Merentang Kanvas Lukis

Teman-teman, hari ini saya merentang kanvas lukis di atas spanram yang sudah selesai dirakit kemarin. Saya juga bermaksud membagi proses kerja ini supaya lengkap kontennya. Hanya saja kalau membuat kanvas sendiri dari kain mentah sih saya belum ada rencana bikin, ya. Soalnya saya nggak pernah bikin kanvas sendiri, selalu beli kanvas jadi yang sudah siap lukis. Saya biasa beli kanvas siap lukis yang dijual gulungan. Nah, ini dia kanvas yang biasa saya pakai:

Ini adalah kanvas gulungan merk V-tec. V-tec adalah merk art material dari Surabaya, dan konon kanvas gulungan ini diimpor dari RRC/Taiwan lalu diberi merk V-tec. Kanvas gulungan ini saya beli dari Toko Diva di Jl. ABC, Bandung. Menurut penjualnya, ini adalah kanvas dengan kain campuran katun-polyester dengan komposisi 30%-70%. Informasi ini belum saya cek ulang, jadi saya tidak tahu kebenarannya sejauh mana. Kalau saya keliru mohon dikoreksi, ya. ๐Ÿ™

Kanvas V-tec ini sudah diberi ground dan dilapisi gesso siap lukis. Sudah beberapa tahun saya pakai kanvas ini saya tidak ada komplain, tuh. Kanvasnya oke, tidak perlu dilapis gesso ulang soalnya tidak saya tidak pernah mengalami sinking. Sesuai keterangan, kanvas ini berukuran 2,1×20 meter. Jadi kalau mau dipakai tinggal diukur lalu dipotong. Terakhir saya beli (September, 2019), kanvas ini harganya Rp.4,5juta per gulung, jadi jatuhnya Rp.225ribu/meter. Untuk orang yang sering melukis di kanvas ukuran agak besar seperti saya, lebih enak beli kanvas gulungan begini soalnya praktis. Mau melukis tinggal potong saja. Masalahnya kanvas ini sekarang sudah kosong, di Toko Diva sudah tidak dijual lagi karena barangnya sudah tidak ada. Yang ada merk Xpression, ukuran 2,1×10 meter, harga Rp.4,9juta. Dua kali lebih mahal daripada V-tec.

Selain merk V-tec ini masih ada kanvas gulungan dari merk lain yang lebih bagus dan lebih mahal, misalnya merk Talens dari Belanda, atau Claessens dari Belgia yang berbahan linen. Kanada dan RRC adalah negara penghasil tanaman Flax (Linum usitatissimum) terbesar di dunia, tapi pengolahan batang Flax untuk dijadikan benang dan kain linen yang terbaik dilakukan di Belgia. Linen Belgia sejak zaman dahulu adalah linen terbaik untuk kanvas lukis. Kanvas merk Talens atau Claessens harganya bisa mencapai Rp.10-16juta untuk satu gulung berukuran 2,1×10 meter. Jadi harganya antara 4 sampai 7 kali lebih mahal daripada V-tec. Kalau yang harganya 2 kalinya V-tec ada juga, bahan linen dari RRC, temen saya pernah beli dari AliExpress. Bagus juga, saya sudah liat kanvasnya. Itu linen betulan, walaupun tidak ada merknya.

Sekarang saya akan mulai bekerja. Untuk merentang kanvas ini ke spanram yang sudah saya buat kemarin, saya menggunakan alat-alat ini:

1) Penggaris besi. 2) Sarung tangan. 3) Paku sepatu. 4) Ballpoint. 5) Palu. 6) Spantang. 7) Gunting. 8) Spacer

Yang bisa saya jelaskan dari alat-alat yang saya pakai ini adalah sebagai berikut. Pertama, paku sepatu ini ukurannya 3/4 inch, saya beli di Tokopedia, harganya tidak mahal. Tidak seperti paku ukuran kecil biasa, warnanya hitam, dan bentuknya bukan silinder tapi persegi panjang. Ini sebenarnya adalah upholstery tack, yaitu jenis paku yang digunakan untuk sol sepatu, pemasangan jok pada sofa, dsb. Seperti ini foto close-upnya:

Kedua, spantang adalah tang yang digunakan khusus untuk merentang kanvas. Tang ini terbuat dari aluminum cetak, sudah lama sekali saya gunakan. Merknya Maries, dulu beli di Semarang, harganya Rp.125ribu. Terakhir, yang disebut spacer adalah selembar grey board dengan ketebalan 3mm yang saya gunakan untuk mengukur jarak antar paku. Lebarnya 12cm, Anda akan lihat nanti penggunaannya.

