Pameran “Velatura” di Griya Seni Popo Iskandar

Antara tanggal 9-31 Agustus 2018 diadakan pameran “Velatura” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, dibuka oleh Prof. A.D. Pirous. Pameran ini adalah klimaks dari rangkaian diskusi dan pertemuan kelompok “Flemish”, sebuah kelompok belajar seni lukis klasik yang beranggotakan 17 orang. Selama beberapa bulan terakhir para anggota di kelompok ini aktif membincangkan persoalan seni lukis klasik Eropa dan berkarya di studionya masing-masing. Tidak semua hal bisa dipahami dengan perbincangan semata, karena itu pameran ini dianggap penting sebagai bagian dari proses belajar. Maka pameran ini diselenggarakan dengan titik berat pada teknik, tema adalah nom0r dua. Tema “potret diri” dipilih dalam pameran ini karena dianggap cukup mudah untuk diadaptasi menjadi karya pameran.  Pameran ini menampilkan 24 karya dari 14 orang perupa. Beberapa karya berstatus work in progress untuk menunjukkan proses pengerjaannya yang bertahap.

“Velatura” adalah salah satu dari peristilahan seni lukis klasik Italia, bermakna: “lapisan semi-opak yang diaplikasikan setelah lapisan di bawahnya benar-benar kering”, sebuah teknik wet on dry. Bagi mereka yang kurang familiar dengan seni lukis, definisi ini bisa jadi kurang bermakna, namun bagi praktisi seni lukis hal itu membedakan banyak hal. Berlawanan dengan teknik alla prima (secara harfiah berarti “dalam sekali coba” di mana valuehue dan chroma dikerjakan secara simultan dalam satu kali pengerjaan sampai lukisan selesai), sebuah lukisan yang dikerjakan dengan teknik velatura dilakukan dengan melibatkan setidaknya empat tahap utama, yakni: imprimaturaumber layer, dead layer dan color layer. Dalam pengerjaan karya dengan teknik ini, representasi obyek dilakukan secara bertahap dan transparansi antara lapisan bawah dengan lapisan di atasnya memainkan peranan penting. Teknik ini, berikut segala rinci pengerjaannya, adalah apa yang menjadi topik belajar kelompok Flemish.

Dalam sejarah seni rupa Barat teknik ini mendominasi penciptaan karya-karya seni lukis sejak awal Renaissance sampai bangkitnya Impresionisme, mencakup rentang waktu 600 tahun. Di Eropa, teknik ini terpusat dan berkembang pertama kali di wilayah Flanders (sebagian Perancis, Belgia dan Belanda) dan Venezia, Italia. Melanjutkan tradisi seni lukis Byzantium yang terentang selama seribu tahun, para seniman di Eropa mulai bereksperimen dengan berbagai jenis minyak yang digunakan sebagai pengikat serbuk pigmen warna untuk melukis sejak abad ke-14. Kala karya-karya yang dihasilkan dengan cat minyak ini terbukti memukau kecerlangan warnanya, teknik tempera telur yang sudah digunakan sejak zaman Mesir Kuno perlahan-lahan mulai memudar popularitasnya pada abad ke-16. Watak transparansi pada tempera telur diadaptasi menggunakan cat minyak dan, dengan istilah yang berbeda-beda sesuai bahasa di wilayahnya masing-masing, velatura pun mengantar penciptaan karya-karya para maestro yang bisa kita lihat hasilnya sampai sekarang.

Pada masanya, para maestro bekerja di studionya masing-masing—beberapa dengan banyak siswa magang—dan saling bersaing memperebutkan pengaruh. Berbeda dengan perupa zaman kiwari yang lebih independen, para maestro pada saat itu sangat bergantung pada patron. Pada siapa seorang maestro mengabdi akan menentukan kesuksesan karirnya karena walaupun karya-karya mereka luar biasa, posisi sosial mereka sebenarnya tidak tinggi. Para maestro sejatinya adalah tukang yang sangat ahli. Hal ini juga terjelaskan dengan terbatasnya tema-tema yang muncul pada penciptaan karya-karya seni pada saat itu. Pada masa tersebut, tema yang muncul dalam karya-karya seni hanya terbatas seputar:

