Pengumpulan Karya untuk Pameran EkstrakurikuLab 2016 sudah DITUTUP

Teman-teman, pengumpulan karya untuk seleksi Pameran EkstrakurikuLab 2016 yang diselenggarakan oleh Serrum Studio, yang akan berlokasi di Gudang Sarinah Ecosystem, Pancoran, Jakarta (dibuka tanggal 12 November 2016 mendatang) sudah ditutup. Total masukan untuk seleksi tahun ini adalah 64 karya. Hebat! 🙂 Saya senang melihat motivasi Anda dan sangat menghargai usaha Anda untuk berpartisipasi dalam seleksi ini. Pada hari Kamis ini, 3 November 2016, tepat pada pukul 21:00 WIB nanti malam, pengumuman hasil seleksi akan ditayangkan dalam bentuk unggahan terbaru di sini.

Untuk menghargai usaha Anda semua, karya-karya yang sudah masuk akan dibahas dalam artikel yang sama. Kebanyakan karya akan dibahas secara berkelompok sesuai kasusnya, tapi di sana-sini saya akan memberi komentar pada karya tertentu. Artikelnya lumayan panjang, lho. Saya sudah nyicil menulis sejak seminggu yang lalu, nih. Saya berharap, pembahasan ini bisa memberikan gambaran mengenai aspek-aspek penting yang saya perhatikan dalam membuat keputusan termasuk juga menjelaskan prinsip-prinsip yang dianut oleh Klinik Rupa dr. Rudolfo. Nah, nantikanlah pengumuman malam ini dan sekali lagi, terima kasih untuk partisipasi Anda semua. 🙂

Anton Susanto

Anton Susanto

Gemma Guardi

Gemma Guardi

Aulia Rahman

Aulia Rahman

Reza Akil

Reza Akil

Iwan

Iwan

Fifi Dwi Pratiwi

Fifi Dwi Pratiwi

Rizki Fariz

Rizki Fariz

Bagas

Bagas

Arief Shally Hidayat

Arief Shally Hidayat

Ali Hamzah

Ali Hamzah

Putri Dwi Utari

Putri Dwi Utari

Kurniawan Wijaya

Kurniawan Wijaya

Amalia Octaviani

Amalia Octaviani

Qonitah Faridah

Qonitah Faridah

Irlan Sugih Pranoto

Irlan Sugih Pranoto

Micky Yudistira

Micky Yudistira

metka_rachmawati

Metka Rachmawati

Yogi Fahmi Riandito

Yogi Fahmi Riandito

Hadiwijaya Nugraha

Hadiwijaya Nugraha

Dody Sagir

Dody Sagir

Riki Himawan

Riki Himawan

Angga Yuniar Santosa

Angga Yuniar Santosa

Amaya Zaisha

Amaya Zaisha

Beatrix H. Kaswara

Beatrix H. Kaswara

Karya yang masuk dalam seleksi ini kebanyakan hitam-putih tapi ada sebagian kecil yang menggunakan warna. Dari sebagian karya yang menggunakan warna tersebut, ada yang menggunakan warna untuk style, ada yang menggunakan hanya satu warna jadi kasusnya sama dengan hitam-putih (hanya gelap-terang) tapi ada juga yang warnanya lebih kompleks, dibuat dengan tujuan mendefinisi warna kulit. Karya Beatrix ini adalah yang paling maju dalam hal warna kulit. Klinik Rupa dr. Rudolfo mengajarkan seni potret secara sangat bertahap. Pasien kelas Lanjutan saja masih belajar menggunakan pensil grafit. Hanya pasien kelas Mahir sajalah yang sudah mulai belajar warna kulit. Dalam realisme, warna kulit adalah salah satu materi yang paling rumit. Bila Anda belajar realisme klasik di Florence, Italia, warna kulit adalah materi tahun ketiga dan keempat. Tahun pertama pensil grafit. Tahun kedua pensil grafit dan charcoal. Tahun ketiga cat minyak tapi itu pun hanya boleh menggunakan tiga warna yakni: Titanium White, Burnt Umber dan French Ultramarine. Tiga warna ini digunakan untuk mengasah kepekaan siswa dalam warna hangat dan warna dingin, sambil memantapkan gelap-terang. Pada tahun keempat, barulah siswa diperbolehkan melukis cat minyak dengan warna full-spectrum.

