Mengendalikan Suara-Suara Pikiran Negatif

Teman-teman yang baik, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir di acara diskusi dan berbagi dengan tema “Kebuntuan Kreatif dan Gangguan Emosional” di Tobucil, pada hari Minggu, 22 Juli 2018, yang lalu. Sambil menanti podcastnya dirilis, izinkan saya berbagi pengalaman tentang suara-suara pikiran negatif yang tidak bisa dikendalikan. Ya, seperti yang banyak dialami orang lain, termasuk Anda barangkali, saya juga pernah “diperbudak” oleh suara-suara pikiran negatif di kepala saya. Pikiran negatif itu membuat emosi saya naik-turun, saya tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja, dan tentu saja pada akhirnya hal itu memengaruhi cara saya bersikap, mengambil keputusan dan memandang dunia dan kehidupan saya. Dalam diskusi hari Minggu lalu saya mengatakan bahwa kritikus seni paling kejam di dunia tinggal di dalam pikiran kita sendiri. Malah, suara-suara pikiran negatif yang tidak bisa dikendalikan itu bukan hanya mengkritik kekaryaan, tapi juga seluruh aspek kehidupan kita. Apabila Anda pernah/sedang mengalami kecemasan, bahkan depresi, karena masalah ini, Anda tentu tahu sekali betapa sengsara rasanya.

Pada akhir tahun 2012, saya mengadakan pameran duet bersama sahabat saya, Aminudin T.H. Siregar, di Selasar Sunaryo Art Space. Dalam pameran tersebut, presentasi karya saya terpusat pada tema “kecemasan dan depresi”. Anda bisa membaca dokumen PDF tentang presentasi kekaryaan tersebut melalui tautan ini: Mengenai Kecemasan dan Depresi. Bila Anda membaca isi dokumen tersebut, Anda bisa dengan mudah menemukan bahwa apa yang saya alami kurang lebih serupa dengan apa yang dialami banyak orang, termasuk Anda. Suara-suara pikiran negatif di dalam kepala saya tidak bisa dikendalikan. Saya merasa diri saya diperbudak oleh majikan yang kejam, dicambuki sambil dicerca, dicaci-maki, tanpa daya sama sekali.

“Teriakan”, 91×73,5cm, cat minyak, tempera, pastel dan krayon di atas cardboard. Edvard Munch, 1893.

Pada tataran tertentu, saya akhirnya menyadari bahwa biang keladi dari semua permasalahan personal, profesional dan kekaryaan saya bermula dari suara-suara pikiran negatif ini. Saya harus bisa menghentikan atau mengendalikannya, entah bagaimana caranya. Ternyata saya membutuhkan waktu tiga tahun latihan sampai akhirnya mampu mengendalikan suara-suara pikiran negatif tersebut. Tiga tahun latihan ini adalah investasi terbaik dalam hidup saya karena sejak 2016, akhirnya saya terbebas dari suara-suara jahat itu sampai hari ini dan saya yakin, sampai saya mati kelak. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

Pertama, saya berusaha menanamkan kesadaran dalam diri saya bahwa suara-suara negatif dalam pikiran itu bukan saya, itu suara orang lain. Artinya, saya berusaha memisahkan suara-suara negatif itu dari diri saya sendiri. Mama saya adalah pengidap bipolar tipe II, artinya episode depresinya lebih dominan, dan saya berusaha menjelaskan konsep ini pada Mama dalam bahasa sederhana yang mudah dimengerti. Maka saya pun mengatakan hal ini pada Mama:

“Kecemasan itu sama seperti pertunjukan topeng monyet di pinggir jalan. Bedanya adalah: yang harus berakrobat, naik sepeda dan melakukan repertoir Sarimin pergi ke pasar adalah Mamangnya, sementara monyetnya cuma duduk sambil memukuli tambur, menarik-narik tali yang menjerat leher si Mamang. Monyet itu adalah diri Mama yang emosional sementara Mamangnya itu adalah diri Mama yang logis dan rasional. Jangan biarkan itu terjadi!”

