Daur Ulang di Rumah & Studio

daur_ulangTidak disangka, waktu saya masuk ke mobil tadi sore celana saya robek besar. Istri saya tertawa-tawa. Untung saya sedang tidak di tempat umum. Begitu sampai rumah, saya baru sadar bahwa ternyata robeknya besar sekali, tidak mungkin diperbaiki. Celana ini sebenarnya sudah kumal tapi masih nyaman dipakai. Karena sudah kumal, saya memakai celana ini untuk melukis, kalau akhirnya jadi kotor kena cat tidak apa-apa. Tapi sekarang celana ini sudah tidak bisa dipakai lagi, akhirnya saya putuskan untuk mendaur-ulang celana ini menjadi lap untuk melukis di studio.

Saya terbiasa memakai kaos oblong sejak SMP jadi saya selalu punya kaos oblong yang sudah tua di lemari baju. Walaupun kadang-kadang masih nyaman dipakai, tapi sudah tidak layak pakai karena terlalu kumal, warnanya sudah memudar. UNKL, produsen kaos oblong favorit saya, menggunakan bahan yang kebetulan cocok untuk dijadikan lap melukis bila sudah tidak terpakai lagi. Kainnya bebas serat jadi tidak masalah bila digunakan untuk menggosok kanvas berlapis cat. Masalahnya, sudah beberapa kaos oblong kumal saya gunakan begitu saja, tidak dipotong-potong dahulu. Akhirnya saya selalu mencari-cari bagian mana yang masih “bersih” dan sesudah digunakan beberapa lama, kaos oblong kumal yang seringkali berwarna gelap itu nampak cukup menjijikkan. Penuh cat, lebih kelihatan kotor daripada artistik. Karena itu kali ini saya memotong-motong celana robek tersebut.

Pada kenyataannya, setiap saya membutuhkan lap untuk menggosok kanvas, saya tidak perlu lap yang besar. Maka celana rombeng itu saya potong-potong memanjang sekitar 30 x 15 cm dan saya buang bagian jahitannya. Ini seperti memilah-milah tulang dengan daging untuk menghasilkan filet kalau mau memasak. Karena Fini kadang-kadang menjahit, dia punya gunting khusus kain yang tajam dan enak dipakai. Saya boleh pinjam dengan catatan tidak boleh sampai jatuh. Ternyata celana kalau dipotong-potong dengan ukuran seperti tadi hasilnya banyak juga. Saya dapat hampir 25 potong kain yang bersih dan bebas jahitan. Kain filet seperti ini jauh lebih enak digunakan karena kita tidak terganggu alur jahitan. Dan ukurannya yang tidak terlalu besar memungkinkan kita untuk membuangnya sesudah dipakai beberapa kali. Studio jadi terbebas dari kaos oblong kumal yang kotor. Kalau dipakai terlalu lama, pasti kaos oblong yang kotor itu sudah penuh bakteri. Hiiii…

Daur ulang seperti ini sebenarnya selalu berguna di mana saja. Tarlen dan teman-teman saya di Tobucil adalah mereka yang menularkan kebiasaan mendaur-ulang barang-barang bekas menjadi barang berguna pada saya. Dalam kasus studio, kita memahami bahwa melukis tidak hanya menggunakan kuas tapi juga pensil, arang, ujung kayu kuas, hamplas dan termasuk lap dari kain bekas seperti ini. Studio, seperti rumah, menghasilkan sampah dan beberapa di antaranya bisa digunakan kembali termasuk kuas yang sudah jelek. Karena saya kadang-kadang lupa mencuci kuas, beberapa kuas yang penuh cat jadi kering dan keras. Kuas seperti ini ternyata masih bisa dipakai kalau kita bermaksud membuat barik kasar pada lukisan, semacam yang kita jumpai pada karya-karya Lucian Freud. Kaleng bekas White Spirit bisa diisi dengan terpentin atau bensin untuk mencuci kuas. Botol selai yang sudah tidak terpakai, terutama yang berbahan kaca seperti gelas, enak dipakai untuk menampung terpentin atau bensin tersebut. Jepit jemuran bisa digunakan untuk menjepit kuas dan menaruhnya di botol selai tadi sehingga bulunya bisa terendam terpentin tapi tetap dalam keadaan “melayang”, tidak melengkung di dasar botol. Ini akan berguna untuk membuat kuas tetap lurus, terutama kuas berbahan asli yang harganya mahal.

Peradaban modern adalah rantai produksi-konsumsi tak berujung dan sampah adalah residu yang tidak ada habisnya. Saya bukan bermaksud terdengar seperti seorang ahli lingkungan, hanya saja ada sesuatu yang menyenangkan ketika saya menemukan bahwa sesuatu yang semula saya anggap tidak lagi berharga, seperti “sampah”, ternyata masih bisa berguna. Dengan demikian, tidak terlalu banyak yang terbuang sia-sia. Seperti bangkai binatang yang mati di Padang Serengeti, Afrika, semua berguna bagi kelangsungan hidup lingkungan di sekelilingnya. Yah, dalam tataran rumah dan studio, itu masih bisa diterapkan pada banyak barang bekas, termasuk celana rombeng ini. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s