Teknik Observasi

Teman-teman, laman ini berisi 17 gambar instruksi untuk latihan observasi. Latihan observasi ini bisa membantu Anda membuat potret diri (atau potret siapapun juga) tanpa menjiplak, jadi hanya mengandalkan pengamatan mata saja. Materi teknik observasi ini sudah mulai dipraktikkan sejak tahun 2015 lalu. Pertama kali dilakukan di SaRanG ArtSpace, Yogyakarta, dalam lokakarya Mari Menggambar #2; selanjutnya dipraktikkan untuk siswa kelas lanjutan di program klinik luring di Catalyst ArtSpace, Jakarta, dan Tobucil, Bandung. Pada tahun 2016 materi ini dibagikan dibagikan tidak hanya untuk peserta kelas lanjutan tapi juga kelas pemula, dalam program klinik luring di LocaLab, Kemang, Jakarta; Bazaar Art Jakarta (bekerja sama dengan Ganara Art Space) dan Tobucil, Bandung. Dengan begitu materi ini sudah diuji-coba sebanyak enam kali dalam waktu dua tahun. Tingkat keberhasilannya 85%-90% jadi lumayan tinggi, bahkan untuk mereka yang jam terbang menggambarnya masih rendah. Tertarik? 🙂

Seperti yang kita tahu, bila kita masuk sekolah seni rupa, ada teknik menggambar klasik  à la Eropa yang mensyaratkan disiplin observasi yang kurang lebih sama lalu hal itu dipraktikkan dengan menggunakan garis bantu dan kontrol proporsi yang ketat. Materi tersebut tidak bisa dipisahkan dari mata kuliah Menggambar Bentuk dan Menggambar Anatomi. Ini adalah sebuah metodologi belajar yang bagus sekali dan sudah teruji, yang penting gurunya mumpuni. Bila Anda ingin mempelajari cara menggambar dengan teknik tersebut, video instruksinya banyak tersedia di YouTube.

Teknik observasi di Klinik Rupa Dokter Rudolfo berbeda. Teknik observasi ini saya buat dengan maksud:

1. Membuat pendekatan yang lebih sederhana sehingga bisa dicoba oleh siapa saja, termasuk mereka yang pemula banget dan mereka yang tanpa latar belakang seni rupa. Asal senang menggambar, silakan coba metoda ini. Teknik observasi à la Eropa itu lebih rumit (tapi hasilnya lebih akurat).
2. Mirip itu nomor dua, nomor satu adalah disiplin observasinya. Artinya, hasil itu nomor dua, yang penting prosesnya, jadi ini adalah sebuah metoda yang berorientasi pada proses. Perupa itu yang hebat matanya dulu, tangan itu belakangan. Kesadaran inilah yang ingin saya tumbuhkan menjadi pekerti. Seiring waktu, bila latihan ini diulang terus-menerus, hasilnya pasti meningkat mutunya.

Baiklah, bagi Anda yang tertarik untuk menggambar wajah tanpa menjiplak dan hanya mengandalkan observasi mata saja, silakan coba metoda ini. Bila menurut Anda teknik ini masih terlalu sulit dan ingin menjiplak saja (yang penting mirip dan cepat), tenang, ada caranya. Silakan baca artikel Menjiplak Foto dan Menjiplak Foto Ukuran Besar di Atas Kanvas ini. Saya menjiplak 14 tahun lamanya, jadi saya tidak mengharamkan menjiplak. 😀

Sedikit lagi catatan dari saya. Bila Anda belum terlatih mengarsir, Anda akan kesulitan mempraktikkan metoda ini. Solusinya, lakukan latihan arsir terus-menerus sampai arsiran Anda “jadi”. Anda bisa temukan caranya di artikel Garis Untuk Pasien Pemula ini. Dan, foto-foto dalam artikel ini ukurannya kecil. Untuk melihat foto dalam ukuran asli yang lebih besar, klik setiap foto. Anda bisa simpan foto-foto tersebut di gawai/komputer Anda. Silakan dibaca dan selamat berkarya. 🙂

instruksi_00instruksi_01instruksi_02instruksi_03instruksi_04instruksi_05instruksi_06instruksi_07instruksi_08instruksi_09instruksi_10instruksi_11instruksi_12instruksi_13instruksi_14instruksi_15instruksi_16instruksi_17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s