Pengumuman 10 Karya Terbaik & Pembahasan Karya Lomba Gambar Papa Trejo 2018

Teman-teman yang baik, inilah yang Anda tunggu-tunggu: Pengumuman 10 Karya Terbaik dan Pembahasan Karya Lomba Gambar Papa Trejo 2018! Klinik Rupa dr. Rudolfo dan Buku Mojok mengucapkan terima kasih untuk partisipasi Anda. Kami menyadari Anda semua sibuk, tapi Anda masih menyempatkan diri berkarya untuk ikut lomba ini. Semangat dan usaha Anda semua amat kami hargai.

Menentukan karya terbaik terbukti tidak mudah. Saya sudah menduga hal itu sejak menerima karya-karya yang masuk dan benar saja. Menentukan 20 karya terbaik saja sudah sulit, apalagi memilih 10 karya terbaik. Walaupun demikian saya tidak bisa menyenangkan semua orang, harus ada yang dipilih dan sebagai konsekuensinya: ada yang tidak terpilih, padahal perbedaan mutunya tipis. Bagi Anda yang tidak terpilih, saya tahu Anda kecewa, tapi saya harap Anda tidak kecil hati. 15-20 karya terbaik dalam lomba ini mutunya di atas rata-rata. Bila Anda ikut kursus privat program Spartan, keterampilan Anda minimal sudah setara kelas lanjutan. Selain itu, selama satu tahun ke depan, ada lomba-lomba lain yang akan saya adakan di akun Instagram saya. Beberapa sponsor sudah menunggu dan hadiahnya keren-keren. Jadi, tetap semangat, ya, ūüôā

Lomba tahun ini istimewa. Bila dibandingkan dengan lomba-lomba sebelumnya ada sedikit peningkatan dari segi partisipasi, namun peningkatan yang signifikan adalah dari segi mutu karya. Selain menggembirakan hal ini juga mengagumkan, karena banyak di antara Anda yang berusia sangat muda! Asal Anda tahu, saya baru mulai mempelajari realisme saat usia saya 30 tahun. Saya belajar sendiri saat itu dan butuh waktu lama bagi saya untuk mencapai tahap yang sudah dicapai 10, bahkan 20, karya terbaik dalam lomba ini. Saya amat terkesan dengan pencapaian Anda. Selamat!

Namun di sisi lain, hal itu menunjukkan bahwa keterampilan dalam realisme bukan magic. Kepakaran dalam realisme bisa dipelajari oleh siapa saja, pada usia berapa saja, asalkan punggung normal, mata awas dan tangan tidak tremor. Tidak ada secret dalam mempelajari realisme karena aturannya serba jelas, tapi masalahnya: tidak ada shortcut juga. Semua latihan yang menguras tenaga, fokus dan kesabaran ya harus dijalani. Atau tepatnya: dinikmati. Bila Anda secara konsisten meluangkan waktu untuk berlatih selama satu jam per hari, lima hari dalam seminggu, dengan arahan yang tepat seperti dalam kursus privat program Spartan yang saya adakan, Anda bisa mencapai mutu top-10 lomba ini dalam waktu maksimal 2 tahun. Itu kalau Anda belajar dari tingkat nol besar, lho, dari tidak bisa sama sekali. Kalau sudah ada dasar, tentu tidak perlu berlatih selama itu.

Namun tidak belajar pada saya juga bisa. Apa yang saya ajarkan bukan satu-satunya cara untuk jadi jago gambar, ada seribu jalan menuju Roma. Silakan belajar pada siapa saja dan lewat media apa saja. Belajar sendiri juga bisa, saya juga dulu belajar sendiri, kok. Sekarang kan enak, kita bisa belajar lewat YouTube, Instagram, dsb. Yang penting adalah api menyala-nyala di dada Anda, yaitu visi untuk jadi seorang maestro. It’s not about how good you are, it’s about how good you want to be. Anda semua memiliki potensi tersebut, tidak peduli serendah apapun skill Anda sekarang. Maka pilihan ada di tangan Anda. Mau jadi jago gambar realisme atau nggak? Kalau pengin jadi jago gambar realisme tapi nggak mau latihan, itu sih sama seperti saya: pengin langsing dan punya six packs tapi nggak mau usaha. Ya, nggak bisa, lah. ūüėõ

Maka, seperti apa sepuluh karya terbaik dalam lomba ini? Apa yang saya cari dalam karya-karya Anda? Bagaimana kriteria penilaiannya? Akan saya jelaskan. Dalam Klinik Rupa dr. Rudolfo, pensil grafit adalah “ibu” dari semua media seni rupa dwimatra konvensional. Pensil grafit adalah media yang murah-meriah, mudah didapat dan bisa digunakan siswa paling dasar sampai maestro seni rupa sekalipun. Yang harus dikuasai pertama kali adalah pensil grafit, bukan yang lain. Kalau Anda sudah mahir menggunakan pensil grafit, belajar media apapun (termasuk media digital) akan mudah sekali, tinggal ngesot! Maka kriteria pertama dalam lomba gambar dengan media pensil grafit ini adalah mutu arsiran.

Untuk bisa menguasai realisme, arsiran kita harus “sudah jadi”. Ini akan dijelaskan kemudian. Bila arsiran kita belum jadi, akan sulit bagi kita untuk membentuk konstruksi utama dalam realisme:¬†gelap-terang. Gelap-terang adalah kriteria kedua. Realisme optis, yang merupakan turunan dari hukum cahaya, 90%-nya adalah soal gelap-terang. Kalau ada sebuah foto berwarna Anda hilangkan gelap-terangnya, Anda hanya akan melihat semacam lukisan abstrak warna-warni yang hampir tidak bisa dikenali bentuknya. Dalam tradisi seni lukis klasik, warna itu urusan belakangan, gelap-teranglah yang harus dicapai dengan akurat lebih dulu. Tanpa gelap-terang, realisme tidak mungkin terwujud.

