Flow

nus_workshopBila kita menuliskan frasa ‘flow’ di Wikipedia, kita akan masuk ke sebuah halaman disambiguasi. Ada banyak halaman yang menerangkan tentang kata tersebut tapi yang menarik untuk saya adalah flow dalam istilah psikologi. Walaupun terminologi ini menarik bagi saya, seorang seniman, sebenarnya ini berlaku bagi siapa saja. Flow adalah rahasia di balik semua pencapaian hebat di dunia ini.

Dulu saya pernah kost selama 3 tahun di daerah Bukit Dago Utara. Kebetulan, rumah yang saya tinggali adalah kediaman almarhum Prof. Sudibyo P.R., guru besar arsitektur ITB. Rumah ini istimewa. Bukan hanya karena lingkungannya yang asri dan dari balkon belakang kita bisa melihat pemandangan lembah bersawah dan bukit hijau di kejauhan, tetapi ada sebuah studio yang cukup besar berisi ribuan piringan hitam, CD dan pita rekaman jazz koleksi beliau. Di luar pekerjaannya sebagai seorang arsitek dan pengajar, beliau adalah seorang pecinta musik jazz, ahli sejarah jazz, penyiar radio yang memandu acara “The History of Jazz” di radio KLCBS Bandung sekaligus seorang audiophile. Dan bukan hanya seorang audiophile biasa, beliau merakit alat-alat audionya sendiri. Sungguh mengagumkan. Bahkan sesudah beliau wafat, bila seseorang berkesempatan untuk masuk ke ruangan tersebut, ia masih akan bisa merasakan gairah dan kecintaan yang luar biasa pada musik jazz dan audio.

Prama, anak bungsu Prof. Sudibyo, sekaligus bapak kost saya, menceritakan bahwa begitu hari-hari kerja usai menjelang akhir pekan, beliau akan ‘menghilang’ di dalam studionya. Beliau akan asyik sendiri sampai lupa waktu. Saya ingat, di antara tumpukan audio speaker, sofa, di balik rak berisi barisan piringan hitam, ada sebuah ruangan sempit di pojok. Ruangan itu buntu, di ujungnya ada sebuah meja kerja kecil dan di sampingnya ada rak plastik berisi berbagai macam komponen elektronik kecil-kecil. Ada solder, ada tang kecil, ada gunting, ada lampu. Saya membayangkan, di sudut inilah beliau menghabiskan berjam-jam merakit barang-barang elektroniknya, lupa waktu, lupa makan, lupa pada dunia dan tenggelam dalam keasyikannya sendiri. Sungguh sebuah kondisi yang membuat saya iri. Ini adalah flow.

Mihály Csíkzentmihályi (dibaca: ‘Mihai Chiksentmihayi’), seorang profesor psikologi asal Hungaria yang mengajar di Universitas Claremont, Amerika Serikat, selama bertahun-tahun melakukan riset psikologi yang berpusar pada tema ‘kebahagiaan’ dan ‘kreativitas’. Beliau adalah orang yang secara ilmiah berargumentasi bahwa orang tidak boleh dipaksa, orang harus memilih bidang yang disukainya supaya bisa menikmati hidup. Yah, ini bukan hal baru, kita semua sudah tahu. Tapi beliau lebih jauh memaparkannya dalam kajian ilmiah pada tahun 1990 berjudul “Flow: Psikologi Pengalaman Paripurna”.

Dalam kajian ini beliau memaparkan bahwa seseorang akan mengalami kebahagiaan yang paling tinggi saat mengalami flow, yaitu sebuah konsentrasi tingkat tinggi pada apa yang dilakukan sehingga hal lain jadi tidak berarti sama sekali. Kondisi ini ditandai dengan hadirnya perasaan terlarut secara total pada apa yang dikerjakan, keterpautan, pengkayaan batin dan hadirnya keterampilan tingkat tinggi. Ciri-ciri lain adalah  kesadaran akan waktu, kebutuhan akan makan, bahkan ego-pribadi luruh, hilang. Kita menjadi penuh tenaga, tak kenal lelah, kita menjadi sangat fokus, menjadi single-minded. Yang bekerja bukan hanya mata, tangan, kaki, atau panca indera kita, tetapi seluruh tubuh, pikiran dan jiwa kita hadir di saat yang bersamaan. Kita melakukan suatu hal semata-mata karena melakukannya, tidak memikirkan hasilnya akan seperti apa. Kita benar-benar hadir pada momen tersebut. Tindakan, gerakan dan pikiran muncul dan saling bertautan dengan harmonis, “Persis seperti memainkan musik jazz!” papar Prof. Mihály dalam wawancaranya di Majalah Wired. Prof. Sudibyo bukan pemain jazz, tapi ia mengalami flow yang sama dengan para pemain jazz saat menekuni hobinya. Itulah maksud saya.

Saya yakin, Anda pasti pernah mengalami flow, apapun bentuknya dan betapapun singkatnya. Dalam penelitiannya, Prof. Mihály mendapatkan banyak komentar yang mendukung. Mendiang pembalap F1 asal Brazil, Ayrton Senna, dalam pacuan kualifikasi Monaco 1988 menjelaskan, “Saya sudah berada di depan dan saya terus melaju. Tiba-tiba saya berada lebih cepat hampir dua detik di depan semua orang, termasuk kawan satu tim yang mengendarai kendaraan yang sama. Dan tiba-tiba saya menyadari bahwa saya tidak berkendara secara sadar. Saya mengendarainya dengan insting, hanya saja saya berada di dimensi lain. Rasanya seperti berada dalam sebuah terowongan.” (terjemahan cepat dari Wikipedia).

