulusan sekolahan memang “dari sononya” diharapkan untuk bisa mengisi posisi-posisi tersebut karena rumus yang dipakai adalah rumus supply and demand, sebuah rumus khas industri modern yang mengacu pada teori ekonomi klasik yang menyatakan bahwa ekonomi selalu akan bergerak menuju sebuah ekuilibrium yakni saat kapasitas produksi dan ketenagakerjaan sudah sama-sama full. Dengan demikian, paradigma “sekolah untuk bekerja” memang tidak bisa disangkal, masih mendominasi sistem pendidikan dunia termasuk di Indonesia karena rumus ekonominya sama. Jadi dalam pemahaman ini, suka atau tidak, Pendidikan sebenarnya memang anak kandung Pengetahuan tapi ia diadopsi dan dibesarkan oleh Ekonomi, tidak mengherankan bila ia lebih mewarisi wawasan, visi dan kebijaksanaan orangtua angkatnya. Jadi, saya tidak menyalahkan Saudara Asep Ahmad Fauzi dalam tulisannya, malah saya pikir bagus, tulisan itu bisa membuat kita berpikir. Hanya saja, adalah sebuah kekeliruan bila kita mencerap pendidikan sebagai sebuah entitas raksasa yang agung tapi beku karena bagaimanapun juga, sebagai sebuah produk kebudayaan, pendidikan senantiasa dipengaruhi oleh perkembangan zaman termasuk perkembangan ekonomi. Ia selalu dipaksa dan terpaksa berubah. Lihat saja bagaimana ekonomi dunia berubah begitu banyak pascainternet. Kalau rumus supply and demand adalah rumus kunci dalam ekonomi klasik, dalam situasi ekonomi kiwari seperti sekarang hal itu tidak selamanya berlaku. Lah, memangnya siapa yang bilang bahwa menuliskan buah pikiran dalam 140 karakter ada demand-nya? Riset mana yang menyatakan hal itu? Siapa yang bilang bahwa kita butuh Facebook untuk bisa terhububung dengan teman-teman? Nggak ada. Hidup kita nyaman-nyaman saja sebelum ada Facebook (atau Friendster). Hidup kita dulu juga cukup nyaman, bisa jalan-jalan atau belajar sambil mendengarkan musik dari walkman, terus kenapa walkman zaman sekarang harus bisa memuat 10.000 lagu segala? Semua itu tidak ada demand-nya, presedennya aja nggak ada, tapi toh produk-produk itu lahir juga dan ketika sudah digunakan oleh masyarakat luas, kita jadi amat tergantung dan tidak bisa lagi hidup tanpanya. Mas Enin Supriyanto, seorang kurator seni rupa dan sahabat saya, menjelaskan hal ini di Yogyakarta. “Sekarang bukan soal demand,” kata Mas Enin, “tapi level of acceptance.” Saya manggut-manggut sambil minum kopi. Menarik sekali, persis seperti bisnis narkoba dengan “level of addiction” di kalangan para pecandu.