Namun dalam upaya mendekati kesempurnaan, realisme juga membutuhkan proporsi. Proporsi adalah kriteria ketiga. Bila proporsi tubuh manusia yang Anda buat tidak benar, hasilnya akan terlihat aneh. Bila Anda gagal menerapkan proporsi dalam perspektif saat menggambar bangunan, realismenya tidak meyakinkan. Secara alami jagat raya ini memiliki proporsinya sendiri dan itu mencakup proporsi dalam tubuh dan wajah manusia. Setelah itu ada rinci, kriteria keempat. Kita berhadapan dengan wajah Papa Trejo yang penuh tekak-tekuk maskulin dan bopeng-bopeng yang rumit. Saya ingin tahu sebaik apa karya-karya Anda bisa menafsirkan detail tersebut. Maka bila arsiran Anda mampu membentuk gelap-terang dengan baik, dengan menerapkan proporsi yang benar dan mengejar rinci sampai ke bagian yang kecil-kecil, saya harap itu akan menghasilkan kemiripan obyek, ini adalah kriteria kelima. Sayangnya, banyak sekali karya yang tidak mirip Papa Trejo. Malah mirip Mang Ade, karyawan di kampus saya dulu. Sangar sih sangar, tapi kurang mirip. ūüėÄ

Saya menambahkan kriteria ke-6 yaitu karakter. Karakter adalah gaya personal dalam karya Anda. Style! Anda memang menggambar dengan acuan fotografi, tapi apakah Anda ingin karya Anda terlihat seperti foto? Bisa ya, bisa tidak. Keduanya sah. Tidak semua karya memiliki karakter, terutama karya yang dikerjakan dengan keterampilan yang masih belum mencukupi, karena jam terbang yang masih rendah. Bila latihan Anda bertahun-tahun adalah pohon, karakter adalah buahnya. Itu juga harus saya nilai. Nah, maka demikianlah enam kriteria dalam penilaian lomba ini.

Cara Penilaian

Cara penilaian lomba ini adalah sebagai berikut. Pertama, saya menggunakan sistem poin untuk setiap kategori yang nilainya: 5.0 (bagus sekali), 4.5 (sedikit lagi bisa bagus sekali), 4.0 (bagus), 3.5 (lumayan bagus), 3.0 (lumayan), 2.5 (sedikit lagi bisa lumayan), 2.0 (kurang), 1.5 (kurang banget) dan 1.0 (memprihatinkan). Selain itu setiap kriteria memiliki bobotnya sendiri-sendiri karena ada kriteria yang lebih penting daripada kriteria yang lain. Perbedaan bobot ini saya gunakan sebagai pengali poin yang didapat. Mutu arsiran bobotnya = 5. Gelap-terang bobotnya = 5. Proporsi bobotnya = 3. Rinci bobotnya = 3. Kemiripan obyek bobotnya = 2. Karakter bobotnya = 2. Dengan begitu, penilaian akan dilakukan menggunakan rumus:

(mutu arsiran x 5) + (gelap-terang x 5) + (proporsi x 3) +
(rinci x 3) + (kemiripan x 2) + (karakter x 2) = NILAI TOTAL

Rumus ini berguna untuk memilih 10 karya terbaik yang dihitung berdasarkan nilai total dan untuk memetakan masalah yang lazim terjadi. Pembahasan akan dilakukan untuk semua kategori yang memiliki nilai lebih kecil daripada 3.0 (lumayan). Dan berdasarkan perhitungan, ini adalah permasalahan dalam lomba tahun ini:

77% kemiripan obyeknya kurang
66% gelap-terangnya belum canggih
62% rincinya belum nyampe
51% arsirannya belum matang
46% karyanya belum berkarakter
42% karya proporsinya kurang akurat

Inilah petunjuk bagi saya untuk melakukan pembahasan dalam lomba ini. Namun seperti yang sudah saya jelaskan, setiap kriteria memiliki bobot yang berbeda, maka pembahasan akan dilakukan sesuai kriteria yang paling penting dulu supaya saya bisa membuat penekanan pada bobot yang ingin saya jelaskan. Dengan begitu, saya harap pembahasan ini akan lebih jelas bagi Anda untuk memahami prinsip-prinsip yang penting, dimulai dari yang paling mendasar dulu. Sekedar petunjuk untuk Anda:

Tekanan Tangan dan Pensil Grafit

Bila Anda mencoba untuk menggambar padahal sebelumnya Anda jarang sekali menggambar, bisa dipastikan garis Anda akan kaku. Kekakuan tersebut berasal dari sikap menggambar yang keliru: Anda menggambar seperti menulis. Menggambar tidak sama dengan menulis. Saat menulis, gerakan tangan Anda akan terpusat di buku jari bagian bawah sementara saat menggambar bukan hanya buku-buku jari yang bekerja, tapi juga pergelangan tangan. Bila Anda bekerja di bidang besar, siku Anda ikut bekerja. Bila bidangnya lebih besar lagi, bahu dan pinggul Anda bisa ikut bekerja. Bila Anda seorang pemula yang belajar dari nol sama sekali, atau mungkin Anda bukan pemula tapi sudah cukup lama tidak menggambar, lakukan senam pensil sebagai pemanasan sebelum Anda mulai menggambar sesuai contoh di bawah ini:

Anda tidak perlu menggunakan kertas baru, gunakan saja koran bekas. Anda hanya akan membuat coret-moret saja, kok. Senam pensil akan membuat pergelangan tangan Anda menjadi luwes dan melakukan senam ini selama 3-5 menit sebelum mulai menggambar akan menanamkan kesadaran di kepala Anda bahwa Anda akan menggambar, bukan menulis. Bila selama ini Anda merasa garis Anda kaku, silakan coba latihan ini. Saya jamin garis Anda akan jauh lebih luwes saat menggambar nanti.

Membuat sebuah karya gambar yang baik dengan pensil grafit memiliki dua aspek penting. Pertama adalah tekanan tangan, kedua adalah alatnya, yaitu pensil grafit itu sendiri. Saya akan jelaskan satu-persatu. Setiap orang memiliki tekanan tangan yang berbeda-beda saat menulis dan menggambar: ada yang tekanan tangannya kuat, ada yang sedang, ada yang ringan. Ini bukan soal benar/salah, tekanan tangan adalah karakter dan itu bawaan orok, tidak bisa diubah lagi. Tekanan tangan bukanlah hasil bentukan cara menulis bertahun-tahun, sebaliknya, justru cara Anda menulislah yang dipengaruhi karakter tekanan tangan Anda.

Apakah Anda sering merasa pegal bila harus membuat catatan yang agak panjang? Apakah bila Anda menulis, tekanannya begitu kuat sampai meninggalkan jejak pada halaman-halaman buku di bawahnya? Apakah Anda membuat tanda-tangan dengan menekan, dengan gerakan yang cepat dan tegas? Bila ya, berarti tekanan tangan Anda cenderung kuat. Apa alat tulis favorit Anda? Apa ada di antara Anda yang suka menggunakan alat tulis yang bermata lembut seperti Boxy-001P? Apakah Anda lebih suka menggunakan spidol, bukan ballpoint bermata logam yang keras? Apakah tulisan Anda rapi dengan tekanan yang terjaga, sepanjang apapun tulisan Anda? Bila ya, berarti tekanan tangan Anda cenderung ringan. Kalau begitu apa perbedaan tekanan tangan yang kuat dan yang ringan?

