Kalimat Perpisahan

Benjamin Zander, orang Inggris yang jadi pemimpin Boston Philharmonic Orchestra, menceritakan sebuah kisah menyentuh tentang seorang penyintas kamp konsentrasi Auschwitz saat pendudukan Nazi Jerman terjadi di masa Perang Dunia II dulu.

Ia hanya seorang gadis berusia 15 tahun saat berangkat ke kamp neraka tersebut bersama adik laki-lakinya yang berusia 8 tahun, dalam sebuah rombongan besar yang dibawa dengan kereta api. Ia melihat ke lantai dan menyadari bahwa sepatu adiknya hilang satu. Dengan kesal ia berkata pada adiknya, “Bodoh sekali, mengapa kau tidak bisa menjaga sepatumu?”

Saat tiba di kamp, mereka pun terpisah. Ia tak pernah melihat adiknya satu kalipun semenjak itu. Adiknya akhirnya tewas dengan mengenaskan seperti ratusan ribu orang di kamp tersebut dan tanpa ia sadari, kata-katanya yang penuh kekesalan itu menjadi kalimat perpisahan mereka.

Ia sendiri akhirnya sintas dan bisa keluar dari kamp tersebut. Maka ia pun bersumpah. “Aku takkan pernah lagi mengucapkan kata-kata apapun yang kelak akan kusesali seumur hidup karena itu menjadi kata-kata terakhirku.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s