Saya nggak bisa lah kalau harus menjelaskan teori ekonominya tetapi jelas, dunia selalu berubah dan kita selalu terkaget-kaget, antara terpukau dan terseok-seok mengikuti perkembangannya karena bila tidak, kita makin tidak nyambung dengan lingkungan kita. Kalau ekonomi berubah lalu bagaimana dengan dunia pendidikan? Lalu bagaimana dengan dunia pendidikan seni rupa, dunia saya, dunia kita? Jurusan Seni Rupa tidak hanya dibuat untuk menghasilkan seniman. Menurut saya, yang terpenting bagi jurusan Seni Rupa kita saat ini adalah: pertama menghasilkan para ahli sejarah seni rupa, kedua menghasilkan para ahli konservasi seni rupa, menghasilkan seniman itu nomor tiga saja, kalau perlu nomor empat sesudah menghasilkan kurator seni rupa yang mumpuni. Tidak perlu saya jelaskan panjang lebar, para ahli sejarah dan konservasi seni rupa teramat-sangat-penting dalam perkembangan dunia seni rupa Indonesia. Saya masih nggak ngerti kenapa para pengambil keputusan tidak mengambil tindakan apa-apa soalnya jurusan yang secara spesifik mengajarkan ilmu sejarah dan konservasi seni rupa di Indonesia masih nol besar, tidak ada sama sekali sampai hari ini, padahal tuntutannya jelas nyata dan lapangan pekerjaannya bukannya tidak bisa diciptakan. Tanpa kedua jurusan tersebut, dunia seni rupa Indonesia hanya akan jadi perayaan-perayaan sesaat, seperti asap yang tidak punya tubuh apatah lagi punya karakter dan kharisma. Tanpa kedua jurusan tersebut, dunia seni rupa Indonesia eksis sih eksis, tapi seperti hantu, ada tapi tidak bisa dijelaskan. Kondisi di lapangan sekarang terbalik lho, sistem pendidikan Seni Rupa masih dirancang untuk menghasilkan seniman padahal kenyataannya, yang mengambil jalan hidup sebagai perupa, yang selalu berkarya dan berkiprah di dunia seni rupa, tidak mengerjakan hal yang lain sampai mati, itu sedikit sekali. Terus-terang sajalah, keuntungan terbesar yang saya dapat karena saya kuliah di sekolah seni rupa saya dulu adalah: networking lebih mudah, soalnya para praktisi senior banyak yang berasal dari kampus yang sama. Tapi membangun jejaring, networking, adalah sebuah keterampilan yang bisa dimiliki siapa saja asal punya visi dan mau berusaha. Di zaman internet seperti sekarang ini bikin jejaring paling gampang. Faktanya, beberapa perupa kontemporer terpenting Indonesia saat ini tidak berasal dari jurusan Seni Rupa, lho. Kalaupun mereka berasal dari jurusan Seni Rupa, beberapa drop-out. Kalaupun mereka berasal dari jurusan Seni Rupa dan berhasil lulus, prestasi akademiknya saat kuliah biasa-biasa saja, tidak istimewa. Jadi kalau benar-benar mau jadi perupa purnawaktu, menurut saya sekarang orang tidak perlu menghabiskan waktu empat tahun kuliah di jurusan Seni Rupa. Terlalu lama dan terlalu mahal, hasilnya nggak sepadan. Asal mau belajar dan bisa bertemu orang yang tepat, baik untuk mengembangkan bakat, keterampilan, mengasah ilmu dan membuat jejaring, siapapun itu pasti bisa berkiprah jadi perupa. Masalahnya, siapa yang mau jadi seniman? Nggak digaji, lho! Nggak punya posisi direktur, manajer, dsb. Karirnya gimana, sih? Jelas-jelas-nggak. Ingat bahwa ilusi tentang karir di dunia seni rupa itu sedikit banyak masih ditentukan oleh segelintir pemodal. Mirip-mirip lah dengan industri musik atau film. Nah, pada titik inilah saya kira kita bisa menafikan semua prinsip ekonomi yang saya sebutkan di awal tulisan ini, yang melatarbelakangi paradigma “sekolah untuk bekerja”.

Sudah ada beberapa tulisan yang saya buat yang menjelaskan mengapa saya mengambil seni rupa sebagai jalan hidup saya. Pendeknya seperti ini: bila dari sekian banyak hal, ada satu hal yang sangat menarik untuk kita melebihi hal lain, itulah minat kita. Bila orang lain harus berusaha sepuluh-dua puluh kali untuk bisa mengerjakan sesuatu dengan benar sementara kita hanya perlu berusaha sekali-dua kali dan hasilnya istimewa, itulah bakat kita. Bila saat mengerjakan hal itu kita larut, tenggelam dalam konsentrasi yang mengasyikkan sampai lupa makan dan lupa waktu, itulah gairah hidup kita. Dan akhirnya, bila kita merasa hidup kita akan sengsara, tanpa arah dan tanpa makna bila kita tidak mengerjakan hal itu terus-menerus sampai kita mati, itulah panggilan hidup kita. Itulah alasan saya, teman-teman saya dan banyak lagi orang lainnya, seniman atau tidak, untuk memenuhi panggilan hidupnya, apapun yang terjadi. Saya pernah mencoba hal lain, tapi saya malah depresi jadi ya sudah, saya terima saja. Lalu bagaimana cara saya mencari nafkah untuk menghidupi diri saya dan keluarga? Ya dari situlah, saya menjual karya-karya saya dan mendapat nafkah walaupun itu tidak bisa disebut gaji dalam pengertian gaji seorang karyawan yang bekerja di kantor. Dulu waktu masih bujangan saya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain di bidang desain, ada juga proyek-proyek organisasi seni temporal (misalnya 1-3 bulan) yang memberi saya honor secukupnya untuk ukuran anak bujangan. Nah, apakah untuk menjadi seseorang yang memenuhi panggilan hidupnya, apapun bidangnya, butuh masuk sekolah? Jawabannya: tidak selalu. Yang diperlukan adalah BELAJAR, bukan masuk sekolah. Pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang diambil, baik melalui lembaga pendidikan formal maupun non formal, karena mengikuti dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri karena secara naluriah, manusia memang selalu ingin tahu, selalu ingin belajar.

