Idealisme vs Kompromi

cardiactomySaya dan asisten-asisten saya terheran-heran karena sebuah karya saya yang menurut kami biasa saja disebut “menakutkan” oleh seorang kolektor. Sebetulnya ini bukan kejadian pertama bagi saya dan karena itu makin lama saya jadi makin paham apa yang kira-kira ada di dalam pikiran para kolektor. Di STPI Singapura, 2011, saya membuat 8 buah karya seri litografi. Isinya sebenarnya menakutkan, menggambarkan manusia sedang disantap para binatang dan setan di neraka. Karya itu dibuat tanpa foto, saya menggambar free-hand di atas lembaran aluminium dengan gaya yang kartunal tapi sebenarnya adegan-adegannya seram. Saya bilang karya itu berjudul, “Dinner in Hell”, tapi Lily Phua, manajer marketing STPI saat itu, menyarankan judulnya diubah menjadi “Scrumptious Dinner”karena belajar dari pengalaman, ada karya seniman lain sebelum saya yang karyanya mengandung kata “hell” dan semua kolektor yang tertarik akhirnya membatalkan transaksi. Saya menurut saja waktu itu, toh gambarnya sih tidak akan berubah, dan saya terkejut juga waktu mengetahui bahwa karya itu terjual habis. Saya bertemu dengan salah satu kolektornya di hari pembukaan pameran, dengan bangga dia bilang sudah mendapatkan satu seri karya tersebut. Saya bilang, “Apa nggak salah membeli karya seperti itu? Anda aneh sekali.” Dia cuma tertawa, dia bilang, “Anda yang aneh, bikin karya kok seperti itu.” Kami berdua tertawa-tawa tapi dalam hati saya bertanya-tanya, kalau judulnya tidak diubah apakah dia masih berminat membeli karya saya?

Waktu saya bertemu pertama kali dengan Pak Handoko, manajer saya, Beliau senang melihat karya-karya gambar saya di atas kertas. Menurut Beliau karya-karya itu nyaris sempurna, masalahnya hanya satu: isinya menyeramkan (seperti terlihat di foto). Beliau bilang, “Pencitraan gagasan itu penting. Kalau karyanya seperti ini, tidak akan ada yang beli. Seniman sering terlalu idealis dan tidak mau kompromi padahal ini penting.” Beliau menyarankan, buat karya yang citraannya “aman” sehingga karya mudah dijual dan kita bisa berkarya lagi. Nanti kalau sudah top, silakan berkarya sesuka hati. Mau citraannya sadis, mau mengerikan, mau porno, mau apa saja terserah, soalnya sudah top. Saya menghabiskan waktu lama untuk memahami nasehat Pak Handoko. Saya kira sekarang saya mulai mengerti sedikit maknanya. “Mengerti” di sini artinya begini. Dari dulu juga saya sudah tahu bahwa karya yang “aman” mudah dijual, seperti juga sebaliknya saya memahami bahwa seniman yang baik tidak pernah bermain aman. Namun, pemahaman saya saat itu tingkatnya masih lebih rendah dibandingkan idealisme saya, atau lebih tepatnya: ego artistik saya. Jadi dulu saya paham sih paham tapi saya tidak mau terima saran Pak Handoko. Seniman ya harus idealis, dong. Tapi sekarang saya mulai berpikir lain. Saya tidak tahu, apakah saya makin “melembek” karena saya sudah semakin tua atau saya sedang berpikir strategis. Tapi begini perspektif saya, saya jelaskan.

Pertama kita harus mendefinisi dulu, apa makna “idealisme” bagi kita. Pada tataran yang paling mendasar, bagi saya maknanya sangat sederhana: selama saya masih berkarya dan berkecimpung di dunia seni rupa, berarti idealisme saya masih ada. Kalau saya sudah banting setir dan meninggalkan dunia seni rupa sama sekali berarti idealisme saya runtuh. Itu saja. Jadi bagi saya, pada tataran yang paling dasar, makna idealisme sebenarnya cukup luas, pokoknya masih berkarya. Bahkan tidak pameran pun masih tidak apa-apa, yang penting berkarya. Karyanya seperti apa, tidak masalah. Bukan apa-apa, menurut pengalaman pribadi, kalau saya tidak berkarya saya pasti stress dan lama-kelamaan saya akan depresi. Itulah alasan utama mengapa saya jadi seniman. Sederhana sekali, bukan? Dengan demikian, kalau dalam proses kekaryaan tersebut saya harus mengambil langkah-langkah kompromi di sana-sini: ah, tidak apa-apa. Saya ikhlas. Mengapa tidak?