Sekedar mengulas sedikit tentang rumitnya membuat warna kulit, Anda tentu sadar bahwa saya selalu mengulang-ulang masalah gelap-terang. Dalam terminologi seni lukis klasik Venezia, ini disebut chiaroscuro (dibaca: kiaros-kurro), sebuah seni menafsirkan intensitas cahaya dengan cara menerapkan gelap-terang dengan akurat dan artistik, untuk membentuk obyek secara meyakinkan. Gelap-terang itu rumit, lho, tapi itu baru satu aspek saja dalam materi warna kulit. Dalam teori warna kulit, gelap-terang disebut value. Selain value kita juga mengenal hue, yakni identitas warna dasar (merah, biru, kuning, hijau, dsb) dan chroma, yaitu kepekatan/saturasinya (warna genjreng disebut high chroma, warna pudar seperti foto tua disebut low chroma). Ketiga hal ini: value, hue dan chroma, selalu bersitarik dan saling mempengaruhi dalam pembentukan warna kulit. Kulit manusia tidak terdiri dari satu hue saja, misalnya coklat. Warna dasarnya sebetulnya banyak: ada coklat, ada kuning, ada merah, ada biru, ada hijau, ada ungu. Warna dasar ini dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan saturasinya. Dan seakan-akan semua itu masih belum cukup rumit, dalam warna kulit kita juga mengenal temperatur warna. Warna itu punya suhu, ada yang hangat, ada yang dingin. Keduanya pasti muncul dalam warna kulit manusia. Kapan warna hangat dan warna dingin harus muncul ada aturannya. Rumit juga, ya? 🙂

Banyak yang mengatakan seni itu nisbi, tidak eksak, jadi tidak ada benar-salah. Ya, secara prinsipil memang begitu. Karena tidak bisa dikuantifikasi dan hasilnya tidak bisa persis sama bila diulang, sesuatu akan disebut seni alih-alih sains, termasuk seni rupa. Tapi bila kita mau belajar realisme, aturannya sebetulnya cukup jelas, ada pakem-pakemnya. Jadi ada tuh, yang namanya benar dan salah. Bagi saya dulu waktu kuliah, realisme itu sepertinya sulit sekali. Rasanya tidak mungkin saya bisa menguasai realisme. Tapi ternyata sesudah dipelajari, ternyata nggak juga, ah. Sulit sih iya, tapi bukan tidak mungkin. Kita semua pasti bisa menguasai realisme walaupun jalannya panjang, membosankan dan kadang-kadang bikin putus-asa. Bila Anda tidak punya passion dalam realisme, saya menyarankan, nggak usah repot-repot mencoba. Daripada gila. 😀 Cara berekspresi itu kan banyak sekali, bukan hanya realisme. Pilihlah yang Anda paling suka. Tapi kalau Anda penasaran, ingin tahu, kayak apa sih realisme? Lalu Anda coba, lalu Anda gagal, lalu Anda coba lagi, lalu gagal lagi, terus sampai berkali-kali gagal tapi Anda masih penasaran juga, barangkali Anda punya passion dalam realisme. Nah, kalau Anda memang punya passion dalam realisme, mari belajar bersama di Klinik Rupa dr. Rudolfo. 🙂