Kembali pada tulisan Saudara Asep Ahmad Fauzi. Apakah masuk jurusan Seni Rupa adalah percuma? Mohon dipahami bahwa saya tidak mewakili jurusan Desain dan Kriya, karena itu bukan bidang saya, tapi kalau kita benar-benar ingin jadi seniman, jawabannya: ya, bisa jadi memang percuma masuk jurusan Seni Rupa. Di Indonesia biaya kuliahnya saja sudah mahal, di Amerika Serikat apalagi. Di sana, sekolah seni rupa (bidang praktik) selama delapan semester S1 bisa menghabiskan biaya kuliah sebesar Rp. 1 sampai 2 miliar. Itu gila banget. Tapi kalau pendidikan tinggi kesenirupaan Indonesia suatu saat membuka jurusan Sejarah Seni Rupa dan Konservasi Seni Rupa, jawabannya: sama sekali tidak. Penting sekali bagi mereka yang berminat dan bermaksud untuk mengambil dua bidang tersebut sebagai jalur kepakaran untuk belajar secara formal jadi pendidikan formal adalah mutlak bagi mereka. Bagaimana dengan ketersediaan lapangan kerja sesudah lulus? Ya, sesudah saya lulus S1 tahun 1998, pekerjaan yang saya ambil adalah proyek-proyek temporal, bukan pekerjaan tetap sebagai karyawan. Saya tahu saya tidak akan bisa bekerja kantoran jadi soal itu memang tidak terlalu memusingkan saya, kalau nggak punya uang ya memang pusing tapi bekerja kantoran tetap bukan jawaban untuk saya. Seorang ahli sejarah dan ahli konservasi seni rupa bisa dengan mudah mengajar di lembaga pendidikan dan itu sangat diperlukan bagi keberlangsungan pendidikan seni rupa Indonesia. Dengan pranata yang lebih baik lagi, proyek-proyek penelitian dan konservasi bisa tumbuh jadi lembaga-lembaga penting yang akan menubuhkan seni rupa Indonesia. Walaupun sulit dan jalannya panjang, itu bukan tidak mungkin. Yang diperlukan adalah visi para pengambil keputusan. Lalu, apakah dengan begitu saya masuk dalam kelompok “pengangguran terdidik”? Bila dilihat dari sudut pandang ekonomi, dari parameter dunia industri seperti yang dipetakan oleh Biro Pusat Statistik: ya, saya memang termasuk dalam kelompok itu, tapi saya tidak terlalu memusingkannya karena toh saya masih tetap berkarya, tetap mencintai pekerjaan saya dan masih akan terus melakukannya sampai lama.

Epilog

Sebuah renungan yang bisa diambil dari tulisan Saudara Asep Ahmad Fauzi saya kira adalah ini. Ada kelompok pertama, sebagian besar orang yang masuk sekolah supaya bisa mendapat pekerjaan formal. Itu tidak salah, dong. Selama pekerjaannya halal dan tidak merugikan orang lain, itu bagus. Bila penghasilannya bekerja dipakai untuk menghidupi keluarga, itu bahkan mulia. Lalu ada kelompok kedua, jumlahnya tidak banyak, beberapa orang tertentu malah keluar begitu saja dari sekolahnya lalu menciptakan lapangan pekerjaan bagi kelompok yang pertama. Itu pun tidak salah. Lalu ada kelompok ketiga, jumlahnya banyak sekali, mereka adalah orang-orang yang kebetulan lahir dari keluarga miskin sejak turun-temurun, mereka tidak mampu sekolah karena mereka harus segera bekerja untuk meringankan beban hidup dan mereka rela mengerjakan pekerjaan apa saja dengan bayaran berapa saja, asal bisa makan, walaupun pekerjaan itu bertentangan dengan minat, bakat, gairah dan pangilan hidup yang sebenarnya ideal bagi mereka. Mengembangkan potensi diri sampai setinggi-tingginya? Lupakan saja, mereka hanya bisa makan untuk hari ini atau besok. Mereka melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai karena terpaksa, bila mereka kehilangan pekerjaan itu, mereka akan cari pekerjaan lain lagi untuk bertahan hidup. Ada juga kelompok lain yang seperti saya, bekerja sebagai karyawan tidak, membuka lapangan pekerjaan juga tidak, tapi tetap produktif bekerja untuk bertahan hidup sekaligus untuk mengembangkan diri. Mungkin masih ada kelompok yang lain tapi untuk saat ini biar empat kelompok ini saja dulu yang saya bahas. Dari keempat kelompok ini, entah kaya entah miskin, sejak dulu sekali sampai hari ini, berjangkit sejenis mentalitas aneh yaitu, mentalitas “yang penting dapat duit, sebanyak mungkin, secepat mungkin, terserah caranya bagaimana”.

