Jalan Lingkar Ambarawa

lingkar_ambarawaWalaupun saya sudah mulai bisa mengemudikan mobil saat SMA, saya baru memiliki mobil sendiri tahun 2009. Sebelum itu saya naik sepeda motor selama 10 tahun dan sebelumnya saya naik angkutan umum selama 16 tahun. Saya sudah kenyang naik angkutan umum yang dikemudikan oleh sopir-sopir tembak dengan seenaknya, saya juga sudah kenyang kepanasan, kehujanan dan disemprot asap hitam knalpot bis kota. Jadi sebenarnya sekarang saya sedang senang-senangnya mengendarai mobil.

Waktu kami kecil keluarga kami biasa pulang mudik ke Desa Margasari di Kabupaten Tegal, kampung halaman ayah saya, juga ke banyak obyek wisata di Jawa Tengah. Kami naik mobil butut rame-rame, kadang-kadang mobilnya mogok di jalan, kadang-kadang kepanasan karena mobilnya tidak berpendingin, saat kehujanan mobilnya bocor. Walau begitu, perjalanan ke luar kota di masa kecil begitu membekas sehingga saat keluarga kecil kami pindah ke Ungaran, saya tahu inilah saatnya untuk memuaskan hasrat mengendara saya. Hari Selasa lalu adalah pengalaman saya yang pertama mengemudi antar kota sendirian dan sebagaimana layaknya hasrat yang terpuaskan, saya benar-benar menikmati perjalanan tersebut. Dan mahkota kenikmatan perjalanan tersebut adalah seruas jalan sepanjang 7,3 kilometer yang baru diresmikan Menteri Pekerjaan Umum pada hari Senin, 23 Juli, lalu: Jalan Lingkar Ambarawa (JLA).

JLA adalah salah satu dari tiga paket pembangunan jalan di Jawa Tengah, dua yang lain adalah jalur Boyolali-Kartosuro dan jalur Magelang-Kepekan, yang menghabiskan biaya total Rp. 346 milyar. Visi besar pembangunan tiga jalur alternatif ini adalah menyediakan sarana transportasi yang memadai untuk memperlancar lalu-lintas dan meningkatkan arus wisata ke Jawa Tengah untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat. Tujuan praktis dari JLA sendiri adalah untuk mengurai kemacetan yang setiap hari terjadi di Ambarawa dan menjelang Lebaran jalur-jalur ini diharapkan bisa membantu mengurangi kemacetan arus mudik dan arus balik.

lingkar_ambarawa_05Dari Semarang ke arah Yogyakarta, jalur JLA dimulai sesudah Simpang Bawen sepanjang 7,3 km sampai Banyukuning. Rute akan diteruskan melalui jalan biasa ke arah Selatan menuju Yogyakarta melewati kota Magelang.

JLA menjadi istimewa karena kesederhanaannya. Jalan ini tidak sangat lebar, hanya 11 meter yang dibagi dua lajur kendaraan. Di sebelah kiri dan kanan jalan hanya ada jalan tanah yang mengering selebar 2 meter dan tonggak beton yang dicat putih-hitam sepanjang jalan. Namun karena masih baru, warna gelap aspal hotmix dibingkai warna tanah kering dan tonggak beton yang berjajar rapi memanjang sampai menghilang di cakrawala, digabung dengan warna alam yang lembut sungguh menyejukkan pandangan. Karena JLA melintasi jalan-jalan desa, perkebunan, persawahan, danau dan pegunungan di cakrawala, saya jadi paham, kenapa bagi anak-anak TK dan SD di Jawa, gambar pemandangan klasik adalah cakrawala, dua buah gunung, matahari, jalan raya dan sawah di kiri kanan. Gambar di atas dengan segera menunjukkan citraan aslinya, dengan latar belakang Gunung Telomoyo dan Gunung Merbabu. Bagi saya, mantan orang kota yang tidak pernah melihat cakrawala, berada di sebuah tempat yang begitu lapang dan terbuka terasa ‘membebaskan’.

