Tiba di Ungaran

rumah_mapaganSudah hampir dua minggu kami tinggal di Ungaran. Rumah sudah berfungsi secara maksimal dan rapi kecuali gudang, di sana masih banyak dus yang harus dibongkar satu-persatu untuk dikelompokkan barang-barangnya dan disimpan. Studio saya juga sudah mulai terisi barang, sudah mulai bisa melukis di kanvas-kanvas kecil, sementara sisa barang yang banyak sekali akan saya bawa sekaligus minggu ini dari gudang ke studio. Akhirnya setelah dua minggu aktivitas rumah tangga dan pekerjaan sudah mulai bisa dilakukan. Selama masa ini pula saya berbaur dan memerhatikan lingkungan di sekeliling saya.

Saya tidak mengenal seorang pun di Ungaran kecuali satu-dua orang di studio tapi ternyata bahkan dari hari pertama kedatangan kami, saya sudah punya teman-teman baru. Kami langsung disambut tetangga, satpam kompleks dan tidak lama kemudian Pak RT mampir dan menyapa keluarga kami. Dalam seminggu kenalan kami sudah cukup banyak melingkupi tetangga yang punya anak kecil di beberapa blok, bagian keamanan dan orang-orang yang bertugas di kantor pemasaran kompleks, penjual minuman galon dan gas elpiji, petugas PT Telkom dan tukang sayur kompleks. Saya bisa katakan, orang-orang di lingkungan kami cukup ramah dan terbuka. Di sisi lain mereka juga cukup punya individualisme sehingga jarak aman antara setiap insan maupun keluarga cukup terjaga. Pada kesan pertama saya menyukai kolektivisme berbatas seperti ini.

Ungaran hanya sebuah kota kecil yang berpenduduk sekitar 150.000 jiwa, jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan Semarang. Kota ini mulai berkembang karena harga tanahnya masih murah, orang-orang yang merasa biaya hidup di Semarang sudah semakin mahal pindah ke sini. Sebagai sebuah kota, fasilitasnya cukup lengkap, hanya saja tidak sebesar dan secanggih Semarang. Kami baru saja menemukan sebuah toko swalayan yang besar namun tua, masuk ke dalamnya seperti masuk mesin waktu dan keluar di tahun 1980-an. Toko unik macam itu harus bersaing dengan toko swalayan modern yang jauh lebih besar dan mengilap  dengan tempat parkir luas berjarak satu-dua kilometer jauhnya. Alun-alun besar adalah lapangan kecil yang dipenuhi penjaja makanan selepas senja. Kios-kios dadakan yang agak kumuh yang menjual macam-macam penganan diimbuhi suara musik pop Padang dari kios sebelahnya sembari dilalui delman tua, becak dan kendaraan-kendaraan baru, sepeda motor dan mobil yang bersih berkilauan. Kontras macam itu banyak sekali bisa dijumpai di sini sehingga kita bisa merasakan sebuah suasana peralihan, masa lalu dan masa depan terjadi bersamaan di hari ini.

Sementara di Bandung saya begitu membenci lalu-lintasnya yang nyaris selalu macet, di sini saya dipaksa untuk sangat waspada. Lalu-lintas Ungaran lancar, bahkan sangat lancar sehingga hampir semua kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Saya ingat bertahun-tahun lalu saat dengan Rp. 500.000 orang bisa membayar uang muka dan membawa pulang sepeda motor untuk dicicil tiga tahun, Bandung tiba-tiba dibanjiri oleh pengendara pemula. Orang-orang yang belum berpengalaman mengendarai sepeda motor ini mudah sekali dilihat gerak-geriknya, bahasa tubuhnya menyiratkan itu dengan jelas. Mereka selalu ragu saat harus mengambil keputusan cepat di keruwetan persimpangan, berjalan perlahan di sebelah kanan lajur, atau memotong jalan tanpa melihat kiri-kanan. Di sini tidak begitu. Di pagi hari yang cerah di jalanan desa, saya melaju 70 km/j dengan sepeda motor saya dan diklakson dari belakang lalu disalip dengan cepat oleh sepeda motor yang dikemudikan oleh seorang ibu berjilbab yang diboncengi anak perempuannya yang akan berangkat ke sekolah. Saya tidak pernah mengalami hal seperti itu di Bandung.

Perjalanan naik sepeda motor dari Ungaran ke Semarang menempuh jarak sekitar 18 km melalui jalan antar kota yang lebar. Jalanan ini dipenuhi bis dan truk raksasa yang lambat, mobil ukuran sedang yang melaju cepat dan sepeda motor yang melesat seperti roket. Pengendara sepeda motor di sini mengagumkan saya. Laki-laki perempuan sama saja, mereka bukan pengendara pemula, mereka pengendara tingkat mahir dengan jam terbang tinggi. Yang tidak ngebut hanya mereka yang membawa anak-anak. Jalur lalu-lintas di Ungaran sederhana, kota ini dibelah dua oleh jalan antar kota yang besar, ramai dan dipenuhi kendaraan-kendaraan besar. Sayap Timur dan Barat jalan utama tersebut adalah jalan desa yang lebih kecil dan dikuasai sepeda motor. Jalan utama dan jalan desa sama-sama cepat dan berbahaya namun di satu sisi itu menggairahkan. Saya lebih menyukai jalanan yang seperti ini daripada kemacetan perkotaan.

Beberapa ruas jalan desa memiliki pemandangan yang menyejukkan mata. Sungai, jembatan dan persawahan, bukit hijau dipenuhi pepohonan tinggi. Itu menyenangkan karena membuat saya merasa betul-betul tinggal di desa. Itu pun terasa oleh Fini dan Caka. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Caka melihat kerbau yang besar-besar sedang merumput di bagian kompleks yang masih kosong. Kami belum sempat menjelajah daerah ini lebih jauh karena masih disibukkan dengan penataan rumah dan studio, tapi bila waktu sudah mengijinkan, Caka akan melihat lebih banyak lagi. Di sini Caka juga senang karena punya banyak teman. Karena di kompleks perumahan ini banyak keluarga muda seperti kami, anak kecil usia 0 – 10 tahun banyak sekali. Hampir setiap sore Caka diajak jalan-jalan keliling kompleks oleh Fini dan bertemu dengan teman-temannya. Caka tidak sedikit-sedikit minta digendong seperti biasa karena tahu jalanan aman dari kendaraan. Fini pun sudah mulai punya beberapa teman, sesama ibu muda.

Bab kehidupan kami baru dimulai, seperti alinea pembuka yang dicetak miring. Yang kami rasakan adalah kegairahan karena kami selalu disibukkan oleh urusan mengurus rumah, mengatur ini-itu, bersosialisasi dan menemukan tempat dan hal-hal baru. Memasuki bulan Ramadhan ini, saya berharap sudah bisa mulai berkarya di akhir minggu depan. Rumah sudah nyaman, saluran telepon dan internet sudah terpasang, mobil tua kami sudah diperbaiki, sekarang dalam kondisi prima dan siap dipakai kapan saja. Sekarang tinggal melupakan segalanya dan tenggelam saat berkarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s