Nggak usah kecil hati kalau Anda sudah (merasa) udzur dan baru mulai belajar sekarang. Juga tidak usah kecil hati bila Anda merasa tidak bisa menggambar sama sekali. Ingat, Rembrandt juga nggak begitu lahir langsung pinter ngelukis, kan? Selama Anda punya passion, dengan arahan yang oke, rajin berlatih walaupun latihannya membosankan dan bikin putus-asa, dalam waktu dua tahun sih mestinya Anda sudah mahir. Kayak belajar bahasa asing aja, lah. Mirip tuh. Dari bego banget sampai bisa cas-cis-cus itu kan biasanya makan waktu dua tahunan dengan kursus reguler seminggu sekali. Yang penting passion-nya ada. Soal warna kulit, itu saya singgung untuk menggambarkan betapa sulitnya realisme. Saya harap gambaran tersebut bisa memancing rasa ingin tahu dan gairah untuk belajar dalam diri Anda yang ternyata punya passion dalam realisme, walaupun sekarang Anda belum bisa menggambar sama sekali. Apalagi kalau Anda sudah setengah jalan, mudah-mudahan gambaran tentang kesulitan ini bisa membuat Anda merasa tertantang dan tambah semangat untuk berlatih dan berkarya. Nah, saya akan bahas warna kulit dengan sedikit lebih mendalam di artikel pengumuman nanti, ya. Untuk menghargai Anda semua yang sudah susah payah bikin karya untuk seleksi ini, saya membahas karya Anda semua. Makanya yang belum mengumpulkan karya, ayo cepat kumpulkan. Batasnya hari Rabu besok, 2 November 2016, tengah malam. Ingat, kalau email Anda sudah bertanggal 3 November 2016, karya Anda saya diskualifikasi. Selamat berkarya. 🙂

Teguh Sarianto

Teguh Sarianto

Idham Pradipta

Idham Pradipta

Ganjar Fachrudin

Ganjar Fachrudin

Aryo Saloko

Aryo Saloko

Fajar Gilang

Fajar Gilang

Indra Hartanto

Indra Hartanto

Yulian Ardhi

Yulian Ardhi

Asti Goenawan

Asti Goenawan

Adeka Kurniawan

Adeka Kurniawan

Galuh Wiyarti

Galuh Wiyarti

Bastian Adi Pratama

Bastian Adi Pratama

Dwi Atmoko

Dwi Atmoko

Jamilah

Jamilah

Halim Ramdani

Halim Ramdani

Herman Dante Navarro

Herman Dante Navarro

Karya potret Papa Trejo paling sangar dalam seleksi kali ini adalah yang dibuat oleh Herman. Ada yang bertanya, kenapa harus wajah Danny Trejo yang dibuat? O, karena wajah Danny Trejo “problematis”. Dalam melukis potret saya tidak mencari wajah yang cantik atau tampan. Kalau cantik atau tampan, wajahnya mulus dan serba serasi, mendingan dipotret aja lebih bagus. Saya mencari wajah yang berkarakter dan problematis secara rupa. Lihat wajah Papa, penuh tekak-tekuk di sana-sini, wajahnya juga bopeng-bopeng. Sangar banget dan sangat berkarakter. Itu membuat wajah Papa Trejo mudah diimba oleh para pasien Pemula. Pasien Pemula yang belum sensitif terhadap gelap-terang, yang penilaiannya masih sering keliru dan masih belum mampu membedakan gelap-terang yang tipis-tipis, akan terbantu dengan mengerjakan wajah yang penuh tekukan seperti ini. Pipi perempuan atau bayi yang melengkung dengan mulus sehingga menghasilkan nuansa yang halus, hampir tidak bisa dideteksi di sebelah mana perubahannya, itu sulit dikerjakan oleh pasien Pemula. Namun di sisi lain, wajah Papa Trejo juga masih menyediakan tantangan yang cukup untuk para pasien Lanjutan bahkan Mahir.

Lihatlah bopeng-bopeng dan pori-pori kulit wajah Papa yang besar-besar. Pada tataran rinci inilah wajah Papa Trejo masih cukup menantang bagi yang sudah mahir sekalipun. Jarang ada wajah yang bisa dikerjakan oleh pemula sampai yang mahir seperti ini. Karena itulah wajah Danny Trejo selalu saya gunakan sejak awal banget Klinik Rupa dr. Rudolfo berdiri dan masih digunakan sampai sekarang. Karena itulah potret Danny Trejo adalah “Papa” karena wajah ini bisa dikerjakan oleh semua, bukan oleh sebagian kalangan saja. Ada peserta yang berusaha memperhalus dan mempermanis wajah Danny Trejo. Bah! Kalau mau menggambar wajah yang halus dan manis, sih, silakan gambar wajah Dian Sastrowardoyo aja. Ingat kata Stéphane Malarmé, “Lukisan bukan soal bendanya tapi soal dampaknya.”