Dengan begitu, dalam kasus ini saya berusaha memisahkan sisi emosional dengan sisi rasional. Bukan hanya dipisahkan, saya juga memberlakukan sebuah hirarki. Semua yang sifatnya emosional itu follower. Semua yang sifatnya logis dan rasional itu leader. Maka dalam kasus kecemasan dan depresi saya, aspek emosional yang seharusnya jadi follower malah jadi leader dan itu salah. Itu tidak boleh terjadi. Follower ya follower, tidak boleh jadi leader. Maka dengan konsep ini, setiap kali saya mendengar suara-suara negatif mulai berceloteh dalam pikiran saya, kesadaran saya langsung bekerja, “Nah, si follower mulai bertingkah lagi. Dia harus dibungkam.”

Di sinilah letak latihan saya. Setiap kali saya menyadari bahwa suara pikiran negatif mulai berceloteh di kepala dan membuat emosi saya jadi naik-turun, saya langsung memalingkan wajah saya ke kanan bawah lalu melotot sambil, “Sst!” Saya berlaku seperti sedang memarahi seseorang/sesuatu. Seseorang/sesuatu itu saya bayangkan sebagai “si Dante”.

Dante adalah nama seekor anjing Labrador hitam, jantan, yang ganteng tapi nakal sekali. Dulu ketika saya masih bekerja di Common Room, Gustaff dan Reina membeli Dante saat usianya baru 2 bulan di sebuah kennel di Cipanas. Barangkali karena kami belum tahu cara melatih anjing supaya perilakunya baik, Dante itu nakalnya minta ampun. Dia bahkan sampai berani menyambar sepotong ayam yang sedang saya  pegang. Dante sering sekali dimarahi, bahkan dipukul pakai sandal jepit, soalnya kami kesal sekali. Dan ekspresi wajah Dante selalu “seperti itu” kalau kami membentak, “Dante!”

Dante kalau sudah dibentak seperti itu akan berjalan melipir perlahan-lahan, wajahnya memandang wajah kami dengan takut-takut, tapi ya Dante adalah Dante. Dia cuma takut saat itu saja, selanjutnya dia akan berlaku nakal lagi. Nah, ekspresi wajah Dante yang takut-takut kalau sedang dimarahi itulah yang saya imajinasikan sebagai suara-suara negatif dalam kepala saya. Jadi, kalau suara-suara di kepala saya itu sudah mulai ngoceh, itu yang ngomong bukan saya. Itu suara Dante. Saya lalu menengok ke kanan bawah lalu bilang, “Sst!” sambil melotot, lalu di dalam imajinasi saya tergambar wajah Dante yang takut-takut. Apakah dengan begitu suara-suara negatif di dalam kepala saya langsung hilang? O, awalnya tidak begitu.

“Keputusasaan”, 45×55 cm, cat minyak di atas kanvas, Gustave Courbet, 1844-1845.

Saya sempat mengalungkan beberapa karet gelang di pergelangan tangan saya sehingga bila suara-suara negatif di kepala saya sudah mulai ingar-bingar, saya menarik karet-karet gelang itu, melepasnya sambil bilang, “Stop!” Rasanya ya sakit, lah. Kayak dijepret karet aja, dan sentakan fisik itu lumayan, bisa menghentikan suara-suara negatif itu untuk beberapa menit. Namun setelah itu suara-suara itu akan muncul lagi. Awalnya pelan, tapi bila dibiarkan suara-suara negatif itu akan jadi tambah berisik dan ingar-bingar. Lama-lama saya pikir, duh, kok sakit juga ya tangan dijepretin karet melulu? Pergelangan tangan saya sampai merah soalnya kadang-kadang saking kesalnya, saya menjepretkan karet berkali-kali. Nah, cara mengimajinasikan suara-suara negatif sebagai si Dante ini menurut saya lebih enak. Tidak sakit dan efektif, tapi butuh waktu lama. Tiga tahun lamanya, sejak awal 2013 sampai awal 2016, saya melatih pikiran saya untuk memarahi si Dante.

