Mengapa Saya Menentang Lomba Gambar Untuk Anak-Anak

Karya Cakrawala Hartanto, usia 8 tahun

Sejak zaman kuliah dulu, dosen favorit kami, Prof. Primadi Tabrani, menentang lomba gambar untuk anak-anak. Hal itu Beliau ungkapkan dalam kuliah PSSR (Pengantar Studi Seni Rupa) saat kami duduk di semester pertama. Alasannya sederhana, tidak ada ukuran obyektif yang bisa digunakan untuk mengukur kekaryaan anak-anak karena seni rupa tidak seperti olah raga atau sains yang bisa diukur secara kuantitatif.

Saya pernah dimaki-maki oleh salah satu orangtua peserta karena anaknya kalah dalam sebuah lomba gambar yang diadakan entah oleh siapa, di sebuah mall di kota Bandung. Saat itu saya jadi juri. Bapak itu marah-marah lewat telepon. Dia bilang anaknya sangat kecewa dan menangis tak berhenti karena tidak merebut gelar juara satupun, padahal sebelumnya sang Anak selalu juara satu. Semenjak saat itu saya tidak mau lagi menjadi juri lomba gambar untuk anak-anak. Bukan hanya karena kapok dimarahi orangtua peserta, tapi karena secara fundamental saya menentang lomba gambar untuk anak-anak. Saat itu saya bersedia jadi juri karena bayarannya lumayan dan saya sedang butuh uang. Kejadian tersebut adalah salah satu pelajaran hidup yang mengajarkan saya bahwa prinsip dan idealisme tidak layak ditukar dengan uang.

Seni rupa sulit untuk dikuantifikasi, kecuali dalam disiplin realisme. Saya hanya berani membuat lomba gambar dalam disiplin realisme saja karena dalam disiplin tersebut saya bisa memecah unsur-unsurnya menjadi klasifikasi yang lebih kecil dan membuat penilaian kualitatif. Anda bisa lihat cara saya menilai dan membahas secara mendalam lomba gambar yang saya buat dalam tautan ini: Pengumuman 10 Karya Terbaik & Pembahasan Karya Lomba Gambar Papa Trejo 2018. Cara saya menilai bisa dilihat dalam tabel di bawah ini dan saya berani jamin, tidak ada satu pun lomba gambar anak-anak yang membuat sistem penilaian seperti ini, siapapun jurinya. Soalnya gambar anak memang tidak bisa dikuantifikasi seperti ini. Kalau realisme baru bisa. Silakan klik tabel di bawah ini untuk melihatnya dalam ukuran lebih besar.

Bila Anda perhatikan, cara saya menilai di sini sudah persis seperti cara menilai ujian, semua diukur dengan angka. Walaupun diukur dengan angka, cara saya menilai tetap kualitatif karena saya bisa menaksir jam terbang para peserta lomba berdasarkan karya mereka. Itulah perbedaannya realisme optis dengan gaya ekspresi seni rupa yang lain. Realisme adalah sebuah pendekatan seni yang paling obyektif karena diturunkan dari hukum optis dan hukum cahaya, karena itu parameternya jelas, ada benar dan salah, dengan begitu mengukur mutu karya jadi mudah. Gambar anak-anak tidak begitu. Karya mereka imajinatif, tidak mengikuti hukum optis, hukum cahaya, dan hukum perspektif.

Hal ini penting untuk saya ungkapkan karena mulai tahun 2019 ini saya akhirnya membuka diri untuk mengajar seni rupa bagi anak-anak mulai dari mulai usia 7 sampai 15 tahun. Penting bagi saya untuk menjelaskan sejak awal bahwa kursus seni rupa yang saya pandu untuk rentang usia tersebut tidak dirancang untuk membuat pesertanya menjadi juara lomba gambar, tapi membuat mereka berpikir seperti seniman.

