Transit #4 2017, Workshop Jelekong Klasik Selesai

Akhirnya rangkaian workshop untuk teman-teman perupa  Jelekong klasik selesai. Menghabiskan waktu lima kali pertemuan dalam rentang waktu lima minggu, program ini diisi kuliah umum dan praktik melukis dengan materi pendalaman material, sejarah seni lukis Barat, teknik seni lukis klasik Italia, komposisi obyek, komposisi warna dan cahaya. Ini adalah workshop dengan proporsi 25% teori, 75% praktik. Teman-teman Jelekong mencoba sesuatu yang baru dalam kekaryaan mereka. Biasanya, apapun juga subyek yang mereka kerjakan di atas kanvas, lukisan dikerjakan dengan teknik alla prima. Alla prima adalah teknik mengerjakan lukisan secara langsung, cat diulaskan basah di atas basah dalam sekali duduk dari awal sampai selesai. Teknik ini masuk akal mengingat kekaryaan di Jelekong selalu dikejar waktu dengan jumlah pesanan besar. Namun dalam workshop ini, teman-teman Jelekong diperkenalkan dengan teknik seni lukis klasik Italia yang lahir di Venezia pada zaman Renaissance, abad ke-14.

Teknik ini mensyaratkan sebuah cara melukis yang bertahap dan tidak langsung. Pertama, kanvas diberi sebuah lapisan dasar, disebut imprimatura, untuk meredupkan warna kanvas yang semula putih menjadi kecoklatan dengan lapisan burnt umber yang hangat. Peredupan ini membuat penilaian mereka terhadap gelap terang menjadi lebih akurat karena warna kanvas yang putih terang bisa menipu mata yang kurang terlatih. Cat tipis ini juga memberikan sebuah lapisan pertama yang disebarkan secara merata di atas kanvas, dengan begitu memberikan sebuah lapisan partikelnya homogen, serupa dengan partikel pada lapisan-lapisan berikutnya, dengan begitu memberikan daya rekat yang lebih baik. Teman-teman Jelekong melukis dengan mengikuti aturan fat over lean, lapisan cat makin ke atas makin berminyak, untuk menjamin struktur yang baik demi alasan konservasi.
(foto: Selasar Sunaryo Art Space)

Kedua, subyek dalam tradisi seni lukis Jelekong klasik cukup beragam: lanskap alam dengan kehidupan pedesaan agraris, alam benda berupa bunga atau buah-buahan, atau figur binatang seperti ikan koi, kuda atau burung dara. Sebelum workshop ini, teman-teman Jelekong menyusun obyek sesuai dengan apa yang dipelajari secara turun-temurun dan di sana sering terdapat permasalahan komposisi. Dalam workshop ini, mereka diperkenalkan pada cara penyusunan obyek menurut teori komposisi dasar, mengikuti struktur palang dan segitiga. Dalam teknik penyusunan obyek ini mereka diminta untuk membayangkan dirinya sebagai seorang sutradara teater, kanvas adalah panggung dan semua obyek adalah para pemeran termasuk seting panggung. Mereka diminta untuk mengetahui secara pasti terlebih dahulu: siapa yang akan jadi pemeran utama dalam pentas tersebut? Di mana sebaiknya pemeran utama ditaruh di atas kanvas? Bagaimana cara menyusun pemeran pendukung di atas kanvas tanpa mengganggu pemeran utama? Dengan begitu obyek disusun secara hirarkis dari mulai yang paling penting sampai yang kurang penting. Semua harus disusun secara harmonis dan saling menguatkan sehingga lukisan menjadi enak dilihat. Penyusunan obyek, termasuk kemudian pemilihan warna yang akan diterapkan pada semua obyek, akan menentukan keberhasilan komposisi ini.

Ketiga, setelah obyek disusun menurut pertimbangan komposisi yang lebih matang, karya pun mulai dilukis. Pada tahap ini teman-teman Jelekong diminta untuk hanya menggunakan warna coklat burnt umber saja, membuat sebuah lapisan yang gelap namun hangat. Lapisan kedua ini berfungsi untuk mendefinisi gelap-terang secara umum, terutama bagian middle tones menuju shadow. Ketika lapisan ini kering, bagian shadow tidak akan disentuh lagi sampai lukisan selesai. Pada tahap ini terlihat bahwa materi kuliah komposisi bisa dipahami dengan baik oleh teman-teman Jelekong. Salah satu yang dibahas adalah tentang ruang kosong. Lukisan Jelekong, terutama yang bersubyek lanskap alam, biasanya memiliki komposisi yang penuh dan rapat, sebuah kualitas horor vacui. Mereka diminta untuk memahami bahwa ruang kosong bisa memperkuat kehadiran obyek yang dipentingkan. Pemahaman ini mereka terapkan dengan baik.