Saya bukan hanya memarahi tapi juga berusaha bicara dengan Dante. Masa latihan saya berlangsung di Ungaran, Jawa Tengah. Saya sering ada di studio saya di Kampung Seni Lerep, di sebuah desa yang terletak di kaki gunung Ungaran. Saya mengunci diri saya sendiri di studio seluas 12×12 meter dan saya bebas, tidak ada yang melihat saya. Jadi kalau saat itu ada yang mengintip saya, mereka pasti pikir saya sudah gila soalnya saya bicara sendiri. Habis, saya kesel banget sama si Dante. Dia membuat saya tidak bisa fokus saat melukis, pekerjaan saya jadi hancur-hancuran, hubungan personal saya jadi kacau. Pokoknya biang keroknya adalah Dante! Jadi saya memang benar-benar kesal dan saya marahi dia sambil ngomong betulan, seakan-akan Dante memang ada di situ dan Dante tetap saya bayangkan sedang duduk di lantai sambil memandang saya penuh ekspresi ketakutan dan kadang-kadang saya bayangkan ia menundukkan kepala, ekspresi khas kala ia sedang dimarahi.

Ini jelas absurd. Saya kesal pada emosi saya sendiri, tapi saya tidak peduli karena cara ini ternyata memang efektif. Ini adalah latihan bagi sisi diri saya yang logis dan rasional untuk bisa mengambil alih posisi leader yang selama ini telah direbut si Dante, sisi emosional diri saya. Jadi selama tiga tahun latihan itu, saya sering sekali bicara sendiri (kalau situasi aman, tidak ada yang melihat). Awalnya, bila dimarahi, Dante hanya akan diam selama beberapa menit sebelum akhirnya berceloteh kembali. Lama-kelamaan, diamnya tambah lama. Bisa 15 menit, lalu 30 menit. Lumayan, kan? Bagi Anda yang pernah mengalami penderitaan karena didera suara-suara pikiran yang negatif, 30 menit tanpa suara negatif itu rasanya damai sekali. Dan saya meneruskan latihan saya sampai akhirnya lama-kelamaan otak saya terbiasa dan setelah tiga tahun latihan yang melelahkan, suara-suara pikiran negatif dalam kepala saya akhirnya bisa saya kendalikan. Anda pasti pernah mengalami rasa kesal karena membaca linimasa di Facebook. Saya juga begitu dulu (sebelum akun Facebook saya matikan). Membaca linimasa rasanya kesal, ketika sadar, saya langsung bilang, “Sst!” sambil membayangkan Dante yang ciut ketakutan melihat saya. Setelah itu, saya jadi tidak kesal lagi dan melanjutkan membaca, lalu saya jadi lupa. Tadi saya kesal karena masalah apa? Itu artinya latihan saya efektif dan berhasil. Begitu juga kalau saya diserobot kendaraan lain di jalanan, saya tidak terlalu kesal lagi. Sebelumnya, orangnya sih udah kemana, saya masih kesal sampai berjam-jam kemudian. Apa Anda mengalami hal yang sama?

***

Tiga tahun adalah waktu yang lama, selama sekolah di SMP atau SMA. Namun mengingat hasilnya, saya tidak menyesal melakukan latihan itu. Latihan itu saya lakukan setiap hari, setiap saat, terutama pada tahun pertama. Makin lama latihan itu makin ringan rasanya. Celotehan pikiran negatif di kepala saya lebih banyak diamnya daripada ributnya. Dalam menjalani kehidupan yang penuh lika-liku ini saya tentu masih sering merasa kesal, tapi rasa kesal itu tidak sampai berubah jadi suara-suara pikiran negatif yang mendominasi pikiran saya, membuat emosi saya naik-turun dan tidak bisa tidur sampai fajar menjelang seperti dulu. Sekarang sisi diri saya yang logis dan rasional sudah benar-benar jadi leader dan saya mendudukkan pikiran emosional saya ke dalam posisi follower. Itu sedikit banyak memengaruhi pandangan hidup saya. Orang sering bilang, “Ikuti kata hatimu.” Saya bilang, “Tunggu dulu.”

