Tentang Seni Lukis Landscape

(“Repelita III”, 200 x 300 cm, cat akrilik di atas kanvas. Maryanto, 2013)

Saya sedang mengerjakan sebuah proyek menarik bersama Selasar Sunaryo Art Space: memfasilitasi workshop dan residency untuk teman-teman seniman dari Jelekong. Seperti yang kita tahu, para seniman Jelekong sudah sejak lama fokus pada seni lukis landscape. Mereka meneruskan tradisi seni lukis mooi Indie dan menggunakannya sebagai komoditas industri lukisan sampai sekarang. Untuk itu, saya jadi mulai mempelajari seni lukis landscape, awalnya secara umum dulu. Dari penelitian sejauh ini, saya menemukan beberapa hal menarik.

Pertama, seni lukis landscape itu sebenarnya bagus banget tapi seperti anak tiri dalam praktik seni rupa, baik di skala nasional, regional maupun internasional. Ini berawal saat Seni Modern dimulai, kelihatannya. Saat perupa fokus pada lanskap gagasannya sendiri, ide tentang alam memang bukan yang terpenting.

Kedua, Pak Djon tidak suka dengan tradisi seni lukis landscape Indonesia yang memuja keindahan alam Nusantara namun menutup mata pada kekejaman imperialisme pada masa itu. Sawah, sungai, gunung dan bukitnya dilukis, tapi rakyat jelata yang kelaparan karena tanam paksa dihilangkan dari dalam kanvas. Maka lahirlah istilah “mooi Indie”. Dalam semangat identitas melawan imperialisme, Pak Djon lebih memilih realisme dan itu bisa dipahami. Namun di sisi lain, sikap ini saya pikir turut memberi andil dalam marjinalisasi seni lukis landscape dalam wacana seni rupa Indonesia pasca 1950-an.

Walaupun begitu, zaman selalu berubah. Saya pikir, sekarang kita membutuhkan lebih banyak karya landscape. Pertama karena kita hidup di negara yang indah banget. Rugi kalau kita mengabaikannya. Kedua, bila seorang perupa Indonesia melukis landcape Nusantara, barangkali masalah-masalah yang dipersoalkan oleh Pak Djon jadi kurang relevan.

Lebih lanjut, kita sudah memasuki masa “anthropocene”, yakni sebuah masa di mana dominasi umat manusia telah menimbulkan pengaruh luar biasa terhadap seluruh aspek kehidupan, terutama pada iklim dan lingkungan. Alam Nusantara yang indah ini sudah banyak yang rusak dan akan semakin rusak, jadi waktu kita tidak banyak.

Sebuah karya landscape Nusantara yang dibuat hari ini oleh seorang perupa Indonesia mestinya sih mampu menjadi semacam “memento mori” ekologis, dalam pengertian dan mekanisme yang serupa dengan lukisan/fotografi figuratif. Sebuah karya landscape Indonesia kiwari mestinya bisa juga bisa bertema dystopia dengan aroma post-apocalypse yang kuat seperti karya Maryanto, bobot dan pesannya masih bisa selaras dengan karya klasik Wakidi, misalnya.

Menurut saya, kita membutuhkan lebih banyak perupa yang fokus pada seni lukis landscape, seascape, cityscape Nusantara, dari pendekatan mana saja. Saya harap proyek bersama Selasar Sunaryo Art Space dan teman-teman dari Jelekong ini akan berjalan lancar, menarik dan memberi wawasan baru. Besok pagi tim kami berangkat ke sana untuk mempelajari secara langsung bagaimana mereka bekerja.

Kita tidak tahu akan menuju ke mana nasib bangsa ini menuju. Bila bangsa ini memang ditakdirkan untuk jatuh ke dalam jurang kehancuran tidak lama lagi, mungkin kita tidak akan sesinis Pak Djon kala memandang sebuah lukisan mooi Indie. Lagipula manusia Indonesia sedang tidak menarik untuk dilukis sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s