Dari Balik Lukisan Kaca Haryadi Suadi

haryadi-1Perupa senior dan mantan dosen seni rupa ITB, Bapak Haryadi Suadi, telah berpulang sore hari ini, Jumat, 8 Januari 2016. Dunia seni rupa Indonesia berduka karena kehilangan dua orang maestronya setelah Pak Edhi Sunarso wafat tidak lama berselang. Tanpa banyak bicara, Pak Haryadi Suadi sebenarnya telah “menyelesaikan” apa yang selalu diperdebatkan dalam sejarah seni rupa modern dan kontemporer Indonesia, masalah identitas. Karya-karya seni grafis, seni lukis dan trimatra yang dilahirkannya selalu memandang “ke dalam”, dalam hal ini sesuai dengan latar belakangnya sebagai orang Cirebon.

Bila semua unsur dalam karya-karya Beliau dipecah dan diperhatikan satu-persatu, kita bisa melihat ratusan jenis ikon, simbol dan alfabet yang masing-masing memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Karakter tertentu dalam kisah wayang kulit, ksatria atau raksasa, bisa tampil sama kuatnya dengan sosok prajurit bersenjata yang menumpahkan darah rakyat dan mahasiswa, sosok yang Beliau reka sendiri. Alfabet Latin berbahasa Indonesia dalam rangkaian prosa-prosa pendek tampil sama kuatnya dengan alfabet Arab yang tidak bisa dipahami mereka yang tak mampu membacanya, seperti saya. Simbol tertentu seperti matahari, dewa-dewi dalam mitologi Hindu, telapak tangan dengan rajah tertentu dan aroma Islam yang kentara dalam obyek seperti Buraq, bisa tampil sama kuatnya sekaligus saling menguatkan. Karya-karya Pak Haryadi adalah jukstaposisi yang rumit namun tidak kehilangan suara pribadi, sesuatu yang dihargai tinggi dalam praktik kekaryaan seni rupa kiwari.

Yang paling berkesan untuk saya dari banyak karya Beliau adalah teknik seni lukis kaca. Teknik melukis tradisional Cirebon ini tak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam di tanah Jawa dan seperti sejarah perkembangan Islam itu sendiri, proses pembuatan sebuah karya dengan teknik seni lukis kaca tidaklah sederhana. Teknik melukis di atas kaca dibuat dengan menggunakan cat yang opak, tidak tembus pandang, sehingga pembuatannya harus dilakukan selapis-demi-selapis, basah di atas kering (warna kedua diulaskan hanya setelah warna pertama kering, dst), dengan memperhitungkan urutan kerja dan komposisinya. Dengan begitu sang Perupa dituntut untuk memahami mana bentuk dan warna yang harus diulaskan terlebih dulu, mana yang diulaskan kemudian. Secara keseluruhan, teknik ini menuntut sang Perupa untuk memiliki sebuah komposisi yang komplet, karya harus sudah “jadi” dalam imajinasinya bahkan sebelum karya itu mulai dibuat karena satu kesalahan dalam prosesnya bisa berakibat karya harus diulang lagi dari awal. Cara berkarya yang runut dan metodis seperti ini selalu saya anggap terlalu rumit, saya tidak pernah mengerjakannya, namun bagi seorang perupa dengan latar belakang seni grafis, ini hal biasa. Seni grafis adalah sebuah disiplin kekaryaan yang sangat terkait dengan penguasaan material dan metodologi kerja yang terstruktur, maka saya bisa memahami mengapa lukisan kaca yang rumit lagi rapuh menjadi salah satu pilihan ekspresi bagi Beliau.

Satu hal lagi yang mengesankan dari karya-karya Beliau bagi saya adalah komposisi warna yang unik serta blabar (outline) yang tanpa tedeng aling-aling. Beliau tidak ragu menggunakan warna hitam untuk membuat blabar dan membetuk obyek. Obyek-obyek dalam karya Beliau seperti dibuat dengan mesin fotokopi, hitam legam, lalu diimbuhi warna dengan komposisi yang menurut saya hebat. Putih, hitam, cyan dan magenta di satu karya; hitam, hijau, merah dan coklat di karya yang lain, komposisi warna dalam karya-karya Beliau sederhana, kadang-kadang naif, namun tidak terduga. Sebagai seorang pelukis, saya bisa mengapresiasi komposisi warna Beliau. Dosen saya yang hebat dalam soal komposisi warna adalah Pak A.D. Pirous dan Pak Haryadi Suadi, komposisi warna yang mereka buat tidak pernah mengecewakan, namun karena karya saya sendiri selalu bertutur, saya memiliki apresiasi lebih terhadap karya-karya Pak Haryadi yang selalu berkisah tentang banyak hal. Hanya saja, cara Beliau bertutur amat unik karena setiap kosarupa yang Beliau ungkapkan memiliki tradisi panjang, ini menyebabkan tuturan Beliau bukan hanya sebuah tuturan pribadi namun sebuah tuturan sejarah kebudayaan tertentu. Pada akhirnya tuturan inilah yang dengan tanpa susah payah menyelesaikan masalah identitas yang saya singgung di awal tulisan tadi.

Sekali lagi, dunia seni rupa Indonesia berduka karena telah kehilangan Pak Edhi Sunarso dan Pak Haryadi Suadi. Sayang saya tidak mengenal dengan baik pribadi maupun kekaryaan Pak Edhi sehingga saya tidak merasa mampu membuat tulisan tertentu tentang Beliau. Walaupun demikian, kita layak berharap dan berdoa agar keduanya mendapatkan tempat yang indah sesuai dengan jasa-jasanya, turut menuliskan sejarah seni rupa Indonesia sekaligus memberikan inspirasi pada kita, insan seni rupa yang lebih muda. Selamat jalan, Pak Edhi dan Pak Haryadi.

4 thoughts on “Dari Balik Lukisan Kaca Haryadi Suadi

  1. ” telapak tangan dengan rajah tertentu” dalam tulisan mas Tanto, membuat saya teringat kembali almarhum. oleh seorang teman, saya diberi tau kalo almarhum juga bisa membaca garis tangan. pernah saya tanyakan ke almarhum, beliau hanya tersipu sipu saja sambil berkata: “itu dulu” . “tuturan Beliau bukan hanya sebuah tuturan pribadi namun sebuah tuturan sejarah kebudayaan tertentu” juga sangat menggambarkan semangat almarhum yg peduli sekali dengan sejarah. selain karya seni rupa, almarhum semangat dalam menulis yg berhubungan dengan sejarah. dan yg terakhir, mengobrol dengan almarhum membuat kita semakin menghormati almarhum, kesederhanaannya selalu menyeliputi kehebatannya dalam berkarya. tak jarang cerita nyeleneh almarhum pun sering tiba tiba hadir kalo kita mengobrol

  2. Banyak hal mengejutkan yang membuat beliau selalu menjadi special. Terimakasih untuk apresiasinya terhadap Abah saya. Mas Tanto dan Abah adalah seniman yang selalu memberi saya inspirasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s