Hasrat & Kebahagiaan

slavoj_zizekPandangan hidup saya tiba-tiba terguncang dan berubah gara-gara sebuah video berdurasi 2 menit. Tapi ini bukan tragedi, ini justru menyenangkan saya. Saya hanya kaget sendiri karena sudah lama tidak ada hal seperti ini terjadi pada saya, semacam pencerahan kecil di hari-hari pindahan. Video itu adalah paparan singkat Slavoj Žižek, filsuf kontemporer dan ahli teori budaya dari Slovenia, tentang hasrat dan kebahagiaan. Saya melihat video itu di YouTube, lewat tautan yang diunggah dalam status kawan saya di Facebook. Demi mendengar klaim Beliau, seketika saya terdiam dan kata-katanya berdengung di kepala saya sampai berhari-hari, “We don’t really want what we think we desire.”

Saya merenungkan hal tersebut karena saya merasakan hal itu ada benarnya, saya punya beberapa pengalaman hidup yang tiba-tiba jadi terjelaskan. Sebenarnya ini bukan persentuhan pertama saya dengan gagasan tersebut, Žižek juga bukan yang pertama yang mengatakan hal itu, saya mencatat sebuah dialog dalam film The Life of David Gale yang diperankan Kevin Spacey, saat ia memberi kuliah filsafat di sebuah kelas di University of Texas:

“You get Lacan’s point. Fantasies have to be unrealistic because the moment, the second that you get what you seek… You don’t, you can’t want it anymore. In order to continue to exist, desire must have its object perpetually absent. It’s not the IT that you want, it’s the FANTASY of it. So, desire supports crazy fantasies. This is what Pascal means when he says that we are only trully happy when we’re daydreaming about future happiness. Or why we say the hunt is sweeter that the kill. Or, be careful what you wish for, not because you’ll get it, because you’re doomed not to want it once you do. So the lesson of Lacan is: living by your wants will never make you happy. What it means to be fully human is to strive to live by ideas and ideals, and not measure your life by what you attained in term of your desires but those small moments of integrity, compassions, rationality, even self-sacrifice. Because in the end, the only way that we can measure the significance of our own life is by valuing the lives of others.”

Saat menonton filmnya, saya terdiam dan mengulang-ulang adegan tersebut beberapa kali untuk merenungkannya. Gagasan yang hebat, saya pikir waktu itu, tapi saat itu bagi saya masih abstrak. Sesuai kebiasaan, kutipan yang menarik akan saya catat dan saya kirimkan lewat e-mail pada diri saya sendiri sehingga kapan saja saya ingat, saya bisa mencarinya. E-mail kutipan tersebut tertanggal 27 Oktober 2010. Hampir dua tahun kemudian saat menonton video 2 menit dari Žižek, tiba-tiba semua menjadi jelas di kepala saya. Ini menjadi jelas karena pengalaman hidup saya selama dua tahun terakhir ini. Saya pernah begitu menghasratkan sesuatu dan ketika hal itu saya dapatkan, hidup saya menjadi hampa. Hidup saya bahkan lebih menderita dibandingkan dulu, saat saya belum memiliki obyek hasrat saya tersebut. Aneh juga mengetahui ada pencerahan di sela-sela kehebohan pindah rumah. Saya tahu tahun ini adalah tahun penting bagi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s