Saya berkali-kali menemukan pengalaman bahwa kadang-kadang kolektor juga benar, tidak selalu seniman yang benar. Pendapat seorang kolektor kadang-kadang terdengar bodoh tetapi kita harus menyelidiki, apakah itu terjadi karena pendapatnya memang benar-benar bodoh atau karena ego kita yang terlalu besar sehingga tidak mau menerima pendapat atau kritik kolektor (atau siapa saja)? Dalam pengalaman saya, sesudah saya renungkan, beberapa pendapat/kritik mereka ada yang benar. Benar dalam pengertian: konstruktif dan bisa meningkatkan mutu karya kita. Bener, lho, saya bukan sedang menjilat kolektor. Jadi kesimpulannya bagi saya: selama saya masih bisa berkarya terus, melakukan langkah kompromi tidak apa-apa. Tapi ada satu yang saya pertanyakan: akan berujung kemana perjalanan seorang seniman bila langkah itu ia ambil? Apakah suatu saat ia bisa makin idealis? Atau sebaliknya, justru makin kompromis? Soalnya saya mencium suatu gejala umum: langkah kompromi, bila dilakukan terlalu banyak, akan menggerogoti idealisme kita secara jangka panjang. Suatu saat kelak, walaupun kita masih tetap bisa berkarya, jangan-jangan sang seniman tidak akan bisa menghasilkan karya yang brilyan karena terbiasa membuat karya yang aman untuk selera orang banyak. Nah, bagaimana caranya supaya kita bisa tetap berkarya, tetap bisa melakukan langkah kompromi saat diperlukan tetapi kita tidak kehilangan idealisme artistik kita yang (seringkali) berlawanan dengan selera orang banyak? Ini adalah dilema klasik dunia kreatif yang bahkan dimulai sejak saat kuliah.

Mahasiswa pun mengalami hal yang kurang-lebih sama. “Hidup-matinya” mahasiswa seni ditentukan oleh dosennya. Kalau seorang dosen menginginkan mahasiswanya untuk mengambil cara tertentu dan si mahasiswa ngotot bahwa caranyalah yang paling benar, maka konflik pun dimulai. Kalau mengikuti saran dosen dan melakukan kompromi berarti idealisme terkikis. Tapi kalau mau mengikuti idealisme sendiri, bisa-bisa tidak lulus. Harus gimana, dong? Nah, di sinilah saya kira pentingnya mendefinisi kata “idealisme” itu sendiri. Kalau untuk mahasiswa seni rupa, apa sih makna idealisme? Dengan masuk ke sebuah lembaga pendidikan seni rupa, tujuannya kira-kira kan ada tiga: pertama menyerap semua ilmunya, kedua lulus dengan baik dan ketiga membangun jaringan (untuk karir kelak). Kalau seorang mahasiswa seni rupa menghadapi dilema seperti ini, saya kira baiknya ia merenungkan semua pilihan yang ada. Terus-terang saja, untuk bisa jadi seorang seniman kita tidak perlu masuk kampus dan kuliah seni rupa. Bener, lho. Tidak perlu. Tapi kampus menyediakan kurikulum yang disusun secara sistematis sehingga mahasiswa bisa belajar lebih cepat, tidak perlu trial and error seperti kalau belajar sendiri. Dan yang sama pentingnya dengan ilmu adalah jaringan. Sejak zaman Klasik sampai sekarang, jaringan amat sangat penting. Itu disediakan oleh kampus secara alami.