Seorang peserta bilang, “Saya ngeri lihat wajah Danny Trejo.” Ngeri, katanya. Persis! Dampak seperti itulah yang ingin saya capai dalam kekaryaan potret saya. Tidak berarti saya ingin bikin karya potret yang mengerikan, tapi saya ingin buat karya potret yang berdampak. Kalau bisa menghantui ingatan. Sebuah karya potret yang baik itu, sekali dilihat orang, walaupun hanya beberapa detik, tidak bisa dilupakan selamanya. Dia akan terus ada dalam ingatan seperti hantu. Dan ini tidak hanya karena potret wajahnya mengerikan saja, lihat aja wajah Mona Lisa dalam karya Da Vinci. Itu kan tidak mengerikan tapi senyuman misterius Mona Lisa membayangi sejarah seni rupa sampai hari ini. Ada sebuah kualitas tertentu yang akan lahir dari tangan seseorang yang secara intensif menggeluti seni potret. Ada yang bilang karya orang-orang seperti itu seperti “hidup”, menurut saya itu ada benarnya. Tapi karya itu bukan jadi hidup seperti Pinokio, bukan. Sebuah figur dalam karya potret yang baik akan hidup di dalam ingatan pemirsanya jauh sesudah perupanya meninggal. Karena apa? Karena kedirian yang kuat. Karena kesan kehadiran yang kuat. Karena narasi misterius yang tergambar lewat bola mata, lewat tekukan halus di ujung bibir, lewat kerut-merut di dahi. Dan tentu juga karena mood yang terbangun secara keseluruhan. Pada akhirnya, sebuah karya potret bisa menjadi kuat karena figur dalam karya tersebut menyentuh empati kita. Karya Herman ini memiliki semuanya, hanya saja alih-alih menyentuh empati, karya ini menyentuh rasa takut pemirsanya.

Met Mangindaan

Met Mangindaan

Dian Aryani

Dian Aryani

Amelia Budiman

Amelia Budiman

Sudarsono

Sudarsono

Firman Lubis

Firman Lubis

Yanita Indrawati

Yanita Indrawati

Zainul Rahim

Zainul Rahim

Eti Kurniasih

Eti Kurniasih

Karya Eti ini dibuat dengan menggunakan titik, bukan garis. Maka secara mendasar komponen rupanya berbeda, tapi karya ini tetap bisa menerjemahkan gelap terang dengan baik. Seperti halnya garis, titik juga bisa dibuat rapat dan renggang, dengan begitu kepadatannya berbeda. Daerah yang padat, penuh titik, akan terlihat gelap sementara daerah yang titiknya renggang akan terlihat kurang gelap. Dengan begitu gelap dan terang bisa diterjemahkan dengan menggunakan titik, bukan hanya garis. Cara seperti ini disebut pointilisme, lahir di Perancis pada akhir abad ke-19, kala Impressionisme sedang subur-suburnya. Teknik atau gaya pointilisme adalah salah satu cabang dari perkembangan Impressionisme kala itu. Selain digunakan untuk menerjemahkan gelap-terang, cara ini juga bisa diterapkan dengan menggunakan titik-titik berwarna untuk membentuk obyek dan suasana dalam lukisan.