Mereka yang tekanan tangannya kuat biasanya memiliki arsiran yang ekspresif dan bertenaga sementara yang tekanan tangannya ringan biasanya memiliki arsiran halus bernuansa. Kedua jenis arsiran ini memiliki keindahan dan daya pikatnya masing-masing, masalahnya: potensi maksimal arsiran Anda ada di arsiran yang ekspresif atau yang halus? Ini harus dikenali. Saya menangani murid saya sesuai dengan karakter arsirannya, latihannya berbeda, supaya potensi maksimalnya bisa dicapai. Baik yang arsirannya ekspresif maupun halus, semua murid saya harus menguasai pensil grafit terlebih dahulu, tapi begitu mereka mahir menggunakan pensil grafit, petualangan menjelajahi berbagai macam jenis medium pun segera dimulai dan setiap medium memiliki karakternya sendiri-sendiri.

Mereka yang tekanan tangannya kuat dan arsirannya lebih ekspresif cocok menggunakan pensil grafit, charcoal, pastel minyak, cat air, gouache, tinta India, tempera telur, cat akrilik, oilbar, dan cat minyak dengan gaya alla prima dan teknik impasto, sementara mereka yang tekanan tangannya ringan cocok menggunakan pensil grafit, pensil warna, soft pastel, serbuk grafit/charcoal, airbrush, dan cat minyak dengan gaya velatura dengan teknik sfumato. Inilah pentingnya mengenali karakter tekanan tangan Anda. Karakter tersebut akan menentukan arah latihan yang paling tepat dan yang paling menghemat waktu untuk memunculkan potensi maksimal karya Anda.

Pensil grafit sendiri bisa digunakan oleh mereka yang arsirannya kasar maupun halus. Walaupun demikian, pensil grafit memiliki karakternya sendiri. Grafit pada pensil sejatinya adalah batu bara kelas satu. Penambangan dan pemanfaatannya untuk berbagai macam kebutuhan industri memiliki sejarah yang panjang sejak abad ke-16 di Cumbria, Inggris. Mineral grafit diikat oleh lempung dan diberi cangkang berupa kayu yang melindungi silindernya dari benturan, supaya tidak patah. Bila digoreskan pada permukaan yang tepat, partikel grafit bisa menempel dengan baik dan memiliki ketahanan terhadap kelembapan, tidak bereaksi terhadap kebanyakan bahan kimia, tidak mengalami degradasi karena radiasi ultraviolet dan bertahan terhadap penuaan. Dengan begitu partikel grafit stabil dan bisa bertahan sampai ratusan tahun, selama medianya tidak rusak. Partikel grafit pada pensil berbeda-beda sesuai mereknya karena setiap merek mengembangkan variasi proses manufakturnya sendiri-sendiri.

Pensil grafit juga memiliki tingkat kekerasan yang berbeda-beda. Saya meminta semua murid saya untuk membeli pensil grafit secara lengkap,¬†full spectrum: 6H-5H-4H-3H-2H-H-HB-B-2B-3B-4B-5B-6B-7B-8B-9B. Kode “H” pada ukuran pensil berarti “hard“, mengacu pada tingkat kekerasan grafitnya. Kode “B” berarti “black“, mengacu pada kadar kegelapan yang dihasilkan, yang juga berarti grafitnya lebih lembut. “HB” berarti “hard black“, “F” berarti “fine“, artinya pensil bisa diraut untuk membentuk ujung yang runcing (fine point) dengan risiko patah yang lebih kecil. Mereka harus mengenali tingkat kekerasan pensil yang berbeda-beda, termasuk perbedaan karakter karena mereknya berbeda.

Merek Staedler lebih gelap dan tidak terlalu glossy (bahkan ukuran 7B, 8B dan 9B-nya memiliki partikel yang lebih mirip charcoal yang sangat gelap dan matte) biasanya cocok untuk mereka yang tekanan tangannya kuat dan arsirannya ekspresif, sementara merek Faber Castell yang tidak terlalu gelap dan agak glossy biasanya cocok untuk mereka yang tekanan tangannya ringan dan arsirannya halus. Masih ada merek-merek pensil grafit lainnya dan semua merek memiliki karakternya sendiri-sendiri, namun kedua merek di atas adalah yang paling umum dipakai.

Mereka yang tekanan tangannya kuat harus berhati-hati saat mengarsir daerah terang. Mereka harus mampu mengontrol energi tekanan tangannya, bila tidak arsiran mereka akan jadi liar. Sementara itu, mereka yang tekanan tangannya ringan harus lebih percaya diri saat menghadapi daerah-daerah gelap. Mereka harus ganti pensilnya dengan 8B dan jangan loyo, tekan pensilnya! Bila Anda mengenali karakter tekanan tangan Anda, pada akhirnya Anda akan menemukan satu set kecil jenis pensil favorit Anda. Bila tekanan tangan Anda kuat, saat mahir nanti mungkin Anda bisa mengerjakan semua pekerjaan gelap-terang hanya dengan mengandalkan pensil 2H, H, HB, 2B, 3B, dan 4B saja. Bila tekanan tangan Anda ringan, antara 2B sampai 8B bisa Anda gunakan secara taktis untuk mengerjakan pekerjaan gelap-terang paling rumit sekalipun. Saat mengarsir, tekanan tangan Anda rata-rata sama, paling diatur-atur sedikit bilamana diperlukan, tapi pensilnya perlu diganti-ganti sesuai kebutuhan. Dengan begitu pada akhirnya Anda akan mampu mengerjakan karya dengan gaya realisme secara optimal, baik yang memiliki kontras tinggi maupun rendah.

Demikianlah dua aspek penting dalam menggambar dengan pensil grafit. Mengenali tekanan tangan pada akhirnya berkaitan erat dengan karakter pensil grafit yang Anda gunakan. Bila kedua hal ini Anda kenali, peluang untuk mengangkat karya Anda ke aras yang lebih tinggi menjadi semakin terbuka. Dalam proses kerja seorang maestro, tidak ada hal yang tidak disadari dan tidak diketahui alasannya. Pekerti tersebut bisa Anda terapkan mulai sekarang dengan memperluas dan memperdalam wawasan dan pengetahuan Anda, selain dari secara konsisten berkarya.  Dalam perjalanan panjang menuju kepakaran dalam realisme, Anda bisa memulai hal itu dengan mengenali karakter tekanan tangan dan jenis pensil grafit yang Anda gunakan.

Mutu Arsiran

Tujuan utama menggambar dalam gaya realisme adalah membuat ilusi. Anda bermaksud membuat representasi (perwakilan) dari sebuah obyek trimatra di atas sebuah obyek dwimatra, yakni selembar kertas yang datar, tidak memiliki kedalaman. Ilusi tiga dimensi dalam sebuah bidang datar hanya bisa dicapai dengan penempatan gelap-terang yang akurat. Gelap-terang akan dijelaskan kemudian, tapi cara paling efisien membuat gelap-terang dengan pensil grafit adalah dengan mengarsir. Persis di sinilah letak permasalahannya.

