Vantage Point

diego_velazquez“Vantage point” adalah istilah dalam ilmu ukur ruang tempat mata kita, si pengamat, berada, dalam kaitannya dengan lingkungan yang kita amati. Berdasarkan titik inilah ketinggian cakrawala ditentukan, lalu kita bisa melihat perspektif berdasarkan satu atau dua titik hilang. Dalam seni lukis vantage point juga berlaku terutama saat sang pelukis bekerja dengan model atau kanvas ukuran besar. Vantage point adalah sebuah titik di mana seorang seniman menilai visual correctness dalam karyanya saat bekerja.

Dalam kunjungan saya ke Bandung beberapa hari ini saya berkesempatan melihat studio seorang kawan dan berkunjung ke studio seni lukis di ITB. Yang saya temukan di sana adalah: secara tidak sadar, seniman memiliki vantage point yang dekat sekali. Pada saat ia duduk di depan kanvas, jarak antara mata dengan kanvas, termasuk juga dengan foto yang diacu untuk dikerjakan, paling-paling hanya berjarak sekitar 60 cm. Mereka tidak pernah mundur ke belakang untuk melihat hasil karyanya dari jarak lebih jauh. Saya kira ini sebuah kerugian, terutama bila seniman tidak menyadarinya.

Saat melukis, terutama dalam langgam realisme, ada banyak cara yang bisa digunakan berkaitan dengan vantage point. Karya yang dikerjakan di kanvas ukuran kecil biasanya memiliki vantage point yang lebih dekat sementara kanvas besar lebih jauh. Namun, adalah sebuah pilihan bagi seorang seniman untuk menentukanvantage point-nya sendiri. Di studio saya, misalnya, saya sedang mengerjakan karya copy dari lukisan Diego Velazquez. Kanvas saya berukuran 150×200 cm (vertikal). Saya menentukan sejak awal, vantage point saya berada sekitar 4 meter jaraknya dari kanvas. Dengan begitu, saya bisa bekerja dengan sapuan kuas yang lebih kasar dan tidak perlu khawatir kehilangan realismenya karena sekasar apapun sapuan kuas saya, saya hanya akan menilainya dari vantage point saya: 4 meter jauhnya. Apa yang terlihat dari jarak 60 cm saat saya duduk atau berdiri di depan kanvas tidak perlu saya khawatirkan karena correctness saya bukan dinilai dari situ.

Saya baru benar-benar menyadari vantage point setelah membaca buku tentang Velazquez. Dalam buku tersebut karya-karya Velazquez dipotret dari jarak sangat dekat, sampai terlihat bariknya. Saya heran, ternyata Velazques melukis dengan kasar sekali. Begitu kasarnya sampai terlihat kacau, seperti dilukis oleh orang yang tidak bisa melukis. Tapi ketika lukisan dipotret secara penuh, hasilnya sangat realistik. Sesudah saya selidiki, ternyata ada dua aspek yang menyebabkan hal itu terjadi.

Pertama, Velazquez melakukan selective focus. Dalam karya Peter Paul Rubenz, seniman sezamannya, obyek yang beragam di dalam kanvas digambarkan fokus semuanya. Velazquez tidak, ia memilih bagian mana dari suatu obyek yang harus dilukis fokus dan mana yang tidak. Bagian wajah biasanya fokus tetapi bagian jari-jemari seringkali dilukis sekedarnya, sama sekali tidak fokus dan tidak dikerjakan dengan rinci. Kedua, Velazquez menerapkanvantage point jarak jauh, artinya sejarak sepasang matanya mampu melihat keseluruhan kanvas dengan seimbang. Dengan begitu, kombinasi dari sapuan kuas yang kasar, selective focusdan vantage point yang ada dalam karya-karya Velazquez menjadikannya unik. Karyanya terlihat sangat kasar bila dilihat dari jarak yang lebih dekat dari vantage point yang dimaksud namun pada titik tertentu, karyanya menjadi realistik bahkan fotografis. Selective focus yang ia lakukan juga “menggiring” mata kita, si pengamat, untuk selalu kembali ke focal point, inti dari keseluruhan obyek yang jadi pusat dalam karyanya.

Perhatikanlah gambar di atas. Itu adalah lukisan potret Paus Innocent X, dikerjakan oleh Velazquez pada tahun 1650. Bila Anda bisa menemukan citra karya tersebut dalam resolusi besar di internet, atau close up dalam buku, Anda bisa menemukan betapa Velazquez memperlakukan sapuan kuas pada bagian wajah dan jari-jemari dengan berbeda. Dan lihatlah highlight pada jubah merahnya. Ini adalah sebuah sapuan kuas yang tebal dan berani, penuh percaya diri. Bila kita perhatikan dari jarak agak dekat, pasti highlight ini terlihat tebal dan kasar, tetapi dari jarak yang tepat, highlight ini menyatu dengan bagus sekali, menghasilkan kilau kain satin dengan meyakinkan.

Demikianlah vantage point bekerja. Dalam kasus impresionisme, seniman pasti harus bekerja dengan vantage point yang lebih jauh karena mereka harus meyakinkan bahwa penyederhanaan bentuk yang mereka buat bisa membuat sebuah impresi yang tetap tepat, tetap realistik, bila dilihat dari jarak tertentu. Jadi, bila Anda masih aktif melukis dan sedang memutuskan untuk membuat karya baru, perhitungkanlah vantage point yang tepat bagi Anda. Siapa tahu menguntungkan. Lagipula, apabila Anda terbiasa bekerja dengan vantage point yang dekat, siapa tahu bergerak maju-mundur (atau tetap berada di depan kanvas tetapi Anda letakkan cermin besar di belakang Anda) akan mampu membuat sapuan kuas Anda lebih dinamis. Selamat mencoba. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s