Dunia Christina

“Dunia Christina”. 81,9 x 121,3 cm, tempera telur di atas panel masonite, 1948

Bila mendengar nama ‘Wyeth’, saya langsung teringat pada sebuah lukisan ikonik yang menggambarkan seorang gadis sedang duduk bersimpuh di tengah padang rumput tak berpohon, namun terlihat berusaha menjangkau lumbung dan rumah di cakrawala. Lukisan tersebut berjudul “Dunia Christina”, dicipta tahun 1948 oleh Andrew Wyeth (1917-2009). Lukisan tersebut dianggap terlalu romantis menurut selera seni rupa modern Barat pada saat itu, walaupun begitu, lukisan itu telah berhasil menyentuh hati begitu banyak pemirsa, termasuk saya. Anna Christina Olson, gadis dalam lukisan tersebut, kebetulan memiliki kelainan saraf, sebuah bawaan sejak lahir, sehingga tubuhnya lumpuh dari pinggang ke bawah. Dalam lukisan tersebut, Christina sebenarnya bukan sedang duduk bersimpuh, tapi ngesot—seperti yang biasa ia lakukan sehari-hari untuk bergerak.

Karena tidak suka menggunakan kursi roda, Christina biasa ngesot di dalam dan di luar rumah, menggunakan kekuatan bahu dan pinggulnya, termasuk di tengah padang rumput kosong seperti yang terlihat dalam lukisan itu. Dan Christina bukanlah perempuan cantik, tidak seperti yang kita kira saat melihat figurnya dalam lukisan Wyeth. Matanya juling dan ketika tua, wajahnya seperti nenek sihir. Membayangkan seorang perempuan seperti itu sedang ngesot sendirian di tengah padang rumput yang kosong, saya bisa memahami mengapa Andy terdorong untuk melukisnya. Pemandangan tersebut tentu begitu kuat sampai menggugah empatinya, dan caranya melukiskan Christina—sebagai gadis langsing yang kelihatannya menarik—menurut saya adalah respons empatiknya terhadap hidup Christina yang sulit sebagai seorang cacat.

“Siri”, 77,5 x 76,2 cm, tempera telur di atas panel masonite, 1970

Andrew biasa dipanggil ‘Andy’ oleh keluarganya. Ia lahir di sebuah keluarga istimewa yang dipenuhi bakat seni, sebuah keluarga berbudaya yang mencintai sastra, musik, drama dan seni rupa. Semula saya mengira nama ‘Wyeth’ hanya mengacu pada satu orang saja, tapi setidaknya ada tiga orang ‘Wyeth’ yang dicatat sebagai tokoh penting dalam sejarah seni rupa Amerika, dari belasan anggota keluarga Wyeth yang menjadi perupa selama empat generasi. Newell Convers Wyeth, biasa disebut ‘N.C. Wyeth’, ayah kandung Andy, adalah seorang ilustrator besar. Reputasinya setara dengan Norman Rockwell dan mereka sama-sama mengerjakan ilustrasi untuk The Saturday Evening Post selama bertahun-tahun. N.C. Wyeth adalah seorang ilustrator sukses yang berhasil memikat jutaan hati pembaca lewat banyak publikasi. Walaupun demikian, bagi dirinya kesuksesan itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi ia mampu memberikan hidup yang berkelimpahan bagi keluarganya, tapi di sisi lain proyek-proyek komersial itu mengekang dan membuatnya merasa menjadi semacam pelacur yang bekerja hanya untuk uang.

N.C. Wyeth tahu persis bahwa sebuah karya lukisan sama sekali berbeda dengan karya ilustrasi. “Keduanya tidak bisa disamakan dan tidak bisa dicampuradukkan,” komentarnya. Ia selalu memimpikan sebuah masa kekaryaan yang penuh ketenangan, tidak didikte oleh tuntutan klien, tidak dikejar tenggat dan tidak dipenjara oleh keterbatasan teknik cetak pada masa itu. Ia ingin menjadi seorang pelukis sejati yang merdeka, bebas membuat karya apa saja, tapi tidak bisa karena gaya hidup dan keluarganya yang besar menuntut jenis penghasilan yang hanya bisa ia dapatkan dari proyek-proyek komersialnya. Maka hasrat akan kemerdekaan itu ia tumpahkan pada anaknya. Ia ingin Andy menjadi seorang pelukis sejati.

“Angin dari Laut”, 47 x 70 cm, tempera telur di atas panel masonite, 1947

Andy adalah anak yang sakit-sakitan di masa kecil. Tubuhnya begitu lemah sehingga ia tidak dikirimkan ke sekolah dan tinggal di asrama. Ia belajar di rumah dan terutama belajar melukis langsung dari ayahnya. Di keluarga Wyeth, semua orang melukis, tapi Andy berbeda. Ayahnya sudah menyadari itu sejak awal. Andy lebih dahulu bisa menggambar dengan bagus sebelum bisa membaca dengan lancar. Bakat Andy luar biasa dan ia mendapatkan pendidikan seni rupa langsung dari guru terbaik, ayahnya sendiri. Ia tidak mendapat pendidikan seni rupa lain selain itu, ia tidak masuk sekolah manapun juga.