lingkar_ambarawa_04

Seperti terlihat di peta, JLA tidak lurus namun membusur dalam jalur yang melingkar di luar kota Ambarawa, menghubungkan Semarang dengan Yogyakarta dengan melewati 5 sungai kecil dan memiliki 5 jembatan. Di sebuah sudut desa, terlihat sebuah benteng peninggalan jaman kolonial, Benteng Willem I. Benteng tersebut sudah begitu tua, dipenuhi lumut dan pepohonan, menjadi salah satu saksi sejarah pertempuran antara Tentara Keamanan Rakyat dengan tentara Sekutu yang diboncengi tentara NICA, berakhir dengan kemenangan TKR mengusir Sekutu-NICA dari Magelang melewati Ambarawa dan berakhir di Semarang. Dan tentu saja, pemandangan yang paling monumental di ruas JLA adalah lanskap maha-luas dari Rawa Pening, danau buatan jaman kolonial yang membentang sepanjang cakrawala. Sayang sekali walaupun dua foto di atas memotret Rawa Pening dan persawahan luas di sekitarnya, kamera saya tidak mampu menangkap keindahan pemandangan tersebut. Anda harus berada sendiri di sana untuk bisa menikmatinya. Rawa Pening yang luas dengan latar belakang barisan pegunungan di belakangnya benar-benar luar biasa. Orang banyak yang berhenti untuk berfoto di tempat berpemandangan indah ini.

Pembangunan jalan yang memakan waktu bertahun-tahun ini tentu dirayakan oleh para penduduk desa sekitarnya. Dalam perjalanan pulang dari Yogya ke Ungaran, di sore hari menjelang waktu buka puasa saat hawa terasa lebih sejuk, ratusan orang, kebanyakan generasi muda, berkumpul dan bercengkerama di tepi jalan dan jembatan. Puluhan sepeda motor yang sudah didandani sedemikian rupa melaju bolak-balik dikendarai para bujang untuk mengesankan para gadis yang berkumpul berkelompok-kelompok, tertawa-tawa saling menggoda. Mengingat desa mereka untuk beberapa tahun menjadi kotor dan berisik, penuh debu karena pembangunan, sudah selayaknya mereka merasa bahwa JLA adalah milik mereka. Saya tidak tahu apakah akan ada perubahan sosial yang berarti dengan berfungsinya JLA melewati desa-desa tersebut.

lingkar_ambarawa_03

Ketika saya membayangkan berkendara di Jawa Tengah, yang saya bayangkan adalah mengendarai mobil saya sendiri, sebuah mobil antik Mercedes Benz W123 tahun 1979. Maaf kalau saya terdengar terlalu bangga pada mobil saya ini tapi secara spesifik saya mengacu pada sistem suspensinya. Karena selain sistem suspensi pada kaki-kaki mobil ini juga punya pegas di semua kursi, pada saat-saat tertentu dalam kondisi tertentu, kita bisa merasakan sebuah sensasi ‘melayang’. Pada saat mobil melaju pada kecepatan sekitar 80-90 km/j di jalanan mulus, sedikit saja gerakan dari kemudi akan menyebabkan sebuah ayunan vertikal yang lembut di seluruh badan mobil. Ayunan ini disebabkan oleh peredaman getaran dua kali. Ini semua menyebabkan sensasi melayang yang sungguh nikmat rasanya. Pabrik mobil terkemuka Rolls-Royce dengan tepat membuat istilah ‘magic carpet ride’ untuk sensasi seperti ini. Dari pengalaman saya berkendara, sensasi tersebut terasa sangat kuat pada saat melintasi JLA. Bukan hanya sangat kuat, imbuhan pemandangan yang indah dan udara segar dari kaca jendela yang dibuka, membuat sensasi dan kenikmatan berkendara berlipat-lipat rasanya.

Namun sekuat apapun saya berusaha menggambarkan JLA, paparan dan tangkapan kamera saya tidak akan pernah mampu menandingi perasaan bila berada in situ. Maka bila Anda kebetulan ada di Jawa Tengah, mengendarai kendaraan sendiri dan harus bergerak antara Yogya-Semarang, saya menyarankan untuk mencoba JLA. Seperti biasa, kita tidak pernah tahu sampai kapan mutu jalan seperti ini akan bertahan, bisa jadi dengan volume kendaraan yang tinggi, satu tahun lagi JLA sudah mulai rusak. Tapi setidaknya pemandangan yang indah akan tetap berada di sana dan nampaknya waktu terbaik untuk melintasi JLA adalah pagi hari antara jam 06.00 – 10.00 WIB. Saat itu cahaya matahari belum terlalu terik dan kendaraan yang lalu-lalang tidak terlalu banyak. Sore hari JLA lebih padat dan truk penuh muatan yang berjalan (sangat) lambat benar-benar mengganggu pengalaman berkendara. Kini atau nanti, selamat menikmati Jalan Lingkar Ambarawa. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s