Saya hanya bisa menduga secara samar-samar: dari mana mentalitas seperti ini berasal, akan kemana mentalitas seperti ini menuju dan apa dampak yang telah dan akan dihasilkannya? Yang pasti mentalitas ini menjangkiti banyak sekali mahluk dari semua kelompok yang saya sebut tadi dan itu selalu merusak dunia di sekitarnya dan pada akhirnya merusak kita dari dalam. Mentalitas ini akan membuat hidup kita menderita walaupun dunia melihat kita bak orang paling sempurna. Barangkali ada lubang kecil di dalam hati kita yang takkan pernah cukup bila diisi, sebanyak apapun kita mengisinya, sebuah lubang gelap yang sarat dengan rasa takut dan kegamangan menghadapi ketidakpastian hidup di masa depan. Semua jenis penganggur, baik yang terdidik maupun yang tidak terdidik, bisa dijangkiti mentalitas seperti ini. Begitu pula dengan mereka yang bekerja, baik pekerjaannya adalah jenis pekerjaan super-payah yang sarat perbudakan dan mengabaikan hak-hak azazi manusia, atau pekerjaan terbaik yang memberi upah intan-permata. Sebagian dari mereka pun terjangkiti mentalitas ini. Demikian pula halnya dengan para pencipta lapangan pekerjaan dan para pembuat kebijakan, banyak sekali yang terjangkiti mentalitas ini. Dan sekolah, pendidikan yang dilembagakan, seburuk atau sebaik apapun itu, dari mulai sekolah kelas kambing di pelosok dusun sampai sekolah tempat para putri dan pangeran menimba ilmu di kota-kota termegah di dunia, dari dulu sampai hari ini, ternyata tidak pernah mampu benar-benar memerdekakan para siswanya dari mentalitas seperti ini. Bila mentalitas ini dianggap sebagai sebuah masalah besar, masalah yang lebih besar lagi adalah tidak menyadari bahwa di lembaga pendidikan, mentalitas seperti ini justru bisa jadi malah dilestarikan.

3 thoughts on “Sekolah untuk Bekerja, Belajar untuk Hidup

  1. Rasanya masalah ini terjadi juga untuk sebagian besar sarjana jurusan lain. Saya sebenernya penasaran pingin bikin penelitian mendalam, tentang angka persenan ini. Karena rasanya ga banyak lulusan S1 yang kemudian berkarir plek plek sama dengan jurusannya dulu. Dunia perekonomian berkembang, lapangan pekerjaan juga berkembang. Sistem pendidikan sekarang juga seharusnya lebih dinamis, dan kita sebagai pelaku diharapkan lebih cerdik mencermati dan ga melulu menyalahkan masa lalu 😉
    Saya pikir sih, mentalitas itu berkembang karena kebanyakan dari kita pingin yang instan-instan aja. Definisi sukses masih seputar rekening, rumah, mobil, dll. Jadinya pingin lulus, cepet dapet kerja, gaji gede dll. Yang ga pernah dibahas adalah proses pencarian (belajar ga pernah putus) dan kontribusi kita ke masyarakat. Mungkin kalo dua hal itu dipertimbangkan kita bisa hidup agak santai dan ga terus-terusan terjebak tuntutan industri.