Seperti semua perupa representasional yang baik, Andy memiliki dua bakat penting sejak awal, seperti juga ayahnya. Pertama, ia memiliki bakat observasi. Semua perupa representasional memiliki bakat ini. Bila mereka sudah tertarik pada satu obyek, mereka akan diam, mengamati dan mengimba obyek tersebut seteliti mungkin sampai ke setiap rincinya. Namun observasi baru satu aspek saja dalam penciptaan karena dalam sebuah observasi, sang Subyek terpisah dari obyeknya. Seorang perupa membutuhkan sebuah penghayatan tertentu, serupa dengan seorang aktor yang sedang membawakan peran. Penghayatan ini mensyaratkan sebuah penyatuan antara sang Subyek dan obyeknya.

“Bila aku melukis orang sedang berkuda, petani sedang menggarap ladang atau seorang perempuan sedang berjalan dihantam angin, aku bisa merasakan otot-otot mengencang”, demikian komentar N.C. Wyeth saat muda dulu. Kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain adalah empati, inilah aspek kedua yang dibutuhkan seorang perupa representasional, karena hanya dengan empatilah sang Subyek mampu melebur dengan obyeknya. Sebaris puisi Sutardji Calzoum Bachri dengan tepat menggambarkan hal ini, “Tertusuk padamu, berdarah padaku”. Bakat ini dimiliki oleh N.C. Wyeth dan Andy mewarisinya.

“Kastanye Panggang”, 121,9 x 83,8 cm, tempera telur di atas panel masonite, 1956

N.C. Wyeth punya seorang menantu laki-laki, Peter Hurd namanya. Peter, si Tampan yang memesona, adalah mantan tentara yang memutuskan untuk menjadi pelukis lalu belajar dengan serius selama 10 tahun di bawah bimbingan N.C. Wyeth. Ia tinggal sambil belajar bersama keluarga Wyeth di Pennsylvania. Peter pernah berkata, “Gemblengan di West Point itu keras, tapi gemblengan N.C. Wyeth lebih keras lagi.” Peter jatuh cinta pada Henriette, putri sulung N.C. Wyeth. Ia lalu menikahinya, seperti Velázquez menikahi Juana Pacheco, putri Francisco Pacheco, guru yang menggemblengnya selama 7 tahun di Sevilla, sebelum ia bermukim di Madrid. Peter menyerap semua pendidikan seni rupa dari N.C. Wyeth, tapi ia tidak puas dengan karakter medium cat minyak yang terlalu mengkilat dan cemerlang. Cat minyak ia anggap kurang cocok untuk melukiskan kampung halamannya di New Mexico yang kering, tandus, berwarna alami dan pudar. Maka Peter mulai mempelajari teknik seni lukis tempera. Tempera ia rasa cocok untuk melukiskan kampung halamannya dan ia pun membagi pengalamannya pada N.C. Wyeth dan Andy. Mereka berdua menyukainya namun Andy benar-benar jatuh cinta pada tempera. Sejak saat itu teknik tempera telur menjadi dominan dalam kekaryaan Andy. Hingga kini, Peter Hurd dianggap sebagai orang yang mempopulerkan teknik tempera telur di Amerika, sebuah teknik yang bahkan untuk masa itu pun termasuk teknik langka.

“Pohon Oak”, 101,9 x 76,8 cm, cat air di atas panel kertas, 1944

Kata ‘tempera’ mengacu baik pada teknik maupun mediumnya. Ini adalah salah satu teknik melukis tertua di dunia. Di Fayum, Mesir Kuno, 2000 SM, selain menggunakan serbuk pigmen yang diikat campuran lilin cair panas dan resin damar—disebut encaustic painting—para pelukis juga menggunakan pigmen warna yang dicampur kuning telur dan sedikit air untuk melukis wajah orang-orang mati. Teknik ini mendominasi Eropa, melewati masa Seni Rupa Byzantium sampai ke awal Renaissance dan mulai pudar reputasinya karena populernya penggunaan berbagai macam jenis minyak organik sebagai pengikat serbuk pigmen warna di abad ke-16. Ketangguhan tempera telur sudah teruji, banyak karya tempera yang berumur lebih dari 1000 tahun masih bertahan dengan baik sampai hari ini (walaupun saya meragukan ketahanan tersebut di iklim tropis). Selain dari itu, tempera tidak menjadi transparan, menggelap atau menguning seperti yang lazim terjadi pada karya cat minyak yang sudah berusia ratusan tahun. Setelah melalui setahun oksidasi, tempera akan stabil secara permanen.

