Bening Batin

tower
Tuan dan Nyonya Abadi adalah pemilik Abadi Motor, sebuah perusahaan yang menjadi agen penjual kendaraan bermotor paling besar di kota ini. Mereka punya seorang anak pungut bernama Mariana, seorang gadis cantik berusia 22 tahun. Mariana adalah anak dari pasangan pembantu rumah tangga yang dahulu bekerja pada Tuan dan Nyonya Abadi. Ceritanya agak lucu. Tuan Abadi punya seorang pembantu laki-laki, Nyonya Abadi punya pembantu perempuan, keduanya sebaya. Saat Tuan dan Nyonya Abadi menikah, kedua pembantu itu ikut tinggal serumah. Tuan Abadi bergurau, “Sebaiknya kalian menikah saja. Tidak baik berdua-duaan di rumah sementara aku dan istriku bekerja.”

Ternyata sepasang pembantu itu saling jatuh cinta dan akhirnya menikah setahun kemudian. Tuan dan Nyonya Abadi tidak dikaruniai anak namun kedua pembantunya pun baru punya anak 10 tahun kemudian. Kelahiran Mariana disambut gembira oleh dua keluarga yang begitu mendambakan anak. Namun saat Mariana baru berusia beberapa bulan, ayahnya meninggal karena sakit dan semenjak itu ibunya seperti kehilangan semangat hidup, ibunya meninggal hanya beberapa tahun kemudian. Jadi Mariana yang saat itu masih berusia empat tahun kehilangan ayah dan ibunya di rumah Tuan dan Nyonya Abadi. Karena tidak memiliki keturunan, Mariana disayang seperti anak sendiri dan akhirnya diadopsi secara legal walaupun beberapa saudara menyatakan keberatan karena itu menyangkut warisan. Protes itu tidak digubris oleh Tuan dan Nyonya Abadi.

“Mereka tidak merasakan betapa sepinya hidup tanpa anak.”
“Mariana membuatku merasa lengkap.”

Sepeninggal kedua orangtuanya, Mariana dibaptis dan dibesarkan dalam tradisi Katolik. Ia sakit lama sampai demam tinggi selama sepuluh hari saat ibunya meninggal tetapi setahun kemudian ia sudah terbiasa memanggil Tuan dan Nyonya Abadi dengan panggilan ‘Papa’ dan ‘Mama’. Mereka yang semula keberatan dengan pengangkatan Mariana sebagai anak sah keluarga Abadi pun lama-kelamaan tidak lagi menunjukkan perbedaan sikap apa-apa. Mereka sudah menganggap Mariana bagian dari keluarga besar, terutama karena Mariana adalah seorang anak yang lucu dan kelihatan bakat cantiknya. Mariana tidak pernah lupa pada orangtua kandungnya karena ia bisa melihat banyak foto keluarga dan kedua orangtua angkatnya senang bercerita tentang mereka. Hal itu membuatnya merasa berbeda. Perasaan itu tidak bermakna negatif seperti membawa perasaan tidak aman atau rendah diri, Mariana semata-mata hanya menjadi lebih tahu cara menempatkan diri di hadapan orangtua angkat dan keluarga besarnya. Empatinya besar sekali dan ia adalah pribadi yang cukup perasa. Mariana adalah seorang introvert yang senang menyendiri.

Mariana disekolahkan dari TK sampai SMU oleh orangtuanya. Mereka ingin menyekolahkan Mariana di sekolah-sekolah terbaik namun ia ternyata tidak terlalu cemerlang di sekolah, prestasi akademiknya hanya semenjana sehingga ia tidak pernah masuk sekolah top. Ia agak lambat mengunyah logika tetapi ia mudah menghapal, ia cenderung hapal rumus atau kosakata terlebih dahulu, baru memahami logikanya kemudian. Namun, melampaui segala kekurangannya di sekolah, Mariana adalah seorang anak yang telaten luar biasa. Ia sabar dan tekun seperti biksuni. Ada kesan khidmat yang terpancar dari dirinya bila ia sedang berkonsentrasi melakukan sesuatu.

Orang akan selalu menangkap kesan lambat bila melihat Mariana bekerja, ia bukan jenis orang yang bicara keras dan dengan lincah berlari kesana-kemari untuk menyelesaikan pekerjaan karena diburu waktu. Bila Mariana bekerja, waktu seperti berhenti, semesta seperti turut memerhatikan apa yang sedang ia kerjakan. Kamarnya rapi sekali. Ia mencuci dan menyetrika pakaiannya dengan amat bersih dan licin, dilipat dan digantung dengan saksama. Mariana menulis dengan lambat tetapi amat rapi dan jarang membuat kesalahan. Kala bicara, ia pun tidak pernah bicara terlalu cepat walaupun ia sedang kegirangan, ia juga tidak melambai-lambaikan tangannya ke sana kemari. Mariana memiliki pancaran seorang feminin sejati, seperti penjelmaan dewi. Bahkan saat ia masih gadis, orang sudah bisa membayangkan betapa hebatnya bila ia kelak menjadi seorang ibu.

“Kau hendak melanjutkan sekolah kemana?”
“Sebetulnya kalau bisa saya ingin langsung bekerja.”
“Lulusan SMU mau kerja apa, Mar?” mamanya menyeruput teh. “Minatmu apa?”
“Saya belum tahu.”
“Bagaimana kalau kau jadi perawat saja?” usul papanya. “Kau telaten dan tanganmu bisa menenangkan orang.”

Maka Mariana pun mengambil sekolah keperawatan di kota lain. Pada saat sekolah itulah dunia seperti terbuka baginya. Ia memilih sebuah tempat kost sederhana dekat kampus sehingga bisa berjalan kaki setiap hari. Itu adalah saat pertama ia berpisah dengan orangtuanya. Ia tidak bisa tidur di malam pertama dan mamanya menangis terisak-isak di tempat tidur karena baru merasakan ditinggal anak. Dalam pendidikan itu Mariana belajar bahwa kadang-kadang seorang perawat harus bertindak cepat dan ia segera menyadari kekurangannya.

Cangkang pikirannya pecah di kampus itu, dihantam praktek demi praktek dan ia berubah menjadi pribadi yang lebih tanggap terhadap situasi. Setelah menempuh tiga tahun pendidikan, Mariana sama cepatnya dengan teman-temannya yang tercepat. Namun Mariana tetap Mariana yang tekun, telaten dan teliti. Papanya benar, Mariana punya sentuhan tangan yang ajaib. Saat kerja praktek di instalasi gawat darurat, ia hanya perlu memandang pasien yang sedang amat kesakitan dan mengusap dahinya untuk membuatnya tenang. Mariana sangat populer di kampusnya dan para dokter muda banyak yang jatuh hati. Semua ia tulis dalam surat yang ia kirimkan pada orangtuanya sebulan sekali, membuat mamanya khawatir. Begitu lulus kuliah Mariana kembali ke rumah orangtuanya dan disambut dengan gembira namun pada saat makan malam ia berkata,

“Saya mengirimkan tiga lamaran ke tiga buah rumah sakit yang berbeda. Yang dua ditolak dan satu diterima.”
“Kau akan segera bekerja?” mamanya nampak keberatan.
“Ya, kan memang itu tujuan kuliah ini, supaya bisa langsung kerja.”
“Di rumah sakit mana kau diterima?”
“Namanya ‘Bening Batin’, Pa. Sebuah rumah sakit jiwa.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s