Mengarsir adalah membuat garis yang diulang dengan berirama. Sekilas ini terdengar mudah padahal bila dipraktikkan tidak demikian. Mematangkan arsiran itu lebih sulit daripada belajar mengendarai sepeda karena yang satu hanya butuh waktu satu minggu, tapi yang lain butuh waktu 3 sampai 6 bulan. Sekarang lihatlah karya-karya berikut ini:

Heni Susanti, 50 Tahun, Bandung

Ummi Anisa, 21 Tahun, Jakarta

Prabangkara Danadhyaksa, 27 Tahun, Pekalongan

Ketiga karya dalam kelompok pertama ini ilusi tiga dimensinya tidak meyakinkan karena gelap-terangnya tidak benar. Gelap-terang yang tidak benar ini disebabkan karena dua hal: pertama, disiplin observasinya belum terbentuk dan kedua, arsirannya belum jadi. Keduanya semata-mata menunjukkan satu hal: kurangnya jam terbang. Ini bukan hal yang memalukan karena semua orang, termasuk Rembrandt van Rijn sekalipun, pernah mengalami fase ini. Ini serupa dengan pernah jatuh saat belajar naik sepeda atau tersedak air saat belajar berenang. Wajar, bukan? Namanya juga belum bisa. Selain masalah arsiran yang belum matang dan gelap-terang yang belum benar, ketiga karya ini juga memiliki masalah proporsi, masalah kemiripan dan belum berkarakter. Maka ketiga karya dalam kelompok ini tidak terpilih dalam 10 karya terbaik tahun ini.

Arsiran yang belum jadi memiliki arah yang tidak jelas dan berubah-ubah, kerapatan antar garisnya belum konstan dan tekanannya berbeda-beda. Ini wajar terjadi karena koordinasi otak, mata dan tangan belum terbentuk. Arsiran harus secara sadar dan sengaja diulang-ulang dalam latihan sampai menjadi second nature, supaya koordinasinya terbentuk. Hal ini tidak bisa dilewatkan dan untuk mengetahui alasannya, Anda bisa membaca cara kerja otak dalam artikel Keterampilan Baru ini. Bila Anda ingin melatih arsiran Anda supaya matang, Anda perlu mengunduh dua halaman latihan di bawah ini:

Modul latihan arsir 1 cm & Modul latihan arsir 2 cm

Kedua file gambar dalam format .JPG tersebut sudah memiliki ukuran A4 dan sudah diberi garis seperti buku. Ada yang intervalnya 1cm, ada yang 2cm. Silakan unduh kedua file tersebut lalu cetaklah di kertas HVS 80gsm ukuran A4. Bila sudah, buat arsiran vertikal di satu baris dengan rapi dari kiri ke kanan. Arsirnya keluar garis tidak apa-apa, yang penting arsiran Anda konstan dan saat membuatnya berirama. Anda harus menemukan irama itu, bila irama sudah ditemukan, arsiran Anda akan konstan dan mulus. Arahnya seragam, jarak antar garisnya seragam, tekanannya seragam. 

Bila Anda kidal, buat arsiran vertikal dari kanan ke kiri, tidak apa-apa. Setelah itu lewati satu baris dan ulangi. Anda bisa mulai melatih arsiran yang pendek dulu, jadi gunakanlah modul latihan arsir 1cm dulu. Kalau arsiran Anda sudah mulus dan rata, baru ganti dengan modul arsiran 2cm yang lebih panjang. Setelah berhasil membuat arsiran yang mulus dan rata dari kiri ke kanan, latihlah memainkan tekanan tangan Anda. Saat mulai, buatlah arsiran tebal yang gelap, dengan menekan pensil, lalu perlahan-lahan tekanan dikurangi sehingga pada akhirnya Anda punya sebuah garis dengan gradasi yang halus dan mulus.

Latihan garis di klinik saya hanya ini saja. Kedua panduan garis yang sederhana ini sudah mengantar banyak murid saya menjadi jagoan arsir. Dan harap bersabar, prosesnya bisa lama makan waktu berbulan-bulan walaupun dilatih setiap hari. Semua murid saya yang arsirannya belum jadi belum boleh menggambar. Mereka harus mematangkan dulu arsirannya dan itu makan waktu 3-6 bulan lamanya. Mereka harus mengarsir sampai terbawa mimpi karena tanpa arsiran yang sudah matang, akan sulit sekali membentuk gelap-terang dengan baik. Beberapa berusaha mengatasi masalah tersebut dengan menggosok arsiran yang kurang rata, seperti yang dilakukan Ummi dan Prabangkara, tapi itu percuma. Bila arsiran belum matang, menggosok tidak ada gunanya karena arsiran memang terlihat lebih rata tapi gosokan itu tidak membentuk gelap-terang yang akurat. Karena itu saya melarang penggunaan teknik gosok untuk murid-murid saya di kelas pemula. Arsiran harus dikuasai dulu dengan benar, observasi gelap-terang harus bagus dulu, baru boleh gosok. Sekarang mari kita lihat karya-karya dalam kelompok selanjutnya:

Auliya Hamidah Haris Poernomo, 18 Tahun, Jabar

Eko Yulianto, 31 Tahun, Boyolali, Jateng

Metka Atria Rachmawati, 41 Tahun, Bandung

Muhammad Irfan Fadillah, 25 Tahun, Bogor, Jabar

Elizabeth Erica Ratnasari, 22 Tahun, Bandung, Jabar

Andreas Handoyo, 30 Tahun, Bandung, Jabar

Hilya Mawaddah, 23 tahun, Jakarta

Asep Darmana, 31 Tahun, Bandung, Jabar

Emiliano Karisma Tardifiasto, 20 Tahun, DI Yogyakarta

Imron Rosyadi, 26 Tahun, Jombang, Jatim

Las Asimi, 20 Tahun, DKI Jakarta

Doddy Sagir, 46 Tahun, Bandung, Jabar

Arif Kurniawan, 34 Tahun, Yogyakarta

Abdul Gofururrohim, 18 Tahun, Tasikmalaya, Jabar

Novianto Handri, 48 Tahun, DI Yogyakarta

Tommy Aditama Putra, 35 Tahun, Bandung, Jabar

Dengan pengamatan sekilas saja Anda sudah bisa melihat perbedaan antara karya-karya di kelompok ini dengan tiga karya di kelompok sebelumnya: mutu arsirannya kelihatan lebih baik. Dalam kelompok kedua ini, kita bisa perhatikan lagi karya-karya: Eko Yulianto, Elizabeth Ratnasari, Asep Darmana, Emiliano Tardifiasto, Imron Rosyadi, Arif Kurniawan, Novianto Handri dan Tommy Aditama Putra. Karya-karya mereka menunjukkan mutu arsiran yang lebih baik daripada karya-karya lain di kelompok yang sama, tapi belum mantap, masih setengah matang. Arsir yang masih belum matang seperti ini seringkali menjadi bermasalah dalam pembentukan  gelap-terang. Sebenarnya ini tidak mengherankan.