Saya membedakan emosi dengan intuisi karena intuisi itu terbangun karena jam terbang. Bila kita sudah main saham selama 10 tahun, kita jelas akan memiliki intuisi tertentu dan pada tataran tertentu kita bisa mengandalkan intuisi tersebut untuk bermain saham. Yang jelas, main saham tidak bisa mengandalkan emosi. Intuisi masih bisa diikuti, tapi emosi harus diperiksa dulu. Pikiran emosional itu sering melontarkan hal yang kesannya seperti fakta, padahal bukan. Jadi emosi itu bisa benar, bisa salah. Kita sering curiga pada orang lain dan emosi kita mengatakan, kita sedang diperdaya. Itu bisa benar, bisa salah. Harus diperiksa dulu. Sejak latihan saya dimulai saya jadi kritis, bahkan curiga, pada emosi saya sendiri. Soalnya untuk waktu yang lama, saya telah diperdaya oleh emosi saya sendiri. Salah satu contoh yang paling nyata adalah dalam kekaryaan saya sendiri.

Untuk waktu yang lama, saya merasa semua ide yang saya tumpahkan menjadi karya itu sampah semua. Hasilnya? Sebelum lukisan selesai, saya menyingkirkannya dan mulai bikin karya yang baru. Namun sebelum karya baru itu selesai, saya akan segera merasa bahwa karya itu jelek sekali, lalu saya menyingkirkannya kembali. Akhirnya di Ungaran saya punya banyak sekali kanvas setengah jadi yang digulung dan ditumpuk di rak, penuh debu dan diselimuti sarang laba-laba. Saat episode kecemasan dan depresi saya selesai, saya melihat dokumentasi foto kekaryaan saya itu. Ternyata karya-karya itu tidak jelek, lho. Beberapa bahkan menjanjikan, bisa jadi bagus. Kenapa saat itu saya merasa karya-karya itu sampah semua?

“Mempelai Angin”, 181×220 cm, cat minyak di atas kanvas. Oscar Kokoschka, 1913-1914.

Jawabannya cuma satu: si Dante. Si brengsek itu, yang hanya menyuarakan hal-hal negatif itu, telah membuat kepercayaan diri saya hancur sehingga apapun juga yang saya hasilkan di atas kanvas saya anggap sampah. Padahal tidak, sama sekali tidak. Bila Anda sedang didera oleh suara pikiran negatif yang berceloteh tanpa henti, tidak bisa dikendalikan, wajar saja kalau kepercayaan diri Anda hancur-hancuran. Apa saja yang Anda lakukan akan terasa salah, Anda bahkan akan merasa diri Anda tidak ada harganya. Siapa penyebabnya? Dante! Sisi diri Anda yang emosional itulah penyebabnya. Sekarang, Anda mau membiarkan itu terus terjadi atau tidak? Bila tidak, rebut kembali posisi leader dengan mendudukkan sisi diri Anda yang logis dan rasional di tempat yang seharusnya. Sisi diri Anda yang emosional, mundurkan dia ke belakang.

Manusia itu logis dan rasional. Binatang itu reaktif, instingtif dan emosional, persis seperti Dante. Dia harus duduk di belakang. Pengambilan keputusan dalam hidup, dalam hubungan antar personal, dalam karier profesional, harus ditentukan oleh sisi diri Anda yang logis dan rasional. Cara Anda memandang diri sendiri harus obyektif karena diukur oleh sisi diri Anda yang logis dan rasional, bukan yang emosional. Dengan begitu Anda bisa melihat secara jernih, apa kelebihan dan kekurangan Anda. Bila Anda seorang perupa dan diri Anda didominasi oleh emosi negatif Anda, alih-alih terinspirasi melihat akun Instagram milik para perupa yang karyanya bagus-bagus, Anda malah jadi ciut dan minder. Namun sebaliknya, saat Anda melihat karya-karya teman Anda yang lebih jelek daripada karya Anda, Anda akan merasa jumawa dan bersikap merendahkan. Keduanya tidak benar. Bila Anda sekarang sedang tidak punya uang dan itu membuat kepercayaan diri Anda hancur, itu bisa dimengerti. Namun bila sisi diri Anda yang emosional masih mendominasi pikiran Anda, saat tiba-tiba Anda kebanjiran uang, kepercayaan diri Anda bisa melambung tinggi, ego Anda bisa membesar dan Anda jadi orang yang arogan dan menyebalkan. Keduanya keliru dan itu semua pernah saya alami. Selama sisi emosional diri kita masih duduk di posisi leader, memimpin dan mengarahkan haluan hidup kita, tidak ada hal baik yang keluar dari diri kita.