Dalam dunia cetak, formasi titik yang teratur dengan kerapatan yang berbeda dan saling bertumpuk disebut halftone. Mengambil prinsip yang sama, ketika teknik cetak offset sudah mulai berkembang, teknik pointilisme ini diadaptasi dan masih diterapkan sampai sekarang. Bila kita melihat gambar yang dicetak dalam buku, koran atau majalah, sebenarnya kita sedang melihat kumpulan titik yang amat kecil yang tidak bisa dilihat secara individual dengan mata telanjang. Bila kita menggunakan kaca pembesar, kita baru akan menyadari bahwa citra yang kita lihat secara utuh sebenarnya adalah kumpulan dari jutaan titik dalam formasi tertentu. Dengan begitu, citra yang kita lihat sebenarnya adalah ilusi, citra tersebut dicerap dalam otak kita. Sama seperti film. Film di bioskop adalah sebuah ilusi karena ia sebenarnya adalah kumpulan gambar statis yang tidak bermakna apa-apa, namun diputar dalam kecepatan 24-30 bingkai per detik dan diberi suara. Otak kitalah yang menafsirkan semua tontonan tersebut sebagai sebuah cerita yang bermakna. Eti menggunakan ribuan titik untuk membangun ilusi wajah Papa Trejo dalam karya ini. 🙂

Husni Mubarok

Husni Mubarok

Steve Gottlieb

Steve Gottlieb

Arif Setyawan

Arif Setyawan

Saya senang karena sejak awal Klinik Rupa dr. Rudolfo mulai aktif, dari waktu ke waktu selalu ada karya hiperrealisme yang mampir, seperti karya Arif ini (klik foto karya untuk melihat ukuran yang lebih besar lagi, 1388 x 2000 pixel). Bila Anda sedikit bingung tentang apa yang membedakan: realism, photorealism dan hyperrealism, penjelasan sederhananya seperti ini. Realisme adalah sebuah prinsip estetik yang menekankan representasi obyek secara akurat dan obyektif, sesuai dengan pencerapan mata. Photorealism atau realisme fotografis adalah realisme yang mengacu pada fotografi sementara hyperrealism adalah realisme yang mengacu pada fotografi resolusi tinggi. Hiperrealisme lahir di Eropa dan Amerika pada awal tahun 1970-an sebagai perkembangan paling mutakhir dari realisme fotografis.

Apabila hiperrealisme mengambil figur manusia sebagai subyek, kedekatan jarak antara mata sang Pengamat dengan tubuh sang Figur menjadi penting. Wajah manusia perlu dilihat dari jarak yang begitu dekat sampai pori-porinya terlihat. Hiperrealisme pada seni potret selalu mensyaratkan kedekatan, thus keintiman tertentu, karena itu kadang-kadang dampaknya bisa mengagumkan atau justru menakutkan. Pada kasus ekstrim, kalau ada kumis yang baru tumbuh sepanjang 2 milimeter: kumisnya dilukis secara bervolume, bayangan kumis yang jatuh pada pori-pori juga dilukis. Maka secara metodologis, hiperrealisme adalah sebuah cara observasi yang nyaris mikroskopis. Itu semua tak mungkin terjadi bila perupa tidak menggunakan fotografi dengan resolusi tinggi. Walaupun penjelasan saya tentang ketiga terminologi tersebut sederhana, sejarah kelahiran realisme sebenarnya lebih rumit dan seru. Kita bisa katakan bahwa seni modern Barat dibentuk, salah satunya, oleh kelahiran dan perkembangan teknologi fotografi. Bila senggang, silakan ikuti tautannya di sini.

Publik menerima karya-karya hiperrealisme dengan sikap mendua. Di satu sisi publik mengagumi karya-karya tersebut, yang lain mengangkat bahu dengan tidak bersemangat. “Kalau mau membuat karya serinci ini, kenapa tidak pakai foto saja?” atau “Ini sih bukan hasil lukisan, ini sih kayak digital print.” adalah ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar. Tapi menurut saya, bila kita termasuk yang bilang, “Di-print aja, ngapain susah-susah?”, berarti kita terlalu mementingkan hasil. Padahal seperti yang kita tahu, selain hasil, proses juga penting. Kita hidup di sebuah abad citraan. Kita lahir, hidup dan mati di bawah tatapan lensa kamera. Citraan diri kita terus dibuat dan digandakan. Bila kita hidup di perkotaan, kita tak akan bisa menghindar dari reproduksi citraan. Peradaban umat manusia belum pernah mencapai tahap visual yang sekronis ini dan itu semua ditopang oleh teknologi fotografi. Bila seni harus menjadi antitesa produk budaya massa seperti fotografi, salah satu jalannya adalah dengan hiperrealisme. Masalahnya sekarang adalah, subyek macam apa yang dipilih perupanya? Itu akan menentukan dampaknya karena seperti yang pernah disebutkan oleh Stéphane Mallarmé, penyair dan kritikus Perancis di abad ke-19, “Lukisan itu bukan soal bendanya, tapi dampaknya.” Good job, Arif. 🙂