Saya bisa katakan bahwa sejak saya lulus pada tahun 1998 sampai hari ini, tidak pernah satu kalipun saya kekurangan tawaran pameran. Tidak satu kalipun! Kenyataannya, tawaran pameran malah terlalu banyak jadi tidak semua bisa disanggupi. Bagi saya ini luar biasa dan patut disyukuri karena saya tahu ada banyak seniman yang sulit sekali bisa mendapatkan kesempatan pameran. Saya yakin itu terjadi pada awalnya karena jaringan kampus saya. Mereka yang berkiprah di dunia seni rupa kebanyakan adalah teman dan senior-senior saya sendiri dari kampus yang sama. Kami “satu keluarga”. Keuntungan kuliah di kampus yang top adalah karena banyak lulusannya yang berkiprah di bidangnya, itu sudah otomatis. Saya harap Anda tidak salah mengerti, saya bukannya sedang menyombongkan kampus seni saya, saya hanya ingin jujur saja karena kenyataannya dimana-mana memang begitu. Makin top kampusnya makin top juga jaringannya (dan sebaliknya). Selama ini saya sudah mendapatkan keuntungan tersebut dan itu besar maknanya bagi saya. Nah, kembali ke masalah mahasiswa yang menghadapi dilema idealisme vs kompromi tadi, saya kira ia harus merenungkan kembali posisinya. Yang harus dipertimbangkan pasti lebih banyak daripada sekedar tiga tujuan masuk kampus seni seperti yang saya jelaskan (misalnya, bagaimana menjelaskan ia akan keluar dari kampus pada orangtua yang membiayai sekolahnya?) tapi saya kira yang penting untuk dicermati ada satu hal yaitu: ego. Mahasiswa atau bukan, seniman adalah mahluk yang egonya besar sekali. Ego macam ini telah melahirkan banyak maestro yang karyanya dikenang dalam sejarah tetapi ego yang sama telah mengubur impian seniman yang jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Ego itu mirip dengan perfeksionisme. Mereka yang sukses karena perfeksionisme itu banyak tapi yang gagal karena perfeksionisme jauh lebih banyak lagi. Ego, perfeksionisme dan, pada akhirnya, idealisme, adalah sebuah pedang bermata dua. Ia bisa membawa sukses namun juga berpotensi membawa kehancuran. Itu fakta, sudah banyak buktinya.

Pada akhirnya, bila kita berhadapan dengan dilema antara mempertahankan idealisme dengan kompromi, saya kira kita sedang menghadapi ego kita sendiri. Bagi saya itu baik karena artinya kita sedang dilatih untuk menjadi dewasa. Sekarang akan saya jelaskan soal idealisme ini bagi saya pribadi secara menyeluruh.

Saya bukan seniman muda lagi, saya sudah berkeluarga dan punya satu anak berusia 3,5 tahun. Saya dan istri saya masih berencana menambah satu anak lagi. Perjalanan kami membesarkan anak-anak kami masih sangat panjang. Di sisi lain, faktanya saya benar-benar menggantungkan hidup saya dari dunia seni rupa, saya tidak mengerjakan bisnis yang lain. Artinya, saya akan butuh modal untuk menghidupi keluarga saya dengan layak (dalam pengertian: sederhana saja, tidak serba mewah tapi tidak ada yang kurang) termasuk mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anak saya kelak. Itu membutuhkan sebuah komitmen luar biasa dan konkritnya: saya harus bisa menghasilkan dana itu dari karya-karya saya. Kalau saya menghasilkan dana dari sumber yang lain boleh saja, tetapi saya harus bisa memastikan kekaryaan saya tidak terganggu karena itu prioritas hidup saya. Ini yang pertama.

Kedua, pada usia 60 tahun, saya tidak mau lagi bekerja untuk mencari nafkah. Pada usia 60 tahun, saya ingin bekerja semata-mata karena saya suka. Artinya, pada usia 60 tahun (20 tahun dari sekarang), saya harus mencapai sebuah kemerdekaan finansial. Walaupun saya sakit, walaupun saya sedang liburan, walaupun saya menghasilkan karya yang tidak bisa dijual, saya dan keluarga harus bisa hidup sesuai standar yang kami tetapkan dan saya juga masih bisa berkarya seperti biasa. Untuk mencapai hal ini saya harus punya tabungan, punya investasi dan punya passive income. Ini bisa dijabarkan lebih konkrit lagi sampai ke hitungan angka dengan menimbang banyak hal termasuk tingkat inflasi dan sebagainya tapi anggap saja pada usia saya yang ke-60, saya ingin sudah mapan sepenuhnya secara ekonomi. Kita tahu kemapanan itu butuh modal besar.