Walaupun berkaitan erat, mematangkan arsiran dan disiplin observasi gelap-terang membutuhkan latihan yang berbeda. Anda bisa saja memiliki arsiran yang sudah bagus dan matang, tapi kalau latihan gelap-terang belum mencukupi, tingkat realisme Anda belum meyakinkan. Namun bila tingkat realisme Anda meyakinkan karena latihan gelap-terang Anda sudah cukup, bisa dipastikan arsiran Anda sudah matang dan sempurna. Mutu arsiran pada ke-16 karya dalam kelompok ini masih bisa ditingkatkan lagi. Saya tidak bisa menekankan lebih keras lagi, betapa pentingnya mematangkan arsiran dalam teknik menggambar dengan pensil grafit. Untuk alasan tersebut, karya-karya dalam kelompok ini tidak terpilih dalam 10 karya terbaik tahun ini.

Gelap-Terang

Dalam kriteria gelap-terang, 66% karya yang masuk mendapatkan nilai 2.5 (sedikit lagi bisa lumayan) ke bawah. Selain itu, kelompok ini didominasi oleh karya yang memiliki nilai 2.0 (kurang). Dengan begitu mudah disimpulkan bahwa dalam lomba tahun ini, seperti juga dalam lomba-lomba sebelumnya, gelap-terang masih menjadi kendala besar dalam kekaryaan para peserta. Ini memang fakta yang kurang menyenangkan, tapi saya sih memakluminya, soalnya menguasai gelap-terang memang tidak mudah. Jadi Anda tidak perlu kecil hati. Bila Anda mempelajari seni lukis klasik di Grand Central Academy, New York, AS, atau di Florence Academy of Art, Italia, penguasaan gelap-terang mendominasi setengah dari 4 tahun masa kuliah. Ini menunjukkan bahwa penguasaan gelap-terang dalam realisme memang fundamental.

Bila murid-murid saya di kursus privat program Spartan menghabiskan waktu 3-6 bulan untuk melatih arsiran, mereka bisa menghabiskan waktu 3-4 kali lebih lama untuk berlatih gelap-terang. Penguasaan gelap-terang hanya bisa dicapai lewat sebuah latihan tersendiri. Latihan ini tidak ada hubungannya dengan latihan mengarsir, namun memiliki arsiran yang sudah jadi adalah syarat penting untuk bisa berlatih gelap-terang dengan baik. Sekarang kita lihat karya-karya dalam kelompok ketiga ini:

Aliefya Octaviany Stann, 30 tahun, Jakarta

Riki Pratomo, 27 Tahun, Yogyakarta

Kupi Arif, 32 Tahun, DKI Jakarta

Agustinus Hutabarat, 33 Tahun, Tangerang, Banten

Bayu Adi Purwono, 32 Tahun, Grobogan, Jateng

Yurika Nurmala Dwiyanti, 38 tahun, Sidoarjo

Reza Muhammad, 39 Tahun, Tangerang, Banten

Angga Yuniar, 29 Tahun, DI Yogyakarta

Sherine Kiatandi, 15 Tahun, Tangerang, Banten

Yoseph Novi Christianto, 34 Tahun, DI Yogyakarta

Gandhi Kartiko Aji, 23 Tahun, Jember, Jatim

Sindy Ponto, 49 tahun, Bandung

Timotius Iwan Rudiawan, 32 Tahun, Cimahi, Jabar

Rabita Syahbunan, 24 Tahun, Bandung, Jabar

Emira Dian Mayasari, 28 tahun, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Muhammad Sulthoni, 23 Tahun, Banyuwangi, Jatim

Galang Mesya Fansy, 24 Tahun, Karanganyar, Solo

Akhmad Irfan, 22 Tahun, Tegal, Jateng

Ahmad Chairul Karim, 25 Tahun, Malang, Jatim

M. Nur Yazid Busthomi, 19 Tahun, Malang, Jatim

Dissa Shafira, 18 Tahun, DKI Jakarta

Kristianus Kenny Hartanto, 21 Tahun, Surabaya, Jatim

Elyfirma Duma, 24 Tahun, DKI Jakarta

Raisa Ayumi, 23 tahun, Surakarta

Peri Sunata, 27 Tahun, Tegal, Jateng

Barangkali Anda berpikir karya-karya dalam kelompok ketiga ini sebenarnya cukup bagus. Anda tidak keliru. Masalahnya, yang bagus itu arsirannya, gelap-terangnya sih masih kurang bagus. Namun bila dibandingkan dengan karya-karya pada kelompok sebelumnya, lompatannya mutunya cukup jauh, bukan? Oke deh, gelap-terangnya memang masih kurang, tapi pada tataran ini kita bisa melihat bahwa manfaat latihan mengarsir itu benar-benar nampak pada karya. Kalau arsiran Anda matang, gelap-terangnya kurang bagus saja, karya kelihatannya sudah lebih canggih. Apalagi kalau gelap-terangnya bagus, kan? Nah, bila pada kelompok tadi arsirannya sudah bagus, kelompok ini arsirannya lebih bagus lagi:

Muhammad Dzaky Aziz, 18 Tahun, DI Yogyakarta

Hari Supari, 28 Tahun, Bandung, Jabar

Azzainudin Nur, 25 Tahun, Tanjung Pinang, Kepri

Caroline Ratnasari, 24 Tahun, Balikpapan

Cindy Criselda, 24 Tahun, Bandung, Jabar

Irlan Sugih Pranoto, 34 Tahun, Sumedang, Jabar

Kelompok keempat ini adalah karya-karya yang nilai gelap-terangnya genap 3.0 (lumayan). Lumayan itu belum bagus, lho, ya. Maka karya-karya pada kelompok ketiga dan keempat ini hasilnya kurang lebih sama: arsirannya sudah bagus, tapi gelap-terangnya belum bagus. Karya-karya dalam kelompok ketiga dan keempat ini tidak terpilih sebagai 10 karya terbaik lomba tahun ini. Anda akan tahu alasannya saat melihat karya pada kelompok berikutnya. Sekarang pertanyaannya adalah: apakah sebenarnya gelap-terang itu? Bagaimana konsepnya? Bagaimana cara berlatih yang tepat untuk bisa menguasai gelap-terang dengan baik? Kita bahas sekarang juga di sini.