Berbeda dengan pemahaman masyarakat awam yang percaya bahwa seniman adalah seorang jago gambar, pertama-tama seorang seniman adalah seorang pengamat yang baik, seorang meticulous observer. Sama seperti metodologi yang digunakan para ilmuwan dalam penelitian ilmiah, para perupa selalu memulai penciptaan dengan melakukan observasi, dengan mengamati. Keistimewaan seorang perupa terletak pada matanya, bukan tangannya. Cara seorang seniman mengamati itulah yang teristimewa dan perkembangan seni rupa sejatinya adalah perkembangan cara para perupa melihat, mendekati, dan memecahkan suatu permasalahan artistik. Seniman-seniman penting yang dicatat dalam sejarah adalah para game changer yang mampu melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang sama sekali berbeda dengan semua praktik yang pernah dilakukan. Metodologi seorang seniman adalah metodologi kreatif. Mereka membuka diri terhadap segala kemungkinan lalu menetapkan batas-batas mereka sendiri untuk memberi makna terhadap asosiasi yang mereka buat dalam bentuk karya seni.

Ada banyak kursus seni rupa untuk anak-anak yang secara spesifik mengajarkan cara menggambar belaka, tidak mengajarkan bagaimana cara seorang seniman berpikir dan bekerja. Dalam kursus-kursus semacam itu, komposisi dibagi menjadi elemen-elemen kecil dan siswa diajarkan untuk menggambar dengan cara yang sama. Secara teknis, misalnya dalam penguasaan pastel minyak, anak-anak itu sebenarnya cukup mumpuni. Mereka mampu membuat awan dan langit dengan gradasi yang rapi. Bila saya ditanya, apakah karya anak-anak itu bagus? Jawaban saya: ya bagus, tapi bagus untuk mata orang awam.

Karya-karya mereka serupa tapi tak sama, seperti buatan pabrik dengan sedikit variasi di sana-sini. Apakah dengan mengikuti kursus dan lomba gambar macam itu anak-anak akan lebih kreatif? Sama sekali tidak. Mereka hanya lebih terampil dalam menggunakan alat dan media menggambar, tapi tidak lebih kreatif. Bisa membuat gambar yang bagus itu masalah teknis, bukan masalah kreatif karena kreativitas adalah masalah penciptaan. Mereka mampu membuat gambar yang bagus seperti itu karena mereka dilatih untuk menjadi tukang yang terampil, bukan menjadi seorang pencipta. Mereka adalah “kuli bangunannya”, bukan “arsiteknya”. Di titik ini Anda tentu paham maksud saya.

Dalam siniar Klinik Rupa Dokter Rudolfo saya sudah menjelaskan bahwa cara seniman bekerja mencakup: input, proses, dan output. Karya anak-anak yang ikut kursus semacam itu hanya fokus pada tataran output, pada hasil akhirnya. Karena itulah karya mereka serupa tapi tak sama. Kursus yang saya buat akan fokus pada input dan proses, lalu membiarkan outputnya jadi apa saja, makin beragam makin bagus. Di sinilah letak perbedaan prinsip dan filosofi kepengajarannya.

Bagi saya, permasalahan teknik hanya bisa diajarkan pada siswa-sisiwi dalam rentang usia (pra) dewasa, bukan di usia anak-anak. Dan dalam kasus saya, itu pun hanya berlaku dalam disiplin realisme saja dalam aplikasi menggambar dan melukis. Permasalahan teknik memang penting, tapi tidak pernah lebih penting daripada pondasinya, yakni: pikiran yang terbuka untuk mampu membuat keputusan-keputusan artistik dalam sebuah proses berpikir kreatif.

Bagi saya, anak-anak seyogianya diajarkan cara berpikir kreatif seperti seniman. Bila pondasi ini sudah solid, dan saat anak sudah menginjak usia (pra) dewasa, barulah ia bisa diajarkan permasalahan teknik karena memang sudah waktunya. Pada usia tersebut biasanya ide-ide mereka sudah semakin canggih, semakin rumit, sehingga membutuhkan penguasaan skill untuk mewujudkannya. Lain dari itu, biarkan karya anak-anak tetap imajinatif.

Bila para orangtua—yang sudah bekerja keras mencari nafkah untuk bisa menjamin kehidupan yang baik bagi putra-putrinya—menginginkan anak-anak mereka jadi jago gambar dan merebut gelar juara dalam lomba-lomba gambar, saya tidak bisa protes. Itu hak mereka. Bila ada kursus-kursus seni rupa untuk anak-anak yang mengajarkan masalah teknik menggambar supaya gambar mereka jadi bagus dan merebut gelar juara, saya juga tidak bisa protes. Itu hak mereka, toh permintaannya ada. Bila ada penyelenggara yang membuat lomba-lomba gambar dan menentukan juara 1, 2, 3, dst., saya juga tidak bisa protes. Termasuk bila ada para perupa yang mau jadi juri lomba gambar untuk anak-anak, saya juga tetap tidak bisa protes.

