Gelap-Terang

Menerjemahkan fotografi menjadi sebuah karya cat air di atas kertas, atau dengan medium lainnya apapun itu, pada prinsipnya adalah masalah menafsirkan cahaya, masalah gelap-terang. Fotografi kadang-kadang disebut juga sebagai sebuah seni ‘melukis dengan cahaya’. Seperti mata kita, lensa kamera adalah alat optik dan fungsinya hanya satu: menangkap pantulan cahaya. Tentu saja lensa kamera tidak berpikir seperti kita. Ia tidak tahu dan tidak peduli tentang fakta bahwa bentuk di dalam gambar adalah seraut wajah, wajah itu sedang tersenyum, memakai topi, lalu di sampingnya ada sebatang pohon, dan sebagainya. Lensa kamera hanya menangkap pantulan cahaya tersebut dan menghasilkan sebuah citra. Dalam pakem seni lukis tradisional Venezia, seni mengkomposisi gelap-terang dalam lukisan disebut chiaroscuro. Dalam langgam realisme, seorang pelukis harus mengulang-ulang kasus gelap-terang di banyak karya sampai ia mencapai sebuah skill dan kepekaan tertentu soal gelap-terang. Hal ini penting karena penempatan gelap-terang yang tepat akan membangun sebuah ilusi tiga dimensi yang meyakinkan.

Dalam melukis secara fotografis, pada tahap pertama ada baiknya kita untuk sejenak berpura-pura ‘menjadi lensa kamera’. Tidak usah pedulikan bentuk apapun yang ada di dalamnya. Tidak usah pedulikan apakah itu wajah, hidung, bibir, topi, pohon, dan sebagainya. Lihatlah foto yang akan kita gambar semata-mata sebagai bidang-bidang, petak-petak dengan gelap-terang yang berbeda-beda. Contohnya seperti foto sebuah topeng kuno peninggalan Bangsa Maya di bawah ini:

shapeimage_2Sekarang, kita lihat, bagian mana saja dari foto ini yang memiliki bidang paling gelap? Bila dilihat baik-baik, sebenarnya tidak pernah ada satu bidang pun yang memiliki intensitas cahaya yang sama. Memang sama-sama gelap, atau sama-sama terang, tapi dari satu bidang ke bidang lain intensitasnya berbeda-beda. Nah, ini adalah tantangan pertama. Tugas kita adalah mengelompokkan mereka. Sekarang saya akan mewarnai bagian yang paling gelap dulu, dari situ saya akan bergerak ke arah bidang-bidang lain yang lebih terang.

shapeimage_3
Dalam melukis cat air, kita bisa bekerja ‘dari terang ke gelap’ atau ‘dari gelap ke terang’. Untuk memudahkan melihat bentuk 3 dimensi dari foto ini, saya isi dulu bagian yang menurut saya paling gelap. Bagian gelap ini tersebar di seluruh bagian foto dan saya kerjakan sebagai satu kelompok. Artinya, saya melukis dengan intensitas cahaya yang sama atau tepatnya: dengan intensitas warna yang sama di atas kertas. Sesudah ini saya lakukan dan saya yakin cat di atas kertas sudah kering, saya mulai mencari daerah-daerah intensitasnya kedua paling gelap dan melapiskan lapisan kedua. Ini adalah teknik ‘basah-di-atas-kering’, teknik yang baik untuk mendefinisi bentuk dan membuat rinci.

shapeimage_4
Di sini saya juga mulai menggunakan warna. Saya ikuti warna paling dominan dari suatu daerah tertentu, misalnya di daerah wajah coklat dan di tengah mahkota ungu. Pada tahapan ini, tidak seperti lapisan yang pertama, intensitas warnanya tidak sama tapi itu tidak masalah, yang penting sekarang definisi bentuk 3 dimensinya jadi lebih terlihat, bukan?

