Menjelang Pameran

les_chiffresMalam ini saya berangkat ke Bandung, naik kereta Harina, kereta langganan saya kalau pulang-pergi Bandung-Semarang sejak beberapa tahun lalu. Saya membawa beberapa karya cat air, karya-karya terakhir yang akan dibingkai lalu dipamerkan di pameran duet saya dan Aminudin T.H. Siregar di Balé Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space (14-30 Desember 2012). Sayang sekali Fini tidak bisa ikut, lebih tepatnya: lebih baik tidak ikut. Caka sudah 2 tahun 7 bulan, usianya dan masih minum ASI. Sebenarnya minum ASI hanya 10% barangkali, sisanya hanya untuk comfort. Karena itu kami memutuskan untuk mulai menyapih Caka. Kami sadar saat Caka disapih, dia pasti mengamuk dan waktu yang dipilih adalah saat saya tidak ada di rumah. Saya sering kesal kalau mendengar Caka merengek-rengek dan jadi ikut marah-marah. Jadi lima hari saya di Bandung akan digunakan Fini sebagai kesempatan untuk menyapih Caka.

Selain pameran, saya tidak punya jadwal lain di Bandung. Hanya berkumpul dengan keluarga dan teman-teman. Saya ingin nonton beberapa film yang tidak sempat saya tonton di sini. Karena Caka masih terlalu kecil dan tidak bisa berpisah dengan ibunya, saya tidak tega meninggalkan mereka berdua di rumah sementara saya menonton film. Terakhir saya nonton film di Bandung, bersama teman-teman dari Tobucil, nonton film “The Raid”, film laga buatan Indonesia yang tiba-tiba menjadi pujaan semua pecinta film laga di seluruh dunia, termasuk saya. Film yang ceritanya tidak terlalu bagus, tapi laganya luar biasa. Brutal dan panjang, hampir tanpa jeda. Saya puas sekali nonton film itu. Sekarang ada beberapa film yang memang rencananya ingin saya tonton di Bandung, mumpung jauh dari anak-istri.

Kembali ke Bandung sesudah 5 bulan, saya menyiapkan diri untuk kehujanan dan terjebak kemacetan, terutama karena saya kunjungan saya jatuh di akhir pekan. Tapi saya juga tahu, selain dari itu ada imbalan kumpul-kumpul dengan teman-teman, ngopi di tempat baru, mengobrol sepuas-puasnya, nonton film dan wisata kuliner di Bandung. Fini secara khusus minta oleh-oleh batagor. Di Ungaran ternyata tidak ada tahu yang enak, kami kangen tahu yang enak seperti di Bandung. Begitulah nasib diaspora kecil-kecilan seperti kami. Kangennya sama makanan. Barangkali suatu saat kalau lebih santai, saya bisa ajak Fini dan Caka main lagi ke Bandung tapi belum tahu kapan persisnya.

Masuk tahun 2013 saya tidak punya jadwal. Ini kesempatan langka dan saya bisa berkarya dengan fokus tanpa diburu-buru target mengingat saya akan memulai seri karya yang baru yang berpusar di tema ‘hasrat’ dan ‘ingatan’. Seperti yang kita tahu, bagi masyarakat kontemporer yang hidup di tengah perang media, hasrat kita tidak pernah tenang karena selalu diseret-seret banyak godaan, baik birahi maupun konsumsi. Hidup sederhana yang selalu jadi nilai luhur di masa lalu kini makin pudar karena yang dianggap baik di masyarakat adalah mereka yang memiliki segala materi. Ini sulit dihindari karena bagi masyarakat perkotaan yang hidup di jaman informasi, jaman ini adalah jaman visual. Dan pandangan mata selalu materialistis karena hanya bisa menjangkau yang kasat mata belaka. Karena itu hasrat adalah tema menarik bagi saya.

Begitu juga dengan ingatan karena melaju ke masa depan, tulang punggung membengkok hampir patah karena dibebani begitu banyak ingatan. Ingatan buruk menempel jauh lebih kuat daripada ingatan indah dan dengan begitu begitu banyak dari kita, termasuk saya, melalui hari-hari ke depan membawa trauma. Keputusan-keputusan yang saya ambil seringkali dipengaruhi oleh ingatan saya yang traumatis. Sulit melepaskan diri dari trauma. Kaum spiritual menyatakan bahwa masa lalu, masa kini dan masa datang sebenarnya satu, Einstein mengatakan bahwa perbedaan waktu adalah ilusi. Namun saat kita melihat tubuh kita sendiri, lalu menemukan begitu banyak bekas luka yang memanjang, mengering, sembuh namun tidak pernah hilang, kita tahu bahwa masa lalu adalah nyata.

Maka antara trauma masa lalu dan hasrat materialistis, antara luka lama dan harapan akan sembuh yang justru memiliki kemungkinan membawa kita pada luka-luka baru, di sinilah tema karya saya berikutnya akan berkisar. Saya kira ini masih tetap merupakan ikhtiar untuk memahami diri sendiri. Dari dulu kita selalu dengar ungkapan tentang seni sebagai agen perubahan. Ada yang percaya dan ada yang skeptis. Saya termasuk yang percaya. Masalahnya, siapa yang berubah? Saya kira lebih tepat kalau senimannya sendiri dulu yang berubah, bukan masyarakat luas. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s