Ini seni, bukan sains. Dalam seni tidak ada benar-salah. Walaupun saya adalah perupa dan pengajar seni rupa profesional dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, saya tidak bisa secara otoritatif melarang aktivitas semacam ini. Menurut saya praktik dan cara berpikir seperti itu keliru, tapi saya tetap tidak bisa melarang apalagi membubarkan acara-acara seperti itu. Jadi tidak apa-apa, anggap saja ini perbedaan mazhab.

Namun apabila Anda adalah orangtua yang bermaksud untuk memasukkan putra-putri Anda (dalam rentang usia 7-15 tahun) ke dalam kursus seni rupa yang akan saya buat, saya perlu tegaskan sesuatu pada Anda:

Pertama, kursus seni rupa yang saya buat dirancang untuk mengajarkan putra-putri Anda untuk berpikir kreatif seperti seorang seniman, bukan untuk jadi juara lomba-lomba gambar. Kalau Anda ingin putra-putri Anda jadi juara lomba gambar, silakan ikut kursus lain saja. Bila saya mengadakan acara seni rupa untuk anak-anak, bentuknya pasti bukan lomba. Saya pasti akan membuat acara senang-senang, setiap anak bisa menggambar sesukanya dan setelah itu semua karya dipamerkan untuk dinikmati bersama. Dengan begitu karya-karya mereka akan unik dan beragam, berbeda satu dengan lainnya karena minat, bakat dan karakter setiap anak itu berbeda-beda.

Kedua, saya tidak mengajarkan teknik, saya mengajarkan cara mengobservasi suatu permasalahan dan memecahkannya secara kreatif. Kalau yang mengajarkan soal teknik itu ada, beda lagi itu kursusnya, namanya kursus privat program Spartan. Kursus ini sudah berjalan sejak 2016 dan secara spesifik mengajarkan skill observasi dan menggambar/melukis dalam disiplin realisme untuk peserta dengan usia mulai 14 tahun, itu pun dengan syarat: karyanya sudah menunjukkan tendensi meruang.

Ketiga, manfaat dari kursus yang saya buat tidak akan terasa dengan cepat—seperti menjadi juara lomba gambar—tapi akan bermanfaat sampai mereka dewasa nanti. Pengambilan keputusan yang dibuat dengan pendekatan kreatif akan mampu menghasilkan asosiasi yang out of the box, yang non-linear, yang lebih holistik. Dengan begitu kursus ini akan berguna bagi putra-putri Anda apapun juga bidang yang akan mereka pilih kelak. Tidak semua anak akan jadi seniman, tapi cara berpikir kreatif akan berguna bagi siapa saja, dari latar belakang pendidikan dan profesi apa saja, terutama di zaman yang cepat berubah seperti sekarang ini. Itulah yang menurut saya fundamental, bukan soal jadi jago gambar dan jadi juara lomba.

Apabila putra-putri Anda memiliki kebutuhan khusus, silakan konsultasikan terlebih dahulu hal itu pada saya sebelum putra-putri Anda memulai kursus nanti. Kursus akan dibuka di beberapa tempat di Bandung, mulai bulan Agustus 2019 ini.

Kursus Klinik Rupa Dokter Rudolfo, yang disiapkan untuk peserta dengan rentang usia 7-15 tahun ini, tidak dirancang untuk membuat putra-putri Anda jadi tukang yang terampil, tapi untuk melatih mereka menjadi para pengambil keputusan yang kreatif di masa datang. Saya tidak sendirian. Ada banyak teman-teman yang sepaham dengan saya dan mereka membuat kursus kreatif yang bagus-bagus untuk anak-anak. Salah satu yang tertua adalah Jendela Ide, asuhan Andar Manik dan Marintan Sirait, di Bandung.

Kami bermaksud meneruskan paham dosen kami tercinta, Prof. Primadi Tabrani, dan prinsip dan filosofi kepengajaran inilah yang akan kami ajarkan pada putra-putri Anda. Kami melatih putra-putri Anda untuk menjadi pencipta yang kreatif, bukan jadi tukang yang terampil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s