Realisme adalah persoalan cahaya seperti yang dijelaskan dalam teori Intromisi tentang penglihatan manusia. Sekitar abad ke-5 SM, berkembanglah teori Ekstramisi yang menyatakan bahwa penglihatan manusia menjadi mungkin karena mata manusia mengeluarkan cahaya seperti lampu senter, maka ia bisa melihat jagad raya. Kita pada akhirnya mengetahui bahwa yang benar adalah kebalikannya. Cahaya datang dari sumbernya, mengenai obyek, lalu memantul ke mata kita. Dengan begitu, intensitas cahaya yang sampai ke mata kita akan berbeda-beda bila obyek yang dijatuhi cahaya adalah sebuah bentuk trimatra yang memiliki kepejalan. Bila cahaya mengenai suatu bidang secara langsung, bidang tersebut akan terlihat paling terang. Ini disebut “highlight” (dibaca: “hai-lait”). Bila cahaya tidak mengenai suatu bidang dalam obyek tersebut, bidang itu akan terlihat paling gelap. Ini disebut “shadow“. Sementara itu, ada bidang yang bukan¬†highlight dan bukan¬†shadow, yakni bidang-bidang yang terletak di antara keduanya. Bidang-bidang ini masih dikenai cahaya tapi tidak langsung dan intensitas cahayanya ada di tengah-tengah: tidak seterang¬†highlight tapi juga tidak segelap¬†shadow. Bidang ini disebut “middle-tone” (dibaca: “midel-toun”). Inilah konsep dasar tentang gelap-terang dalam seni rupa.Saya hanya menunjuk satu titik untuk¬†shadow, middle-tone dan¬†highlight pada gambar wajah ini. Bisakah Anda mengenali titik-titik lainnya? Pokoknya¬†shadow adalah daerah gelap, highlight adalah daerah terang dan¬†middle-tone adalah daerah yang ada di antara keduanya. Coba, mana lagi titik-titiknya? Tidak susah, kan? ūüôā

Secara konsep, aturan cahaya dalam realisme memang mudah, tapi menerapkannya dalam latihan membutuhkan sebuah disiplin observasi. Saya punya tip yang selalu saya ulang-ulang pada semua murid saya: picingkan mata. Coba, picingkan mata Anda lalu lihat lagi foto di atas. Kerumitannya kini berkurang, bukan? Kini Anda mampu melihat blok gelap-terang secara general, pembagiannya menjadi lebih jelas. Inilah kunci untuk menguasai gelap-terang. Mudah sekali, hanya memicingkan mata lalu mengamati baik-baik obyek yang akan Anda gambar.

Semua perupa yang bekerja dalam disiplin realisme selalu memicingkan mata, mulai dari siswa yang baru belajar sampai maestro. Bila Anda pakai kacamata minus yang lumayan tebal, buka saja kacamata Anda. Efeknya serupa. Maka bila Anda ingin mengetahui apakah gelap-terang pada karya Anda sudah sesuai dengan foto acuan atau belum, picingkan saja mata Anda lalu lihat keduanya. Anda akan dengan mudah mendeteksi perbedaannya. Kalau kurang gelap, arsir lagi. Kalau terlalu gelap, hapus, lalu ulangi arsirnya. Prinsipnya mudah saja, kok. Selain itu, penggunaan pensil juga penting. Kalau Anda sedang mengerjakan shadow yang gelap, apalagi kalau tekanan tangan Anda ringan, jangan pakai pensil 2B, dong. Ganti pakai 8B lalu tekan pensilnya. Sebaliknya, kalau tekanan tangan Anda kuat dan Anda sedang mengerjakan daerah highlight, ngapain susah payah meringankan arsiran dengan pensil 2B, dengan risiko arsiran jadi terlalu tebal? Ganti dong pensilnya pakai 2H dan rasakan nikmatnya menekan dengan normal tapi arsiran hanya muncul sedikit-sedikit. Mengontrolnya jadi mudah sekali.

Sama seperti melatih arsiran, melatih mata dalam sebuah disiplin observasi tidak ada rahasianya. Prinsipnya sederhana sekali, cuma memicingkan mata saja. Namun Anda bisa menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk melatihnya sampai bagus, dan setelah bagus pun, Anda sejatinya masih akan terus berlatih saat berkarya. Sama seperti melatih arsiran, fokus dan jam terbang akan menentukan hasil latihan observasi gelap-terang Anda. Maka Anda perlu bersabar dan tetap penasaran, supaya bisa berlatih terus. Ingat, melatih gelap-terang makan waktu lama. Seringkali pikiran kita sudah tahu gelapnya harus segitu, tapi tangan kita selalu meleset menerjemahkan gelap-terang yang sesuai. Itulah yang harus dilatih dan diulang-ulang sampai terbawa mimpi. Bila Anda mengulang-ulang suatu latihan tertentu, apa saja, sampai terbawa mimpi, itu artinya intensitasnya sudah bagus. Hasilnya akan terlihat tidak lama lagi.

Proporsi & Kemiripan Obyek

Proporsi dan kemiripan obyek adalah permasalahan yang bobotnya lumayan dan kita bisa memecahkan masalah-masalah ini dengan dua cara: cara benar dan cara mudah. Cara benar adalah melatih observasi secara langsung dengan bola mata. Ini adalah teknik klasik, old school. Belajarnya lama dan gurunya harus mumpuni. Sementara itu cara mudah adalah dengan jalan menjiplak. Masalahnya, selalu saja ada orang yang tidak setuju dengan cara menjiplak, cara itu dianggap curang. Pada satu sisi hal itu ada benarnya, namun dalam Klinik Rupa dr. Rudolfo, saya tidak mengharamkan menjiplak karena saya sendiri merasa bahwa saya belum memiliki keterampilan observasi yang mumpuni, terutama untuk live drawing/painting. Saya belajar realisme dengan menjiplak, saya bahkan menjiplak sejak kelas 5 SD.

Dulu saya sering kesal karena pelajaran IPS memberi banyak PR membuat peta Indonesia. Kami harus membuat¬†grid dan menafsirkan bentuk pulau-pulau yang rumit dengan pengamatan bola mata saja. Akhirnya saya membuat peta-peta sialan itu dengan menjiplak fotokopi peta menggunakan lampu belajar yang saya letakkan di bawah meja kaca, seperti lightbox. Hasilnya? Peta bisa dibuat dalam jangka waktu jauh lebih singkat dan saya bisa membuat rinci sampai ke lekuk pulau terumit dengan bagus. Tugas saya selalu dipuji guru dan semua teman saya iri. ūüėÄ Jadi bila ada yang bilang menjiplak itu curang, ya, saya mengakui, itu memang cara curang dan sayalah pelakunya. ūüėõ

Walaupun demikian, saya tidak bisa memungkiri fakta bahwa menjiplak membawa keuntungan tersendiri. Pertama karena klinik ini adalah sebuah sanggar maya, aktifnya di internet. Murid-murid kursus privat yang saya adakan pun hanya ada dua orang yang bisa melakukan kursus dengan tatap muka, sisanya harus kursus via Whatsapp karena mereka tinggal di Jakarta, Yogyakarta, bahkan di Papua. Dalam kasus seperti itu, masalah proporsi dan kemiripan obyek bisa dilampaui dengan cepat lewat cara menjiplak. Dan hasilnya? Para murid kelas pemula mendapatkan dorongan semangat yang luar biasa. Mereka seringkali tidak menyangka bisa menghasilkan karya sebaik itu dalam waktu singkat. Dalam belajar, semangat itu nilainya besar sekali.

