Kertas Aquarelle (bagian terakhir dari dua bagian)

“Winter White Peony” karya Jane Freeman

“Winter White Peony” karya Jane Freeman

Oke, sekarang diasumsikan kita ingin berkarya menggunakan kertas yang lebih bagus daripada HVS dan Padalarang. Kertas yang bagus itu banyak. Merknya beragam, jenisnya beragam, ketebalannya beragam, efeknya beragam dan harganya juga tentu beragam. Kertas yang pernah saya gunakan sebenarnya baru sedikit, seingat saya: Lana, Fabriano, Canson, Cotman, Rembrandt, Arches dan Montval. Kalau ada yang pernah pakai kertas jenis lain silakan posting, ya, di Holy Water. Silakan dibagi pengalamannya.

Walaupun ada berbagai merk, kertas cat air buatan mesin dibagi tiga jenis menurut bariknya. Ada yang kasar, ada yang sedang, ada yang halus. Yang bariknya kasar disebut rough. Yang bariknya sedang disebut cold-pressed. Yang halus disebut hot-pressed. Cara mudah mengingat ketiga jenis ini adalah dengan menggunakan analogi ‘baju kusut’. Dulu saat musim dingin di Belanda, baju berbahan katun yang baru kering sesudah dijemur pasti kusut dan keras (rough). Yang sudah diambil dari jemuran lalu ditumpuk di dalam keranjang sudah melembut dan tidak sekusut semula karena sudah dipegang-pegang tangan (cold-pressed), sementara baju yang sudah kena panas karena disetrika permukaannya halus (hot-pressed).

Kertas dengan jenis rough biasanya tebal. Satu-satunya kertas cat air jenis ini yang saya punya adalah Arches dari Arjo Wiggins, Perancis, ketebalannya 300 gsm. Kertas jenis ini permukaannya kasar seperti jalan aspal di depan rumah saya yang berlubang-lubang, hanya saja lubangnya teratur. Seperti jalan yang berlubang disiram hujan, kertas jenis rough akan terisi oleh genangan air dan ketika mengering, selain intensitas warna, juga ada barik yang tercipta karena kekasarannya. Kertas jenis ini kadang-kadang memberikan ‘kejutan’ karena genangan-genangan tinta ketika mengering memberikan efek yang tidak terduga.

 

Barik pada kertas jenis 'rough'

Barik pada kertas jenis ‘rough’

Efek 'wash' pada kertas jenis 'rough'

Efek ‘wash’ pada kertas jenis ‘rough’

Kertas jenis ini indah karena kasar dan tidak terduga, cocok untuk teknik wet-on-wet yang spontan. Sekedar catatan, wet-on-wet adalah teknik memulaskan warna kedua sebelum warna yang pertama mengering di atas kertas. Dengan begitu, pigmen akan tercampur membentuk sebuah percampuran sulit diduga kemana arahnya namun punya karakteristik yang khas. Efeknya mirip tie-dye pada pencelupan kain, tapi percampuran ini masih bisa kita manipulasi lagi. Makin basah lapisan warna pertama, makin liar percampurannya dengan warna kedua. Kertas jenis rough kurang cocok untuk gambar yang membutuhkan rinci yang kecil-kecil dan akurat.

Di ekstrim yang lain, jenis hot-pressed memiliki permukaan yang mulus sekali, hampir semulus kertas HVS. Karena kemulusannya, penyerapan kertas ini baik sekali dan memungkinkan membuat wash yang rata di bidang besar, misalnya warna lembayung pada langit dengan nuansa yang halus dari biru ke merah ke oranye. Bila ingin membuat efek logam dengan cat air, kertas ini cocok sekali. Berlawanan sifat denganrough, kertas jenis ini cocok untuk gambar yang membutuhkan rinci  kecil-kecil yang akurat. Membuat garis dengan pena juga mudah dilakukan karena permukaannya yang halus. Kertas hot-pressed cocok untuk menghasilkan karya cat air yang fotorealistik.

 

Karya Susan Harrison (rinci) pada kertas Arches hot-pressed 300 gsm

Karya Susan Harrison (rinci) pada kertas Arches hot-pressed 300 gsm

Di tengah-tengah ada kertas dengan jenis cold-pressed yang tidak sehalus hot-pressed namun juga tidak sekasar rough. Ini adalah jenis kertas yang paling populer di antara semua jenis kertas, baik pemula maupun pengguna tingkat mahir sering menggunakan kertas jenis ini. Kertas ini mewarisi kedua sifat saudara-saudaranya: bisa membuat nuansa yang cukup halus tapi masih mampu memberikan barik yang menarik pada warna. Rinci masih bisa dikejar pada kertas jenis ini tapi barangkali tidak terlalu kecil.

Kertas-kertas dari merk-merk ternama spesialis kertas biasanya sudah ‘bebas asam’. Kertas generik yang digunakan untuk keperluan sehari-hari biasanya diproduksi dalam jumlah besar dan untuk itu harus menggunakan bahan kimia. Bahan kimia menyebabkan kertas berubah warna, biasanya menguning, setelah beberapa tahun. Kertas cat air bermutu tinggi tidak menggunakan bahan kimia dan tidak diputihkan dengan klorin. Berbeda dengan kertas biasa untuk menulis, kertas cat air bermutu tinggi juga direndam dalam cairan gelatin sebelum akhirnya diangin-anginkan sampai kering. Ini membuat pigmen cat air tidak menyerap sepenuhnya ke dalam serat kertas dan menjadi pudar. Pigmen tetap berada ‘di atas’ serat kertas dan warnanya cemerlang walaupun sudah bertahun-tahun.

Pembahasan mengenai jenis-jenis kertas cat air tidak akan terlepas dari teknik memakai cat air, termasuk persiapan ketika hendak melukis seperti membasahi kertas dan menyegel setiap tepiannya. Tapi biar itu jadi pembahasan lebih lanjut di artikel yang lain. Sementara itu, silakan memilah-milih kertas yang paling cocok untuk Anda. Selamat berkarya. 🙂

 

One thought on “Kertas Aquarelle (bagian terakhir dari dua bagian)

  1. Pingback: Kertas Aquarelle (bagian pertama dari dua bagian) | Cakrawala Hartanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s