Hidup W123!

mercy_01Hari Minggu ini kebetulan cerah sejak pagi, indah sekali. Seperti biasa, setiap hari Minggu, jalan di depan rumah saya sepi. Mobil yang lalu-lalang jauh berkurang dan suara berisik yang biasa datang dari rumah dan gudang tetangga saya hilang, jadi hari Minggu pagi selalu tenang dan kalau cuacanya indah begini, kenikmatan hari Minggu pagi bertambah. Pagi-pagi saya mengajak Caka jalan-jalan sampai ke Jl. Asia Afrika karena Caka senang melihat mobil-mobil besar seperti mobil boks, truk, apalagi bis. Tapi ternyata di hari Minggu tidak banyak kendaraan-kendaraan besar berkeliaran. Yang ada tumpukan mobil yang parkir di sekitar gereja dekat rumah saya. Sepulang berjalan-jalan sambil menggendong Caka, saya mengajaknya mencuci mobil. Caka belum mandi jadi dia bisa main basah-basahan sambil mencuci mobil. Seperti biasa, Caka selalu bersemangat kalau bisa main air, apalagi kalau ada busa-busa sabunnya. Kami mencuci mobil kami satu-satunya, sebuah mobil tua tahun 1979, mobil kecintaan saya.

mercy_02Mobil ini adalah Mercedes Benz W123, sebuah ‘Mercy Tiger’ tahun 1979 tipe 200. Mobil antik yang sudah berusia lebih dari 30 tahun macam begini sering dianggap hanya dimiliki oleh para kolektor, tapi dalam kasus saya tidak begitu. Saya bukan kolektor mobil antik dan mobil ini bukan mobil kelas pameran, saya menggunakan mobil ini untuk transportasi sehari-hari. Dia juga bukan jenis yang terbaik di kelasnya, mesinnya belum menggunakan sistem injeksi, bahkan belum menggunakan teknologi power steering. Waktu saya mendapatkannya pertama kali, tahun 2009, mobil ini sudah berlubang beberapa bagian badannya. Lubang-lubang ini diperbaiki jadi catnya sudah tidak semuanya asli, sekarang cat tambahan itu sudah kelihatan mulai memudar. Cat dof mobil, bisa dilihat di foto ini, memiliki warna yang berbeda dengan badan mobil. Mobil ini sudah pernah turun mesin karena overheat dan seperti layaknya mobil tua, perawatan yang teliti dan teratur sangat dibutuhkan. Tapi lepas dari semua kekurangannya, saya sayang sekali pada mobil ini.

Sebenarnya saya membeli mobil ini untuk saya hadiahkan pada Ayah saya, tapi Ibu saya ternyata trauma pada mobil tua. Mobil tua kami dulu, VW Safari, kerjanya mogok melulu. Pernah dalam perjalanan ke Jawa Tengah, mobil itu mogok di tengah hutan jati di malam yang gelap. Jadi walaupun menurut saya mobil ini bagus sekali, Ibu saya tidak suka dan lebih memilih mobil baru yang ‘tidak ada masalah’. Akhirnya mobil ini jadi milik saya dan saya pakai terus sampai akhirnya saya jadikan sebagai salah satu mas kawin ketika saya & Fini menikah. Sampai sekarang kami masih selalu memakai mobil ini kemana saja, di dalam kota dan sekali-sekali ke luar kota.

mercy_03Sudah hampir 3 tahun saya menggunakan mobil ini dan bisa saya katakan, saya puas sekali. Saya bukan orang yang suka kebut-kebutan, walaupun mobil ini memiliki mesin 2000 cc tapi ini bukan mobil Jepang yang gasnya bisa ditancap dan langsung melesat. Kalau dipakai keluar kota sekalipun kecepatan maksimal saya batasi antara 80-100 km/jam. Dulu mobil ini mesinnya suka panas, penyakit mobil Eropa tua, tapi semenjak radiatornya dikuras, suhunya baik-baik saja. Dalam kondisi macet pun suhunya tidak melebihi 80°C. Mobil tua ini tidak hanya memiliki suspensi di kaki-kaki tapi juga di tempat duduk. Tempat duduknya diberi pegas seperti kasur spring bedsehingga ada sensasi ‘melayang’ ketika meluncur di aspal yang mulus, sebuah sensasi magic carpet ride kalau menurut istilah Rolls-Royce. Karena empuk sekali, mobil ini pasti limbung kalau dibelokkan pada kecepatan tinggi tapi kenyataannya saya tidak pernah berkendara terlalu cepat. Lain dari itu, mobil ini juga memiliki desain yang elegan dan klasik, melintasi masa. Proporsi hidung yang panjang mengesankan kecepatan. Tinggi badan yang rendah, garis horisontal di tepian tubuh, lekuk ban, termasuk rancangan lampu depan dan belakang bila dilihat dari samping, menurut saya cantik sekali.

mercy_04Saya bukan orang yang paham otomotif, saya tidak mengerti mesin, tapi saya usahakan untuk merawat mesin mobil ini sebaik mungkin. Untuk kasus mobil tua seperti ini, kalau kita ingin membuat mobil kita menjadi sebuah mobil yang sempurna, usaha yang harus dilakukan besar sekali. Usaha, waktu dan biaya, tepatnya. Saya tidak mampu kalau harus membuat mobil ini jadi sempurna, jadi itu bukan tujuan saya. Cukup sekedar bisa dipakai setiap hari, kapan saja saya perlu, tanpa masalah. Perawatan yang bisa dilakukan di rumah hanya berupa pemeriksaan air radiator dan oli mesin, memanaskan mesin setidaknya dua hari sekali dan selalu mencuci mobil termasuk menyemir ban sehingga selalu tampak hitam-mengkilat. Sesudah dicuci dan setiap kali habis keluar rumah, mobil saya selalu dibungkus selimut di garasi. Rumah kami berada di pinggir jalan, kalau sedang musim kering, mobil yang baru dicuci di pagi hari bisa berdebu tipis di siang hari walaupun diparkir di garasi. Tidak rela terpapar debu, mobil selalu saya tutup selimut. Setiap kali habis mencuci mobil, saya selalu meluangkan waktu barang satu jam untuk duduk-duduk di teras, minum kopi sambil mengagumi mobil tua kesayangan saya ini. Mobil yang bersih dan mengkilat sehabis dicuci, di hari Minggu yang cerah seperti ini, membuat hidup rasanya sempurna.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s