Ketiga, berarti antara saat ini dan 20 tahun lagi, saya harus mampu menafkahi keluarga saya, menjadi seorang suami, ayah dan kepala keluarga yang baik, mampu untuk terus berkarya, mampu untuk terus ikut pameran dan terutama: mampu untuk terus mengembangkan kekaryaan ke arah yang lebih baik lagi sampai ke tahap menghasilkan mahakarya (dalam pengertian konvensional dunia seni rupa). Tambahan lagi, antara sekarang dan 20 tahun lagi, saya harus bisa menghasilkan modal yang cukup untuk bisa merdeka secara finansial. Ini adalah definisi idealisme dalam hidup saya. Apakah hal ini mungkin dilakukan? Optimisme saya mengatakan bahwa hal itu mungkin diwujudkan. Namun pandangan kritis saya terus-menerus mengingatkan saya untuk berlaku strategis. Bila dalam perjalanan hidup saya kelak saya harus melakukan kompromi: lakukan! Saya tahu itu berat tapi apa boleh buat. Bila perlu, saya harus menelan ego saya dan melakukan kompromi tanpa ngomel-ngomel. Menelan ego itu seperti menelan biji kedondong yang kesat, berbulu dan tajam tanpa bantuan air atau apapun juga. Itu sulit sekali dan bilapun itu berhasil kita dilakukan, kita akan terluka. Tapi dalam hidup ini kita pasti terluka, semua orang terluka. Dalam hidup ini, orang sukses dan orang gagal sama-sama terluka. Bedanya, orang sukses maju terus walaupun terluka parah sementara orang gagal duduk merintih-rintih meratapi lukanya, menganggap dirinya korban dan menyalahkan orang lain. Jadi intinya, saya akan melakukan apa saja yang perlu dilakukan supaya tujuan-tujuan saya tercapai, tentu saja selama itu tidak melanggar hukum dan etika.

Nah, jadi kalau harus kompromi, oke, akan saya lakukan. Tapi kalau kompromi yang dilakukan terus-menerus akhirnya malah menumpulkan ide-ide brilyan: saya tidak mau. Kadang-kadang seniman harus berani menampilkan karya yang kontroversial bila itu memang perlu. Tapi bila menampilkan karya kontroversial artinya tidak bisa menafkahi keluarga dan jadi tidak mampu berkarya lagi: jangan dulu. Mungkin harus menunggu saat yang tepat. Kita bisa membayangkan bahwa kalau kita punya cukup modal untuk merdeka secara finansial, kita bisa berkarya sesuka hati kita. Memang betul, teorinya memang begitu. Tapi ingat, ada hal yang lebih menyengsarakan daripada punya ide brilyan tapi tidak punya uang yaitu kebalikannya: punya uang tapi tidak punya ide brilyan. Saya pernah mengalami keduanya dan yang terakhir itu ternyata sangat menyengsarakan soalnya saya merasa tidak punya harapan.

Maka saya pikir tidak ada rumus yang definitif bagi setiap seniman soal idealisme vs kompromi. Semua memiliki konteksnya sendiri-sendiri. Bahkan bagi satu orang seniman pun, makna idealisme vs kompromi bisa berubah-ubah sesuai waktu dan keadaan. Tapi intinya kita harus menetapkan sasaran-sasaran kita sehingga pada saat kita membuat sebuah kompromi, kita tahu bahwa ada tujuan yang lebih mulia yang akan kita raih. Melakukan pengorbanan seperti itu, kita pasti akan terluka tapi setidaknya kita memiliki kekuatan batin untuk menahan rasa sakitnya. Kalau kita tidak menetapkan sasaran-sasaran kita, kita jadi tidak tahu prioritas sehingga luka yang sedikit akan terasa amat sakit dan langit rasanya runtuh. Tubuh ragawi kita sering tahan terhadap luka tapi tidak batin kita. Dalam diri kita tidak ada yang begitu sensitif terhadap luka melebihi ego, ia terkesan begitu kuat namun sesungguhnya ia sangat rapuh. Menghadapi dilema idealisme vs kompromi, ego tidak boleh menjadi suara dominan yang memengaruhi kita saat mengambil keputusan.

One thought on “Idealisme vs Kompromi

  1. Pingback: Idealisme vs Kompromi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s