Kota Kita

macetSeorang kawan dari Belanda yang sudah lebih dari 7 tahun tinggal di Indonesia saya tanya, apakah dia rindu Amsterdam? Jawabnya tidak. Seorang kawan di Singapura, kota yang saya kagumi karena keteraturan dan ketertibannya, mengatakan bahwa Singapura adalah kota yang membosankan. Kami sedang berkendara di jalanan Singapura dan ketika berhenti di perempatan, saya bilang, “Nah, kalau di Bandung, mobil ini pasti sudah dihampiri pengemis dan pengamen.” Lalu dia bilang, “Bagus itu, seru.” Aneh sekali. (Gambar berasal dari blog ini)

Tema Jakarta Biennale XIV tahun 2011 (Maximum City: Survive or Escape?) mengambil inspirasi dari buku Maximum City: Mumbai Lost & Found, karya penulis India Sukethu Mehta yang tinggal di New York City sejak 1977. Buku ini menjadi salah satu nominasi penghargaan Pulitzer tahun 2005. Dalam buku ini, Mumbai dipandang sebagai sebuah kota yang tumbuh begitu pesat dan begitu meraksasa, sampai tidak bisa mendukung kehidupan di dalamnya dengan layak. Masalah sosial bertebaran di mana-mana dan semua nampak menuju pada suatu ledakan tertentu di masa datang. Jakarta berusaha dilihat dari perspektif ini.

Saya tidak pernah menyukai Jakarta sebagai tempat tinggal. Cuaca Jakarta terlalu panas, terlalu sumpek, sekarang macetnya seperti neraka, dan sebagainya. Tapi sebetulnya Bandung pun sudah tidak nyaman lagi ditinggali. Seorang teman bahkan mengatakan, Bandung sebenarnya lebih tepat dilihat sebagai sebuah maximum city daripada Jakarta. Ya, tentu, mengapa tidak?

Beberapa saat yang lalu saya baru pulang dari Yogyakarta, setelah lima tahun tidak mengunjungi kota tersebut, untuk menyiapkan karya untuk Yogya Biennale XI. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika duduk di taksi, apalagi ketika mengarungi sebagian wilayah kota dengan berjalan kaki, adalah: sepeda motor bertambah banyak dan bertambah ngebut! Dulu yang saya ingat, sepeda motor di Yogyakarta tidak terlalu banyak dan tidak ngebut. Sekarang sama sekali berbeda. Seorang supir taksi mengatakan pada saya, itu ulah para pendatang. Mereka maunya ngebut di jalanan dengan sepeda motor dan orang Yogya pun akhirnya ikut-ikutan.

Di jalan dekat rumah saya, Jl. Sunda, lalu lintas selalu ramai dan antrian kendaraan bisa begitu panjang ketika kereta api melintas. Tapi karena ada lampu merah di perempatan sebelumnya, jalan ini memiliki jeda kosong beberapa detik. Barangkali sekitar 30 detik, sebelum akhirnya ramai kembali. Jalan ini seperti bernapas. Menarik napas selama 30 detik, lalu menghembuskan ratusan mobil, sepeda motor, becak, gerobak dagangan dan sepeda bermenit-menit kemudian.

Dulu Simpang Dago setiap pagi menjadi pasar tradisional dan pedagang pasar mengambil setengah jalan. Sesudah jam 7 pagi para pedagang berangsur-angsur hilang, digantikan pedagang makanan yang memenuhi tepian jalan. Digabung dengan Angkutan Kota yang selalu berusaha mengambil penumpang, kemacetan tak terhidarkan.

Demikian pula Jakarta. Di pagi hari jutaan manusia masuk ke tengah dan keluar di sore hari. Populasi penduduk selalu bergerak seperti pergerakan bursa saham, seperti napas kita dan pada akhirnya kita bisa melihat kota sebagai organisme dengan suprastruktur yang luar biasa.

Kita manusia terbiasa membuat personifikasi dari apa saja. Kita menganggap binatang sebagai manusia, menganggap Tuhan sebagai manusia, kita pun menganggap kota sebagai manusia. Bisa bernapas, bisa sakit, demam, berkeringat dan dengan demikian, suatu saat bisa mati. Semua kota punya masalahnya sendiri-sendiri. Jutaan warga yang tinggal di dalamnya pun punya masalahnya sendiri-sendiri, kenangan-kenangannya sendiri. Orang datang dan pergi, ada yang kembali sementara orang-orang tertentu tidak pernah kembali lagi. Kenangan singgah dan hilang.

Apa yang membuat kita bertahan di tempat tinggal kita sekarang? Apakah Anda mencintai tempat tinggal Anda? Kota Anda? Mengapa tidak pindah ke tempat yang lebih baik? Kawan saya, seorang seniman dari Filipina berkata dengan tegas, ia benci Manila. Manakala ada kesempatan untuk pindah ke tempat yang lebih baik, ia akan tanpa ragu melakukannya.

Menghadapi pertanyaan yang sama, sepintas, saya kira jawaban saya sama dengan kawan saya tadi. Saya benci Bandung untuk banyak hal. Tapi seperti bagaimana kita membenci sesama manusia, kadang-kadang saya perlu mengakui bahwa Bandung pun masih punya keindahan-keindahan khasnya sendiri yang tidak akan pernah saya temui di tempat lain. Sebagian dari diri saya pun tidak mau kehilangan itu. Dan, seindah  apapun tempat yang saya kunjungi, saya selalu merasa jauh dari rumah. Saya cinta dan benci Bandung, relationship status: complicated. Kalau saya sedang berhadapan dengan  kekacauannya, saya benar-benar ingin pindah. Tapi saya kira, setelah di sini nyaris seumur hidup saya, bila saya pindah saya pasti akan mengalami kerinduan yang menyiksa. Barangkali selamanya. Maka seperti tema Jakarta Biennale: Maximum City: Survive or Escape? Di Bandung sih saya masih akan survive untuk beberapa waktu mendatang.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s