1. Kisah Alkitab
2. Kisah mitologi Yunani
3. Raja dan kaum aristokrat
4. Para pemuka gereja
5. Lukisan sejarah (biasanya militer)
6. Mereka yang tidak termasuk golongan di atas tapi mampu membayar, biasanya pada saudagar sukses yang memiliki koneksi baik dengan istana
6. Alam benda dan lanskap alam

Tema yang muncul dalam penciptaan karya-karya seni pada masa ini berasal dari gagasan kaum elit, yakni sebuah pemujaan pada keindahan, pada eksistensi diri dan kekuasaan kalangan mereka sendiri. Inilah yang pada akhirnya ditentang oleh Gerakan Realis. Maka dalam hubungan maestro-patron yang elit dan ekslusif inilah kecanggihan seni lukis cat minyak dengan teknik velatura berkembang dengan pesat. Gilda-gilda, studio tempat para maestro bekerja, saling bersaing untuk menghasilkan karya yang dikerjakan dengan teknik terbaik. Temanya sendiri tidak dipermasalahkan dan tidak berkembang. Persaingan ini demikian hebatnya, teknik melukis yang unik dan canggih selalu dirahasiakan. Sebuah lukisan bisa disimpan selama setahun sebelum bisa dilihat oleh publik untuk menghindari bau yang bisa dihidu, khawatir membocorkan rahasia ramuan mediumnya. Dalam sebuah zaman di mana yang berlaku adalah: teknik, teknik, teknik, kita bisa memahami mengapa kecanggihan teknologi dan metodologi penciptaan sebuah karya seni lukis mampu mencapai puncaknya. Kita bisa mengagumi hasilnya di museum-museum penting dunia hari ini.

Seni lukis Barat sudah beberapa kali mengalami transformasi, artinya: “berakhirnya satu paradigma dan dimulainya sebuah paradigma baru”. Kecanggihan teknik di periode ini mengalami transformasi saat sejarah seni rupa Barat pada akhirnya memihak perkembangan gagasan alih-alih teknik semata. Perkembangan ini dipicu oleh manifesto Gerakan Realis yang menolak semua prinsip estetik yang didiktekan kaum elit, dideklarasikan Gustave Courbet dan eksponen lain di pertengahan abad ke-19, diikuti revolusi sosial yang mengakibatkan jatuhnya dinasti Orleans. Benih seni modern pun lahir dan akhirnya mendominasi wacana seni rupa Barat sampai seabad kemudian. Posisi perupa berubah dari tukang yang sangat ahli menjadi intelektual independen yang “bebas” dari patron. Teknik tidak lagi dipentingkan, gagasan adalah segalanya.

Maka pertanyaan penting dalam pameran ini tertuju pada para perupanya sendiri. Untuk apa repot-repot mempelajari teknik yang begitu rumit dan metodis dalam sebuah paradigma praktik yang mementingkan gagasan? Apa relevansi teknik seni lukis klasik, dengan gaya velatura, dalam seni lukis representasional yang sudah mengenal begitu banyak bentuk penciptaan? Di zaman yang serba instan ini, untuk apa mengerjakan hal yang membutuhkan proses begitu panjang untuk melahirkan karya yang sudah ketinggalan zaman?

Pameran ini diharapkan mampu memancing dialog antar anggota kelompok Flemish sendiri, maupun dengan publik yang lebih luas. Semangat kelompok ini adalah semangat belajar. Apabila ada sebagian dari publik luas yang tertarik dengan metodologi ini, kelompok Flemish dengan senang hati akan berbagi. Pertanyaan-pertanyaan di atas diharapkan mampu dibicarakan dengan siapa saja selama dan sesudah pameran ini berlangsung.

Dalam sejarah seni rupa, lompatan bisa terjadi karena dua hal. Pertama karena semangat avant-garde, yakni turun ke akar memutus hubungan sejarah dan tradisi untuk kemudian melahirkan sesuatu yang baru sama sekali. Kedua, kebalikannya, mencari hal tertentu dalam sejarah dan tradisi untuk kemudian meneruskannya sampai suatu saat, mudah-mudahan, hal baru yang baik bisa lahir. Pameran kelompok ini adalah ikhtiar yang kedua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s