Demikianlah, ada banyak sekali contoh kondisi flow yang terjadi, termasuk yang terjadi pada kita. Improvisasi seorang musisi jazz, permainan sepakbola, bermain video game, melukis, membaca buku, menulis blog, membaca blog, chatting, memasak, saat beraksi sebagai stand-up comedian, penceramah keagamaan atau orator politik, banyak sekali. Saya mengalami flow dari waktu ke waktu tetapi terputus-putus atau waktunya pendek-pendek, tetapi pengalaman yang paling baru dan kebetulan paling berkesan adalah saat saya bermain video game, sebuah kegemaran yang mendarah-daging sejak kecil.

Saat itu tahun 2009 dan saya baru beres pameran tunggal. Pameran berikutnya masih lama dan saya tidak punya pekerjaan yang harus diselesaikan cepat. Kamar saya di rumah kost Prof. Sudibyo sudah saya renovasi supaya enak. Saya memasang televisi di dinding, dengan sound system yang lumayan dan saya baru dapat Fallout 3, sebuah sequel dari video game yang saya mainkan sejak tahun 1997. Dan saya pun bermain dengan tenang dan senang. Saat itu musim hujan, jadi sering sekali di luar hujan besar sementara saya bermain dengan nyaman di dalam kamar. Indah sekali. Saya punya asisten pribadi yang bisa menyediakan semua kebutuhan saya, termasuk menyiapkan makan, jadi saya bahkan tidak perlu keluar kamar. Saya dekatkan kursi sofa saya ke depan televisi dan saya main terus selama dua minggu lebih.

Fini, waktu itu kami masih pacaran, sempat marah-marah karena saya tidak mau telepon-teleponan. Dia masih kerja di Jakarta dan hanya pulang di akhir pekan jadi biasanya kami selalu saling menelepon. Ketika Fini pulang ke Bandung, saya menjadi tidak sabar ingin segera main. Saya main dari siang sampai subuh lalu nyetir dari Dago ke Kopo, menjemput Fini lalu mengantarnya ke Pasteur untuk naik mobil travel ke Jakarta. Pulang dari situ saya mampir ke McDonald Setiabudhi untuk membeli makanan-minuman, lalu main lagi sampai jam 8 pagi saat saya sudah mengantuk sekali, lalu tidur. Saya bangun lagi tengah hari lalu main lagi. Saya bahkan bermain sambil makan. Saat Fini tidak ada di Bandung saya main lebih lama lagi dan tanpa gangguan. Benar-benar sebuah flow yang paling intens yang pernah saya alami. Coba kalau itu terjadi saat saya melukis, saya mungkin sudah menghasilkan magnum opus. Hingga saat ini, pengalaman bermain video game yang paling indah bagi saya adalah saat-saat itu. Saya merasa benar-benar hidup sebagai karakter di dalam video game tersebut, saya terlibat secara emosional. Dan bisnis video game memang menjual flow, permainannya sendiri hanya media. Sama seperti bisnis nikotin, rokok hanya medianya.

Konsep ini cukup baru di dunia Barat tapi di Timur tidak. Ini konsep yang sudah dikenal selama ribuan tahun dalam praktik agama Hindhu, Buddha, Tao, juga Islam. Konsep ‘menjadi satu’ dengan obyek meditasi sudah lama dipraktikkan dan ada latihannya. Yoga, yang secara harfiah kurang-lebih berarti ‘penyatuan’, pun memiliki aspek yang sama. Para ahli bela diri di Jepang memiliki istilah ‘mushin‘ yang kurang-lebih berarti ‘tanpa pikiran’. Ini adalah sebuah kondisi mental yang disiapkan menjelang pertempuran. Bila Anda seorang penggemar kisah-kisah samurai seperti saya dan membaca buku Musashi karya Eiji Yoshikawa, di sana dikisahkan bahwa Musashi berhasil mengalahkan 70 orang musuh dalam sebuah pertempuran menentukan yang akhirnya meruntuhkan Perguruan Yoshioka. Dalam pertempuran itu digambarkan bahwa Musashi hanya ‘bertindak‘ dan tidak berpikir. Ia terpaksa menggunakan kedua bilah pedangnya, sebuah aksi yang tidak lazim pada masa itu, namun gerakannya tidak ada yang mubadzir dan ia akhirnya mencapai tahap ‘sepi ing pamrih’, hanya bertindak dan tidak memikirkan hasilnya. Jelas, ini adalah gambaran mengenai flow menurut gambaran Csíkzentmihályi: resiko tingkat tinggi diimbangi dengan skill tingkat tinggi.

Sebagai seorang seniman saya sedikit-sedikit pernah mengalami flow saat berkarya tapi tidak pernah ada yang intens. Pada masa-masa saya kesulitan berkonsentrasi saat berkarya, saya benar-benar mengidamkan flow. Sampai sekarang itu belum terjadi, saya harap itu akan segera terjadi dan saat terjadi, saya harap itu akan bertahan lama. Saya rela membayar apa saja supaya saya bisa mengalami flow yang intens saat berkarya, pasti nikmat sekali rasanya. Bagi Anda yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang flow, silakan buka Wikipedia. Di sana paparannya jauh lebih lengkap dan mendalam. Siapa tahu, seperti saya, ini adalah apa yang Anda cari selama ini. Apapun pekerjaan atau hobi Anda, saya berharap Anda bisa menemukan cara untuk terjun dan larut ke dalam flow Anda dan mendapatkan kebahagiaan yang penuh makna.

One thought on “Flow

  1. Pingback: Mana yang Lebih Penting: Bakat atau Jam Terbang? | Cakrawala Hartanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s