    • Dari semua lulusan SMU yang cukup beruntung bisa melanjutkan belajar di tingkat pendidikan tinggi, dalam proporsi yang saya nggak tahu persis berapa perbandingannya, selalu ada yang: sama sekali tidak tahu minat utamanya apa; tahu secara samar-samar minat utamanya apa dan sudah tahu dengan mantap minat utamanya apa. Walaupun begitu, kasus “salah jurusan” selalu terjadi pada ketiganya untuk alasan yang macam-macam, di antaranya: karena kita nggak tahu minat kita apa, ambil saja jurusan yang ketersediaan lapangan pekerjaannya tinggi sesudah lulus nanti, tapi ternyata tingkat persaingannya tinggi banget dan kita nggak masuk seleksi; atau banyak teman-teman yang ambil jurusan tertentu lalu kita ikut-ikutan (ada lho, yang begini) tapi tingkat persaingannya ternyata cukup tinggi dan kita nggak masuk seleksi; atau jurusan yang kita sukai (secara samar-samar) ternyata tidak direstui orangtua dan karena pada dasarnya kita kurang yakin, ya kita nurut aja sama orangtua (kan mereka yang bayar kuliahnya) dan jurusan ini bisa jadi tingkat persaingannya masih cukup tinggi juga dan kita nggak masuk seleksi; atau jurusan yang kita sukai (secara samar-samar) bukan jurusan populer di kalangan teman-teman dan kita jadi ragu untuk mengambilnya lalu kita ambil jurusan yang populer aja yang banyak diambil teman-teman, bisa masuk bisa nggak; atau jurusan yang kita sukai (secara samar-samar) direstui oleh orangtua dan kita beruntung bisa masuk, tapi sesudah dua semester kita baru sadar bahwa ternyata kita nggak benar-benar suka dengan jurusan tersebut, dsb. Intinya, kasus “salah jurusan” selalu menimpa ketiga kelompok lulusan ini. Saya pikir, kalau saja para lulusan SMU lebih tahu apa minat utamanya (minimal secara samar-samar, syukur-syukur kalo yakin), kasus salah jurusan mestinya lumayan lah, bisa sedikit berkurang. Pendidikan itu kan dimulai dari yang dasar-umum ke yang canggih-spesifik, saya pikir apapun yang terjadi ya idealnya kita harus tahu secara mantap apa pilihan kita, itu akan membuat kualifikasi kita selalu tinggi untuk bidang tersebut jadi kita selalu lebih siap untuk terjun pada tingkat persaingan jenis apapun, betapapun tingginya. Oh, kalo saya justru adalah jenis orang yang sangat menyalahkan masa lalu, Dit. 😀 Maksudnya sangat menyalahkan sistem pendidikan dasar dan menengah karena saya merasa menjadi korban, minat dan bakat kreatif saya nyaris sama sekali tidak diakomodasi sehingga saya sangat stress dan banyak mendapat kesulitan di sekolah. Hehehe.. Maksud saya, saya pengennya generasi yang lebih muda, mereka yang diberkati minat dan bakat kreatif, kalau bisa lebih asyik lah situasi belajarnya, bisa membuat minat dan bakat lebih tumbuh dan berkembang, jangan seperti saya dulu, justru dimatikan. Saya kesel sekali lho, waktu hidup saya selama SD-SMP-SMA terbuang sia-sia untuk mempelajari hal-hal yang nggak ada hubungannya dengan masa depan saya, bagi saya itu sama seperti dipenjara. Ciye, emosi. Hahahaha… Tapi saya setuju dengan poin kamu yang terakhir, ukuran sukses kita saat ini belum menyentuh gairah hidup dan kontribusi pada masyarakat, melulu hanya terpusat pada kesuksesan material saja. Itu betul sekali. Kamu yang tinggal di sana tentu menyadari, orang sangat menghargai passion dan pencapaian-pencapaian pribadi yang sesuai dengan passion, alih-alih kesuksesan material. It’s gonna take another century, tapi setidaknya kita menyadari lah, ada masalah yang harus diperbaiki di sini. Makasih komentarmu dan maaf baru sempet bales sekarang.

  2. Halo Mas Tanto, ini Martha. *lambai-lambai*
    Aku juga bolak balik merasa kecele kalau inget masa sekolah dulu, apalagi dulu teh ‘teacher’s pet’ (anak baik, rajin, nurut, kejar ranking, sekolah favorit) ih da kalau inget teh yah, gondok dua kali kalau lagi belajar sejarah apalagi rasanya seperti sudah gondok dua kali trus diceburin ke kali. Aku ngga nyalahin masa lalu sih, nyalahin ortu 😛 yang sangat menyerahkan urusan belajar pada sekolah dan les-lesan (piano dan bahasa misalnya) tutup mata dengan progres/proses yang maju 6 langkah mundur 5 langkah itu. Aku menyebutnya metode parenting abrakadabra.

    Dari pengamatan, baca-baca dan bicara dengan praktisi pendidikan sejauh ini pemikiran bahwa ‘sistem pendidikan’ yang sinonim dengan ‘standarisasi pendidikan’ itu bermanfaat diluar nilai-nilai pertumbuhan ekonomi. Begitu pula dengan ide bahwa kita harus mengubah/ mengembangkan sistem. Any system is corrupted to some degree, pendidikan nggak imun dari ini. Toh sebelum ada sistem, cuma ada kita-kita manusia dengan akalnya bukan? Ciyeh macam anarki ‘we don’t need no education’ 😀

    Kalau boleh berandai-andai nih yah, mas Tanto, kita kembali ke masa lalu – apa aja yang bakal mas Tanto pelajari?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s