Dalam gambar ini, intensitas cahaya terbagi menjadi tiga. Yang pertama adalah yang paling terang (disebut: highlight. Dalam gambar ini, daerah yang paling terang adalah warna kertas putih yang tidak diberi cat), yang paling gelap (disebut: shadow) dan di antara keduanya adalah nada-tengah (disebut: mid-tones). Pada tahapan ini sebenarnya bentuk 3 dimensi foto ini “sudah jadi” tapi tentu kita belum, puas, bukan?

shapeimage_5
Lapisan ini dan beberapa lapisan berikutnya terkonsentrasi pada mid-tones karena bagian inilah yang paling banyak. Saya bekerja pada satu bidang dengan membandingkannya dengan bidang ‘tetangganya’. Bila cat saya terlalu kental, saya langsung menekannya dengan kertas tisu. Pada tahapan ini, bentuk 3 dimensi sudah semakin jadi dan saya tidak perlu lagi bekerja hanya dari gelap-ke-terang. Saya bisa bekerja dari gelap-ke-terang dan sebaliknya, tergantung daerah yang saya kerjakan.

Ketika banyak bidang sudah terisi, pada akhirnya kita selalu melakukan koreksi. Yang belum gelap harus dipergelap lagi. Hindari kesalahan dengan mewarnai suatu bidang menjadi terlalu gelap. Kertas tisu membantu bila kita melakukan kesalahan.

shapeimage_6Karena bangunan 3 dimensi dari foto ini sudah semakin terbentuk, saya bisa mulai berkonsentrasi pada warna tanpa melupakan gelap-terangnya. Cat air, bila dikerjakan dengan teknik basah-di-atas-kering, akan membentuk kombinasi warna dengan cara ditumpuk lapis-demi-lapis. Jadi, untuk memberi kesan ‘hangat’ pada daerah-daerah tertentu, saya memberi warna kuning yang kelak akan ditimpa dengan warna berikutnya. Warna kuning itu akan berubah bila sudah ditimpa, tapi kesan hangatnya akan tetap tinggal.

Pada tahapan ini, saya masih melakukan koreksi. Yang kurang gelap dipergelap dan bagian yang sudah gelap saya perhatikan lagi. Bila masih ada yang kurang gelap, saya tambah lagi dengan lapisan berikutnya. Maka demikianlah. Pembagian besar diikuti dengan pembagian kecil dan seterusnya.

shapeimage_7

Saya menambah warna coklat-merah di daerah wajah untuk memperkuat kesan warna gerabah dan warna kuning yang semula begitu menyala kini meredup karena ditimpa warna berikutnya. Sekali lagi harus diingat bahwa suatu warna ditimpakan hanya saat warna sebelumnya sudah kering. Dengan demikian warna tidak akan tercampur. Warna berdiri sendiri-sendiri tapi transparansi membuat tumpukan itu menghasilkan warna baru.

shapeimage_8

Saya menambah warna coklat-merah di daerah wajah untuk memperkuat kesan warna gerabah dan warna kuning yang semula begitu menyala kini meredup karena ditimpa warna berikutnya. Sekali lagi harus diingat bahwa suatu warna ditimpakan hanya saat warna sebelumnya sudah kering. Dengan demikian warna tidak akan tercampur. Warna berdiri sendiri-sendiri tapi transparansi membuat tumpukan itu menghasilkan warna baru.

Ini adalah tahapan terakhir dari contoh gambar yang saya buat malam ini. Kalau mau diteruskan lagi sebenarnya masih bisa, tapi saya harap enam langkah ini sudah cukup untuk memberikan gambaran bagaimana menerjemahkan sebuah foto menjadi sebuah karya cat air. Bila Anda suka, silakan save setiap gambar dan simpan dalam sebuah folder, lalu animasikan langkah-langkah ini untuk memberikan gambaran lebih baik. Selamat mencoba! 🙂

One thought on “Gelap-Terang

  1. Pingback: Kelas Cat Air Tobucil & Klabs 2014 | Cakrawala Hartanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s