Kekentalan cat tempera telur sebenarnya mirip dengan cat air atau gouache, tapi alih-alih berbasis air, ia berbasis lemak karena kuning telur adalah lemak. Bila linseed oil pada cat minyak diencerkan dengan terpentin atau mineral spirit, kuning telur diencerkan dengan air. Tepatnya: air suling, untuk mengurangi kemungkinan reaksi kimia yang tidak diinginkan pada pigmen warnanya. Warna jingga pada kuning telur tidak mengubah warna pigmen sama sekali. Tempera telur kering dengan cepat, sebuah ulasan tipis bisa kering dalam waktu 20 detik. Ini memberikan sebuah irama kerja yang jauh lebih cepat daripada teknik cat air wet on dry sekalipun, pelukis hampir tidak perlu menunggu sama sekali. Irama kerja semacam ini seringkali penting dalam proses penciptaan seorang perupa karena setiap perupa memiliki irama kerjanya sendiri-sendiri. Andy kelihatannya menikmati irama kerja yang cepat seperti ini. Karya-karya lanskap alam yang ia buat dipenuhi rerumputan yang ia lukis satu persatu, helai demi helai, lapis demi lapis, dari gelap ke terang atau sebaliknya, tanpa perlu menunggu terlalu lama.

“Dunia Christina”, rinci

Karakter organik pada tempera juga terlihat jelas pada karya Andy. Hue dan chroma pada karya Andy tidak pernah tinggi, membuatnya terlihat muram namun sekaligus memberinya karakter. Karya-karya ilustrasi N.C. Wyeth memiliki palet warna yang lebih sempit daripada Norman Rockwell, tapi palet warna Andy bahkan lebih sempit daripada ayahnya. Karya-karya Andy selalu memiliki bidang gelap dan komposisi warnanya selalu muram dan pudar. Komposisi obyeknya sendiri nyaris akademis, ia mengikuti prinsip-prinsip komposisi yang diajarkan ayahnya. Namun ia menambahkan banyak ruang kosong dalam komposisinya, membuat karya-karyanya terkesan sunyi dan puitis.

“Penidur Malam”, 121,9 x 182,9 cm, tempera telur di atas panel masonite, 1979

Ketidakpuasan N.C. Wyeth akan kekaryaannya yang terlalu dekat dengan dunia ilustrasi tidak terjadi pada karya-karya Andy, namun hal itu bukan terjadi tanpa tantangan. Tidak mudah jadi anak seorang N.C. Wyeth, sang Seniman besar. Namun di sisi lain, Andy tergantung secara finansial pada ayahnya. Andy tinggal dan berkarya di sebuah rumah yang diberikan oleh ayahnya. Ia harus mencari jati dirinya sendiri di bawah pengaruh besar sang Ayah dan usaha itu takkan berhasil tanpa bantuan istrinya, Betsy James Wyeth. Andy menikahi Betsy saat gadis itu berusia 18 tahun, ia sendiri baru berusia 21 tahun saat itu. Betsy adalah pengagum karya-karya Andy nomor satu dan ia berusaha keras memajukan karir suaminya sehingga mereka bisa mandiri. Betsylah yang meyakinkan Andy bahwa kadang-kadang ia tidak perlu mendengarkan kata-kata ayahnya dan mengikuti hatinya sendiri saat mencipta. Dorongan itu berhasil dan Betsy amat bangga pada Andy, suami yang amat ia cintai, yang di kemudian hari ‘mengkhianatinya’ saat skandal lukisan Helga terbongkar.

“Untunan Rambut” (Helga Testorf), 41,9 x 60,9 cm, tempera telur di atas panel masonite, 1977 (resolusi tinggi)

N.C. Wyeth, Andrew Wyeth dan dilanjutkan oleh Jamie Wyeth, juga beberapa anggota keluarga Wyeth lainnya yang berkiprah menjadi perupa, tetap setia pada subyek lanskap alam dan manusia di daerahnya masing-masing. Keluarga tersebut disebut mewakili aliran Brandywine dan metodologi ini disebut regionalisme, sebuah aliran melukis yang mengambil inspirasi dari kondisi lingkungan setempat. Bila ada sebuah keluarga yang secara konsisten melahirkan pelukis-pelukis realis berbakat, itu adalah keluarga Wyeth. Namun bila ada seseorang yang tertarik untuk mengetahui tentang keluarga ini secara lebih mendalam, seperti saya, banyak yang mengawalinya karena suka pada lukisan “Dunia Christina”, karya Andy yang menjadi salah satu lukisan paling ikonik dalam sejarah realisme Amerika. Selain kritik pedas David McCullough yang menyebut lukisan ini “menakutkan”, karya itu tidak mendapat banyak perhatian saat dipamerkan pertama kali di Manhattan, 1948. Namun karya itu segera dikoleksi oleh Alfred Barr, pendiri MoMA, dan ia memajangnya di sana. Sejak saat itu “Dunia Christina” menjadi semakin terkenal dan sampai saat ini masih menjadi koleksi permanen Museum of Modern Art. Karena popularitasnya, rumah keluarga Olson di Cushing, Maine, tempat Christina tinggal dulu, kini dijadikan museum yang dibuka untuk publik dan menjadi salah satu tempat bersejarah Amerika. Rangkaian sejarah ini bisa terjadi karena observasi dan empati Andy yang besar terhadap hidup Anna Christina Olson.

“Anna Christina”, 83,8 x 63,5 cm, tempera telur di atas panel masonite, 1967

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s