Riyanto

Riyanto

Wahyudi Pratama

Wahyudi Pratama

Thomas Harry Gunawan

Thomas Harry Gunawan

Bravo Cindra Wahyu

Bravo Cindra Wahyu

Gita Eka Pratiwi

Gita Eka Pratiwi

Cecep Nurul Amin

Cecep Nurul Amin

Rizali Alma

Rizali Alma

Sebuah karya yang lucu banget dari Jali, teman kuliah saya. Jali menggunakan teknik batik untuk membuat karya ini. Walaupun klinik ini fokus pada penggunaan pensil grafit dan kertas, saya pikir kurang adil kalau saya selalu membahas teknik dari Eropa tapi mengabaikan batik, teknik yang populer di Indonesia. Walaupun persebaran teknik batik meliputi wilayah-wilayah tertentu di Asia dan Afrika, teknik batik sudah mulai dipraktikkan sejak zaman Mesir Kuno, sekitar abad ke-4 SM. Para sejarawan masih memperdebatkan apakah teknik batik lahir secara murni di Nusantara atau mendapatkan pengaruh dari India/Sri Lanka. Dalam seni lukis purba, bangsa Mesir adalah yang pertama yang tercatat melukis potret dengan penggambaran yang cukup realistik (terjadi di daerah Faiyum, Mesir bagian tengah, sekitar abad pertama). Mereka menggunakan pigmen yang dicampurkan dengan lilin cair dan aplikasinya dilakukan selagi lilin masih panas. Teknik ini disebut dengan encaustic painting. Bisa jadi teknik ini diinspirasi oleh penggunaan lilin dalam teknik batik di sana.

Prinsipnya, teknik batik adalah teknik masking. Kita menutup bagian yang tidak ingin disentuh tinta dengan lilin cair panas-panas, aplikasinya dilakukan dengan menggunakan canting. Ketika lilin tersebut mendingin, kain dicelupkan ke dalam bak air yang sudah diberi pigmen warna. Pigmen tersebut akan meresap ke dalam kain namun tidak akan menyentuh bagian yang sudah diberi lilin. Kala kain sudah kering dan pigmen sudah meresap dengan sempurna, kain bisa dicelupkan ke dalam air panas untuk meluruhkan lilin tersebut dan terciptalah dua bagian kain yang berbeda: yang disentuh pigmen dan yang tidak. Maka citraaan pun terbentuklah. Dalam karya ini, citraan tersebut bukan motif batik tradisional tapi wajah Papa Trejo. 🙂

Muninggar Witin

Muninggar Witin

Mariskha W.

Mariskha W.

Karya Mariskha ini menggunakan kertas berwarna kekuningan, tidak putih. Dengan begitu ia bisa membubuhkan highlight berwarna terang. Ini adalah teknik yang bagus sekali untuk berlatih gelap-terang. Di Eropa, teknik ini sudah dipraktikkan sejak Zaman Pertengahan di abad ke-5 di banyak sanggar lukis. Lebih lanjut teknik ini diadaptasi oleh tiga aliran besar seni lukis klasik di sana yakni mazhab Flemish, mazhab Venezia dan Akademi Perancis. Dalam mazhab Venezia, teknik ini disebut imprimatura, artinya ‘lapisan cat pertama’. Dalam seni lukis klasik Eropa, imprimatura memiliki beberapa fungsi. Pertama, lapisan cat tipis yang transparan akan “mengunci” sketsa yang sudah dikerjakan sehingga garisnya tidak akan terhapus dalam proses melukis. Kedua, ia memberi semacam pondasi pada lapisan-lapisan berikutnya karena pigmen cat minyak pada lapisan berikutnya akan melekat dengan baik walaupun diulaskan tipis, karena sudah ada partikel dan pengikat yang homogen di bawahnya. Ketiga, dan ini relevan bagi mereka yang sedang belajar gelap-terang, adalah membuat mata kita tidak “tertipu”.