Dalam mengajar, saya tidak akan mengajarkan keterampilan apapun yang belum saya kuasai secara maksimal, karena itu saya belum bisa mengajarkan live drawing/painting, dengan model hidup yang duduk di tengah studio, dikelilingi siswa. Lagipula hal itu tidak bisa dilakukan via Whatsapp/internet, harus dengan tatap muka. Saya sendiri ingin sekali melakukan praktik tersebut, saya sedang berusaha mengorganisasinya bersama teman-teman saya, para pencinta seni lukis klasik. Jadi, mohon beri saya waktu untuk belajar dulu. Kelak, pada saatnya, saya percaya saya pasti bisa menguasai keterampilan ini dan membagikannya pada Anda semua. Sementara itu, bila Anda berminat, silakan baca tip dan trik mengobservasi wajah lewat acuan fotografi melalui tautan ini: Teknik Observasi.

Maka bila Anda lebih suka mengobservasi foto acuan hanya dengan bola mata saja‚ÄĒtidak dengan cara menjiplak‚ÄĒsilakan. Namun mohon diingat, bila hasilnya masih kalah bagus dengan karya yang menggunakan teknik jiplak, Anda tidak bisa mengajukan alasan itu sebagai pembelaan.

“Maaf, karya Anda tidak diterima pameran karena wajahnya tidak mirip Papa Trejo. Ini sih mirip hansip di RW saya.”
“Tapi, Pak, saya melakukan observasi langsung, tidak menjiplak. Hargailah niat dan usaha hamba.”

Dunia tidak akan peduli Anda menjiplak atau tidak, yang penting hasilnya bagus. Bila yang digambar adalah wajah, ya harus mirip, dong. Proporsi harus benar, dong. Apalagi kalau menjiplak. Masa sudah menjiplak tapi masih tidak mirip juga? Itu kan keterlaluan. Maka bila Anda menjiplak, pastikan hasilnya mirip. Bayangkan kalau Anda menerima pesanan lukisan dari orang lalu hasilnya malah mirip tetangga. Nanti nggak dibayar, lho. Nah, selain masalah kemiripan obyek yang mendominasi lomba ini, masalah proporsi juga bisa dipecahkan dengan menjiplak. Saya menyarankan Anda untuk menjiplak, caranya mudah sekali.

Pertama, print foto acuan yang Anda inginkan lalu gosok dengan pensil 8B di bagian belakangnya. Beri kelebihan 5mm dari obyek sehingga tidak ada bagian yang tidak tertutupi arsiran.

Kedua, taruh kertas gambar Anda di bawah print out yang sudah digosok pensil 8B lalu kunci dengan selotip, supaya tidak geser. Sesudah itu, garisi bagian pentingnya dengan menggunakan ballpoint bermata keras.

Voila! Setelah selesai, Anda akan mendapatkan hasil jiplakan seperti ini. Partikel grafit dari foto acuan Anda akan pindah ke kertas gambar. Mudah, bukan?

Dengan begitu, masalah proporsi dan kemiripan obyek bisa dipermudah dan dipercepat. Ada banyak cara menjiplak dan Anda bisa membaca dua artikel ini untuk mempelajarinya: Menjiplak Foto & Menjiplak Foto Ukuran Besar di Atas Kanvas. Walaupun begitu, bila Anda bersikukuh untuk tidak menjiplak, saya angkat jempol. Ayo belajar sama-sama, saya juga ingin melatih observasi bola mata saya sampai akurat. Kesalahan proporsi atau ketidakmiripan obyek itu memang tidak bagus, tapi solusi jangka pendeknya mudah. Jiplak aja. Saya harap pada lomba-lomba yang akan datang, akan ada peningkatan dari segi proporsi dan kemiripan obyek.

Rinci & Karakter

Sekarang, lihatlah karya-karya dalam kelompok kelima ini:

Edy Setyawan, 26 Tahun, Malang

Neysa Carmenita, 15 Tahun, Bekasi, Jabar

Ida Bagus Made Pandit Parastu, 27 Tahun, Bali

Eko Ariandono, 45 Tahun, Cimahi, Bandung

Ahmad Faiz Fuady Pramodana, 19 Tahun, Lumajang, Jawa Timur

Karya-karya dalam kelompok kelima ini memiliki nilai lebih tinggi daripada karya-karya di kelompok sebelumnya. Hal itu mencakup rinci dan karakter. Wajah Papa Trejo itu menarik bagi saya. Sejak 2012, bahkan sebelum klinik ini berdiri, wajah Danny Trejo, tokoh antagonis dalam film-film Hollywood ini, sudah menjadi foto acuan dalam berbagai macam kursus yang saya adakan. Itu saya lakukan karena dua hal.

Pertama, wajah Papa Trejo penuh tekak-tekuk maskulin. Tekukan-tekukan itu bisa membuat kasus cahaya menjadi ekstrim dan dengan begitu, mudah untuk dikerjakan oleh siswa pemula. Bayangkan kalau siswa pemula harus menafsirkan foto wajah aktris Korea yang halus mulus, perbedaan gelap-terangnya benar-benar tipis dan tidak banyak petunjuk dalam wajah untuk dimanfaatkan saat mengobservasi. Akan sulit sekali jadinya. Karena itu, wajah yang penuh tekak-tekuk seperti wajah Papa Trejo, termasuk wajah orang tua keriput secara umum, sebenarnya lebih mudah untuk ditafsirkan menjadi gambar oleh siswa pemula. Yang membuat kita berpikir bahwa mengerjakan wajah seperti itu akan sulit adalah rincinya yang banyak dan rumit itu.

Kedua, justru kerumitan tingkat tinggi yang ada pada wajah Papa Trejo ini bisa dimanfaatkan oleh para siswa yang sudah mahir untuk meningkatkan realismenya ke aras yang lebih tinggi. Dengan begitu, wajah Papa Trejo unik karena ia bisa dikerjakan oleh oleh semua siswa, dari mulai kelas pemula, lanjutan sampai mahir. Di sisi lain, wajahnya juga menyeramkan dan sangat berkarakter. Saya mengharapkan karakter ini bisa ditangkap oleh para peserta lomba, tapi jangan sampai menghilangkan kesempatan bagi karakter personal mereka untuk muncul. Saya tidak akan membahas soal karakter personal karena saya berkeyakinan, itu bukan hal utama dalam proses belajar. Bila Anda sudah berkiprah sebagai perupa profesional, ya, itu hal penting, tapi tidak dalam lomba ini. Anda cukup membuka daftar penilaian dan melihat, berapa nilai yang Anda dapat dalam kategori ini. Bila nilainya di atas 3.0, bagus. Bila kebalikannya, tenang saja, belajar realisme itu seperti lari marathon, bukan sprint. Dengan usaha yang cukup, pada saatnya nanti, karakter Anda akan muncul dengan sendirinya.