***

Nah, demikianlah pengalaman saya dengan suara-suara pikiran negatif dalam diri saya. Saya tidak bisa bilang bahwa bila Anda mengikuti metoda saya, Anda akan berhasil mengatasi masalah tersebut karena setiap orang itu unik. Cara saya bisa jadi tidak tepat untuk Anda. Ada teman saya yang berusaha mengatasi masalah emosionalnya dengan cara menulis catatan harian dan dia berhasil. Yang lain ada yang melakukan meditasi dan berhasil. Dengan cara apa Anda bisa mengatasi masalah ini? Saya tidak tahu, hanya Anda yang tahu dan cara itu harus dicari.

Dengan menulis artikel ini saya hanya bermaksud untuk berbagi pengalaman supaya Anda memahami bahwa suara-suara pikiran negatif yang menyebalkan itu bisa dikendalikan. Bayangkan kalau suara-suara pikiran negatif itu berubah jadi orang betulan lalu berdiri di samping Anda 24/7. Dia selalu ikut ke mana saja Anda pergi, dia ikut bekerja bersama Anda, ikut mandi, makan dan berbaring di sebelah Anda di peraduan. Dan yang dia lakukan adalah selalu ngomong terus soal hal negatif pada Anda. Nyebelin nggak, kalau begitu? Kira-kira kalau orang macam begitu betulan ada, bakal Anda tonjok nggak, orang kayak gitu? Ya harus ditonjok, lah. Harus dihajar kalau ada orang seperti itu. Dia itu bully dan semua bully harus dihajar. Musuh Anda saja tidak sekejam itu pada diri Anda, kenapa Anda biarkan ada orang seperti itu hidup bersama Anda selama berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun? Malanglah dia yang seumur hidupnya, sampai mati, hidup bersama bully seperti itu. Anda perlu tahu, orang seperti itu banyak sekali jumlahnya.

Jangan biarkan itu terjadi. Rebut kembali posisi leader dalam diri Anda dengan menempatkan sisi diri Anda yang logis dan rasional di tempat yang semestinya. Tempatkan sisi diri Anda yang emosional pada tempatnya, di belakang sana. Ia hanya boleh berekspresi bila sang Leader mengizinkan, bila tidak, dia harus diam di sudut. Ini juga merupakan manifestasi kedewasaan karena salah satu ciri orang yang dewasa adalah logis dan rasional, bukan emosional sehingga selalu hidup dalam drama. Di sisi lain, ini adalah yang disebut sebagai kecerdasan emosional. Anda bisa cek biografi orang-orang sukses, mereka adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional. Mereka hidup dipandu logika dan rasionalitas, tanpa perlu menjadi robot tanpa perasaan. Bahkan di bawah tekanan dan tantangan hidup yang besar, mereka tetap mampu mempertahankan rasionalitasnya, tidak hanyut diombang-ambingkan emosi. Bila Anda ingin sukses, jadilah insan yang logis dan rasional, bukan yang emosional.

Hidup ini seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kita tidak bisa menghindari kemalangan yang terjadi pada diri kita, tapi pencerapan kita terhadap kejadian tersebut sepenuhnya ada di dalam kontrol kita. Bila ada dua orang punya hutang 1000, padahal penghasilannya hanya 10, yang satu bisa bunuh diri, yang satu tetap hidup dan mencicil hutangnya sampai lunas, lalu bekerja keras dan jadi orang sukses. Itu masalah pencerapan, masalah persepsi. Yang bunuh diri bisa dipastikan hidup bersama Dante, yang membisikkan semua hal negatif yang kelam sepanjang waktu di telinganya. Yang satunya lagi memilih untuk tidak mendengarkan ocehan Dante. Anda pilih yang mana?

Semoga kesadaran ini akan mampu memberi Anda sedikit kekuatan untuk melakukan serangan balik dan hiduplah, bersosialisasilah dan bekerjalah dengan tenang dan gembira, bebas dari suara-suara pikiran negatif si Dante. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s