Yang pertama saya lakukan adalah memastikan setiap sisi dan sudut spanram dihaluskan dengan amplas. Jangan sampai ada ujung tajam, soalnya berbahaya. Kain kanvas kan nanti akan ditarik, kalau kena ujung tajam bisa sobek. Sesudah saya haluskan seperti ini, spanram aman untuk dilapisi kanvas. Selain itu supaya tidak keliru, kita harus selalu pastikan bahwa kanvas dipasang di sisi spanram yang melekuk ke dalam seperti yang terlihat di foto berikut ini.

Profil kayu spanram memang selalu melekuk ke dalam seperti ini. Gunanya supaya kain kanvas tidak menyentuh kayu di sisi depan, walaupun kena tekanan dari kuas saat kita melukis. Bagian kayu spanram yang mengenai kain kanvas hanya bagian samping dan belakangnya saja, bagian depan tidak. Di bagian sampingnya, kayu spanram ini memiliki ketebalan 4cm. Sekarang saya akan mengukur kain kanvas untuk dipotong. Saya berusaha mengukur setepat mungkin, supaya rapi dan tidak membuang bahan.

Pertama, lihat dulu kanvas ini. Di tepiannya ada bagian yang tidak terlapisi ground dan gesso. Bagian ini akan saya buang, jadi kanvas yang saya gunakan benar-benar hanya yang warnanya putih pekat itu saja. Saya harus mengukur di sisi belakangnya.

Nah, garis di sebelah kiri saya buat 4cm dari tepian kiri kanvas. Itu akan saya buang. Setelah itu saya membuat garis kedua di sebelah kanan 7cm dari garis pertama. Begitu pula dengan sisi atas. Saya memberi jarak 7cm. Itu adalah bagian kain yang akan saya tarik ke belakang spanram, tempat saya memasang paku nanti.

Saya harus membuat garis dengan ukuran yang sama di sekeliling kain kanvas yang akan saya rentang. Spanram saya berukuran 140x140cm, jadi setelah mengukur dan menggaris di sisi kiri dan atas, saya menaruh spanram di atas kain yang saya bentangkan di lantai, lalu membuat ukuran.

Saya tinggal rapatkan aja spanram saya ke sisi kiri atas. Sesudah itu saya gunakan spanram sebagai penggaris, lalu membuat garis panduan yang saya butuhkan seperti ini:

Nah, kalau sudah ada garis panduan seperti ini, pengukuran jadi sangat akurat karena kanvas diukur persis sesuai dengan ukuran spanram. Saya tinggal menambahkan 7cm di sisi bawah dan sisi kanan. Maka garis panduan saya pun selesai. Namun sebelum saya potong, saya memberi tanda pada sisi atas seperti ini:

Tanda ini berguna sebagai patokan saya saat merentang kanvas nanti. Nah, sesudah pengukuran selesai, kanvas pun saya gunting. Karena sudah ada garis panduan, saya benar-benar memotong sesuai yang saya butuhkan. Selain rapi, cara seperti ini juga tidak membuang bahan.

Setelah kain digunting, saya punya sisa kain dengan ukuran 54x210cm. Lumayan lah, bisa dipakai untuk kanvas board ukuran kecil nanti. Spanram sudah bisa saya taruh di atas kain dan saya mulai memasang paku yang pertama. Paku yang pertama adalah paku di bagian tengah yang bertanda “top” tadi.

Keberhasilan dalam merentang kanvas adalah murni soal distribusi tegangan, ini sih seperti membuat drum. Tegangan harus dibuat rata di seluruh bagian dan tidak boleh kendor. Menarik kanvas harus pakai perasaan, tidak bisa main tarik dengan brutal, nanti kainnya bisa sobek. Apalagi kain katun yang tipis, itu mudah sekali sobek. Kita harus hati-hati.

Tarik dulu kain pada titik tengah terlebih dahulu, lalu pasang pakunya. Jadi kita selalu mulai dari titik tengah dulu, ya. Mau di bagian kiri, kanan, atas, atau bawah, kita selalu mulai pasang paku persis di tengah-tengah. Setelah memasang paku di tengah, baru kita memasang paku di sisi kiri dan kanannya. Di sinilah kita akan membutuhkan spacer.

Grey board ini berukuran lebar 12cm. Setelah memasang paku pertama di tengah, saya memasang grey board ini di tengah paku lalu memberi tanda di sisi sebelahnya. Dengan begitu saya punya patokan: jarak antar paku adalah persis 12cm. Ini akan membuat kanvas terlihat rapi karena jarak antar paku selalu sama, tapi selain itu jarak yang sama juga akan membuat tegangan pada kain kanvas menjadi relatif sama. Ini akan membuat kanvas kita terpasang dengan ketegangan yang merata.