Mengenai rinci itu sendiri, saya tidak punya terlalu banyak tip dan trik kecuali disiplin observasi. Bila sebelumnya saya meminta Anda untuk memicingkan mata supaya bisa melihat blok gelap-terang secara general, dalam pembuatan rinci, mata Anda justru harus terbuka. Bila Anda mengerjakan rinci, Anda sebaiknya memastikan bahwa secara keseluruhan, gelap-terangnya sudah benar. Para seniman hiperrealisme sering menggunakan sistem grid untuk mengejar rinci tingkat dewa. Ini adalah teknik yang serupa dengan cara para astronom untuk menghitung jumlah bintang di langit. Sistem grid digunakan di banyak sekali cabang keilmuan, termasuk seni rupa. Sistem ini memungkinkan observasi yang teliti. Anda bisa menggunakan sistem grid untuk menjiplak foto acuan sejak awal, atau bila tidak, gunakan plastik transparan untuk memecah kerumitan wajah Papa Trejo sehingga rincinya bisa dikejar sampai ke tahap yang tidak masuk akal. Saya pribadi bukan perupa yang terobsesi pada rinci, hiperrealisme bukan gaya saya. Dalam lomba tahun ini juga tidak ada yang mencapai tahap tersebut terutama karena foto acuan yang medium shot, dibuat dari jarak agak jauh. Teknik hiperrealisme lebih cocok digunakan untuk mengejar rinci hanya pada bagian wajah Papa Trejo saja. Namun itu semua bukan masalah, pada kelompok karya yang terakhir ini kita masih tetap bisa mengapresiasi mutu karya yang rata-rata bagus di setiap kategori.

Pada akhirnya tibalah waktunya bagi saya untuk menentukan 10 karya terbaik dalam lomba ini. Pada titik inilah saya mengalami kesulitan saat menilai. Saya bolak-balik menghitung ulang penilaian saya dan membanding-bandingkan lebih dari 20 gambar di papan tulis besar di rumah saya supaya bisa melihat dengan akurat. Pada titik ini pula saya merasa menyesal karena saya harus mengatakan bahwa karya-karya yang ada dalam kelompok kelima ini tidak terpilih menjadi 10 karya terbaik dalam lomba tahun ini. Alasannya bisa Anda pelajari dengan melihat langsung karya para pemenang. Karya-karya yang ditayangkan berikut ini adalah karya-karya yang terpilih menjadi 10 karya terbaik dalam Lomba Gambar Papa Trejo 2018. Klinik Rupa dr. Rudolfo dan Buku Mojok mengucapkan selamat pada Anda semua! Mohon periksa email Anda pada hari Senin pagi, pukul 09:00 WIB, karena Anda akan menerima email dari saya untuk konfirmasi penerimaan hadiah. Selamat, ya! ūüôā

Nur Shadiqin, 28 Tahun, Makassar

Marcelina Jovanka Angelina, 16 Tahun, Tangerang, Banten

Fitri Pebrianty, 19 Tahun, Kab. Bandung, Jabar

Dhany Nurhidayat, 19 Tahun, Majalengka, Jabar

Verent Tjoa, 15 Tahun, Jambi

Linna Oei, 40 Tahun, Lubuk Linggau, Sumsel

Micky Yudistira, 38 Tahun, DKI Jakarta

Wisnu Gumilar Pamungkas, 30 Tahun, Tasikmalaya, Jabar

Puji Hasiono, 28 Tahun, Kebumen

Muhammad Al Hafiz, 19 Tahun, Ciamis, Jabar

Epilog

Untuk Anda yang tidak terpilih, terutama yang ada di kelompok kelima, jangan kecil hati. Karya Anda tidak buruk, malah karya-karya Anda nyaris merebut gelar karya terbaik. Perbedaan antara para juara selalu tipis, artinya: dengan sedikit polesan saja, karya Anda tentu tambah bercahaya saking bagusnya. Lain dari itu, masih akan ada banyak lomba lain sampai satu tahun ke depan dengan hadiah yang tidak kalah menarik. Para sponsor sudah menunggu. Untuk mengetahui nilai yang Anda dapat dalam lomba tahun ini, juga untuk mengetahui secara persis: pada aspek mana kelebihan dan kekurangan Anda berada, silakan klik tautan ini: Penilaian Lomba Gambar Papa Trejo 2018. Anda akan bisa melihat bahkan para juara pun memiliki kelemahan yang harus ditingkatkan.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari lomba ini adalah:

  1. Realisme bisa dipelajari oleh siapa saja, di usia berapa saja, asal punggungnya masih normal (karena akan banyak duduk), mata masih awas (walaupun berkacamata) dan tangan tidak mengalami resting tremor (bergetar saat otot sedang rileks).
  2. Bila karya Anda tidak terpilih, itu bukan berarti martabat diri Anda lebih rendah daripada mereka yang karyanya terpilih. Apabila kekalahan atau kegagalan selalu mengusik jiwa Anda, silakan baca artikel yang menyoal perihal tersebut melalui tautan berikut ini: Tentang Perfeksionisme.
  3. Mereka yang terpilih dalam lomba ini adalah mereka yang telah menginvestasikan waktunya lebih lama dan berusaha lebih keras dalam berlatih. Bila Anda berusaha seperti mereka, sudah sewajarnya bila karya Anda juga mampu menyamai kecanggihan karya mereka.
  4. Keterampilan realisme tingkat dewa, seperti yang ditunjukkan oleh para maestro seni lukis Eropa pra-1800-an memang tidak mudah untuk dicapai, tapi bukannya mustahil. Mereka sama-sama manusia seperti kita. Apabila ada api menyala-nyala dalam diri Anda, bahan bakar untuk sebuah visi jauh ke depan: ingin jadi seorang maestro, tetap ikuti Klinik Rupa dr. Rudolfo. Jalan menuju kepakaran tidak mudah dan sepi, namun dengan berjalan bersama-sama, kita akan mampu mencapai tujuan kita.
  5. Untuk Anda yang bercita-cita ingin menjadi penerus Raden Saleh, stay close!

Lomba Gambar Papa Trejo 2018 disponsori oleh Klinik Rupa dr. Rudolfo dan Buku Mojok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s