Kanvas atau kertas berwarna putih bisa menipu mata, terutama bila kita baru belajar gelap-terang. Kita bisa merasa warna atau kontras yang kita terapkan di bidang karya terlalu gelap, padahal sebenarnya tidak. Kita bisa merasa begitu karena kita bekerja di bidang putih yang terang. Dengan memberikan imprimatura, mata kita bisa menilai dengan lebih baik kadar gelap-terang yang kita kerjakan. Karena itu bila kita sedang berlatih gelap-terang, ada baiknya sekali-sekali kita mengerjakannya di kertas berwarna yang tidak terlalu gelap. Warna putih pada kertas kita turunkan sedikit. Warnanya sendiri bisa kuning atau coklat yang hangat atau kelabu yang dingin. Dengan begitu, pada saatnya, kita bisa membubuhkan highlight dengan warna putih seperti yang dilakukan Marishka dalam karya ini. Karya kita juga akan nampak lebih artistik bila dibandingkan dikerjakan di kertas berwarna putih, walaupun kertasnya bagus dan harganya mahal. Anda juga bisa mewarnai kertas Anda sendiri. Untuk membuat efek tua pada kertas, tekniknya bisa Anda ikuti di artikel Membuat Efek Tua Pada Kertas ini. Selamat mencoba dan selamat berkarya. 🙂

Lulus Setio

Lulus Setio

Karya Lulus ini dibuat dengan rapido, dikerjakan dengan rapi dan akurat. Berbeda dengan pensil grafit yang bisa dibedakan tekanannya sehingga bisa membuat garis tebal dan tipis, rapido hanya bisa membuat garis yang seragam, dengan begitu Lulus membuat karya ini dengan teknik cross-hatching. Teknik ini pada dasarnya mirip dengan mengarsir, hanya saja karena tekanan tidak bisa dibedakan, bila kita ingin membuat bidang gelap, garisnya ditumpuk. Cross-hatching bisa diaplikasikan dengan rapi seperti pada karya ini, namun bisa juga diaplikasikan dengan lebih ekspresif, seperti pada karya-karya etsa Rembrandt, misalnya.

Teknik seperti ini menjadi populer dalam seni cetak di Eropa pada abad ke-15 karena teknik-teknik seni cetak tertentu seperti etsa, drypoint atau garitan kayu (wood engraving) menghasilkan garis yang cenderung seragam, mirip dengan rapido. Aplikasi seperti ini juga bisa kita temukan pada karya-karya seni yang dicetak dalam uang kertas. Seorang perupa butuh sebuah spesialisasi khusus untuk mendalami teknik tersebut, dimulai dengan yang Lulus lakukan dalam karya ini.

Hingga hari ini kita masih bisa mengagumi karya luar biasa dari Gustave Doré, seniman Perancis, dalam ilustrasi karya klasik La Divina Comedia (karya pujangga Italia, Dante Alighieri) yang menggambarkan perjalanan spiritual seorang manusia melewati Neraka, gunung Penebusan Dosa dan Nirwana. Ilustrasi yang monumental dan abadi ini dikerjakan dengan teknik garitan kayu dan secara keseluruhan menggunakan teknik cross-hatching.

Carlos Kolano

Carlos Kolano

Prabu Perdana

Prabu Perdana

Alex Turisno

Alex Turisno

Adi Satriadharma

Adi Satriadharma

Maria Lubis

Maria Lubis

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s