Nah, supaya tegangan menjadi rata, saya biasa memasang paku dengan urutan sesuai dengan nomor yang terlihat pada gambar di bawah ini. Sekilas memang agak memusingkan, tapi sebenarnya tidak. Kita hanya perlu memasang paku: satu di kiri, satu di kanan, lalu pindah sisi, dan ulangi. Makin lama paku makin lebar ke luar sampai akhirnya sampai ke sudut spanram. Gambar di bawah ini juga menunjukkan arah tarikan spantang kita.

Karena kita selalu mulai memasang paku di tengah spanram, maka tarikan spantang harus kita arahkan ke sudutnya. Makin dekat dengan sudut, tarikan spantang harus makin mengarah ke sudut. Dengan begitu kita membuat bagian tengah kanvas menjadi rata, jangan sampai ada lipatan kain di tengahnya. Menarik spantang itu tidak hanya bisa lurus, agak miring sedikit juga bisa, tapi tetap harus pakai perasaan, ya. Jangan sampai sobek kainnya. Setelah memasang paku dengan berurutan sehingga tegangan menjadi rata, akhirnya kita tiba di sudut spanram dan kita harus membuat lipatan.

Sengaja saya pasang gambar jadinya dulu. Ini dia lipatan yang kita inginkan. Kita ingin lipatan kita bersih, tidak ada bagian kain yang menjulur ke luar. Untuk itu akan ada bagian kanvas yang harus digunting. Kalau tidak digunting, nanti kelebihan kainnya akan menjulur ke luar dan itu kelihatannya jelek. Guntinglah bagian ini sebelum melipat dan memasang paku terakhir:

Nah, bagian ini harus digunting sedikit supaya tidak ada kain menjulur saat kita membuat lipatan sudut. Sesudah keempat sudut kita bereskan, maka kanvas pun selesai. Dekatkan telinga Anda ke permukaan kanvas lalu ketuk bagian tengahnya. Bila tegangan Anda sempurna, kanvas Anda akan bergema seperti drum. Itu tanda tegangan kanvas Anda bagus. Walaupun demikian, selain keterampilan Anda merentangkan kain kanvas, ada hal lain yang mempengaruhi ketegangan kanvas.

Kayu bisa mengalami susut-muai tergantung suhu dan kelembapan relatif di ruangan. Bila suhu dan kelembapan di ruang kerja Anda fluktuasinya cukup ekstrim, hindari merentang kanvas di tengah hari saat suhu sedang tinggi. Dulu waktu bekerja di Ungaran, bagian pendoponya tidak berplafon, tapi langsung rangka atap dan genting. Di siang hari saat musim panas saya bisa mandi keringat saat bekerja di sana. Karena suhu sedang tinggi, kain kanvas yang saya pasang pada siang hari menjadi kendor di malam hari. Itu karena kayu spanram saya memuai di siang hari dan menyusut di malam hari saat suhu turun. Akhirnya saya menggeser jam kerja saya. Saya pasang kanvas saat suhu sudah turun, sekitar jam 5 sore. Dengan begitu kanvas saya tetap kencang baik siang maupun malam. Siang lebih kencang sih, yang pasti kanvas saya tidak pernah kendor.

Sebetulnya kalau kita menggunakan spanram dengan sistem pasak seperti yang bisa digunakan di Eropa/Amerika, kanvas kendor bukan masalah. Tinggal dipukul sedikit aja pasaknya di semua sisi, nanti kanvas akan kencang lagi. Saya juga kurang tahu kenapa spanram dengan sistem pasak seperti itu kurang populer di Indonesia. Apa karena biaya produksinya lebih mahal? Coba nanti saya cari tahu. Saya juga ingin coba pakai spanram dengan sistem pasak, itu spanram knockdown, tidak membutuhkan sekrup sama sekali.

Sebagai seorang yang dulunya selalu minta tolong tukang untuk merentang kanvas, menurut saya merentang kanvas sendiri tidak terlalu merepotkan. Lama-lama terbiasa. Yang agak lama itu membiasakan diri untuk menarik kainnya, lainnya sih tidak susah. Saya bisa cukup menikmati prosesnya. Bila Anda kurang menikmati, bukan masalah, panggil tukang saja. Cara pasang ini sebenarnya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Palingan cuma kelihatan lebih rapi aja karena kain digunting mengikuti garis panduan dan paku dipasang per 12cm, dengan begitu bahan juga tidak ada yang terbuang. Bila Anda suka, silakan dicoba. Terima kasih sudah membaca sampai tamat dan selamat merentang kain kanvas sendiri. ๐Ÿ˜Š

2 thoughts on “Merentang Kanvas Lukis

  1. wah saya juga punya pertanyaan yang sama juga pak tanto. Kenapa Spanraam dengan sistem pasak tidak lumrah digunakan di indonesia ? menarik juga itu kalau dibahas hehehe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s