Ke Bandung Lagi

lawang_wangiTanggal 10 Mei lalu saya diberi kesempatan oleh Platform3 Bandung melalui sahabat saya, Heru Hikayat, untuk memberikan sebuah ceramah umum tentang “Realisme”. Ceramah umum ini dimaksudkan sebagai bagian dari program residency Agus Cahaya, teman saya yang berdomisili di Bali, yang sedang berlangsung selama 3 bulan lamanya di Platform3. Heru mengikuti tulisan saya “Tentang Realisme” di blog ini dan mengusulkan untuk membuat ceramah umum karena di Indonesia, termasuk di Bandung, langgam realisme masih dipraktikkan. Kami berharap ceramah ini bisa menjadi sebuah tambahan perspektif bagi perupa yang berkarya dengan langgam realisme untuk melakukan otokritik bagi kekaryaannya.

Acaranya berlangsung dari pukul 14.30 sampai pukul 17.00, diselingi hujan kecil yang tidak berhenti-berhenti. Namun ternyata pengunjung cukup banyak, bahkan ada kawan dari Surabaya yang sengaja hadir untuk ceramah ini. Bagi Mas Gatot dan kawan lainnya, saya ucapkan terima kasih. Saya sengaja tidak membagikan handout dalam acara ini karena saya pikir materinya bisa diperlengkap dan sebagai pengganti, saya membuat sebuah artikel khusus yang bisa dibuka dan dibaca di rumah dalam format PDF.

Acara ceramah umum tersebut, karena dibatasi waktu, diberikan dengan singkat jadi kurang mendalam. Tulisan dalam PDF ini saya harap bisa memberikan sebuah wawasan yang lebih mendalam lagi. Tapi ini belum semuanya, yang saya bagi di sini adalah bab 1 mengenai “naturalisme”, sebuah terminologi umum yang menjelaskan pendekatan realistik dalam penciptaan karya seni. Bab ini menjelaskan kelahiran dan asal-mula realisme berikut perkembangannya selama 600 tahun di Yunani, antara abad ke-6 sampai ke pergantian tahun Masehi. Saya harap, tulisan ini bisa memberi gambaran mengenai sebuah pertanyaan utama. Bangsa Yunani pada saat itu terlihat begitu terobsesi pada kemiripan bentuk manusia sementara kebudayaan lain di dunia tidak ada yang begitu, bahkan sampai 1000 tahun sesudahnya. Mengapa antropomorfisasi yang ekstrim terjadi pada peradaban Yunani Kuno dan tidak pada peradaban lainnya? Pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat apa yang kita lakukan dalam praktik seni rupa kita hari ini masih meminjam semangat yang kurang lebih sama dengan semangat para seniman Yunani pada saat itu. Terima kasih. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s