Keempat, setelah lapisan burnt umber kering, teman-teman Jelekong membuat lapisan berikutnya hanya dengan menggunakan warna putih titanium white saja. Lapisan ini diulaskan pada bagian middle tone menuju highlight, tanpa menyentuh bagian shadow yang sudah mengering sempurna. Pada tataran ini, teman-teman Jelekong bisa merancang titik jatuh cahaya dengan lebih mudah. Ibarat lampu spot yang menerangi sebagian panggung, lapisan cat putih bisa diintensifikasi pada bagian-bagian tertentu saja, untuk membuat sebuah pentas cahaya. Pentas cahaya adalah sebuah kualitas inti yang selalu dikejar dalam realisme karena persoalan dalam realisme optis pada hakikatnya adalah tentang cahaya. Dalam realisme, cahaya dan gelap-terang disebut value. Tahap ini pun dilalui dengan baik oleh teman-teman Jelekong, yang lebih sulit adalah tahap berikutnya: warna.

Kelima. Menjelaskan perihal komposisi warna pada teman-teman Jelekong tidaklah mudah karena serupa dengan memberikan materi kuliah nirmana dwimatra yang panjangnya dua semester, dipampatkan dalam waktu lima kali pertemuan saja. Namun inti dari permasalahan ini dititikberatkan pada pemilihan warna. Pertama, mereka diminta untuk memahami konsep broken colors. Warna tidak boleh digunakan langsung dari tubenya namun harus selalu dicampur supaya hue (identitas warna) menjadi tidak terlalu tunggal. Kedua, chroma tidak boleh muncul terlalu tinggi. Chroma berarti saturasi, yakni kepekatan warna. Chroma yang tinggi artinya warna muncul dengan saturasi tinggi, terlihat ngejréng, sementara sementara chroma yang rendah berarti warna muncul dengan saturasi rendah, terlihat pudar, seperti foto tua. Teman-teman di Jelekong diajak untuk melihat banyak contoh karya yang menunjukkan bagaimana pentingnya pemilihan warna dalam menentukan keberhasilan sebuah lukisan karena kesesuaian satu warna dengan warna yang lain akan lebih tinggi bila hue tidak tunggal dan chroma tidak tinggi. Pemahaman ini berlawanan dengan praktik kekaryaan di Jelekong karena warna yang genjreng adalah salah satu ciri khas Jelekong, butuh waktu dua-tiga kali pertemuan untuk membuat pemilihan warna yang diinginkan. Pada tahap ini, lapisan warna putih yang sudah kering sempurna mulai diisi warna dan warna selalu dikoreksi pada awal pertemuan. Setelah lima kali pertemuan workshop, teman-teman Jelekong dibekali masing-masing sebuah kanvas berukuran 100 x 150 cm untuk dikerjakan di rumah dengan mengaplikasikan semua materi yang sudah didapat di program Transit #4. Karya yang dikerjakan di rumah ini akan dipamerkan di Selasar Sunaryo Art Space, pembukaan ditentukan pada tanggal 2 Juni 2017.

Program Transit #4 kali ini dibiayai oleh Yayasan Mitra Seni Indonesia, diorganisasi oleh Selasar Sunaryo Art Space dengan cara menggabungkannya dengan program “Transit” yang sudah diselenggarakan beberapa kali. Ada sekitar 20 orang seniman Jelekong klasik yang datang tiap minggu untuk mengikuti workshop, namun ada 4 orang seniman Jelekong yang sejak awal dipilih untuk mengikuti program residency. Keempat seniman ini dipilih karena terlepas dari kegiatan melukis komersial yang mereka lakukan, mereka juga membuat karya secara mandiri, mengikuti banyak program pameran dan bertujuan meniti karir di medan sosial seni rupa kontemporer Indonesia. Penanganan dua kelompok ini sama sekali berbeda, karena itulah dilakukan pemisahan, keempat seniman ini tinggal dan berkarya di Selasar Sunaryo Art Space selama dua bulan lamanya.

Tujuan dari Yayasan Mitra Seni Indonesia dalam kegiatan ini adalah: untuk meningkatkan taraf kesejahteraan para seniman Jelekong lewat peningkatan mutu kekaryaan mereka. Visi yang sederhana ini tidak sesederhana yang dibayangkan karena walaupun peningkatan mutu kekaryaan bisa dicapai lewat program workshop, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan meliputi banyak aspek yang ada di luar kontrol kami. Walaupun demikian, kami berkesimpulan bahwa setidaknya, melalui workshop ini, teman-teman Jelekong bisa mendapatkan pilihan yang lebih luas dalam berkarya, bisa meluaskan wawasan dan menambah pengalaman. Workshop ini bergerak di antara konservasi tradisi seni lukis Jelekong dan inovasi, sudah sejak awal kami sepakat untuk tidak merusak tatanan tradisi melukis Jelekong, kami tidak mau membuat sebuah perubahan radikal yang tidak relevan dengan cara mereka berkarya sebelumnya. Kami menginginkan sebuah upgrade, teman-teman Jelekong bisa tetap berkarya seperti semula, tapi kini mereka bisa melakukannya dengan teknik melukis yang baru, diiringi pemahaman yang lebih baik tentang komposisi obyek, warna dan cahaya. Dan tentu saja kami pun berharap, peningkatan pengalaman seperti ini pada akhirnya bisa membuat karya seni lukis Jelekong menjadi lebih diminati sehingga pada akhirnya bisa meningkatkan pendapatan dan menaikkan taraf kesejahteraan teman-teman di Jelekong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s